
" Apa Abang suka wanita yang padat berisi dan berdada besar....
Pertanyaan Cahaya membuat Doni terbelalak. Apa yang merasuki istrinya, hingga mata Doni menangkap sosok yang dia kenal keluar dari tempat istrinya datang tadi. Meski tidak tahu apa yang terjadi tapi Doni paham istrinya kembali insecure. Entah apa yang Marinda ucapkan hingga membuat wajah Cahaya yang tadi bak bulan purnama kini tertutup mendung.
Doni tersenyum penuh arti. " Sekarang makan dulu nanti Abang jawab pertanyaan kamu. " Ucap Doni dengan tampang pura pura tegas.
Doni tidak ingin Cahaya menolak untuk makan. Dengan sigap Doni mengambilkan makanan untuk Cahaya dan menyuruhnya untuk menghabiskan.
" Makan yang banyak, tenaga kamu pasti habis karena kebanyakan teriak. " Ucap Doni dengan senyuman jahilnya yang berhasil membuat Cahaya tersipu dan merona.
Keduanya makan dengan lahap. Terbukti jika mereka memang butuh asupan yang lebih akibat pergulatan yang bergairah sejak siang. Hingga hidangan Seafood restoran itu habis menyisakan cangkang dan saos nya saja.
" Abang suka melihat cara makan mu, membuat siapa saja yang melihat berselera. Kalau bisa makanlah dekat Abang terus. Abang agak susah makan soalnya. " Ucap Doni apa adanya.
" Aya mau aja ,Bang . Tapi takutnya Abang lupa kasi Aya makan karena Abang terlanjur berselera terhadap hal lain. " Sindir Cahaya santai dengan sedikit sewot mengingat perangai Doni tadi siang.
"He... he... siapa suruh menggoda Abang dengan hal yang lain. " Ucap Doni tidak mau kalah.
" Mana ada, bahkan Aya sedang menyuguhkan makanan pada Abang. Abang saja yang mesum. Bukan nya tergoda dengan aroma masakan Aya tapi malah...
Cahaya tidak lagi meneruskan ucapannya. Tatapan nya tertuju pada Doni yang tersenyum lebar sambil menunggu ucapannya. Tapi Cahaya merasa malu menyadari dia bicara terlalu frontal tanpa batas dengan Doni.
Untuk pertama kali Cahaya merasa bicara tanpa beban. Sekat yang selama ini ada tanpa Cahaya sadari telah mulai roboh dengan sendirinya. Bahkan dengan Fakhrul dulu Cahaya bicara masih ada batasannya.
" Kenapa berhenti... ayo teruskan. " Goda Doni yang tahu Cahaya tengah menahan malu.
" Ayo pulang, Bang. Ini sudah malam. " Cahaya mengalihkan pembicaraan yang absurd ini.
" Ok, jingga... kita pulang. Abang juga ingin segera menjawab pertanyaan kamu tadi . Tapi di rumah... " Doni bicara berbisik di telinga Cahaya sambil membetulkan tali cadar Cahaya.
Ucapan Doni yang bermakna ganda membuat Cahaya merinding. Kenapa di rumah jika hanya ingin menjawab pertanyaan. Akh... entahlah. Cahaya tidak ingin berpikir aneh dengan bayangan kotor yang mulai merasuki pikirannya.
*****
Sesampainya nya di rumah Doni bergegas ke ruang kerja karena ada pekerjaan yang mendesak. Itulah alasan yang dia katakan pada Cahaya . Sebenarnya Doni baru saja mendapat email dari Aryo yang ingin dia ketahui isinya.
__ADS_1
Doni membaca setiap deretan huruf yang tertera di surelnya. Berbagai data terangkum lengkap di sana. Dari bukti penerbangan, beberapa foto dan alamat lengkap. Di lampiran itu terdapat juga data rekening seseorang.
" Wow sungguh wanita pintar. Dengan umur yang terbilang muda mampu melakukan hal sebesar ini. " Doni monolog sendiri. Kemudian dia merogoh ponselnya di kantong celananya.
" Yok, aku sudah membaca semuanya. Apa ini data terbaru ? "
"..... "
" Luar biasa, wanita ini sangat pintar. Sayang kepintarannya dia salah gunakan. Apalagi dia melakukan seorang diri. "
"...... "
" Aku yakin ada yang melindunginya. Bagaimana mungkin dia susah terlacak. "
"..... "
" Baiklah , temukan orang yang backup dia. Aku butuh untuk berjaga jaga. Jangan lupa besok pengawal untuk Cahaya. Dia dalam incaran bajingan itu. Dan anak anakku awasi dari jauh jangan sampai mereka menyadari. Aku tidak mau mereka merasa ketakutan. "
Doni telah mempersiapkan diri menghadapi Fakhrul. Tanpa Fakhrul sadari jika Doni telah selangkah di depannya. Tentu saja Doni tidak akan membiarkan Fakhrul mengusik keluarganya. Sedari awal Doni memang ingin melindungi Cahaya. Apalagi sekarang niatnya telah tercemari oleh rasa lain yang masih ingin Doni pastikan .
