Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Bertemu Dokter Nadya


__ADS_3

Seperti kesepakatan Cahaya dan Doni, akhirnya Doni kembali ke kamar Cahaya sejak pembicaraan mereka tempo hari. Dan kini adalah malam ketiga mereka satu kamar. Dan sejak tiga hari itu Cahaya selalu tidur dengan bantuan obat yang membuatnya selalu tertidur menjelang jam sembilan malam.


Doni hanya bisa memeluk tubuh istrinya yang tertidur nyenyak. Doni tahu jika Cahaya sedikit gugup dan masih terganggu dengan kehadirannya. Cahaya selalu terlihat pucat saat Doni memasuki kamar. Masih ada getaran halus yang Doni lihat pada tangan Cahaya jika memegang sesuatu.


Ternyata trauma yang dialami Cahaya sudah sangat mempengaruhi nya. Terlihat membaik tapi pada dasarnya masih membekas begitu dalam.


" Segila apakah lelaki itu menghancurkan mental dan tubuhmu. Hingga untuk hidup normal saja begitu sulit untukmu, hmm..!? " Doni bergumam sambil menatap wajah polis yang terlelap di pelukannya.


Pagi harinya Cahaya heran melihat suaminya memakai pakaian santai sehabis mandi. Padahal hari ini bukan weekend.


" Abang, kok belum ganti baju. Nggak ke kantor ? " Tanya Cahaya heran.


" Nggak, Abang mau ikut dengan mu nanti. Hari ini kamu terapi, kan ? " Doni berdiri mendekati Cahaya yang sedang merapikan kamar.


" Iya, kok Abang tahu. Perasaan Aya nggak ngasi tahu. " Ucap Cahaya yang masih menata bantal dengan rapi di atas ranjang.


" Apa sih yang Abang nggak tahu tentangmu." Tiba tiba Doni sudah berada tepat di belakang Cahaya. Dan membelitkan tangannya di pinggang Cahaya.


" Tumben ikut, biasanya juga nggak. " Cahaya membalikkan tubuhnya menghadap Doni. Namun tangan Doni masih setia di pinggangnya. Tubuh keduanya tanpa jarak dan jarak wajah mereka bahkan hampir bersentuhan.


" Ingin saja, ingin menjadi suami yang sesungguhnya untuk istriku ini. Ingin tahu sejauh mana perkembangan mentalmu. Dan Abang juga ingin konsultasi. " Cahaya bisa merasakan hembusan napas Doni yang beraroma mint.


Cahaya masih saja gugup bila posisi mereka seperti ini. Mungkin karena tidak terbiasa, meski beberapa kali Doni selalu melakukan sentuhan sentuhan kecil padanya. Tapi Cahaya tetap saja belum merasa leluasa.


" Konsultasi apa...? "


" Rahasia... " Doni berbisik lirih di telinga Cahaya yang membuatnya merinding geli.


Doni tersenyum simpul menyadari kegugupan Cahaya. Dengan gemas Doni mengecup pipi Cahaya dan kemudian turun ke rahang. Hanya kecupan ringan tapi sanggup membuat jantung Cahaya nyaris jatuh ke perut.


" Abang seperti berbuat mesum pada anak SMA. Padahal janda anak dua. " Doni terkekeh geli melihat istrinya sangat kaku.

__ADS_1


" Aya... hanya tidak terbiasa. Maaf kalau Abang terganggu. " Cahaya takut Doni illfeel padanya. Tapi Cahaya memang bukan wanita yang agresif dan cenderung kaku. Mungkin itulah sebabnya dulu Fakhrul bosan padanya.


" Tidak, Abang malah senang mesumin kamu. Abang jadi tertantang untuk membuatmu sedikit aktif . " Doni tersenyum miring penuh arti sementara Cahaya memerah karena malu.


" Ya... udah , Aya bantuin anak anak dulu. Abang ke ruang makan saja dulu, nanti Aya nyusul. " Ucap Cahaya berharap Doni melepaskan belitannya.


