
Setelah pembicaraan nya dengan Cahaya, Amelia diam seribu bahasa. Maxim yang sedang mengendarai mobil menjadi kehilangan konsentrasi nya. Pasalnya dia bicara dari tadi tapi sekretaris ini tidak menanggapi sama sekali. Akhirnya Max ikutan diam.
Hingga mobil berhenti di sebuah bangunan tinggi tempat mereka mencari rupiah. Amelia tetap tidak bergerak dengan tatapan kosong ke depan. Max tidak tahan lagi melihat Amelia yang larut dalam pemikiran nya sendiri. Max menekan klakson mobilnya dengan kencang sehingga mengagetkan Amelia.
" Pak, ada apa ? " Tanya Amelia bingung.
" Akh... syukurlah. Aku kira kamu sudah berubah menjadi zombi , kaku begitu dari tadi. Capek aku ngomong sendiri tapi kamu kayaknya sedang tidur dengan mata terbuka. " Max berubah menjadi mak mak cerewet.
" Maaf, Pak. Saya tidak mendengar nya. " Amelia merutuki dirinya. Bagaimana jika Max marah dan memecatnya. Bisa bisanya Amelia mengabaikan Bos nya sendiri.
" Kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku akan menghukum kamu. " Max kembali menggelengkan kepalanya. Amelia kembali terdiam. " Kamu mendengarkan aku Amelia ?"
" Saya dengar, Pak. Maaf...
" Kalau gitu keluarlah . Apa kamu mau bekerja di sini saja. " Bentak Max gemas melihat Amelia yang tidak profesional sekali hari ini.
" Baik, Pak. Maafkan saya. " Amelia kembali meminta maaf dan segera keluar dari mobil tanpa diperintah dua kali oleh Max.
Keduanya berjalan beriringan menuju lift khusus dari basement. Lift yang langsung mengantarkan mereka ke lantai teratas. Max menuju ruangannya dan meminta Amelia untuk mengikutinya.
" Saya akan berkantor di Singapura beberapa bulan ke depan. Saya mau kamu ikut menemani saya sebagai PA saya. Apa kamu keberatan ? " Max langsung bicara pada intinya. Membuat Amelia yang lagi lemot tergagap mencerna ucapan bosnya.
" Maksud Bapak saya ikut pindah ke Singapura. " Amelia benar benar lemot, dan Max menatap tajam menjawab pertanyaan bodohnya.
" Saya butuh kamu jadi PA, menurut mu dimana seharusnya kamu berada, Amelia. Ada apa dengan dirimu, kenapa semakin kesini semakin tidak kompeten saja. "
" Kenapa saya tidak menjadi sekretaris pimpinan yang baru saja ? " Tanya Amelia. Karena dia kurang yakin untuk ikut ke Singapura.
" Direktur yang saya tugaskan membawa sekretaris sendiri. Saya tidak punya alasan untuk menolak permintaan nya. Apalagi mereka sudah bekerja sama sejak lama. Sulit untuk mencari pengganti yang cocok nantinya. Kenapa ... kamu keberatan ? " Max menatap Amelia penuh selidik.
" Kenapa tidak menjadi sekretaris saja , Pak. " Amelia merasa kurang nyaman menjadi Personal assisten. Max dingin cendrung arogan Amelia tidak mau jika belasan jam berhadapan dengan wajah masam Max setiap hari.
" Saya sudah punya sekretaris di sana. Itu jika kamu tidak setuju kamu boleh tinggal. Tapi hanya sebagai staf biasa. Kamu boleh pilih ! " Max menatap Amelia sambil melipat tangannya di dada dan menyandarkan punggung nya.
" Boleh saya pikirkan dulu, Pak. "
__ADS_1
" Saya tunggu jawabannya sore ini. Sekarang kamu boleh keluar. " Max membuka laptopnya tanpa mempedulikan Amelia yang ingin protes tapi tidak jadi.
Akhirnya Amelia keluar dengan bahu yang turun lima senti . Bagaimana mungkin dia bisa berpikir selama jam kerja. Bisa bisa dia dipecat karena salah memberikan data. Atau mungkin salah menyerahkan berkas kerja sama. Amelia tadinya meminta waktu hingga besok. Agar malam harinya Amelia bisa berpikir dengan tenang.
Sesampainya di mejanya, Amelia hanya bisa menarik napas dalam. Pilihan yang sulit. Menjadi staf biasa sama saja turun jabatan. Bukan karena gengsinya, tapi penghasilan nya. Tentu gajinya hanya cukup untuk makan sehari hari. Bagaimana mungkin Amelia bisa menabung untuk pergi ke Australia menemui putranya.
Akh....Amelia kembali mengingat Farel yang sangat dia rindukan. Amelia harus segera punya uang untuk bisa bertemu Farel. Beruntung Fakhrul tidak membatasinya untuk bisa bertemu dengan anaknya. Hanya saja Amelia yang memiliki keterbatasan ekonomi sekarang.
Harusnya Amelia bertanya apa fasilitas yang dia dapatkan di Singapura. Bagaimana cara memilih jika tidak tahu perbedaannya. Akhirnya Amelia kembali ke ruangan Maxim.