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang Doni maksud kan, dia segera kembali ke kamar. Cahaya tengah duduk di ranjang dengan posisi bersandar sambil memainkan ponselnya . Terlihat lebih segar sehabis mandi dengan rambut yang dibiarkan terurai ke satu sisi bahunya.
Doni melangkah pelan menuju ke ranjang dan mengecup bahu Cahaya yang terbuka. Kemudian duduk di samping Cahaya .
" Bang... sudah siap kerjanya ? "
" Hmm... " Doni hanya menjawab dengan deheman dan terus memandang wajah cantik Cahaya yang polos tanpa polesan apapun .
" Mandilah... Aya siapkan pakaian. "
" Abang mau jawab pertanyaan kamu dulu. "
" Nanti saja, itu tidak terlalu penting. " Cahaya mulai resah dengan tatapan Doni.
" Itu penting. Dan harus segera dijawab, Jingga. Abang harus segera memberikan bukti jika tidak itu akan mengganggu mu terus. "
__ADS_1
" Tidak usah dipikirkan, tadi mungkin Aya lagi badmood saja. Tidak udah dijawab. "
" Tapi Abang ingin menjawabnya. Abang memang suka tubuh wanita yang seksi , munafik jika Abang bilang tidak. Tapi seksi dalam pemikiran setiap orang mungkin berbeda . Bagi Abang seksi itu pas pada porsinya masing masing. Seksi itu yang bisa menimbulkan hasrat. Dan bagi Abang kamu itu seksi. See... kini Abang sudah on fire dengan melihat penampilan mu yang tidak menggoda sama sekali. Bagaimana jika kamu berpakaian menggoda ? Abang pasti bisa gila. "
Cahaya memerah karena merona. " Pintar sekali Abang membuat wanita melayang. Aya korban yang ke berapa ? " Ucap Cahaya mengalihkan rasa canggung nya.
" Abang berkata jujur. "
"Tapi tadi ada yang bilang, selera Abang itu wanita semok, padat berisi dan berdada besar. Seperti Tiara dan Marinda. " Cahaya keceplosan dan kini Cahaya menutup mulutnya merasa telah salah bicara.
" Jadi Marinda yang membuat istri Abang uring uringan begini. Jika Abang menyukainya mungkin sekarang dialah istri Abang. Dan mengenai Tiara, kebetulan saja dia seperti itu saat dia Abang nikahi. Dan Marinda berusaha keras menyerupai Tiara untuk menarik perhatian Abang. " Doni memutar posisinya menghadap Cahaya.
" Kini bisa kah kamu menjadi dirimu sendiri. Abang menyukai apa yang ada padamu. Termasuk tubuh dan wajahmu. Cukup menjadi Cahaya Jingga untuk Abang . Semua kelebihan yang kamu miliki tidak dimiliki wanita lain , termasuk... Tiara. "
" Deg "
Kata terakhir yang Doni ucapkan menarik mata Cahaya untuk menatap mata elang suaminya. Mencari kepalsuan yang tersirat, tapi tidak dapat Cahaya temukan. Doni menatapnya dalam. Benarkah yang dia dengar ? Suaminya memujinya melebihi Tiara . Cahaya berdebar sekarang.
" Abang jujur, Tiara tidak pernah memasak untuk Abang. Tidak pernah membawakan makan siang ke kantor. Tiara mengambil keputusan sesuai yang dia inginkan tanpa bertanya Abang suka apa tidak. Termasuk pesan menu di restoran ataupun destinasi yang ingin kamu kunjungi. Semua terserah maunya Tiara. " Doni diam sesaat melihat reaksi Cahaya yang terpaku.
" Semua itu berbeda dengan kamu. Yang selalu mengutamakan Abang dari pada kemauan kamu. Semua yang kamu lakukan membuat Abang merasa dihargai dan dipedulikan. Berbeda saat dengan Tiara Abang merasa dicintai saja tanpa ...
Doni menghentikan ucapan nya kemudian membuang pandangannya ke arah lain. " Abang tidak akan terlalu menjelaskan tapi Abang harap kamu mengerti maksud Abang. "
Cahaya tidak menanyakan kelanjutan nya. Cahaya paham Doni tidak akan mengungkapkan keburukan Tiara padanya. Tidak etis membicarakannya setelah orangnya tiada.
" Aya tidak percaya diri mendampingi Abang. Begitu banyak kekurangan yang Aya punya. Sehingga kadang Aya merasa tak pantas berada disisi mu. " Untuk pertama kalinya Cahaya mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu hatinya.
" Kamu layak dan pantas. Abang yang merasakan itu. Semua yang ada padamu lebih dari cukup yang Abang butuhkan, tetaplah seperti ini. "
" Sekarang lupakan ucapan Marinda, dia hanya iri padamu. Lebih baik kamu memikirkan nasib temannya Abang yang bangun dari tadi. " Tanpa memberikan waktu untuk menolak Doni langsung mengungkung Cahaya dalam kuasanya.
Selanjutnya yang terdengar hanyalah pekikan dan rintihan manja Cahaya yang memenuhi seisi kamar.
" Abang suka kamu yang berisik manja begini, Sayang...
__ADS_1
...****************...
Happy day💕