
Doni dan Fakhrul duduk berhadapan di kantor Aksa Group. Bukan tanpa alasan Doni mengajak bertemu di kantornya. Dia ingin Fakhrul tahu siapa yang dia hadapi. Bukan untuk menyombongkan diri tapi untuk menekan lawan. Begitulah dunia bisnis, kadang perkataan tidaklah lebih penting dibandingkan memperlihatkan pamor .
Dengan begitu baik lawan ataupun kawan akan mengakui kualitas seorang pebisnis melalui visualisasi sebelum presentasi. Itulah yang kini Doni lakukan. Dia memberikan tekanan mental buat lawannya agar berpikir ribuan kali untuk melawannya.
" Mana yang harus aku tanda tangani. " Ucap Fakhrul setelah Doni mempersilahkan duduk.
" Jangan buru buru, santai saja. Lebih baik kita minum dulu biar sedikit adem. " Jawab Doni santai.
Tidak lama kemudian Winda datang membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul. Setelah menghidangkan di hadapan Doni dan Fakhrul, Winda pun keluar undur diri.
" Silahkan diminum. " Ucap Doni sambil meraih cangkir kopi miliknya. " Tenang saja itu aman. Karena aku tidak suka melakukan perbuatan pengecut untuk mengalahkan lawan ku. " Lanjut Doni dan kemudian meminum kopinya.
Doni sama sekali tidak bergeming. Dia hanya menatap Doni tajam sambil menilai rivalnya itu. Sementara Doni yang menyadari dirinya ditatap dalam hanya tersenyum tipis, tanpa Fakhrul sadari.
" Aku orang yang sibuk, tak punya waktu untuk bertele-tele. Atau kamu hanya ingin memamerkan perusahaan mentereng mu ini. " Sindir Fakhrul.
" Oh... maaf, aku tidak suka pamer, tapi terimakasih kalau menurutmu perusahaan ku ini mentereng. Jujur aku merasa tersanjung. " Dengan senyum miring Doni pura pura merendahkan diri.
" He... he... aku sangat paham orang seperti anda Tuan Aksa. Wajah anda penuh tipuan. Semoga saja Cahaya tidak tertipu dengan wajah sok innocent anda. " Fakhrul sengaja memukul telak Doni tepat pada hal sensitif nya.
Dan dia berhasil.Raut wajah Doni langsung berubah mengeras. " Aku tidak perlu menipu wanita untuk mendapatkannya. Bagiku cukup dengan memberikan seluruh hati dan hidupku saja, itu sudah cukup. Itu pun bukan untuk sembarangan wanita. Karena aku bukan tipe pria yang mudah tertipu oleh kemolekan wanita. " Doni tersenyum miring seakan meremehkan.
Doni yang merasa tersentil menatap Doni dengan kesal. " Kau yakin ! Bukan kah kau punya banyak wanita dan terbiasa gonta ganti wanita di Club ? " Fakhrul terpancing emosi.
__ADS_1
" Ternyata kau telah banyak mengetahui tentang ku. Kau benar Tuan, tapi itu sebelum aku bertemu bidadari yang baik hati. Yang dengan tulus mencintai dan berhati lembut. Dan yang pasti... tentu saja punya banyak kelebihan di balik pakaian tertutupnya. " Doni sebenarnya tidak ingin mengumbar tubuh Cahaya. Tapi orang dihadapan nya ini pun sudah mengetahui. Dan kini dia merasa ingin membuat rivalnya ini panas dan terbakar.
" Aku yang lebih dulu merasakan nya, Tuan. " Ucap Fakhrul melawan Doni.
" Dan hanya aku yang akan menikmatinya hingga akhir nanti. Dan kau hanya bisa mengenang saja. " Ucap Doni bangga.
" Apa aku datang hanya untuk mendengarkan omong kosong ini saja ? Jika iya sebaiknya aku pergi saja. " Fakhrul beranjak pergi karena tidak ingin hatinya semakin panas.
" Ini... tanda tangani, setelah itu kau baru boleh pergi. " Doni menghempaskan sebuah map berisikan beberapa lembaran kertas yang berisikan poin poin perjanjian.
