Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Salah Paham saja ?


__ADS_3

Waktu terus bergulir seiring hari yang terus berganti. Kehidupan pun berubah laksana musim . Begitu juga dengan Doni yang terus berupaya untuk merubah kebiasaan buruk nya. Kebiasaan menegak alkohol yang sulit untuk ditinggalkan nya.


Atas usul Aryo Doni pun menyibukkan dirinya dengan olah raga dan mengurangi berkunjung ke Club malam . Sedikit demi sedikit Doni mulai menjalankan hidup sehat demi perjuangannya untuk bisa hidup berdampingan dengan Cahaya.


Seperti janjinya Cahaya juga ikut fitness bersama Doni. Berbagai alat olah raga tersedia di ruang khusus itu. Seperti studio gym mini. Cahaya selalu memilih menggunakan sepeda statis . Lebih gampang untuk digunakan.


Mengingat Cahaya Doni juga ingat ingin pergi ke toko pakaian olahraga. Cahaya tidak memiliki pakaian olahraga. Setiap mereka fitness bersama Cahaya selalu menggunakan celana training yang sama . Sore ini Doni menyempatkan diri untuk mencari pakaian olahraga untuk Cahaya.


Doni tidak membeli celana training , melainkan beberapa celana karet ketat berbagai model. Juga atasannya yang tidak kalah ketatnya . Pakaian yang bisa dipakai wanita untuk olahraga seperti zumba, aerobik, dan yoga.


Entah Cahaya mau memakainya entah tidak. Tapi Doni akan membuat Cahaya memakai pakaian itu. Ruang Gym milik Doni seperti ruang khusus, tidak sembarangan orang yang masuk kecuali keluarga saja. Toh di rumah tidak ada laki laki kecuali Doni dan Biru. Sementara supir dan tukang kebun serta penjaga hanya berada di luar rumah kecuali diizinkan masuk karena suatu hal. Jadi Doni tetap bisa menjaga Cahaya terpapar pandangan laki laki lain.


Dengan senyuman yang mengembang Doni memasuki rumah dengan beberapa tote bag ditangannya. Kaki panjang itu terus menuju kamar Cahaya. Doni membuka tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tapi Doni tidak menemukan Cahaya.


 Doni duduk di ranjang dengan ponsel ditangannya. Suara air di kamar mandi meyakinkan Doni jika Cahaya sedang mandi. Jadi Doni tak perlu memanggil atau mencari Cahaya lagi. Semua tote bag tadi sudah berjejer rapi di sofa.


Suara pintu terbuka memaksa mata Doni mengarah ke kamar mandi. Cahaya keluar dengan menggunakan kimono mandi dan rambut yang tergulung handuk di kepala. Kedua pasang mata itu saling terpaut dengan pandangan yang berbeda makna.


" Abang... ada apa ? " Tanya Cahaya kaku .


" Memangnya harus ada apa apa dulu baru boleh ke sini ? " Tanya Doni balik. Ada yang lain di pandangan Doni. Ada yang berbeda dengan Cahaya , tapi Doni tidak bisa berpikir apa yang berbeda.


" Nggak juga, hanya merasa aneh tiba tiba Abang pulang se sore ini. " Cahaya melangkah menuju wall in closet untuk menghindari kecanggungan.


Doni tertegun antara bingung hendak menjawab atau menyusul Cahaya. Jingga nya berbeda , terlihat lebih berisi dan wajahnya lebih fresh. Doni berdebar, darahnya berdesir. Seperti ada magnet yang menarik Doni melangkah mengikuti Cahaya ke ruangan kecil tempat pakaian sekaligus ruang ganti.


Cahaya sedang memilah pakaian dan perlengkapan nya. Setelah dirasa lengkap Cahaya berniat mengganti pakaian di kamar mandi karena ruangan ini hanya memiliki pintu sliding tanpa kunci. Tapi Cahaya terpaksa berhenti di tempat, karena Doni menghalangi langkahnya tepat di pintu keluar.

__ADS_1


" Abang, Aya ganti pakaian dulu. " Ucap Cahaya berharap Doni beranjak dari sana. Tapi Doni diam dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Gantilah, Abang hanya berdiri di sini. "


" Jangan bercanda, Aya harus menyiapkan makan malam. Abang awas dulu Aya mau ke kamar mandi. " Cahaya memperjelas keinginannya .


" Di sini saja, Abang halal melihatnya. " Tentu saja Doni sudah gila berpikir itu mudah, bagaimana mungkin Cahaya melakukannya tanpa rasa malu. Mereka bukan seperti pasangan selayaknya. Bahkan selama pernikahan Cahaya masih belum tersentuh meski hampir terjadi.


" Abang kenapa sih... Awas ! " Bukannya menyingkir Doni malah makin mendekat dan menarik pinggang Cahaya dalam belitan tangannya. Rengekan Cahaya semakin membuatnya gila.


Cahaya mendekap pakaiannya agar dadanya tidak bersentuhan langsung dengan Doni. Dan mata keduanya terpaut kembali dalam diam.


" Kenapa...? Kamu takut sama Abang ? " Cahaya menggeleng. " Kamu makin cantik, apa terapinya berhasil ? Matamu sudah lebih hidup dan tidak berkantong lagi. "


" Iya... Aya bisa tidur cukup, tapi masih mengkonsumsi anti depresan. Tapi dosisnya sudah dikurangi. " Jawab Cahaya yang masih dalam belitan Doni.


