Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Farel yang sakit


__ADS_3

Amelia tidak berdaya , bahkan saat Fakhrul memintanya untuk menandatangani surat pengalihan semua aset dan restoran miliknya. Semua demi keselamatan anaknya, bukan karena takut Fakhrul menyakitinya, hanya saja Amelia takut di jauhkan dari anaknya. Apalagi kondisi kesehatan anaknya yang naik turun.


Farel bocah empat tahun yang dengan susah payah Amelia pertahankan memiliki kekurangan. Bocah itu mengidap kelainan pada parunya. Entah sampai kapan dia bisa bertahan. Begitu banyak pantangan yang harus dijaga agar Farel tetap bernapas . Amelia hanya mempercayai tangannya sendiri untuk merawat anak kesayangannya.


Kini Fakhrul telah mengambil semua miliknya tidak ada yang tersisa. Hanya tinggal rumah dan mobil, tapi entahlah Amelia tidak begitu yakin kalau Fakhrul akan membiarkan itu. Amelia tidak berharap terlalu tinggi. Sejak tadi dia hanya mengkhawatirkan Farel.


" Bagaimana rasanya milikmu dirampas Amel sayang ? Aku bahkan hanya mengambil milikku. Tapi kamu... merampas milik yang bukan hak mu. Dasar ****** sialan !!! Karena mu aku sampai menyiksa anak dan istriku. " Fakhrul kembali menatap bengis pada Amelia.


" Sekarang pergilah , bukankah kamu sudah mendapatkan yang kamu mau. " Ucap Amelia dengan suara bergetar menahan desakan air matanya.


" Tidak semudah itu Amelia, penderitaanmu baru saja dimulai. Mana mungkin aku melepaskan orang yang selama ini membuatku menjadi binatang buas dan menderita sampai detik ini. Gara gara kamu aku kehilangan istri dan anak anakku. Dan aku akan melakukan hal yang sama padamu. "


" Apa maksudmu, Mas ? Jangan jauhkan Farel dariku. Dia tidak seperti anak anak lain. Dia sakit... hanya aku yang tahu cara menjaganya agar bertahan hidup , aku mohon... " Tumpah sudah air mata Amelia. Semua yang menyangkut Farel adalah hal yang utama baginya. Amelia tidak ingin jauh dari anaknya.


" Beraninya kamu membawa benihku tanpa izin. Bukankah aku melarangnya dari awal. Aku tidak ingin punya anak dari ****** seperti dirimu. Tapi kamu mengabaikan ucapan ku . Sekarang waktunya aku mengambilnya kembali. " Ucap Fakhrul sambil tersenyum miring dan mengejek.


Fakhrul tahu jika anaknya akan sulit bertahan hidup. Dari data yang Doni berikan tertera secara lengkap riwayat kesehatan anaknya itu. Dan Fakhrul telah menyiapkan tim medis untuk itu. Tanpa Amelia sadari Fakhrul telah mengirim pesan pada seseorang disaat Amelia masih sibuk dengan isakan nya.


Fakhrul begitu senang mengetahui kelemahan Amelia. Dia akan mulai dari Farel untuk membalaskan rasa sakitnya kehilangan Binar dan Biru. Dan jujur di dalam hatinya Fakhrul juga bahagia memiliki anak yang lain. Sejak melihat Farel sejak di taman, ada rasa hangat yang tidak bisa ditolaknya. Apalagi wajah Farel begitu mirip dengannya dan sedikit mirip Biru.


" Mama...


" Farel... kenapa ke sini ? Tunggu Mama di kamar ya ? " Panggilan Farel menyentakkan Amelia dari lamunan. Beruntung Amelia tidak lagi menangis. Menyadari ada Farel Amelia juga langsung membersihkan sisa air matanya.


" Maaf, Bu. Saya sudah larang tapi Farel tidak mau mendengar. Dia ingin bertemu Ibu katanya. " Ucap pembantu yang mendampingi Farel.


" Tidak apa apa, Uni. Uni boleh pergi biar saya yang bawa Farel ke kamar . " Ucap Amelia.


Setelah pembantu itu pergi, Fakhrul langsung berdiri mendekati Farel dan Amelia. " Hai Sayang , kamu tampan sekali. Siapa namanya ? " Tanya Fakhrul ramah, tapi bagi Amelia sangat menyeramkan.


" Farel, Om " Ucap bocah empat tahun itu.

__ADS_1


" Jangan panggil Om, tapi panggil Ayah. Karena ini Ayahnya Farel. Bisa...? " Fakhrul memperkenalkan dirinya.


Farel menatap Mamanya meminta izin. Setelah mendapatkan persetujuan dari Amelia, Farel menatap Fakhrul kembali.


" Apakah Ayah itu sama dengan Papa. " Tanya Farel dengan polosnya.


