
" Kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan mu yang pernah aku rampas. Karena aku yakin Marinda memanipulasi keadaan sebenarnya. " Jawab Amelia. " Aku ingin menyesali nya, tapi tidak bisa aku lakukan. Karena ada buah cinta kami yang tumbuh dari hubungan itu. " Sambung Amelia.
" Kamu punya anak dari Mas Arul ? " Tanya Cahaya memastikan, meski sebenarnya dia sudah tahu.
" Maaf, tapi itulah kenyataannya. Mas Fakhrul tidak tahu aku hamil. Saat dia menolak untuk menikahi ku, aku memutuskan untuk pergi dengan membawa bayi itu dan seluruh kekayaannya. Aku sakit hati, dia selalu mengatakan tidak ingin menyakitimu tapi dia selalu menggunakan tubuh ku. " Amelia menengadahkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh. Dia tidak ingin terlihat memilukan.
" Kamu mencintai nya ? " Dari pertanyaan yang selalu ingin Cahaya tanyakan, inilah salah satunya.
" Sangat... tapi dia tidak membalasnya. " Jawab Amelia tanpa ragu. Cahaya sedikit merasa tercubit mendengar pengakuan Amelia.
" Meski kamu tahu Mas Arul telah beristri ? Bukan semata mata karena dia kaya dan royal ? " Cahaya memastikan rasa penasarannya.
" Setahun bekerja dengannya hampir lima belas jam sehari, bahkan sering dua puluh empat jam. Pesonanya tidak bisa aku tolak, rasa cintanya padamu membuat aku ingin merasakannya. Dia selalu berkata lembut saat menelpon mu, perhatiannya meski dia sibuk dan tidak bisa pulang . Aku ingin semua itu. "
" Awalnya aku sudah menyerah karena menyadari dia sulit untuk aku raih. Tapi aku kalah dengan ego ku. Karena itu aku rela kerja seperti kuda beban, tanpa mengenal lelah dan waktu untuk menarik perhatian nya. Dan aku berhasil. Malam itu dia sudah dua hari tidak pulang. Dengan sedikit memberanikan diri membuka sedikit pakaian ku akhirnya Mas Fakhrul terjerat dalam hasrat. Aku menyerah mahkota ku padanya. Sejak itu dia tidak bisa berhenti. "
" Kamu bangga karenanya ? Padahal aku butuh dia disaat saat itu. Kehamilan yang sulit membuatku sering mengabaikan kebutuhan biologisnya. Dan kamu datang pada waktu yang tepat. Merenggut seluruh cinta dan kepercayaan ku. Kamu menghancurkan hidupku. Aku kira kalian hanya nafsu sesaat. Aku selalu berharap Mas Arul akan kembali padaku setelah aku sehat. Tapi nyatanya dia sudah tidak bisa lepas dari jeratan mu. "
Cahaya tersenyum miris. Meski kejadian itu sudah sangat lama, tapi mengingatnya terasa mengorek goresan luka lama. Masih perih.
" Berarti kamu tahu sejak awal ? " Amelia menyadari arti ucapan Cahaya yang sedikit membuatnya kaget.
__ADS_1
" Aku seorang istri, kami saling mencintai. Ada benang tak kasat mata antara suami istri, Amelia. Setiap menatap mata suamiku, aku bisa melihat banyak kebohongan di dalamnya. Aroma tubuhnya, noda di pakaian dalamnya, bungkus pengaman di tas kerjanya, perhatiannya yang berkurang, lupa tanggal hari hari penting kami. Dan masih banyak lagi yang lain. Tentu aku menyadari semua itu. "
" Maaf Cahaya, meski ini sudah tidak perlu lagi bagimu . Tapi maaf kan aku. " Cahaya tidak menjawab hanya bisa membuang pandangannya karena tidak ingin melihat mata Amelia yang terlihat tulus.
" Bahkan hadiah anniversary kami yang ketujuh, dia membelikan rumah mewah untukku sebagai hadiah. Tapi kamar utamanya kamu yang pakai terlebih dahulu bercinta dengan suami ku. " Cahaya meneteskan air matanya. Luka itu masih terasa sakit ternyata.
" Ba... bagaimana... ka... kamu tahu itu ? " Amelia sungguh tidak menyangka Cahaya juga tahu hal sedetail itu.
" Mas Arul lupa banyak hal jika bersamamu. Rumah itu kamu yang pilihkan bukan ? Saat bagian pemasaran itu memberikan surat pengalihan nama dia kaget saat aku yang datang. Dia kira aku adalah utusan dari istri pembeli rumah. Dia bercerita jika Nyonya rumah itulah yang memilih rumah itu. Dan langsung malam pertama di sana malam itu. Karena Mas Arul meminta kuncinya dan mengatakan istrinya ingin mencoba di rumah barunya. Kamu tahu rasanya Amelia... aku ingin sekali membakar rumah itu. " Tubuh Cahaya terlihat bergetar hebat. Tapi dia berusaha menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan dirinya .
