
Doni menelan rasa kecewanya setelah penolakan Cahaya . Cahaya tidak mau didekati sebab hatinya masih sangat terluka. Doni berniat menjelaskan tapi urung dia lakukan mengingat Cahaya baru saja terbangun dari alam bawah sadarnya.
Doni akhirnya memanggil dokter memeriksa kondisi Cahaya meski malam sudah larut. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Cahaya hanya butuh pendampingan psikolog agar tidak larut dalam pemikirannya sendiri.
Baik Doni maupun Cahaya akhirnya sama sama terdiam dengan pemikiran masing masing. Cahaya hanya memandang langit langit rumah sakit sambil mengingat kembali perjalanan hidupnya. Sementara Doni tak hentinya memandang Cahaya.
" Sayang, tidurlah. Jangan banyak berpikir. Besok Abang akan menjelaskan semua padamu. Sekarang kamu istirahat, ya. " Ucap Doni yang tak tahan melihat Cahaya masih terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Tanpa membalas ucapan Doni Cahaya memiringkan tubuhnya membelakangi Doni. Cahaya masih belum tahu apa yang terjadi padanya dan kenapa bisa sampai disini. Tapi Cahaya bisa merasakan tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Doni benar, Cahaya butuh istirahat untuk memulihkan dirinya. Ada bayi dalam kandungan nya yang mesti dia jaga.
" Kamu butuh Abang peluk ? " Tanya Doni. Dan Cahaya menjawabnya dengan gelengan. Doni kembali kecewa.
" Biasanya kamu tidak bisa tidur kalau tidak di elus perutnya. Mau ya...? " Doni belum menyerah.
" Nggak usah, mulai sekarang aku akan biasakan untuk sendiri. " Lembut , dingin dan menusuk. Itulah yang Doni rasakan. Tidak lagi ada suara manja yang menyebut " Aya " . Kini sebutannya berganti "aku ".Dan apa tadi, membiasakan sendiri , Oh tidak...!!
" Dan Abang tidak akan membiarkan itu, Sayang. Abang punya penjelasan. Tidak bisa sekarang karena Abang butuh bukti agar tidak bicara omong kosong belaka. Kamu hanya boleh marah karena kebodohan Abang yang tidak mendengarkan ucapan mu. Tapi jangan berpikir Abang telah berkhianat. Semua tidak seperti yang terlihat. Tunggu sampai besok. " Doni langsung beranjak dan tak lama terdengar pintu kamar mandi terbuka dan setelahnya tertutup .
Doni melarikan kekesalannya ke kamar mandi. Membasuh mukanya berkali-kali hingga kaosnya basah kena percikan air dari wajahnya. Bukannya marah pada Cahaya, melainkan dengan keadaan yang menyudutkan nya. Penyesalan yang tak kunjung ada penyelesaian nya. Semua terasa menyesakkan. Apalagi penolakan Cahaya dan ucapan nya yang menyiratkan perpisahan.
Doni yang terkungkung oleh rasa bersalah berhari hari. Yang tidak bisa tidur dan makan dengan baik. Ditambah dengan rasa cemas bercampur rindu yang tak tertahankan. Kini terasa semakin menyiksa, saat Cahaya menolak sentuhannya.
Ingin rasanya Doni memaksa untuk sekedar memeluk, tapi psikis Cahaya sedang rapuh. Doni tidak ingin membuatnya semakin parah. Makanya Doni hanya bisa melampiaskan rasa sesaknya di kamar mandi. Dengan membasahi wajah dan kepalanya . Setidaknya kini Doni sedikit tenang.
Sementara Cahaya hanya bisa menangis dalam diam. Ucapan Doni menjadi pertanyaan besar dalam benaknya. Apakah dia terlalu cepat berasumsi. Mengingat Doni selalu menolak kehadiran Marinda selama ini dan betapa terobsesi nya Marinda pada suaminya.
Entahlah, besok akan ada kejelasan. Cahaya menghapus air matanya . Berusaha berpikir positif agar kepalanya sedikit ringan. Seperti kata Dokter Nadya yang selalu diingat nya. "Sugesti diri sendiri dan jangan overthinking " Cahaya mencoba untuk tenang agar bisa tidur malam ini. Hingga akhirnya Cahaya terlelap kembali.
Doni keluar dari kamar mandi, dan mengganti kaosnya dengan yang baru. Menghapus sisa sisa air di wajah dan rambutnya dengan handuk. Tapi matanya sedikitpun tidak teralihkan dari punggung Cahaya yang terlihat turun naik secara teratur. Cahaya telah tidur.
__ADS_1
Pelan tapi pasti Doni mengintip wajah yang kini terlihat damai dalam tidurnya. Dengan gerakan seminim mungkin Doni naik ke ranjang dan memeluk Cahaya dari belakang. Tak peduli apa yang akan Cahaya katakan besok yang pasti Doni melepaskan rindu yang menyesakkan ini terlebih dahulu.
