
Malam semakin larut, saatnya pesta pernikahan meriah itu harus berakhir. Semua tamu juga sudah mulai meninggalkan Ballroom. Begitu juga keluarga inti Doni dan Cahaya. Yang tersisa hanyalah para kru WO dan karyawan hotel yang masih berjibaku membereskan semua kemeriahan yang tertinggal.
Dan kedua pengantin baru itu juga telah tiba di peraduan mereka malam ini. Suasana yang berbeda terlihat sangat mencolok dari interior kamar saat ini. Sekarang kamar mereka di penuhi lilin aroma terapi dengan taburan mawar di mana mana. Sprei dan gorden kamar juga telah berganti. Entah ini kerjaan Rania atau ini termasuk layanan hotel. Cahaya dan Doni sama sama tidak peduli.
Keduanya lebih sibuk menatap penuh kagum, karena dalam sekejap kamar mereka berubah menjadi kamar Honeymoon yang sempurna. Jangan lupakan kamar mandinya. Aroma mawar menyeruak memenuhi ruang kecil itu. Dan Jacuzzi nya telah di penuhi oleh kelopak mawar merah.
" Wah... sepertinya kita harus memanfaatkan semua ini dengan sebaik baiknya. " Ucapan Doni memecah konsentrasi Cahaya yang sibuk menatap sekeliling kamar itu.
" Hmm... aku mandi dulu. " Cahaya yang gugup hendak beranjak menjauhi Doni. Tapi tertahan oleh cekalan tangan Doni.
" Duduklah... " Doni menarik Cahaya menuju meja rias dan mendudukkan nya di sana. " Aku bantu membuka aksesoris di kepalamu, ini pasti ribet jika dilakukan sendiri. " Tangan Doni mulai bekerja membuka beberapa pin dan jarum yang menancap di hijab Cahaya.
Satu persatu pretelan yang menempel di kepala Cahaya mulai terbuka dan ditaruh Doni di atas meja. Cahaya hanya bisa diam dan memperhatikan semua yang Doni lakukan dari balik pantulan cermin. Ketika tangan Doni sampai pada bros kecil di leher, Cahaya menghentikannya.
" Kenapa ? Kamu belum ikhlas menerima ku ? Apakah aku belum diizinkan melihat mahkota yang tersimpan disini. " Dengan lembut jemari Doni membelai lembut kepala Cahaya. Cahaya memejamkan mata menahan degup jantungnya.
" Bukan... bukan begitu. Aya hanya kaget. " Saat Cahaya menyebut nama kecilnya, Doni tersenyum tipis. Cahaya hanya mengunakan panggilan itu untuk orang yang dia hormati. Bahkan pada Rania saja Cahaya masih memakai panggilan " aku " untuk dirinya. Doni merasa Cahaya sudah mulai menerimanya.
Tanpa bicara Doni mulai meraba kembali bros kecil di bagian leher Cahaya. Dengan tatapan yang tak lepas dari cermin yang menampakkan wajah merah merona Cahaya. Posisi Doni yang berdiri di belakang Cahaya membuat Doni dengan jelas menikmati kegugupan Istrinya itu.
__ADS_1
Dan penutup kepala Cahaya terlepas satu lapis demi satu lapis hingga terpampang rambut hitam se punggung agak bergelombang terkuncir rapi. Cahaya kini hanya bisa tertunduk. Ada rasa yang aneh dan ganjil kini dia rasakan.
Sejak SMA Cahaya telah memutuskan berhijab dan semenjak itu pula baru tiga pria yang pernah melihat rambutnya. Pertama ayahnya, Fakhrul dan Biru.
Dan kini Doni juga telah melihat mahkota legam nya untuk pertama kalinya. Cahaya tidak mampu untuk membalas tatapan suaminya meski lewat perantara cermin. Sedangkan Doni tanpa sadar mengusap lembut surai legam itu sembari mengurai nya .
" Cantik... ! Jangan tutupi ini jika kita hanya berdua, aku suka melihatnya dan menghirup aromanya. " Doni memejamkan matanya menghirup aroma mawar yang memenuhi indra penciuman nya.
Mendengar ucapan Doni sekujur tubuh Cahaya meremang dan rongga dadanya terasa didobrak dari dalam. Usapan lembut di rambutnya sesekali menyentuh kulit lehernya. Cahaya tidak bisa tidak gemetar. Sentuhan seperti ini sudah lama tidak dia rasakan. Entah kapan terakhir kali diapun lupa. Karena yang Cahaya ingat hanya sentuhan yang menyakitkan.
