
Acara berjalan tanpa ada kendala yang berarti. Tamu pun sudah mulai beranjak satu per satu. Kini tersisa beberapa orang teman dekat dan beberapa kerabat yang masih ngobrol satu sama lain.
" Istirahatlah, Aya. Nanti habis magrib MUA akan datang membantu kamu bersiap. Aku, Ibuk dan anak-anak juga mau istirahat sebentar. " Ucap Rania.
" Iya Nia benar. Masih ada beberapa jam untuk istirahat. Doni... bawalah Aya. Malam nanti pasti akan lebih melelahkan. " Sambung Ibu Ratih.
" Baiklah, ayo... " Doni berdiri sambil mengulurkan tangan agar Cahaya menyambutnya. Tapi Cahaya malah berdiri tanpa meraih tangan Doni. Kemudian mendekati Binar dan Biru untuk pamitan.
Kedua pengantin baru itu melangkah beriringan menuju kamar hotel yang telah Randi siapkan untuk mereka. Doni selalu mencuri pandang ke arah Cahaya sementara Cahaya hanya berjalan dengan pandangan lurus ke depan.
" Kenapa... ? Dari tadi kamu banyak diam. " Tanya Doni penasaran. Sejak bertemu dengan teman teman nya dan mendengarkan perkataan Marinda, Cahaya lebih banyak diam.
" Aku memang tidak suka banyak bicara jika tidak jika tidak dirasa penting. Maaf jika Abang merasa terganggu karena itu. " Jawab Cahaya datar.
" Kamu memang bercadar, tapi bukan berarti aku tidak bisa memahami arti tatapan mata kamu.Sebagai pengusaha aku dituntut untuk memahami lawan bicara lewat tatapan dan mimik wajah. " Doni kembali melirik Cahaya.
" Jadi, menurutmu apa arti tatapan mataku saat ini. " Tantang Cahaya dengan menatap Doni yang juga sedang menatapnya.
" Kamu memikirkan banyak hal sejak mendengarkan ucapan Marinda. " Tepat sasaran, ucapan Doni benar adanya. " Tapi aku tidak tahu apakah kamu terganggu atau tersinggung dengan ucapannya. " Sambung Doni.
Cahaya hanya mendengus pelan. Terganggu atau tersinggung ? Bagi Cahaya perasaannya lebih ke rasa khawatir. Cahaya semakin insecure .
" Aku tidak tersinggung. Bukankah aku memang tidak ada apa apanya di bandingkan dia. Kata Rania dia seorang Desainer terkenal hingga eksis sampai ke luar negeri. Dia dan aku bagai langit dan bumi.Jadi tak ada alasan untuk tersinggung. " Jawab Cahaya apa adanya.
" Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, siapapun itu. Aku tidak suka mendengarnya. " Mendengar ucapan Cahaya hati Doni merasa tidak tercubit.
" Maaf... " Cahaya tak lagi berkata apa apa. Bukan hanya tubuhnya yang lelah tapi hatinya juga butuh ketenangan. Dan Cahaya juga tak ingin berdebat.
Kamar berukuran besar dan terdapat satu set sofa juga meja rias. Lengkap dengan tempat tidur dengan ukuran king size. Terdapat lemari besar dan sebuah pintu yang bisa dipastikan itu pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tidak ada dekorasi yang berlebihan seperti layaknya kamar untuk bulan madu. Cahaya juga menemukan sebuah koper kecil di sudut lemari. Bingung... itulah yang Cahaya rasakan saat ini.
Sementara Doni langsung melemparkan jas dan kemejanya ke sofa , meninggalkan kaos putih tipis dan celana panjang saja. Kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
" Mandilah dulu, terus istirahat agar nanti lebih segar. " Ucap Doni sembari menutup matanya.
" Aku ganti baju saja, nanti mandinya mau sholat magrib saja. " Balas Cahaya .
Suasana hening dan canggung membuat Cahaya ingin segera pergi dari ruang itu. Cahaya mengambil pakaiannya di dalam koper dan melangkah menuju kamar mandi. Membuka tatanan hijab syari yang dimodifikasi sedemikian rupa. Juga kebaya dan batiknya. Kemudian Cahaya mengenakan gamis berbahan kaos. Setelah membersihkan sisa make up nya barulah Cahaya mengenakan pasmina instan berbahan jersey.
Cahaya belum siap menampakkan auratnya meski Doni adalah suaminya kini. Butuh waktu bagi Cahaya untuk membiasakan diri. Hanya cadar saja yang saat ini berani Cahaya tidak pakai.
