
Pertanyaan besar kini menggantung di kepala Aryo. Bagaimana caranya Afrodisiak itu masuk ke tubuh Doni sedangkan Doni tidak memakan atau meminum apapun. Aryo yakin Doni tidak mungkin berbohong soal itu. Dan Aryo yakin Doni juga merasa dicurangi, melihat dari betapa terpuruk nya Doni menghadapi masalah ini.
Aryo berasumsi Marinda mungkin menyuntikkan atau mencekoki Doni setelah Doni tidak sadarkan diri . Bisa jadi Marinda yang melakukannya sendiri saat Doni tidak sadar atau mungkin semua rencana Marinda gagal karena Doni tak kunjung sadar. Aryo hanya bisa menebak kemungkinan yang terjadi.
Melihat betapa yakinnya Marinda dengan apa yang telah Doni lakukan padanya membuat Aryo ketar ketir jika memang yang ditakutkan benar benar terjadi. Tapi Doni begitu yakin tidak ada yang terjadi. Aryo menjadi pusing sendiri. Namun tatapan nya tidak beranjak dari Doni yang menyesap minumannya dalam diam.
Max juga melakukan hal yang sama. Kedua pria itu sama frustasi dalam satu kasus tapi dengan masalah yang berbeda. Sama sama kecewa dengan orang yang sama tapi dalam rasa yang berbeda. Sungguh miris, kedua sahabat nya jadi kacau begini karena satu iblis betina.
Max mabuk berat dengan terpaksa Aryo mengantarnya pulang. Tapi Doni menolak untuk diantar pulang karena Doni tidak begitu mabuk. Namun Aryo tetap memanggil kan supir untuknya karena tidak ingin terjadi hal buruk lainnya.
Doni minta diantar ke rumah sakit setelah menelpon Rania dan menyuruhnya pulang sebelum larut malam. Dengan langkah yang lunglai Doni memasuki ruang Cahaya yang temaram. Cahaya memang sudah tidur setelah diberi suntikan obat pada infusnya. Dengan sedikit terseok seok Doni menghampiri ranjang.
Mata Doni menatap sayu wajah pucat Cahaya dalam remangnya malam. Hatinya kembali ngilu memikirkan apa yang telah mereka lalui saat ini. Doni merasa sangat kacau dan buntu. Tidak hanya kesehatan Cahaya, kondisi bayinya juga kemungkinan apa yang telah terjadi antara dia dan Marinda dan buah yang tak diinginkan dari itu semua.
Doni terduduk lemas. meraih jemari lentik yang kini tak lagi hangat. Meremas nya pelan dan menciumnya berkali kali.
" Abang harus bagaimana, Jingga. Bagaimana jika Abang telah melakukan kesalahan itu dengan wanita ular itu. Bagaimana jika wanita itu hamil. Abang tidak ingin itu terjadi. Tapi hasil tes darah itu membuat Abang ragu. Bagaimana bisa Abang lolos dari pengaruh perangsang yang wanita itu berikan. Bagaimana jika tanpa sadar Abang telah mengkhianati kamu. " Doni bicara pelan seperti sebuah rintihan.
" Sadarlah, Sayang. Abang butuh teman bicara. Kamu selalu mampu mencarikan solusi untuk Abang. Sekarang bantu Abang, Abang butuh kamu. Apapun yang terjadi jangan tinggalkan Abang, Sayang. " Doni kembali terisak tertahan. Sengaja Doni telungkupkan wajahnya di ranjang Cahaya agar bisa meredam suaranya.
Doni larut dalam tangisan, tubuhnya bergetar hebat menahan deru napasnya. Entah sudah berapa kali Doni menangis hari ini. Dia berada di fase kehilangan pegangan. Semua jalan buntu itu melemahkannya. Doni tidak bisa berpikir jernih apalagi dengan kondisi mental Cahaya yang dalam taraf terendah saat ini.
Tiba tiba Doni merasakan sentakan dari tangan Cahaya yang ada dalam genggaman nya. Doni pun langsung mengangkat wajahnya menghadap pada pemilik tangan halus yang kini telah terlepas dari genggaman nya.
Meski dalam remang Doni bisa melihat mata Cahaya yang terbuka. Dan bibir pucat itu bergetar hebat . Bukannya sedih melihat Cahaya yang terlihat ketakutan, Doni malah tersenyum lebar menatap netra Cahaya yang bergetar dan menggenang.
__ADS_1
" Sayang...
Doni berniat hendak bangkit dan memeluk Cahaya tapi telapak tangan Cahaya yang mengacung seakan menyuruhnya berhenti. Doni terpaku menerima penolakan dari Cahaya. Masih dalam keadaan yang membingungkan itu Doni berusaha untuk meraih tangan Cahaya.
" Berhenti... jangan mendekat ! Tolong... hidupkan lampu, Aya... Aya... takut. " Suara lemah itu membuat Doni meremang. Ada rasa bahagia meski Cahaya masih tidak mau didekati. Tanpa berpikir Doni berjalan terseok dan nyaris jatuh mencari saklar lampu.
Doni memang tak terlalu mabuk tapi tubuhnya sudah sulit untuk dia kendalikan. Kesadarannya masih ada meski kini tinggal setengah saja. Dan dengan jalan yang tertatih Doni mendekati Cahaya kembali. Tapi Cahaya malah bangkit dan duduk menekuk lututnya. Seperti melindungi dirinya dari bahaya.