" Kasi kiss dulu . " Doni menunggu reaksi istri pemalu nya itu. " Kalau nggak Abang tidak akan melepaskan mu. " Lanjut Doni.


Mau tidak mau Cahaya mengecup lembut pipi Doni yang menyodorkan pipi kanannya. Kemudian menyodorkan pipi kirinya. Cahaya manut saja asalkan segera lepas. Tapi setelah itu Doni malah mengecup bibir tebal Cahaya. Hanya kecupan biasa jika tidak Doni yakin tidak bisa sebentar. Doni tahu Cahaya sedang buru buru takut anak anak terlambat sekolah. Akhirnya Doni melepaskan Cahaya yang langsung kabur karena canggung.


Setelah sarapan dan anak anak berangkat ke sekolah kedua suami istri itupun bersiap untuk pergi ke klinik milik Dokter Nadya. Cahaya sedikit deg degan. Terbiasa sendiri kini dia diantar oleh suaminya. Ada rasa berbeda yang Cahaya rasakan.


" Selamat pagi, Cahaya. " Sapa Dokter Nadya dengan kening sedikit mengkerut ketika menyadari ada orang lain bersama Cahaya.


" Pagi Dokter, kenalkan ini suami saya, Dok ! " Ucap Cahaya ketika menyadari arah pandang Dokter Nadya.


" Wah... senang bertemu anda , Pak. " Dokter Nadya mengulurkan tangan menyalami Doni dengan senyuman ramah.


" Tuan Aksa ternyata, saya baru tahu ternyata suami kamu seorang pengusaha sukses, Cahaya. Maaf Pak, Cahaya tidak pernah menceritakan tentang anda. " Seloroh Dokter Nadya.


Ada rasa sedikit kecewa dalam hati Doni, mendengar istrinya tidak menceritakan tentang nya pada Dokter yang menangani mentalnya ini. Merasa tidak dianggap penting oleh Cahaya. Tapi Doni menutupi rasa kecewanya dengan tersenyum ke arah sang istri.


" Tidak apa apa, Dokter. Mungkin Cahaya butuh waktu untuk menerima pernikahan kami yang bisa dikatakan sangat mendadak. " Jawaban Doni menyentil hati Cahaya. Cahaya bisa menebak jika Doni tengah menyindir nya


" Yah... Pak Aksa benar, Cahaya memang membutuhkan sedikit waktu untuk menerima segala hal. Mohon bersabar ya, Pak. " Dokter Nadya sangat peka dan memahami masalah kedua suami istri ini. Untuk itu dia mencoba untuk menengahi.


" Baik mari kita mulai. " Akhirnya Cahaya melewati konseling ditemani oleh Doni. Sedikit canggung tapi lama kelamaan Cahaya terbiasa. Hingga sesi konseling berakhir.


" Cahaya banyak mengalami perubahan, tapi masih sebatas luarnya saja. Ada bagian bagian tertentu yang masih butuh penanganan lebih lanjut. Untuk sehat total, kamu harus mengikuti Hipnoterapi Cahaya. Agar trauma itu pelan pelan lenyap. Karena suatu saat , bisa saja kamu terpicu oleh trauma yang belum sepenuhnya sembuh. "


" Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok. Saya jamin Cahaya akan mengikuti arahan Dokter. Silahkan Dokter atur saja jadwalnya. Saya sendiri yang akan mengantarkan Cahaya nantinya. " Doni mengambil alih untuk bicara, mewakili Cahaya. Dan Cahaya terpaksa mengikuti ucapan Doni.

__ADS_1


" Dulu Cahaya sudah pernah mengikutinya, tapi terhenti. Jadi sekarang terpaksa kita akan mengulanginya dari awal. " Ucap Dokter Nadya.


" Baik, Dok. " Balas Cahaya.


