
" Marinda yang menelpon, dia ingin bicara dengan ku di kamarnya. " Ucap Doni tiba tiba .
" Kenapa tidak Abang tidak menemuinya ? " Tanya Cahaya polos.
" He... he.. benarkah kamu ini istriku ? " Ucap Doni tanpa menjawab pertanyaan Cahaya.
" Aku hanya ingin tahu perasaan Abang terhadap nya. Jika memang menurutmu dia itu penting maka Abang pasti menerima undangannya. Tapi jika tidak berarti dia tak penting bagimu. " Doni terperangah dengan jawaban Cahaya.
" Apa kamu sedang menguji ku, hmm ? " Tanya Doni.
" Begitukah menurutmu ? Tapi bagiku itu sebuah jawaban. " Ucap Cahaya enteng.
" Jawaban ? Kamu mau jawaban untuk apa ? " Tanya Doni selidik.
" Hubungan Abang dengan wanita itu adalah pertanyaan bagiku. " Cahaya menundukkan wajahnya seakan menyibukkan dirinya dengan ponsel. Padahal Cahaya hanya menghindari tatapan Doni yang menajam.
" Jadi kamu mencurigai aku ,baiklah ... aku jawab pertanyaan mu . Kami hanya berteman, lebih tepatnya teman nongkrong. Ya... bisa dibilang aku agak dekat dengannya. " Jawab Doni.
" Teman kencan atau teman tapi mesra ? " Cahaya bertanya dengan nada santai tanpa beban.
" Entahlah, tergantung orang menilai. Yang pasti aku tidak pernah main hati dan tidak pernah melewati batas akhir dengannya, only kiss maybe. " Doni menggaruk tengkuknya salah tingkah.
" Wow ... ! Apa semua teman wanita wanitamu mendapatkan ciuman mesra darimu, Bang ?! " Cahaya tertawa hambar.
" Beberapa iya. Tapi itu saat aku tidak memiliki istri. Aku bukan pria tukang selingkuh, ya ! " Doni mencoba membela diri.
" Tapi kamu lelaki murahan ! " Ucap Cahaya ketus. Dan Doni terkejut hingga matanya melotot mendengar ucapan Cahaya. " Kenapa ? Tidak terima ? " Cahaya bicara lembut dan sedikit senyum, lebih tepatnya senyum mengejek.
" Kamu... berani sekali mengatakan aku murahan. " Doni meraih tangan Cahaya menguncinya.
__ADS_1
" Bagaimana kalau aku bilang , aku menciumi semua teman lelakiku . Apa yang kamu pikirkan tentang aku, Bang ! " Suara Cahaya sedikit bergetar antara takut dan kaget . Karena Doni menariknya hingga posisi mereka berhadapan dan sangat dekat.
" Hah... " Doni tak bisa menjawab. Matanya malah mengagumi mata bulat di depannya. Bulu mata lentik dengan alis yang tebal tapi berbaris rapi. Irish mata berwarna coklat yang kini bergerak liar terlihat gugup.
Cahaya berusaha menarik tangannya yang dipegang sangat erat hingga menimbulkan rasa panas dan sakit. Sungguh Cahaya benar benar takut sekarang. Bagi seseorang yang pernah mengalami kekerasan tindakan seperti ini membangkitkan rasa trauma.
Mata indah itu mulai berkaca kaca dan bibirnya bergetar halus. Keringat pun mulai memenuhi dahi lebarnya.
" Ba.. Bang... ! Suara lirih Cahaya menyadarkan Doni dari kekaguman nya.
" Eh... maaf ! Apa aku menyakiti mu ? " Sontak Doni melonggarkan genggaman nya dan mengusap tangan Cahaya yang memerah. " Merah... apa sakit. " Doni menyaksikan tetapan penuh ketakutan Cahaya. " Aku tidak marah, hanya tidak terima dikatain murahan. Aku hanya tidak ingin mengecewakan wanita wanita itu. Kan sayang... nolak rezeki. " Doni mulai berkelakar untuk menetralkan suasana.
" Tidak apa apa . Aku tidak akan mengatai Abang lagi. " Cahaya masih sedikit tremor. Tentu saja candaan Doni tidak sedikitpun yang Cahaya dengarkan karena Cahaya dalam keadaan blang.
" Jangan takut padaku " Doni menarik Cahaya ke pelukan nya. " Kamu boleh mengatai aku apapun, aku tidak akan marah. Aku memang murahan, kamu benar. " Doni mengusap punggung Cahaya lembut.
Cahaya hanya menerima tanpa membalas. Dia masih kaget dan merasa ganjil meski Doni suaminya. Ini sentuhan intim mereka yang pertama. Cahaya masih butuh waktu untuk terbiasa. Tapi hatinya menghangat ketika Doni berkata menenangkan nya.
