
Doni menunggu Cahaya di halaman rumah sambil menyandar di mobil . Sengaja Doni tidak masuk ke rumah karena dia tak sabar untuk segera membawa Cahaya . Dengan kemeja hitam yang Cahaya siapkan tadi pagi tanpa jas dan dasi . Dan lengannya pun telah tergulung hingga siku. Sungguh penampilan yang menggetarkan jiwa para wanita.
Tidak lama kemudian Cahaya keluar dengan gamis ungu tua dan hijab syar'i berwarna lilac , serasi dengan cadarnya. Mata Doni mengikuti setiap langkah anggun wanita semampai itu. Dengan penampilan seperti itu Cahaya tidak terlihat kurus karena pakaian besar yang tertutup.
Hati Doni kembali tercubit ketika matanya menemukan manik coklat terang milik Cahaya. Lingkaran hitam yang terlihat muram itu mengelilingi netra beningnya. Kini Doni tahu apa sebabnya. Cahaya hanya pura pura tidur kala dia pulang tengah malam. Takut Doni tahu penderitaan nya. Takut Doni terganggu dengan kekurangannya.
Ada rasa ngilu yang Doni rasakan jauh di lubuk hatinya. Mengingat Doni selalu membawa aroma menyengat alkohol di tubuhnya hampir setiap malam. Sayang sekali di kamarnya tidak ada CCTV, jika ada pasti Doni bisa menyaksikan penderitaan istrinya sebulan belakangan ini.
" Ayo, Bang nanti kemalaman . " Doni tersentak dari lamunannya. Ternyata Cahaya telah berada di sisi penumpang. Tanpa dibukakan Cahaya telah dulu masuk ke mobil. Doni pun akhirnya mengikuti Cahaya di bagian kemudi.
" Abang nggak apa apa menemani Aya belanja. Sebenarnya Aya bisa sendiri, jika Abang sibuk. " Ucap Cahaya setelah Doni duduk di balik kemudi.
Doni tidak menjawab hanya menatap ke arah Cahaya yang juga menatapnya . Doni meraba bagian belakang kepala Cahaya dan melepaskan ikatan cadar milik Cahaya. Hingga wajah tirus yang hanya memakai bedak seadanya itu terlihat jelas. Bibir bervolume milik Cahaya hanya dipoles lip balm berwarna jingga muda.
Sederhana ! Satu kata untuk Cahaya. Sekilas Doni melihat perbedaan kontras antara Cahaya dan Tiara. Meski Tiara juga mengenakan hijab tapi masih dalam kategori modis. Wajah cantik Tiara yang selalu berdandan full make up walaupun tidak berlebihan. Sama sama berkulit mulus, bedanya kulit Tiara putih susu sementara Cahaya kuning langsat.
" Bang... kenapa di lepas ? " Kembali Doni tertarik ke dunia nyata oleh suara Cahaya.
" Jangan dipakai jika hanya ada kita. Kaca mobil Abang juga tidak kelihatan dari luar. " Jawab Doni.
" Baiklah, tapi benar Abang nggak sibuk? " Tanya Cahaya memastikan.
" Benar ! Abang juga tiba tiba ingin menemani kamu belanja. " Ucap Doni dengan senyuman yang membuat Cahaya terpana.
" Kenapa tiba-tiba ? Apa ini kegiatan yang Abang sukai dari dulu dan Abang merindukannya tiba tiba ? Atau Abang sedang merindukan Mbak Tiara? " Ucapan Cahaya membuat Doni urung untuk menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
Doni menatap Cahaya lekat. Ada rasa getir dari setiap kata yang Cahaya ucapkan dan Doni sangat mengerti arah ucapan itu. Tapi Doni juga bisa melihat tatapan bergetar dalam bola mata bening itu. Jingga nya gugup dan mungkin saja mulai takut.
" M.. maaf.. maafkan Aya tak bermaksud... " Fix Jingganya ketakutan sekarang. Suara yang terdengar tegas meski lembut, kini terdengar lirih dan bergetar.
Doni semakin memaki dirinya. Perdebatan di hotel usai resepsi masih begitu membekas di ingatan Cahaya. Cahaya yang tidak ingin di jadikan objek untuk mengingat masa lalu. Itulah intinya dari ucapan Cahaya kala itu. Dan Doni menganggap sepele apa yang Cahaya rasakan. Kini bisa Doni lihat hal yang sama, Cahaya tidak ingin dijadikan objek oleh Doni untuk mengenang Tiara.
" Tidak apa, kamu boleh marah padaku . Abang layak mendapatkan amarah mu, Jingga. Tapi kali ini pure karena Abang ingin bersamamu. " Doni bicara lembut. Sama seperti saat setelah akad menjelang resepsi. Begitu manis dan menghanyutkan Cahaya pada harapan baru.