*****
Sementara di sebuah Club malam Marinda sedang berkumpul dengan teman teman nya. Mereka seperti sedang mengadakan pesta. Dengan menyewa sebuah ruangan VVIP dengan berbagai jenis minuman yang harganya selangit.
" Hai Beib... tumben ngadain pesta, dalam rangka apa nih. " Tanya salah seorang teman Marinda yang seorang pengusaha berlian bernama Jean.
" Nggak usah, nanya. Nikmati aja malam ini dengan bahagia. " Sambung temannya yang lain.
Akhirnya mereka tidak lagi bertanya karena Marinda pun hanya tersenyum menanggapi tanpa menjelaskan. Pesta di kalangan wanita wanita pengusaha emang berbeda. Mereka menghabiskan malam hanya untuk berjoget dan minum hingga kewarasannya pun lenyap . Tak terkecuali Marinda.
Disaat dirinya setengah mabuk, seorang teman mendekatinya. Dia Laura , yang memiliki usaha parfume import dan memiliki laboratorium sendiri. Menciptakan racikan parfume sendiri sehingga tidak ada yang akan bisa meniru kecuali mencuri formula nya.
" Jangan terlalu banyak minum, Rin. Nanti kamu mabuk dan tidak bisa mengontrol diri. " Ucap Laura mengingatkan Marinda.
" Ayolah duduk, cukup sudah pestanya. Biarkan mereka yang berpesta . " Laura menarik Marinda kembali ke Sofa yang berbentuk setengah lingkaran itu.
Mau tidak mau Marinda ikut Laura duduk. Tubuhnya terasa masih ingin bergerak, sehingga dia masih saja menggoyangkan tubuhnya sambil duduk. Hingga matanya menangkap sosok yang tidak dia suka berjalan mendekat.
" Hai, Kak... ternyata aku belum mabuk. Tadi aku sangka hanya halusinasi saja. Ternyata memang kamu. "
" Ngapain duduk disini. Pergi... ! Aku tidak suka pesta ku rusak karena tamu tak diundang. " Bentak Marinda pada wanita yang lebih muda darinya.
" Aku hanya ingin menyapa bukan mengganggu. " Ucap wanita itu lagi.
" Ibu dan anak sama saja. Kehadiran nya membawa aura gelap dan bau busuk. " Ejek Marinda sambil tersenyum miring.
" Kamu boleh membenci aku, aku juga tidak berniat untuk menyukaimu, jangan khawatir. " Wanita itu malah menuangkan minuman ke sebuah gelas lalu menyesapnya pelan tanpa minta izin.
__ADS_1
" Oh, Amelia... selain pelakor dan penipu ternyata kamu juga tidak tahu malu. Mengambil minuman orang lain tanpa izin di depan pemiliknya. " Marinda kembali terkekeh mengejek.
" Untuk menjadi pelakor dan penipu memang harus tebal muka, Kak. Jika tidak tak akan berhasil. Bukankah kamu juga tak tahu malu, karena telah menjebak Tuan Aksa tidur denganmu ? " Amelia tersenyum miring melihat muka Marinda yang memerah marah.
" Kau...
" Tenanglah Kak, sesama pelakor aku tidak suka saling menjatuhkan. Selagi kita punya mangsa yang berbeda. Boleh aku belajar darimu ? Selama ini aku mendapatkan mangsa dengan mudah karena dia pria bodoh. Tapi saat ini mangsaku terlalu dingin dan sulit ku sentuh. Ayo Kak, beri aku resepnya. " Amelia sepertinya juga sudah di ambang kesadaran nya. Dia terus menyesap minuman merah itu dengan santai.
Pembicaraan kedua wanita itu didengar oleh Laura tanpa ikut campur. Laura hanya memperhatikan keduanya berdebat dan saling merendahkan.
" Siapa yang ingin kamu taklukan, Amelia. Jangan katakan kalau itu Max. " Ucap Marinda seperti tak terima.
" Kenapa kalau iya, jangan serakah Kak. Lepaskan Max untuk ku. " Ucap Amelia tanpa dosa.
" Kamu tidak akan berhasil dia cinta mati padaku. Pergilah... aku tak ada waktu meladeni mu. "
" Kamu pelit sekali , ayolah... bantu aku. Berikan sesuatu yang membuatnya tidur denganku dan tidak bisa melepaskan ku setelahnya. " Rayu Amelia.
" Pergi... ! "
" Baiklah, lain kali aku akan datang padamu untuk itu. Selamat bersenang senang, Kak... "
Amelia melangkah sedikit goyah menuju toilet. Dia harus segera menyegarkan dirinya atau dia tidak bisa pulang dengan selamat dari sini. Tapi saat hendak keluar Amelia terperanjat oleh kehadiran wanita yang tadi bersama Marinda. Laura...
" Hai... aku Laura. Teman Marinda, yang tadi duduk di sampingnya. " Ucap Laura memperkenalkan diri.
...****************...
Happy Reading 💕
__ADS_1