
Cahaya terbangun tanpa Doni di sampingnya. Tanpa berlama-lama Cahaya bangkit dan membersihkan diri ke kamar mandi. Tak lupa Cahaya menunaikan ibadah Ashar karena jam dinding telah menunjukkan pukul empat sore. Cahaya berniat ingin keluar mencari suami dan anak anak nya. Tapi sebelumnya Cahaya menatap ke luar lewat jendela sekedar melihat situasi.
Tapi Cahaya malah melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat. Marinda dengan santainya bersandar di bahu Doni yang duduk di bangku panjang menghadap pantai. Tak lupa pula tangan Marinda melingkar nyaman di lengan Doni. Cahaya tak bisa melihat wajah Doni tapi Cahaya bisa melihat senyuman cantik di wajah Marinda.
Jantung Cahaya berdegup kencang. Tanpa sadar Cahaya meremas gorden yang melambai di hadapan nya. Ragu antara keluar atau menunggu kini Cahaya rasakan. Rasa takut Marinda semakin gencar mendekati Doni dan takut Doni tidak bisa mengendalikan hatinya. Walau bagaimana pun Doni pria normal.
Cahaya memilih duduk di ranjang kembali. Mencoba menahan diri agar tidak meledak tiba tiba. Tapi rasa tenang tak kunjung dia rasakan. Di liriknya kembali jendela yang masih terbuka. Kedua manusia yang membuatnya kacau itu masih berada di situ.
Dengan Langkah ragu Cahaya melangkah ke luar kamar. Ada Ibu Ratih yang duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Mendengar pintu kamar terbuka beliau menatap tepat saat Cahaya keluar dari dari sana.
" Sudah bangun, Aya. Tadi Doni berpesan jika kamu bangun disuruh nyusul ke pantai. " Ucap Ibu Ratih ketika melihat Cahaya.
" Oh iya baik , Buk . Aya susul Abang dulu. " Cahaya berjalan menuju pintu keluar. Namun sesaat kemudian terhenti dan berbalik. " Kok sepi, Buk ? Pada kemana yang lain. " Tanya Cahaya yang merasa heran.
" Katanya mau cari tempat berkemah, nggak tahu kemana. Tadi Doni juga mau ikut, tapi mendadak ada temannya. Maka nya suruh kamu nyusul. " Ungkap Ibu Ratih.
" Ooo... Cahaya pergi dulu, ya Buk. "
" Ya, Nak. Pergilah. "
Cahaya melanjutkan langkahnya, mendekati tempat Doni dan Marinda berada. Terlihat keduanya begitu asyik bercerita sampai tidak menyadari kehadiran Cahaya .
Sebenarnya jika mengikuti hati Cahaya memilih untuk tidak menghampiri. Tapi Cahaya tidak ingin memberikan celah untuk wanita lain mengambil tempatnya lagi. Cukup sudah baginya menaruh percaya pada suaminya. Karena pada hakikatnya pria juga manusia. Tak selamanya mampu bertahan jika godaan selalu datang.
Rasa khawatir itulah yang mendorong Cahaya untuk memberanikan diri menyusul Doni sesuai permintaan suaminya. Mungkin Doni sendiri merasa tak mampu menghadapi wanita jenis Marinda yang tak ada malunya. Dan Cahaya juga tidak akan membiarkan bahu suaminya dimanfaatkan oleh wanita ulat bulu itu terlalu lama.
__ADS_1
Cahaya berjalan makin mendekat, dan dengan sengaja menendang kaleng minuman ringan yang tak sengaja ada di pasir. Sontak ulah Cahaya menarik perhatian kedua pasangan yang katanya sahabat itu. Dan lihatlah, Doni langsung menyusul Cahaya dan menggandeng nya. Padahal hal itu tidak perlu Doni lakukan, karena Cahaya bukannya sakit ataupun renta.
" Hai, Sayang. Kamu sudah bangun ? Kenapa nggak telpon saja, biar Abang jemput kamu. " Cahaya sedikit bingung dengan pernyataan Doni. Tapi Cahaya hanya tersenyum menanggapinya karena Cahaya mengerti maksud suaminya.
" Aya bosan di kamar, nunggu Abang kelamaan. Jadi Aya susul aja. Eh... ada Mbak Marinda, kapan datang Mbak. Wah kebetulan sekali ya, Mbak Marinda healing ke sini. Nggak janjian, kan ? " Cahaya sengaja menyindir dan kemudian mendekati Marinda yang menatap tidak suka dengan kehadiran Cahaya.
" Nggak lah, Sayang. Abang aja kaget ketemu Marinda di sini . Ayo duduk kamu jangan capek capek, kasihan baby nya. " Doni sengaja menjadi suami sok perhatian di depan Marinda. Agar Marinda paham jika tak ada tempat untuknya di hati Doni. Sudah ada Cahaya yang memenuhi hidupnya.
" Kamu nggak keberatan dan merasa terganggu, kan. " Balas Marinda dengan wajah sok manis.
" Keberatan...? Tentu tidak, Mbak. Kenapa juga keberatan. Kan ini tempatnya teman Abang dan Mbak, selagi dikasi izin aku nggak berhak keberatan. " Cahaya masih setia mendekap lengan Doni seperti yang Marinda lakukan tadi.
