Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Masa lalu yang mengganggu


__ADS_3

Semua mata tertuju pada sosok gagah yang berjalan mendekati meja akad yang telah disediakan. Penghulu dan saksi menantinya dengan gelisah sejak beberapa menit yang lalu. Apa lagi Ibu Ratih, wanita tujuh puluh tahun itu telah berburuk sangka semenjak tadi. Apalagi Adnan tempatnya bergantung saat itu juga tidak terlihat.


Rania jelas tidak bisa dia tanyai karena posisinya berada satu tempat dengan Cahaya. Jika menghubungi Rania sama saja membuat Cahaya cemas. Tapi kini Ibu Ratih bisa menarik napas lega ketika Doni berjalan ke meja akad diikuti oleh Adnan.


Meski Ibu Ratih bisa menangkap raut wajah gelap dan suram anaknya, setidaknya Doni tidak meninggalkan acara sakral ini begitu saja. Ada yang tidak beres pada anaknya. Adnan pun terlihat sedikit tegang. Hingga pandangan Adnan tertuju padanya seakan memberitahukan semua baik baik saja.


Doni di persilahkan oleh MC untuk duduk di tempat yang disediakan . Kemudian setelah acara dibuka oleh MC dan sedikit ramah tamah akhirnya acara inti yang ditunggu semua orang di mulai.


Berawal dari sang Penghulu yang memberikan kata pembuka dan wejangan wejangan. Cahaya yang berada di kamar khusus tidak bisa fokus. Pikirannya terbang dan telinganya mendengung tak karuan seiring dengan hatinya yang campur aduk .


Ini bukan yang pertama bagi Cahaya tapi tidak bisa dipungkiri jantungnya tidak lagi bisa dikondisikan.


" Sah "


Satu kata yang terdengar lantang dari mulut para saksi menyeret Cahaya kembali ke alam nyata. Sesaat kemudian terdengar suara riuh gemuruh dari para tamu . Hingga MC kembali mengambil alih acara dan meminta pengantin wanita untuk memasuki Ballroom.


" Ayo, Kakak ipar saatnya menemui suamimu. " Ucap Rania dengan kerlingan nakalnya.


Suami, iya ! Sekarang Cahaya sudah punya suami. Dia seorang istri dari seorang Ramadhoni aksa, seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan yang cukup di diperhitungkan di negara ini. Semua terasa mimpi entah ini indah atau menakutkan. Bagi Cahaya kini terasa abu abu.


" Hei... ! Ayo, kok bengong. Kamu nggak kesambet, kan ? " Seloroh Rania.


" Ish... kamu. Nggak tahu apa aku gugup. " Rengut Cahaya.


Kedua sahabat itu akhirnya keluar dari ruangan khusus tempat Cahaya disembunyikan . Semua mata mengarahkan ke pintu yang terbuka. Cahaya dan Rania muncul dan berjalan pelan mendekati meja akad .


Doni menatap Cahaya yang menunduk sedari keluar dari ruangan. Hingga terduduk di samping Doni pun, Cahaya tak kunjung mengangkat wajahnya.


Setelah menyelesaikan urusan surat menyurat, MC meminta Doni untuk menyematkan cincin pernikahan dan begitu juga dengan Cahaya. Kedua saling menyentuh untuk pertama kalinya. Tangan Cahaya yang berhiaskan hena terlihat gemetar dan berkeringat.


Doni menikmati kegugupan Cahaya dengan senyuman tipis tanpa ada yang menyadari. Hingga tepat setelah Cahaya selesai menyematkan cincin MC menyuruh Cahaya mencium tangan suaminya sebagai bakti pertamanya pada sang suami. Dan selanjutnya Doni mencium kening Cahaya.


" Aku mau menagih janjimu ! " Bisik Doni ketika bibirnya hampir menyentuh kening Cahaya.

__ADS_1


Cahaya yang tidak mengerti hanya diam menerima kecupan pertama dari laki-laki yang baru saja menjadi suaminya. Sementara Doni yang tidak mendapat tanggapan dari Cahaya tidak menyerah begitu saja. ketika kedua pengantin itu diarahkan untuk sungkem pada satu satunya orang tua mereka , Doni kembali mengatakan hal yang sama .


" Hai istri, kamu tidak lupa janji kamu , kan?


" Janji Apa ? " Cahaya memberanikan diri untuk sekilas melihat ke arah Doni.


" Bilang...terima kasih, Abang ! " Ucap Doni sambil berbisik dan meraih tangan Cahaya dan menggandeng nya menuju meja Ibu Ratih.


Cahaya tersentak dan kemudian menyadari maksud ucapan Doni.


" Te.. terima kasih, Abang ! " Ucap Cahaya tanpa tahu terima kasih yang dia ucapkan untuk apa. Yang kelihatan sekarang adalah senyuman Doni yang melebar.


" Apa dia sebahagia itu ? " Batin Cahaya.


Di depan mereka Ibu Ratih terlihat tersenyum dengan mata yang basah. Hari ini keinginan nya yang terbesar telah terkabul. Hatinya mulai tenang, anaknya sudah ada yang mengurus. Ibu Ratih hanya berharap Cahaya mampu mengembalikan Doni nya seperti dulu lagi.


" Berbahagialah, Nak. Cintai istrimu jangan sia sia kan. " Ucapnya saat Doni duduk mencium takzim kedua tangannya.


" InsyaAllah, Buk. Mohon Do'anya. " Balas Doni.


" Akan Aya usahakan, Buk. Aya butuh doa restu, Ibuk. ! "Ucap Cahaya.


" Selalu, Nak. "


Acara terus berlanjut, kini giliran anak anak yang menyalami Bunda mereka dan Ayah barunya. Dilanjutkan Rania, Adnan dan anak anaknya. Sayangnya Adik Doni tidak bisa datang karena acara yang mendadak, dan kesulitan mengurus cutinya.


