Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Fakhrul menyerah


__ADS_3

Pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu kini sedang berada di ruang tunggu Dokter kandungan. Doni tak melepaskan genggaman tangannya sesaat pun dari Cahaya. Senyum penuh bangga pun tak luput dari bibirnya. Doni sangat bahagia sekarang.


Cahaya merasa malu karena Doni sesekali melemparkan senyum manis tanpa dosa setelah mengecup punggung tangannya. Bagaimana tidak, apa yang Doni lakukan menarik perhatian pasangan lain yang sedang sama sama mengantri dengan mereka.


Berbagai reaksi yang tertangkap oleh mata Cahaya. Ada yang tersenyum geli , ada yang menatap iri dan ada pula yang julit dan nyinyir tak jelas. Berkali-kali Cahaya menarik tangannya namun tak kunjung Doni lepaskan. Akhirnya Cahaya menyerah dan membiarkan saja Doni maunya apa.


" Abang nggak malu dilihatin orang. Nanti orang sangka Abang nggak normal senyum senyum sendiri gitu. " Tegur Cahaya setengah berbisik.


" Nggak apa apa, yang penting Abang normal dan sedang bahagia. Abang lagi tidak ingin mikirin nitizen. " Balas Doni berbisik sambil mencuri satu kecupan di pipi Cahaya.


" Abang...!!! Pekik Cahaya tertahan.


" He.... he..


Cahaya hanya bisa menggeleng geleng melihat tingkah suaminya yang absurd. Semua pemandangan itu romantis itu tengah menggores sebuah hati di sudut lorong rumah sakit itu.


Fakhrul yang sedang menjaga Farel pasca operasi tak sengaja melihat kedua pasangan suami istri itu. Rasa penasaran Fakhrul mengantarnya hingga di tempat itu . Yang Fakhrul yakini kini Cahaya tengah mengandung. Raut bahagia di wajah Doni telah menjawab segalanya.


Fakhrul menarik langkah mundur kembali ke ruang Farel. Hatinya nggak cukup kuat untuk melihat lebih lama adegan romantis itu. Jiwa Fakhrul berperang antara ingin merebut Cahaya kembali atau merelakannya. Melihat ketakutan Cahaya dan Binar membuat Fakhrul ingin mundur. Tapi rasa hatinya tidak bisa Fakhrul kendalikan.


Langkah gontai itu tertahan tepat di depan ruang rawat Farel. Fakhrul melihat seorang wanita yang menatap ke ruangan itu lewat kaca kecil di pintu. Wanita yang menatap penuh kerinduan dan linangan air mata. Wanita yang sangat Fakhrul kenal dan kini paling Fakhrul benci.


Amelia masih menatap Farel dari kaca itu. Tanpa menyadari jika Fakhrul telah berada tepat beberapa langkah di belakangnya. Hingga dirasa cukup, Amelia berniat hendak meninggalkan tempat itu sebelum Fakhrul melihatnya.


Tapi harapannya pupus sudah, Fakhrul telah memergoki nya terlebih dahulu. Amelia memucat sambil mengusap sisa air matanya. Merutuki dirinya yang larut dalam rindu tanpa mengingat jika Fakhrul bisa muncul kapan saja.


" Mas... maaf, aku nekat mencari kalian. Aku rindu Farel. " Ucap Amelia ketakutan.

__ADS_1


Fakhrul bergeming tanpa bicara. Menatap Amelia yang terlihat kurus dan kusam dari biasanya. Terlihat kurang tidur dan mungkin kurang makan. Ada rasa kasihan terselip di sudut hati Fakhrul. Bagaimana pun Amelia adalah ibu dari anaknya. Dan Fakhrul selalu membohongi Farel mengatakan jika Mamanya sedang bekerja.


Sesaat pikiran Fakhrul penuh oleh bayangan antara Cahaya dan Amelia. Memikirkan langkah mana yang harus Fakhrul tempuh untuk kebahagiaan semua. Dan akhirnya Fakhrul menarik napas dalam dan melepaskan nya dengan kasar.