" Iya... ya, benar juga. Kami juga bisa bernostalgia sekalian. Kamu tahu nggak, tempat ini sangat berkesan bagi kami berlima. Kami sering menghabiskan waktu bersama di sini dulu. Terutama bagiku dan Doni. Kami sering bercu...
" Hentikan Marinda...!! Istriku sedang hamil, bisakah kamu menjaga perasaan nya. Yang kamu katakan itu hanya masa lalu, tak selayaknya diungkit ungkit lagi. " Doni sudah merasa jengah dengan tindakan Marinda.
" Nggak apa apa, Sayang. Seperti yang Abang katakan. Itu hanya masa lalu, dan sudah berlalu bukan ? Bagi Aya yang penting masa sekarang dan masa depan. Mungkin Mbak Marinda hanya membagikan kisah saja. " Ucapan lembut Cahaya, semakin membuat Marinda geram.
" Sok bijak. " Gumam Marinda dalam hatinya.
" Entahlah Doni, padahal dulu doyan. Sekarang sok lupa dia, he... he...! Maaf ya Cahaya, dulu kami memang dekat, sangat dekat malah." Ucap Marinda tanpa dosa. Dia mengabaikan tatapan tajam Doni yang menghujam dengan aura kelam.
" Nggak apa apa Mbak, Abang hanya terlalu mencintaiku dan takut nostalgia kalian menyakiti aku. " Cahaya terlihat santai padahal hatinya bergemuruh. Dan Cahaya yakin Doni bisa merasakan debaran jantungnya yang tak biasa .
" Tidak ada yang spesial di masa lalu yang harus aku ingat. Marinda sendiri tahu semua itu tanpa melibatkan perasaan. Dan hanya sekedar kissing biasa. Abang nggak pernah menyentuh lebih dalam, Sayang. " Doni langsung menegaskan apa yang terjadi antara Marinda dan dirinya. Doni sangat takut Cahaya terpengaruh dan berpikir yang aneh aneh.
__ADS_1
Sementara Marinda memerah menahan malu. Doni blak-blakan menjelaskan posisinya di hati Doni. Niat hatinya ingin membuat Cahaya panas malah dirinya yang kepanasan. Apalagi panggilan sayang keduanya membuat Marinda ingin muntah. Jangan ditanya mata Marinda yang gatal melihat skinship antara Doni dan Cahaya. Doni yang mengusap perut Cahaya dan Cahaya yang menimpa tangan Doni di perutnya.
" Aya tahu, Bang . Abang sudah cerita , kan ? " Cahaya dengan berani mengecup pipi Doni. Sengaja memberitahu jika Doni miliknya dan tak ada tempat buat yang lain.
Doni membalasnya dengan mengecup bibir Cahaya sekilas. Keduanya sama-sama tersenyum setelahnya. Tanpa mempedulikan Marinda yang sudah menahan rasa geram dengan mengepalkan tangannya. Tapi bukan Marinda namanya jika tak bisa memanipulasi. Dengan tetap menjaga senyuman seakan ikut bahagia bersama kedua pasangan itu.
" Sudah sore, aku mau istirahat dulu, ya. Silahkan lanjutkan mesra mesranya. Aku nggak mau ganggu kalian. Bay Cahaya... " Marinda beranjak tanpa menanggalkan senyum palsu di wajahnya.
Kedua pasangan itu menatap punggung Marinda hingga dirasa cukup jauh. Kemudian keduanya tertawa sambil membekap mulut dan saling menatap dengan penuh cinta.
Doni mengecup wajah Cahaya dengan lembut. Mulai dari kening, mata dan kedua pipinya. Ciuman berakhir dengan ******* singkat di bibir Cahaya. Dan Doni menatap wajah cantik itu sangat dalam dan lekat. Rasa tak ingin Cahaya jauh dari jangkauan matanya. Dan Doni memeluk Cahaya meluapkan rasa bangganya dengan apa yang Cahaya lakukan tadi untuk melindungi hak miliknya.
" Dia belum akan berhenti, Bang. Dia belum menyerah. Jujur Aya takut, tak selalu bisa mengawasi dan melindungi Abang. Aya takut Abang terperdaya dan tersesat oleh pesonanya. " Ucap Cahaya mengungkapkan gundahnya masih dalam pelukan Doni.
" Maaf ... masa lalu Abang terlalu buruk dan berdampak buruk. Abang menyesalinya sekarang. " Suara Doni lirih dan serak seakan mewakili hatinya yang juga gundah. Takut Cahaya terpengaruh tentunya.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan . Mungkin itulah jalan takdir yang harus kita lalui. Untuk menguji seberapa besar cinta kita dan kesabaran untuk bertahan. " Balas Cahaya.
" Kamu benar benar bidadari, Sayang. Abang sangat mencintaimu. Sangat... !" Doni mengeratkan pelukannya.
" Terima kasih telah mencintai Aya sebesar ini. Aya bahagia... tetaplah seperti ini, jangan berubah. Aya tak ingin terluka. " Cahaya menitikan air mata. Sungguh... kehadiran Marinda sangat mengkhawatirkan nya .
" Tak akan... Abang juga tidak ingin kehilangan mu. "
...****************...
__ADS_1
Happy Reading 💕