Doni berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arah meja tempat map itu Doni lemparkan. Tanpa ingin berlama-lama Fakhrul kembali meraih map itu dan membaca kertas kertas itu dengan seksama. Dan tanpa berpikir lagi Fakhrul langsung menandatangani kertas kertas itu.
" Ternyata kau tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kekasih mu, Tuan. " Ejek Doni.
" Baiklah... " Doni berjalan ke mejanya dan mengambil sebuah map lain. Dan kembali pada Fakhrul.
" Ini... semuanya lengkap dan aku yakin kau tidak akan sanggup menyakitinya seperti kau menyakiti Jingga. Selain dia semakin semok dia juga memiliki seorang bayi laki-laki. Aku yakin bayi itu milik mu, Tuan. Karena dia sangat mirip denganmu. Selamat reuni Tuan Fakhrul. " Ucap Doni tersenyum penuh kemenangan. Setelah menepuk pundak Fakhrul yang kini menegang, Doni kembali ke meja kerjanya.
Fakhrul masih kaget dengan kenyataan yang ada . Dengan pandangan kosong Fakhrul berjalan keluar dari Gedung Aksa Group menuju mobilnya. Setelah masuk mobil Fakhrul masih menatap map pemberian Doni. Sedikitpun Fakhrul belum berani membukanya. Pikiran nya masih terngiang dengan ucapan Doni.
Benarkah semua itu ? Bagaimana jika benar, bisakah dia memaafkan Amelia. Atau jika dia menghukumnya , bagaimana dengan bayi itu. Bagaimana jika bayi itu adalah anaknya. Apa yang harus Fakhrul lakukan selanjutnya. Dan akhirnya map itu terhempas ke bangku penumpang. Fakhrul belum mampu untuk membukanya.
*****
__ADS_1
Di ruangan Doni ....
" Bagaimana jika dia suatu saat melanggar perjanjian itu, Bro ? " Ucap Aryo yang ternyata ada di ruangan Doni. Tapi Fakhrul tidak melihat karena Aryo sengaja menunggu di ruang pribadi Doni.
" Setelah dia bertemu gundiknya dia tidak akan mampu berpaling darinya. " Ucap Doni yakin
" Kenapa kamu begitu yakin ? " Aryo merasa heran dengan Doni yang terlihat santai.
" Wanita itu sangat mencintainya. Dan aku yakin Pria brengsek itu juga sebenarnya menyukainya. Hanya saja jika dibandingkan dengan Cahaya siapapun akan memilih Cahaya. Saat ini Cahaya sudah mustahil untuk dia miliki, maka pesona wanita itu akan sulit untuk dia tolak. Kamu sendiri tahu alasan wanita itu pergi dengan cara menjarah semua hartanya, kan ? Itu karena pria brengsek itu tidak mau menikahinya. Dia hanya kecewa. Kita lihat saja nanti... " Doni tersenyum cerah.
" Kamu terlihat berbeda, Bro. Apa sobatku sudah terjerat dengan pesona, Cahaya. Atau jangan jangan kamu sudah benar-benar gila. " Aryo menatap miring Doni dengan tatapan penuh curiga.
" Ha... ha... kamu benar, Bro. Aku gila , bahkan lebih gila dari yang kamu pikirkan. " Doni terkekeh bahagia. Ucapan Aryo membuatnya membayangkan kegilaannya beberapa hari ini. Saking gilanya Doni membuat Cahaya tidak bisa bangun tadi pagi.
" Aku bisa membayangkan nya , Don. Kamu memang sedang gila. Apa memang senikmat itu hingga kamu terlihat begitu berbunga bunga ? "
" Wow... Tuan Aryo, jangan kamu korek masalah ranjang ku. Aku tidak akan terpancing oleh mu. " Tentu saja Doni tidak akan melakukannya. Dia tidak ingin pria lain berfantasi dengan tubuh istrinya. Termasuk Aryo.
" Baiklah, Doni... aku paham maksud kamu. Tapi aku ikut bahagia melihatmu bisa keluar dari ikatan yang sudah tidak perlu untuk kamu pertahanan lagi. Melihat kamu bahagia aku pun ikut bahagia. Aku yakin Tiara pun ikut bahagia melihatmu bisa melanjutkan hidupmu lebih baik. " Ucap Aryo.
" Thanks, Bro. Kamu memang temanku.
...****************...
__ADS_1
Happy reading 💕