" Ayo ikut, aku ingin bicara. " Fakhrul berjalan cepat menuju sebuah Cafe kecil dekat rumah sakit. Tapi sebelumnya Fakhrul telah menitipkan Farel pada perawat jaga. Dan di sinilah Fakhrul dan Amelia duduk berhadapan.


Amelia salah tingkah saat Fakhrul hanya diam sambil menatap dalam padanya. Pandangan yang tidak bisa Amelia tebak maknanya. Tapi jujur Amelia benar benar gugup saat ini. Seperti seorang yang sedang berhadapan dengan dosen killer . Atau seorang karyawan dihadapkan dengan pimpinan perusahaan setelah melakukan kesalahan.


" Apa yang kamu inginkan sekarang Amel. " Suara tenang tapi dingin , Amelia bisa merasakan aura tegas Fakhrul.


"Aku...? " Tanya Amelia bingung.


" Iya... kamu. Apa tujuan hidupmu atau lebih jelasnya kamu mau apa ? " Ucap Fakhrul sembari melipat tangan di dadanya.


" Aku ingin hidup tenang dengan Farel. Itu saja. Aku ingin memulai hidup baru yang damai tanpa rasa ketakutan dan terancam. " Ucap Amelia jelas.


" Tapi aku tidak bisa memenuhinya. Farel akan aku bawa ke Australia. Aku kini tinggal di sana. Bisakah kamu merelakan dia bersamaku. Kini aku hanya memilikinya. Binar dan Biru tak bisa lagi aku jangkau. " Suara Fakhrul melemah mengingat kedua buah hatinya.


" Apa ? "


" Selama tujuh tahun kita bersama, berbagi ranjang dan menghabiskan waktu lebih banyak dari istri dan anak anakmu. Berbagi susah senang membangun impianmu. Apakah selama itu tidak ada sedikit rasa untuk ku. Tidak adakah aku masuk dalam hatimu. Setiap kita bercinta kamu selalu mengatakan mencintaiku dan kamu selalu memanggil mesra. Apa itu hanya hasrat. Bukan cinta...? "


Pertanyaan Amelia membuat Fakhrul memutar kembali memori kebersamaan mereka. Bagaimana gilanya Fakhrul menyentuh Amelia. Tanpa ingat tempat maupun waktu. Memanfaatkan kunjungan keluar kota untuk mencoba suasana baru , gaya baru dan sensasi baru. Fakhrul sendiri bertanya pada hatinya apa yang dia rasakan.


Tapi Fakhrul tak menemukan jawaban . Dan Fakhrul menyakini itu hanya hasrat. Karena Fakhrul sedikitpun tidak ingin mempertahankan Amelia jika disuruh memilih antara Cahaya atau Amelia. Tapi selama tujuh tahun itu Fakhrul hanya terikat atas nama napsu yang tidak bisa dia saluran dengan leluasa dan bebas pada Cahaya karena kondisi dan situasi.


Sementara dengan Amelia dia bisa sesuka hatinya . Tanpa peduli Amelia lelah ataupun bad mood. Yang dia tahu Amelia harus siap dengannya kapan dia ingin. Fakhrul bisa bebas berfantasi dengan Amelia . Bahkan mereka pernah nekat melakukannya di rooftop , di parkiran dan lobi kantor Fakhrul. Dan semua itu terwujud bersama Amelia.

__ADS_1


" Tidak... aku yakin tak ada cinta. Bagiku kamu cuma objek. Kepuasan yang aku dapatkan saat fantasi ku dalam imajinasi dapat aku wujudkan denganmu. Tapi dengan Cahaya aku selalu ingin menjaganya . Berhubungan dengannya aku hanya memikirkan kenyamanannya. Aku tidak ingin menyakiti nya. Cahaya memenuhi semua tujuan hidupku. Tapi kamu... bagiku hanya sebatas hubungan badan saja tak lebih. " Fakhrul mengatakan kejujuran.