" Bisa saya konsultasi sebentar, Dokter. Empat mata. " Ucap Doni tiba tiba. Tatapannya mengarah pada Cahaya untuk meminta izin.


" Boleh, Pak. " Setelah jawaban Dokter Nadya Cahaya undur diri keluar ruangan. Kini tingga lah Doni dan Dokter Nadya berdua saja.


" Maaf, Dokter saya mengganggu waktu anda sebentar. Ada yang ingin saya tanyakan tentang istri saya. Tapi saya tidak ingin dia tahu, jadi apapun yang kita bicarakan saya minta dirahasiakan. " Pinta Doni.


" Baik, Pak. Saya mengerti. Apa yang ingin anda ketahui. ? " Dokter Nadya menatap Doni serius.


" Seberapa parah kondisi Cahaya, Dokter. "


" Secara keseluruhan, sangat parah pada awalnya. Mentalnya hancur lebur nyaris tak tertolong. Seorang wanita yang disiksa bertahun tahun oleh orang yang seharusnya melindungi nya. Yang sangat dia percaya, dan satu satunya tempat bergantung nya. Bisa anda bayangkan, Pak. Cahaya sudah rusak dari awal penyiksaan itu. Tapi diketahui setelah tubuhnya benar benar hancur oleh pria gila itu. Binar lah penolongnya, jika tidak mungkin nyawanya sudah melayang saat itu. Tapi Binar malah mengalami mental rusak seperti ibunya. " Dokter Nadya bercerita dengan rahang mengetat dan mata yang berkaca kaca.


Pikiran Dokter Nadya menerawang saat pertama kali melihat kondisi Cahaya dan Binar di sebuah rumah sakit umum. Dokter Nadya adalah salah satu aktivis perempuan yang bekerja sama dengan dinas terkait. Untuk memberikan penanganan pada korban kasus KDRT dan pemerkosaan.


Dan Dokter Nadya lah yang menerima laporan tentang kasus yang Cahaya alami. Tapi sayang kasus itu terhenti oleh tangan tangan berkuasa hingga kasus itu tenggelam begitu saja. Cahaya yang tak berdaya hanya pasrah dan tidak melawan. Yang dia pikiran hanyalah sembuh dan mengurus anak anaknya yang saat itu dititipkan ke dinas perlindungan anak.


Apalagi kondisi fisik Cahaya membutuhkan waktu lebih kurang dua sampai tiga bulan untuk sembuh. Beruntung ada sebuah bantuan hukum yang membantunya untuk mengurus perceraian dengan cepat dan mudah.


" Cahaya kuat hanya untuk anak anaknya, Pak. Kondisi Binar memaksa Cahaya harus tetap kuat. Tapi pada dasarnya istri Bapak itu rusak parah. Jadi saya minta tolong jangan sakiti dia. Sekali anda melakukan kesalahan saya pastikan Cahaya akan mengalami depresi dan berakhir di RSJ. Dan anda telah melakukan itu beberapa waktu lalu. Tapi lagi lagi anak anak dan ibu anda menjadi alasannya untuk tetap waras,Pak. "


Doni paham apa yang Dokter Nadya katakan. Doni mengutuk dirinya sendiri . Semua yang Dokter Nadya katakan menampar nuraninya.


" Saat ini Cahaya terlihat lebih baik. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Apakah ini ada hubungan nya dengan anda atau tidak. " Ucap Dokter Nadya ingin memancing Doni untuk mengatakan sesuatu.


" Cahaya minta pisah kamar dengan saya dua bulan yang lalu Dokter. Baru tiga malam ini kami memutuskan untuk satu kamar. Tapi saya masih melihatnya ketakutan dan tremor. Itulah yang ingin saya tanyakan. Bagaimana cara saya bisa mendekatinya agar Cahaya merasa nyaman dengan saya, Dok ? "


...****************...

__ADS_1


Happy Readingđź’•


__ADS_2