" Cahaya, boleh aku memanggilmu Jingga ? Aku suka nama itu sejak mengenalmu. Aku suka dengan senja. Bagiku senja dan jingga itu sama saja. " Ucap Doni setengah berbisik.
Dengan lembut Doni memutar tubuh Cahaya menghadap padanya. " Kamu gemetar..., apa kamu takut ? " Tanya Doni lembut sembari menatap manik coklat di depannya yang bergerak menghindari matanya.
" Ti... tidak... hanya gu... gup. " Fix Cahaya takut. Doni menyadari kondisi psikis Cahaya yang belum terlalu pulih. Doni tidak akan memaksa.
Hanya saja sejak mengucapkan ijal qobul tadi dengan menyebutkan nama Cahaya Jingga Doni merasa ada sebuah tali tak kasat mata yang menariknya ke arah Cahaya. Rasa yang tidak pernah Doni rasakan pada teman teman wanita nya selama ini.
Menikahi Cahaya murni karena sang ibu. Ingin membahagiakan nya disisa umur yang mungkin tak kan lama lagi. Dan ada rasa ingin melindungi Cahaya dan anak anaknya ketika masalah Binar didengarnya dari Rania. Meski tidak bisa Doni pungkiri ada ketertarikan secara fisik saat dia melihat foto ketika Cahaya masih kuliah . Waktu Aryo memberikan data diri Cahaya kala itu.
__ADS_1
Selama ini Doni hanya bermain tipis saja dengan setiap teman wanita nya. Tidak pernah sampai lewat dari pusar. Karena memang Doni tidak tertarik untuk melakukannya dengan seseorang yang tidak sah baginya. Anggaplah Doni bodoh atau kolot. Tapi itulah Doni. Bukan berarti dia tidak on fire, tentu saja Doni normal. Jika sudah terdesak maka saatnya Doni mencari kamar mandi.
Apa yang Doni rasakan saat ini ? Aroma dari rambut dan tubuh Cahaya telah membuat kewarasannya tinggal setengah. Ada wanita cantik yang sah baginya. Apalagi sepuluh tahun Doni tidak pernah merasakan kehangatan wanita. Jangan ditanya rasanya saat ini meski cinta itu belum ada tapi hasratnya normalnya mulai bekerja.
Tapi untung setengah dari dirinya masih waras. Saat menyentuh tubuh ringkih ini ada getaran halus yang Doni rasakan. Wanita di depannya adalah korban KDRT bukan hanya fisik tapi juga kekerasan seksual. Wanita yang pernah kehilangan kepercayaan pada pasangannya. Doni butuh bersabar, cukup skin ship santai saja dulu agar Cahaya terbiasa dan percaya padanya.
" Sini peluk Abang. " Doni berdiri tegak di depan Cahaya yang masih duduk. Dengan lembut Doni menarik tubuh kurus itu ke dadanya.
" Jangan jaga jarak dengan ku. Kita sekarang suami istri. Apapun yang kamu rasakan katakan saja ,jadikan aku sandaran kamu, Jingga." Ucap Doni lembut dan nyaris serak. Cahaya hanya mengangguk kan kepalanya dan Doni tersenyum merasakan gerakan itu.
" Sekarang mandilah, sholat Isya kemudian istirahat. " Aku mau menemui teman teman di lantai atas. Tidur saja dulu, aku bawa kartu akses. " Doni melepas belitan tangannya. Dan membiarkan Cahaya bergerak ke kamar mandi.
Sementara Doni menatap punggung istrinya hingga tenggelam oleh pintu kamar mandi. Setelah itu Doni melepaskan Tuxedo serta dasinya meninggalkan kemeja dan menggulung lengannya se sikunya.
Setelah berdiam sebentar akhirnya Doni meninggalkan kamar pengantinnya menuju Bar yang ada di lantai atas hotel. Randi , Aryo dan Maxim telah menunggunya di sana. Tentu saja mereka akan membahas tentang Marinda yang tengah meradang.
Walau bagaimana pun Doni adalah yang paling dekat dengan wanita cantik itu. Dan saat ini Marinda tidak terima ditinggal nikah oleh Doni secara tiba tiba. Rinda telah menaruh harapan yang terlalu dalam pada Doni. Dan demi menjaga pertemanan yang terbilang sudah puluhan tahun ini maka mereka harus mencari penyelesaian secepat mungkin. Karena Marinda tidak akan berhenti begitu saja.
...****************...
__ADS_1
Happy Reading 💕