Menyakitkan memang tapi pada kenyataannya itulah yang Fakhrul rasakan. Salahkan Amelia, karena telah menarik Fakhrul dalam kubangan dosa yang menghancurkan mereka berdua.


" Amelia, aku mengakui iman ku lemah. Tapi dari awal tak ada sedikitpun niat ku untuk berselingkuh bahkan saat kita bekerja bersama hingga larut malam. Selama setahun kamu bekerja pernahkah aku menggoda mu ? Jawaban tidak, karena aku bukan pria yang haus s*x. Tapi aku pria normal yang lemah iman. Aku menyadari kamu selalu mencari perhatian ku, membuat aku fokus padamu. Beberapa kali kamu berusaha untuk menggoda ku. Aku benar bukan ? "


Amelia terperangah Mendengar pertanyaan Fakhrul. Dia hanya bisa meremas jemarinya menyalurkan rasa gugupnya. Fakhrul tersenyum miring merutuki kelemahan nya.


" Kamu memang telah berniat menarik ku untuk tenggelam dalam dosa itu. Hingga aku tenggelam sangat jauh sampai tak mampu untuk keluar meski aku sadar itu salah. Aku yakin aku yang pertama buat mu tapi sepertinya kamu belajar banyak untuk memuaskan pria yang membuatku susah untuk keluar dari jeratmu, Benar begitu Amelia ? " lagi lagi Amelia hanya bisa terdiam.


"Apa tujuanmu menang uang ku, hingga saat aku lengah kamu langsung memanfaatkan dan kabur dengan seluruh hartaku ? "


" Bukan... bukan itu tujuan awalku. Aku mencintaimu dalam diam. Setiap aku bersama denganmu aku selalu ingin mendekati mu. Tapi aku berusaha menekankan rasa itu karena aku tahu kamu milik Cahaya. Tapi semakin hari rasa itu semakin sulit aku bendung. Apalagi aku lebih sering dengan mu. Dan aku merasa punya banyak peluang untuk masuk dalam hidupmu. Sungguh itu karena aku mencintaimu. " Amelia menarik napas sejenak.


";Aku relakan tubuh dan waktuku hanya untukmu. Semua murni karena cinta. Jika akhirnya aku memilih untuk pergi itu karena aku kecewa. Aku hamil saat aku meminta dinikahi. Tapi kamu menolak. Dan aku takut kamu akan menyuruhku membuang bayiku . Jadi aku putuskan pergi dengan harta mu. " Amelia mengakhiri keluh kesahnya.


" Sekarang kita sama sama terbuang Amelia. Cahaya tak bisa lagi aku jangkau. Suaminya memiliki segalanya. Semua yang tidak pernah aku berikan padanya. Perhatikan, kesetiaan, kejujuran dan waktu. Kini aku bisa melihat binar kebahagiaan dalam bening matanya. Aku memilih mundur untuk memperjuangkan nya kembali. Karena aku yakin tidak akan berhasil. Jadi aku akan kembali ke Australia dengan Farel. Jadi... mari saling melepaskan."


Fakhrul menyakinkan dirinya dengan keputusan yang dia ambil. Biarkan Cahaya bahagia, kini adalah waktunya Cahaya dan anak anaknya keluar dari awan gelap yang Fakhrul ciptakan. Kini Fakhrul memantapkan hatinya.


" Mas, tidak bisakah kamu membuka hati untukku. Aku masih sangat mencintaimu. Mari hidup bersama demi Farel. " Pinta Amelia dengan genangan bening di matanya.


" Aku ingin menyembuhkan luka Amel. Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi termasuk kamu. Aku tidak ingin kamu akan menjadi pelampiasan kekecewaan ku. Menjauh lah dari ku. Aku benar benar terluka saat ini. Dan semua karena permainan yang kamu mulai. Jadi biarkan kita nikmati masa pembuangan kita. Farel telah di operasi, semoga ke depan dia bisa lebih baik. Dan aku tidak akan menutup akses untuk kamu berhubungan dengannya. "


" Mas...


" Sudahlah aku ingin sendiri

__ADS_1


...****************...


Happy day readers 💕


__ADS_2