Tapi Cahaya kembali sadar untuk tidak terbuai. Cahaya takut ini hanya sekejap saja, sama dengan waktu itu. " Jangan baper, Aya. Ingat ! Doni hanya untuk Tiara, kamu tidak punya tempat. " Cahaya bicara pada dirinya dalam hati.
" Jika iya pun tidak apa apa. Ayo kita pergi ini sudah sangat sore. " Cahaya tersenyum sangat manis menutupi isi hatinya yang gundah.
Doni meraih tangan Cahaya yang saling menggenggam di pangkuannya. " Tiara tidak pernah belanja kebutuhan rumah. Semua Ibuk yang handle biasanya. Tiara tidak mau repot untuk urusan rumah. Dan kebetulan Ibuk masih kuat saat itu . Tiara juga jarang masak dan mengurus rumah. Dia hanya fokus untukku dan dirinya, juga Rafa anak kami. " Doni masih menatap Cahaya dan menikmati perubahan raut wajah Cahaya yang tadi ketakutan kini merasa bersalah.
" Maaf, Bang. Aya...
Cahaya masih menegang dengan yang barusan Doni lakukan. kini tatapan Cahaya lurus ke depan tanpa bicara apa apa lagi. Pikiran Cahaya penuh oleh Doni. Perubahan sikap yang mendadak. Mengajak pergi berdua dan sikap manis yang membuat wanita manapun meleleh karena nya.
Tanpa mereka sadari dari dalam rumah Ibu Ratih memantau mobil Doni yang tidak bergerak gerak dalam waktu cukup lama . Saat Cahaya mengatakan Doni mengajak belanja, Ibu Ratih sangat senang. Wanita tua itu berharap hubungan anak dan menantu nya membaik.
Sementara di mobil masih dikuasai sunyi. Cahaya masih berusaha menetralkan degup jantungnya. Sedangkan Doni sibuk mengendarai kendaraan. Di tengah kesunyian itu Cahaya kembali mengingat sesuatu yang ingin disamping nya pada Doni. Mumpung pria di samping nya ini sedang dalam mood baik.
" Bang, bolehkah Aya minta sesuatu ? " Tanya Cahaya memberanikan diri.
" Tentu saja boleh, mau apa nanti Abang belikan. " Doni merasa senang saat meminta sesuatu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
" Mhh... begini. Bisakah Abang tidur di kamar atas dulu untuk sementara. Maksud Aya, bolehkah Aya tidur sendiri. Tidak akan lama hanya sementara. " Sungguh Cahaya sangat gugup. Apa lagi Doni tiba tiba menepi dan menghentikan mobilnya.
Doni menatap Cahaya untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar. Tapi Doni yakin dia tidak salah mengerti dengan ucapan Cahaya barusan. Cahaya ingin sendiri. Tentu Doni paham kenapa Cahaya meminta seperti itu. Tapi Doni akan pura pura tidak tahu saja untuk sementara.
" Kenapa ? Kamu tidak suka Abang sekamar dengan mu ? " Tanya Doni.
" Bukan begitu, anggap saja Aya sedang sakit dan butuh untuk menyembuhkan diri. Percaya sama Aya , ini hanya sebentar. Mungkin dia sampai tiga bulan saja. " Cahaya meremat sepuluh jarinya katena gugup.
" Kamu sakit ? "
" Tidak ... tidak seperti yang Abang pikirkan. Aya hanya butuh sendiri . Aya nggak bisa keluar dari kamar karena takut Ibuk dan anak anak tahu. Tapi kalau Abang punya kamar lain, jadi tidak ada yang curiga nantinya. " Cahaya mencoba menjelaskan dengan menutupi sebagian.
" Kamar yang lain ? " Doni curiga Cahaya tahu tentang kamar Tiara.
" Iya... kamar yang di atas . Bekas Mbak Tiara."
" Deg"
Doni terperangah, Jingganya tahu kamar yang berusaha Doni rahasiakan. " Siapa yang mengatakannya padamu tentang kamar itu. Apa Ibuk ? " Tanya Doni memastikan.
" Bukan ! Ibuk tidak pernah mengungkap apapun meski Aya telah memancingnya, Aya dengar sendiri saat Abang berdebat di telpon tentang kamar Mbak Tiara dengan seseorang. Dan maaf... Aya penasaran... Aya sudah pernah masuk untuk menyakinkan diri Aya jika masih ada Mbak Tiara di rumah dan di hatimu. " Cahaya menunduk untuk menyembunyikan genangan air matanya.
Ada rasa sakit terhimpit dan menyesakan di dadanya. Entah mengapa setiap mengingat itu Cahaya merasa sakit. Apa cinta itu telah hadir... ?
Dan Doni merasakan hal yang berbeda, rasa penyesalan dan merasa bersalah pada sosok rapuh yang tertunduk itu." Lagi lagi ucapan Aryo benar... aku pecundang. "
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