Setelah nya giliran para tamu yang mengucapkan selamat pada pengantin baru itu. Keduanya sepakat tidak duduk di pelaminan, mereka berjalan mendatangi para tamu yang tak seberapa itu. Tangan yang bertaut itu terbiasa dan tidak canggung lagi.


Tiba di meja yang terakhir, Doni membawa Cahaya mendekat dengan menyalibkan tangan Cahaya pada lengannya. Di sana ada Aryo dan Randi bersama istri masing masing. Dan Max datang bersama Marinda tanpa pasangan mereka. Karena keduanya sama sama belum menikah.


" Selamat, Bro. Akhirnya kamu menemukan jalan pulang. " Ucap Aryo


" Thanks. Aya... kenalkan ini teman temanku. " Doni memperkenalkan temannya pada Cahaya. " Ini Aryo dan istrinya Rose. Ini Randi dan istrinya Dina. Dan ini Maxime , ini Marinda. " Cahaya hanya menyalami yang wanita dan menangkup tangan pada yang pria.

__ADS_1


Semua memaklumi Cahaya dengan segala penampilannya. Hingga sampai pada Marinda , Cahaya merasa tidak nyaman karena wanita itu membuang muka tanpa menyambut tangannya.


" Ini istriku Cahaya. " Ucap Doni memperkenalkan Cahaya pada semua temannya sembari meraih tangan Cahaya yang menggantung. Suasana terasa canggung dan hening sesaat.


" Syukur Doni mendapatkan kamu segera, Cahaya. setidaknya mengurangi populasi jomblo. Kini tinggal Max dan Rinda." Canda Randi memecah kecanggungan. Max tersenyum sementara Marinda melengos kesal.


Semua mengerti apa yang Marinda rasakan, tapi semua juga tahu jika Doni tidak pernah memberikan harapan apapun. Selama ini teman temannya sudah mengingatkan Marinda untuk berhenti. Karena mereka takut persahabatan ini terpecah hanya karena cinta tak berbalas. Tapi, selama Doni belum menikah Marinda masih memiliki harapan. Hingga kini harapan Marinda benar benar hanya harapan kosong.


Kecewa... ? Itu pasti. Tapi sangat disayangkan jika seorang Marinda bertindak seperti anak anak yang direbut mainannya. Seharusnya Marinda bisa lebih dewasa dalam menyikapi dan menerima kenyataan.


Hanya Cahaya yang bingung dengan keadaan ini. Tapi dalam hatinya Cahaya sudah bisa menebak kenapa Marinda mengabaikan nya. Tapi Cahaya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana hubungan mereka sebenarnya dan Doni... ?


" Saya yang beruntung, bisa dinikahi Abang. " Balas Cahaya pada Randi.


" Wuih... Abang, gays... " Celutuk Max mengejek Doni. Sementara Doni hanya tersenyum mencoba mengabaikan pandangan Marinda yang tak lepas darinya.


" Iya... kamu benar. Memang nggak nyangka sih, Don milih kamu. Jauh banget dari tipe dia. " Ucap Marinda lembut tapi sarat makna.


" Kita aja yang nggak tahu selama ini, makanya awet banget dia menduda karena belum ketemu yang kayak Cahaya. " Aryo mencoba menengahi agar suasana yang canggung ini tidak memanas.


" Yakin ini tipe nya, Don ! Dari Tiara nggak ada apa apa apa nya. Apalagi dari cewek cewek teman kencan yang bawa Don hangout . Terus yang sering di bawa ke pulau milik Max, apa kabar tu cewek. " Marinda terkekeh sinis.


" Doakan saja yang terbaik, ini hari bahagia dan awal baru Doni. Tidak perlu membahas masa lalu. " Aryo sedikit jengah dengan Marinda yang berusaha memprovokasi Cahaya.


Cahaya hanya diam tanpa menanggapi hanya remasannya pada lengan Doni mengetat tanpa disadari nya. Doni yang menyadarinya langsung meraih dan memindahkan jemari Cahaya kembali ke genggaman nya. Kemudian meremas nya sedikit erat memancing tatapan Cahaya tertaut dengannya . Doni tersenyum seakan berkata " Its ok. Don't worry be happy. "


" Baiklah, terima kasih telah datang. Kalian boleh makan semuanya tapi jangan lupa kado nya. Aku dan Cahaya mau duduk dulu, capek juga keliling. " Doni berkata sambil tersenyum tanpa sedikitpun melihat ke arah Marinda. Dan kemudian menarik Cahaya lembut ke meja Ibunya. Doni tidak ingin ada keributan.


" Jangan masukan dalam hati ucapan Marinda. Dia memang begitu, sedikit ketus tapi dasarnya baik. " Ucap Doni menenangkan Cahaya, tapi bagi Cahaya yang terdengar Doni sedang membela Marinda. Dan jujur Cahaya terganggu dengan panggilan khusus milik Marinda, " Don " .


Sejak tadi ada rasa tidak nyaman di hatinya atas semua tindakan dan perkataan Marinda. Tapi... Baik... ?? Benarkah Marinda segitu baiknya bagi Doni. Sebaik apa... ?? Dan seperti apa hubungan mereka... ?? Siapa cewek cewek yang Marinda maksud... ?


Semua pertanyaan itu mengambang dalam hati dan pikiran Cahaya. Cahaya tidak buta untuk menilai arti tatapan dan ucapan Marinda. Dan Cahaya juga tahu kalau Doni menghindari tatapan Marinda dan terlihat canggung. Seperti orang yang merasa bersalah.

__ADS_1


...****************...


Happy Reading 💕


__ADS_2