" Jingga... ini Abang jangan takut. " Doni tersenyum lebar sambil berjalan pelan.
" Pergi... jangan mendekat. Jangan mendekat... " Keringat telah membasahi wajah Cahaya. Tatapan ketakutan Cahaya menghancurkan hati Doni.
Sontak Doni berhenti dengan wajah yang menatap sendu. Sedih bercampur pilu tergambar jelas dari senyum kaku yang Doni tampilkan.
Keheningan terjadi beberapa saat, Doni dalam keadaan yang tidak bisa berpikir. Pengaruh alkohol telah membuat otaknya lumpuh. Bukannya memanggil Dokter, Doni malah duduk nyaman di lantai sambil menatap Cahaya dengan senyuman dan tangisan dalam waktu bersamaan.
" Jangan tutup mata, Jingga. Abang ingin melihatmu tersadar. Abang sakit melihatmu diam, Sayang. Jangan hukum Abang lagi seperti itu. " Ucap Doni dalam tangisan seperti anak kecil yang hendak ditinggal pergi ibunya.
Cahaya tersadar saat mencium aroma minuman keras yang begitu pekat. Trauma akan aroma minuman beralkohol membuat Cahaya dipaksa keluar dari alam persembunyian nya. Ketika menyadari ada seseorang yang berada didekatnya dengan aroma yang dia benci Cahaya berusaha berontak tanpa sadar apa yang telah terjadi sebelumnya.
Perlahan namun pasti, Cahaya kembali mengingat semua kejadian yang menyayat hatinya. Cahaya menatap sekeliling ruangan, dan baru sadar jika kini dia berada di rumah sakit. Diperkuat dengan infus di tangannya.
Tatapan Cahaya kembali pada Doni yang bersimpuh di lantai. Meski amarah masih bercokol di hatinya tapi melihat suaminya dalam kondisi memprihatinkan membuat Cahaya kasihan. Cahaya tahu Doni habis minum dan kini sedang setengah sadar. Tapi Cahaya bisa melihat kerapuhan dari tatapan dan tangisan Doni di bawah sana.
Hingga kini Cahaya belum tahu apa yang menimpanya. Dan apa saja yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri. Cahaya tidak ambil pusing dengan itu semua. Tapi bagaimana caranya Cahaya bisa jauh dari aroma yang membuat jantungnya berdebar kencang hingga tubuhnya gemetar.
__ADS_1
" Jingga... bicara sama Abang. Abang rindu suara mu. Maafkan Abang... maaf... " Masih dengan pipi yang berurai air mata Doni bicara tersendat. Cahaya masih menatap dengan bergetar dan berusaha untuk mengendalikan diri.
" Bersihkan badan Abang... Aya nggak kuat. Abang bau alkohol. " Cahaya memberanikan diri untuk bicara. Tak punya cara lain, sudah pukul dia belas malam. Tidak mungkin minta perawat untuk datang dan membawa Doni pergi dari sini.
" Baik, Sayang. Abang mandi dulu. Abang lupa kamu tidak suka Abang minum. Abang memang bodoh. Abang selalu buat kamu terluka, maaf... " Doni melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya seperti permintaan Cahaya.
Setelah terkena air dingin yang membasahi kepalanya berangsur kesadaran Doni kembali meski belum terlalu penuh. Bergegas Doni mencuci setiap jengkal kulitnya dan menyabuni nya dengan banyak sabun. Doni tidak ingin Cahaya terganggu dengan aroma alkohol yang tertinggal di tubuhnya.
Setelah di rasa cukup Doni melilit tubuhnya dengan handuk yang tergantung di sana dan bergegas keluar. Hal pertama yang Doni lihat adalah Cahaya. Istrinya tadi sadar dan kini masih dengan posisi yang sama.
Doni tersenyum lebar ." Abang kira tadi Abang berhalusinasi, kiranya kamu benar benar sudah sadar, Sayang. Boleh Abang mendekat ? Tidak bau alkohol lagi. " Ujarnya sambil mencium tubuhnya sendiri.
"' Pakai baju, Bang. " Suara yang Doni rindukan namun terdengar lemah tapi dingin. Masih ada kemarahan di dalamnya. Rasa kecewa yang mewarnai nya. Jelas saja, Doni harus menerima itu semua.
Jingga nya pasti masih sangat terluka . Doni harus sabar. Ini lebih baik dari pada Cahaya terperangkap dalam dunia buatannya sendiri. Doni akan berusaha lebih keras agar Cahaya kembali seperti sebelumnya.
Setelah tertegun beberapa saat Doni bergerak menuju sebuah tas yang terletak di sudut nakas. Tas yang Rania bawakan berisi perlengkapan pribadi Doni . Beberapa kaos dan celana santai dan tak lupa pakaian dalam. Sebuah selimut dan perlengkapan pribadi seperti deodorant dan pomade.
Doni memakai pakaian nya di hadapan Cahaya yang kini telah membuang pandangannya. Tapi Doni pandangan Doni sedetikpun tak lepas dari wajah pucat istrinya itu. Setelah selesai Doni pun mendekati Cahaya kembali.
" Boleh Abang mendekat ? " Tanya Doni penuh harap.
...****************...
Happy Reading 💕
__ADS_1