Satu bulan sejak pembicaraan kala itu, Cahaya pun sudah banyak berubah. Cahaya menjaga pola makan sesuai anjuran Dokter Nadya. Dan Cahaya terpaksa menggunakan obat untuk bisa tidur. Obat anti depresan yang diresepkan oleh Dokter Nadya karena Cahaya tetap mengalami gangguan tidur meski Doni tidak lagi tidur dengannya.


Cahaya juga disibukkan oleh jadwal ke sebuah klinik estetik. Klinik milik teman Rose, kenalan Rania. Perlahan tapi pasti bekas bekas luka di tubuh Cahaya mulai memudar. Seiring dengan tubuh Cahaya yang mulai sedikit berisi, bekas luka itu juga menipis dan hilang. Menyisakan parut bekas operasi dan beberapa jahitan di paha dan punggung Cahaya.


Walaupun jejak parut itu telah menipis tapi tetap terlihat . Kata Dokter harus dilakukan bedah plastik jika ingin menghilang total. Tapi Cahaya telah merasa cukup, setidaknya tubuhnya tidak lagi penuh bercak hitam dimana mana .


Perawatan kulit yang Cahaya jalani tidak hanya sebatas bekas kekerasan itu saja. Tapi Cahaya melakukan perawatan pada seluruh tubuh nya. Kini Cahaya disibukkan dengan berbagai Skincare dan perawatan. Uang memang mampu merubah segalanya. Dan Cahaya tidak perlu memikirkan tentang uang lagi.


Seperti ucapan Rania " Dari suami untuk suami. Jadi habiskan uang suamimu untuk menyenangkan suamimu. Maka dia akan dengan senang hati memenuhi rekening mu dengan uang. Lagian uang Doni tidak akan habis jika hanya untuk merawat diri dan tubuhmu." Itulah doktrin yang selalu Rania tekankan pada Cahaya.


Kini Cahaya membuktikan ucapan Rania. Doni tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Cahaya. Pertanyaan Doni juga bukti jika kini Cahaya berhasil mengalihkan pandangan mata Doni. Tapi hatinya ... entahlah. Cahaya butuh sedikit waktu lagi.

__ADS_1


" Tunggu sedikit waktu lagi, Bang. " Jawab Cahaya akhirnya.


" Kenapa... Abang ingin dengan mu, Jingga. Abang ingin meyakinkan dirimu kalau Abang memang membutuhkan mu. " Doni jujur. Sejak berpisah kamar mereka memang semakin dekat.


Komunikasi yang mulai intens, sering ngobrol tentang apa saja. Olahraga bersama, dan tak jarang Doni melakukan skinship meski tidak terlalu intim. Sekedar kecupan di kening saat pergi pulang kerja. Dan Cahaya yang melayani segala keperluan Doni.


Semua itu membuat Doni merasa membutuhkan Cahaya setiap waktu untuk segala hal. Sentuhan sentuhan kecil membuat Doni kesulitan menahan hasrat. Tidak bisa dipungkiri Doni laki laki dewasa yang telah memiliki wanita halal nya . Apalagi dari awal Doni memiliki rasa yang tidak biasa pada Cahaya.


" Tapi Aya takut mengecewakan Abang. Bekas luka Aya belum hilang sepenuhnya nanti Abang jijik. " Cicit Cahaya mengeluarkan isi hatinya.


" Kapan Abang jijik padamu. Mana mungkin Abang seperti itu sementara Abang tahu apa penyebabnya. Kenapa kamu berpikir Abang akan jijik padamu, Jingga. " Ucap Doni yang tidak terima dengan anggapan Cahaya padanya.


" Abang pernah mengatakan nya pada Aya. Itulah sebabnya Aya tidak berani membuka diri di depan Abang. " Cahaya menatap Doni dengan tatapan sendu.


" Kapan ? Abang merasa tidak pernah berkata begitu. Mana mungkin Abang seperti itu. " Doni kembali menyakinkan dirinya jika semua yang Cahaya katakan tidak pernah terjadi.


" Saat malam pertama, sebelum Aya pingsan. Abang pergi meninggalkan Aya setelah melihat tubuh Aya yang menjijikkan. " Tangis Cahaya tak lagi dia tahan. Sudah sangat lama Cahaya menahan sesak jika mengingat malam itu. Dan Cahaya menyimpan semua sendirian.


" Astaghfirullah... " Doni mendekap Cahaya erat di dadanya. " Kamu salah paham, Sayang. Abang bilang menjijikkan itu bukan tubuhmu. Abang mengutuk perbuatan laki laki yang mengotori setiap tubuh mulus ini. Perbuatannya menjijikan. Bukan dirimu. " Doni semakin mengeratkan pelukannya dan meninggalkan sebuah kecupan lama pada leher Cahaya yang terekspos.


Tangis Cahaya semakin keras, bahkan terdengar memilukan. Hati Doni tersayat perih mengingat perbuatannya malam itu. Bagaimana dia meninggalkan Cahaya dalam keadaan setengah telanjang. Dan menemukan Cahaya tak sadarkan diri semalaman hingga mengalami hipotermia.


" Maafkan Abang, Sayang. Maafkan...! Apa itu yang membuatmu menjauhkan diri dari Abang. " Cahaya mengangguk dalam tangisan. " Abang yang salah, suami macam aku ini. " Ucap Doni lirih . Doni memejamkan matanya meresapi kesalahan yang berkali kali dia perbuat pada wanita dalam dekapan nya ini.


" Maaf...


...****************...

__ADS_1


Happy day 💗


__ADS_2