Waktu terus bergulir, Cahaya telah selesai dirias kembali. Dengan gaun berwarna marun yang mengembang cantik pada bagian bawah nya. Gaun itu penuh dengan batu batuan berwarna kuning keemasan dan full bordiran yang berwarna emas. Hijau syari keemasan dan cadar nya yang ditata modis dengan aksesoris permata merah hati melingkari kepalanya.
Sementara Doni memakai setelan Tuxedo berwarna marun yang serasi dengan Cahaya. Pria mapan itu terlihat muda dari umurnya . Wajah tampan dan postur tubuh yang tegap dan gagah terawat.
Acara resepsi yang katanya sederhana itu terlihat mewah dengan nuansa Red Gold. Jumlah tamu juga lebih banyak dari pada acara akad tadi. Dan kedua pengantin hanya akan duduk di pelaminan saja. Acarapun berjalan dengan meriah .
Berbanding terbalik dengan situasi di Ballroom tempat acara resepsi pernikahan Doni dan Cahaya, di sebuah bar kecil seorang pria sedang meracau tak jelas. Fakhrul yang duduk di depan Bartender dengan sebuah gelas berisi cairan coklat terang.
" Tuan anda sudah sangat mabuk, boleh saya hubungi keluarga anda ? " Tanya Bartender itu kepada Fakhrul.
" Tidak usah, istriku tidak akan datang. Dia menikah hari ini dengan pria lain. Dia telah mencampakkan aku. Kau tahu... aku yang bajingan. He... he... aku telah mematahkan tulang rusuknya. " Fakhrul terkekeh sesudahnya.
__ADS_1
" Siapa yang bisa aku hubungi, Tuan ? " Bartender itu bertanya dengan sabar. Hal ini sudah biasa baginya.
" Menurutmu apa aku ini jahat ? " Fakhrul masih berceloteh tak jelas.
" Tidak Tuan, pasti anda punya alasan melakukannya . " Ucap Bartender itu.
" Dia bidadari, cantik. Tapi aku terbujuk oleh rayuan iblis. Iblis itulah yang menghancurkan hidupku. He... he... tempat ini banyak iblis, Cahaya ku tidak suka itu. " Bartender itu hanya menggeleng geleng mendengar ucapan Fakhrul.
" Pulanglah Tuan. Disini banyak iblisnya nanti kau dirasuki mereka. " Bartender itu mengikuti ucapan Fakhrul.
" Kau benar aku harus pulang. Cahaya pasti menungguku. Tapi aku takut pulang nanti Cahaya berubah menjadi Amelia. Aku tidak ingin menyakiti Aya. Aku sayang padanya,... aku mencintai... " Fakhrul akhirnya ambruk di atas meja Bar itu terlihat setetes air mata lolos dari sudut matanya.
Kini Fakhrul tidak sadarkan diri, minuman jahanam itu telah mengambil alih kesadarannya. Fakhrul tidak sanggup menerima jika Cahaya menikah secepat ini. padahal baru beberapa hari dia tinggalkan. Fakhrul terlambat.
Akhirnya Bartender itu mengambil ponsel Fakhrul yang terletak dekat kunci mobilnya. Kemudian menghubungi nomor yang terakhir dihubungi oleh Fakhrul.
Sementara di hotel yang sama tempat resepsi pernikahan Doni dan Cahaya, di salah satu kamar Marinda sedang berdebat dengan Max.
" Awas Max aku akan pergi sendiri, jangan halangi aku. " Bentak Marinda yang mencoba mendorong Maxim menjauh.
" Tidak, kamu tidak akan keluar dari sini. Jangan mengacau, Doni tidak memilih dan kamu harus menerima nya.? " Ucap Max datar.
" Aku akan merebutnya kalau begitu, aku akan memaksa. Doni selalu mendengarkan aku, kau tahu itu Max. " Marinda tidak mau kalah.
" Doni hanya tidak ingin kau malu di depan kami. Selama ini dia tidak pernah mencintai kamu, kan? Bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun kamu tidak pernah bisa mendapatkan Doni. Terima kenyataan itu Rinda. Jangan permalukan dirimu. Dan biarkan Doni memilih jalannya sendiri. Sekarang istirahatlah, kamu sudah sangat kacau. " Max kemudian merebut gelas yang masih Marinda pegang.
Sejak selesai acara akad tadi Marinda berusaha meminta Doni untuk menemuinya. Tapi alangkah kesalnya Marinda mendapatkan Maxim di depan pintu kamar hotel tempat nya menginap.
Hingga sat ini Marinda belum bisa menerima jika Doni memutuskan menikah secepat ini, sementara Marinda sibuk dengan acara Fashion show nya di Bali. Tidak ada yang mengabarinya sampai Max yang menawarkan untuk datang bersama ke acara pernikahan Doni tadi siang.
__ADS_1
...****************...
Happy Readingđź’•