Dengan langkah sedikit ragu dan kikuk Cahaya keluar dari bilik kecil itu. Dan ternyata Doni sedang duduk bersandar sambil berbalas pesan di ponselnya . Terlihat serius di raut wajahnya, entah pesan siapa yang dia balas.
Butuh beberapa menit baru Doni menyadari jika Cahaya kini telah duduk di sofa yang menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Seketika Doni terkesima, wajah polos Cahaya terbuka tanpa penutup. Wajah tirus dengan kelopak mata yang besar. Kulit yang tidak seputih kulit Tiara tapi mulus tanpa cela dan dihiasi hidung yang mancung.
Cahaya spontan mendongak menyadari Doni ada di depannya. Menatap dengan tatapan penuh tanya pada sosok yang kini tengah menikmati wajahnya.
" Ada apa ?Abang butuh sesuatu ? " Tanya Cahaya .
" Tidak , aku hanya menikmati pemandangan indah di depan ku. " Cahaya sontak bersemu merah muda. " Kenapa masih berhijab, kita sudah sah dan aku halal untuk melihat apapun yang ada di tubuh kamu . " Suara Doni menegaskan.
" Ak... aku belum terbiasa, masih canggung. " Jawab Cahaya terbata.
" Baiklah aku tidak akan memaksa kali ini, karena waktu yang singkat . Aku juga takut khilaf. " Doni berkata sembari mengulum senyumnya. Sedangkan Cahaya semakin merona .
Dan pada saat yang tidak tepat, ponsel Doni berbunyi nyaring. Fokus Doni teralihkan pada benda pipih itu. Dan Cahaya menarik napas lega. Tapi Doni tak kunjung mengangkat panggilan itu hingga terputus begitu saja. Tapi sesaat kemudian kembali berbunyi nyaring.
" Ya... ? Ada apa ? . " Doni akhirnya menjawab panggilan entah dari siapa.
__ADS_1
" ..... "
" Kamu tahu situasi aku. Aku harus ke resepsi beberapa jam lagi. Dan aku butuh istirahat. "
"..... "
" Maaf aku tidak bisa, aku telpon Max kalau begitu. "
Doni langsung memutus panggilan dan mengetik pesan dan mengirimkan pada seseorang. Setelah itu Doni kembali menatap Cahaya yang masih setia dengan posisi semula.
" Nggak bertanya dari siapa ? " Pertanyaan Doni membuat kening Cahaya mengkerut.
" Apa harus ? Aku malah takut untuk bertanya sesuatu yang bukan urusan ku. Aku tidak ingin memasuki batas privasi kamu . Tapi jika Abang merasa aku perlu tahu maka kasi tahu padaku. " Jawaban Cahaya membuat Doni tersenyum penuh arti kemudian mengambil tempat duduk di samping Cahaya. Sehingga bahu keduanya bertemu.
" Cahaya, mulai sekarang jangan berpikir seperti itu. Suami istri itu tak ada batasannya. Bagi ku tidak ada privasi antara kita. Karena privasi itu adalah celah untuk berbuat curang. Dompet, ponsel bahkan ruang kerja pribadi milikku boleh kamu akses sesuka hati. Begitu juga dengan ku . Karena aku bersungguh sungguh dengan pernikahan ini. "
" Bolehkah seperti itu, apa Abang tidak butuh privasi. Apalagi kita belum terlalu saling mengenal. Menurut aku, Abang terlalu cepat ." Sanggah Cahaya.
" Apa kamu masih ragu pada hubungan baru ini ? Atau kamu terpaksa dan belum bisa menerima ? Kamu belum move on dari pria itu. " Mata Doni menyipit penuh selidik.
" Bukan nya Abang yang belum keluar dari masa lalu ? " Doni terdiam. " Dan aku memang dipaksa keadaan tapi untuk menikah aku tak ada niat untuk bermain main. Yang aku takutkan Abang yang akan terganggu jika aku terlalu kepo. "
" Baiklah, mungkin kita butuh sedikit waktu untuk saling memahami . Baik bagi ku ataupun kamu butuh waktu untuk menyatukan cara pikir dan sudut pandang. Mari sama sama belajar. " Ucap Doni bijaksana.
Tidak mudah memang, apalagi pernikahan mendadak tanpa mengenal satu sama lain. Apakah mereka bisa ? Entah lah.....
...****************...
Happy Reading 💕
__ADS_1