" Permisi, Pak. Maaf... boleh saya bertanya ? " Max hanya menjawab dengan deheman saja.
" Apa fasilitas di sana yang dapatkan, Pak ? "
" Apartemen , gaji dengan Dolar Singapura. Cuti dua minggu dalam setahun. Uang makan, transportasi , dan uang lembur. "
" Saya pilih Singapura, Pak. " Jawab Amelia segera.
Tidak perlu berpikir lagi, gaji pakai dolar udah cukup bagi Amelia. Dia butuh gaji yang banyak. Tujuannya hanya satu, segera bertemu dengan putra kesayangannya. Amelia kini telah banyak berubah. Jiwa keibuan nya merubahnya untuk hidup lebih baik.
" Baik Pak, kalau begitu saya keluar dulu . " Amelia keluar setelah Max mengangguk. Dia harus segera melakukan apa yang Max perintahkan. Karena besok pasti akan sangat sibuk.
*****
" Abang, kenapa peluk Aya terus. Aya sesak dan gerah. " Rengek Cahaya yang heran dengan tingkah Doni.
Sejak Amelia dan Maxim pergi, Doni mengajaknya berbaring dan berpelukan. Hanya berpelukan biasa tidak ada adegan dua puluh satu plus. Dan itulah yang membuat Cahaya heran, tidak biasanya Doni tahan hanya memeluk saja. Apalagi dari tadi wajah dan kening Cahaya tidak henti hentinya mendapat kecupan.
" Sebentar lagi, Sayang. "
" Abang kenapa ? Ada masalah di kantor ? " Tanya Cahaya sambil menatap wajah suaminya yang terlihat sendu.
" Nggak ada, Sayang. Abang hanya ingin memelukmu. Abang sedang galau. " Jawab Doni sekenanya saja.
" Galau ? Abang habis ditolak cewek ya, atau ceweknya selingkuh ? " Cahaya mulai kesal karena Doni main teka teki, Cahaya tidak sabar.
__ADS_1
" Cewek Abang masa lalunya memilukan, Abang menyesal nggak jumpa lebih dulu. Kalau nggak pasti Abang akan melindungi nya. " Ucap Doni sambil menyembunyikan wajahnya di leher Cahaya.
Cahaya terdiam mencerna ucapan Doni . Cahaya mengerti yang Doni maksud adalah dia. Tapi bagaimana Doni tahu, saat bicara dengan Amelia Doni dan Max di balkon yang posisinya lumayan jauh dari ruang sofa tempat dia duduk. Apalagi mereka bicara dengan suara biasa , tidak ada adegan bentak bentakan atau teriakan.
" Abang dengar semuanya. Ada penyadap di bawah meja. Abang takut wanita itu menyakitimu jadi Abang dan Max sepakat untuk berjaga jaga. Tapi sepertinya dia tulus membantu kamu tentang Marinda. " Doni menjelaskan tanpa Cahaya bertanya.
" Iya, Aya tahu. Tapi lebih baik Aya nggak melihat atau mendengar apapun tentangnya. Aya mau sembuh. Apa Aya keterlaluan padanya. "
" Tidak, anggap saja itu konsekuensi yang harus dia dapatkan setelah merusak kehidupan orang lain. " Doni mengusap punggung Cahaya lembut.
" Semoga dia benar benar insaf dan hidup lebih baik.
" Dia pasti baik baik saja, kalau dia berbuat baik. Max akan membantunya, kamu bisa tenang sekarang. " Doni bicara lirih dan mengecup leher Cahaya kuat .
" Abang... "
" Abang mau kamu, boleh ? "
" Nggak... Aya lapar. Mau makan di restoran yang rooftop " Jawab Cahaya jujur. Dari tadi dia lapar tapi tertahan karena Doni sedang bermanja manja. Cahaya nggak tega menolak.
Tapi untuk bercinta , Cahaya tidak membawa persiapan pakaian dan lain lain. Dan rasa lapar Cahaya semakin menjadi saat membayangkan menu terenak yang pernah dia makan ada di hotel ini. Kepiting Alaska dengan saos berwarna hitam tapi rasanya pedas dan manis menggugah selera. Doni pernah mengajaknya makan di sini saat hubungan mereka baru menghangat dulu.
" Kepiting Alaska... ? " Tanya Doni menebak keinginan Cahaya.
"Suami Aya pintar banget nebaknya. " Doni mendapatkan satu kecupan di pipinya.
" Jadi anak Papa mau makan kepiting ? " Doni merosot ke perut Cahaya dan mengecup bertubi tubi di sana.
" Iya Papa...
" Ayuk kalau gitu. " Doni membantu Cahaya bangkit. Dan membiarkan Cahaya membenarkan hijab dan cadarnya, sementara Doni meraih tas Cahaya ponsel dan kunci mobil.
Keduanya keluar dari kamar hotel menuju rooftop. Tangan Cahaya tidak lepas dari genggaman Doni. Apalagi perut Cahaya yang sudah besar, karena kini memasuki usia tujuh bulan.
...****************...
__ADS_1
Happy Reading 💕