" Cahaya... su.. sudah. Aku merasa tidak layak untuk minta maaf sekarang. Tapi... jangan mengingat itu lagi . Aku tahu kamu tidak dalam kondisi baik saat ini. Kita sudahi ini. " Amelia ketakutan dan juga sangat merasa bersalah. Tatapan terluka Cahaya menyadarkan nya betapa besarnya luka yang dia berikan pada wanita ayu di depannya ini.
" Aku tidak apa apa. Sudah lama ingin aku luapkan semua ini. " Cahaya meredakan sesaknya dengan tetap menarik napas dalam-dalam.
" Aku yatim piatu, sebatang kara. Aku hanya punya suami dan anak anak saja. Aku takut Mas Arul membuang ku dan menjauhkan aku dari anak anakku. Aku berusaha untuk menjadi istrinya yang baik. Tidak banyak tingkah dan tidak terlalu banyak bertanya. Aku takut dia muak padaku. Asalkan dia tidak membenci ku sudah cukup bagiku. Karena berlahan lahan cintaku padanya terkikis tak bersisa. Aku hanya menganggap nya sebatas kewajiban dan tanggung jawab saja. Tidak lagi cinta. "
" Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku rasa kamu bodoh Cahaya. Maaf... tapi aku tidak habis pikir dengan cara berpikir mu. " Amelia dengan berani mengeluarkan pendapat nya. Tanpa peduli tatapan tajam Cahaya.
" Mungkin bagimu itu kebodohan, tapi bagiku itu pengorbanan. Demi kedua anakku aku rela menjadi samsak hidup Mas Arul setelah kamu buat di bangkrut. " Sarkas Cahaya.
Amelia terdiam dan tertunduk. Ucapan Cahaya sama persis dengan ucapan Arul saat itu. Cahaya korban kekerasan dari Fakhrul. Dan apa yang Cahaya alami paska trauma itu juga Amelia mengetahui itu.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Cahaya bisa memaafkan nya. Jika posisinya dibalik, Amelia mungkin sudah membunuh Cahaya saat ini. Tapi wanita lembut ini masih bisa bicara tanpa urat dengannya. Meski tatapan nya terlihat marah dan tajam.
Amelia tidak menyangka keegoisan cinta yang dia agungkan tidak hanya menyakiti Cahaya sedemikian rupa. Tapi baik dirinya dan Fakhrul juga sama menderitanya. Walaupun berbeda porsi dan kondisi. Bahkan anak anak mereka juga menjadi korban dari hubungan terlarang itu. Binar, Biru, dan Farel nasib ketiga anak itu hampir sama. Sama sama hidup tanpa orang tua yang utuh.
" Yah... aku sudah mendengar semua itu dari Mas Fakhrul. Apakah aku masih layak untuk hidup normal setelah ini ? Aku rasa aku tak pantas. Disaat aku sadar akan kesalahan yang aku perbuat semakin aku selalu terhubung dengan masa lalu itu. Aku sama denganmu, ingin hidup tanpa bayangan masa lalu. Tapi aku rasa ini karma ku. Orang sekitar ku pun tidak mudah untuk mempercayai ucapan ku. " Amelia merasa lelah, terlalu sulit untuk keluar dari bayangan gelap masa lalunya. Bahkan Maxim sendiri begitu frontal mengingatkan nya akan dosa dosanya.
" Entahlah, aku tidak begitu memikirkan dirimu. Aku hanya trauma saat menyadari kamu berada di sekitar orang-orang terdekat ku. Aku tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya. Jika memungkinkan, menjauh lah Amelia. Jangan perlihatkan dirimu disekitar ku. Aku mohon ! Aku takut, aku baru saja bahagia. Terima kasih dengan pertolongan yang kamu berikan padaku tempo hari. Tapi itu tidak membuat aku tenang. Please... " Cahaya bahkan sampai berlutut membuat Amelia gelagapan.
" Bangun Cahaya, jangan begini. Baiklah aku akan menjauhi kehidupan kamu. Tapi aku mohon berdirilah. " Amelia menarik Cahaya pelan agar bangkit.
" Benarkah kamu akan menuruti permintaan ku ? "
" Benar... jadi bangunlah. " Amelia memejamkan matanya kuat. Meski tidak yakin akan kemana. Tapi Amelia tidak bisa menolak permintaan Cahaya.
" Terima kasih. Dan maaf jika aku memaksa. Aku masih trauma, kamu, Fakhrul dan semua kenangan itu masih menyakiti jika terlihat. Anggap aku egois kali ini. " Cahaya memang ingin egois untuk satu hal ini.
Dulu dia terlalu pasrah, hingga Fakhrul semena mena padanya. Meski Doni adalah orang yang berbeda, tapi tetap saja Cahaya semestinya hati hati . Tidak ada yang tahu pasti isi hati manusia selain Pencipta manusia bahkan dirinya sendiri. Karena hingga kini manusia masih saja kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Mungkin permintaan Cahaya berlebihan bagi orang lain. Tapi baginya ini bentuk proteksi diri. Cahaya ingin sembuh, untuk itu dia perlu ketenangan. Jika dia sudah bisa berdamai mungkin suatu saat dia siap jika kembali bertatap muka.
Itulah harapan Cahaya....
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