" Sama sayang, tapi Farel punya dua orang kakak yang memanggil Ayah. Kamu mau kan panggil Ayah juga ? " Jawab Fakhrul seadanya.


" Tidak boleh panggil Papa ? Tanya bocah itu lagi.


" Farel ingin panggil Papa, ya. " Fakhrul melihat raut Farel tidak menyukai panggilan Ayah.


" Iya, Farel punya Mama. Dan Farel ingin punya Papa. " Ucapan Farel membuat air mata Amelia kembali menggenang. Farel tidak pernah bertanya tentang Papanya pada Amelia. Amelia tidak menyangka jika Farel merindukan seorang Papa.


" Kalau begitu panggil Papa juga tidak apa apa. Asalkan Farel mau mengikuti omongan Papa. " Farel menatap tidak mengerti. " Sini duduk dekat Papa . " Tanpa ragu Farel melepaskan diri dari Amelia dan ikut dengan Fakhrul duduk di sofa .


" Apa Farel ada yang sakit sekarang ? " Tanya Fakhrul pada Farel. Tentu hal itu membuat Amelia membulatkan matanya karena kaget. Ternyata benar dugaan nya Fakhrul tahu kondisi kesehatan Farel.


" Iya, Pa. Makanya Farel tidak boleh capek. Tidak boleh main terlalu lama dan Farel juga nggak punya kawan. " Ucap Farel jujur.


" Mau...!! Pekiknya girang.


" Kalau begitu, ikut kata Papa, ya. Farel nanti akan di rawat sama Om Dokter biar cepat sembuh. Tapi Farel tidak boleh cengeng dan menangis , ok ? " Bujuk Fakhrul sambil mengusap lembut kepala anak yang baru dia jumpai.


Amelia yang mendengarkan mengerutkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang Fakhrul rencanakan. Tapi Amelia memilih untuk diam sambil membiarkan Fakhrul bicara dengan Farel.


" Ok Papa. Tapi Mama ikutkan ? " Tanya Farel.


" Nanti Papa dan Mama ikut mengantarkan Farel, tapi tidak boleh ikut menginap. Sesekali nanti pasti Papa sama Mama akan mengunjungi mu di sana. Itulah sebabnya Farel tidak boleh rewel dan menyusahkan Om Dokter. " Terang Fakhrul hati hati. Melihat raut sedih Farel, Fakhrul akhirnya berkata...


" Farel mau cepat sembuh kan ? Nanti kami sering sering mengunjungi mu. " Ucap Fakhrul menyakinkan Farel.

__ADS_1


" Tapi Farel tidak mau jauh dari Mama, Pa ? " Mata Farel mulai berkaca kaca.


" Dengar, Nak. Mama sama Papa harus bekerja biar punya biaya untuk obati Farel. Kalau tidak Farel tidak akan bisa sembuh nantinya. " Fakhrul tidak kehabisan akal untuk membujuk Farel.


Dan benar saja, Farel akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah. Meski air matanya mulai mengalir dan menatap Amelia dengan pilu. Amelia merasa sangat sedih tapi dia terpaksa senyum menanggapi tatapan Farel. Amelia tahu saat ini pendapatnya tidaklah berguna. Fakhrul dalam keadaan emosi, dan Amelia terpaksa menurut sementara ini.


Tidak lama kemudian pintu rumah Amelia diketuk dari luar. Bergegas Amelia membuka dan ternyata ada seorang pria seumuran Fakhrul.


" Saya Alendra , Dokter sekaligus teman Fakhrul. Bisa saya bertemu dengannya. " Sapa pria yang mengaku teman Fakhrul.


Amelia tidak menjawab, hanya bergeser membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan masuk. Fakhrul yang menyadari kedatangan Alen segera menyusul ke depan.


" Hai Al ... silakan masuk. Kenalkan ini anakku Farel. " Ucap Fakhrul tanpa memperkenalkan Amelia.


" Hai Rul... Hai Farel... Om adalah Dokter kamu mulai sekarang. Sini biar Om periksa. " Sapa Alendra ramah.


Ketiga pria beda usia itu menuju sofa panjang. Dengan menggunakan bantal kursi Farel direbahkan di sofa panjang. Alendra melakukan pemeriksaan yang lumrah dilakukan seorang Dokter. Sekedar mengetahui Farel saat ini.


" Boleh saya melihat rekam medis atau hasil pemeriksaan Farel yang terakhir. " Fakhrul menatap tajam kearah Amelia. Amelia yang mengerti maksudnya langsung beranjak dan beberapa saat kemudian keluar dengan beberapa map coklat berukuran besar. Kemudian menyerahkan pada Dr Alendra.


" Bawaan lahir ? Dan tidak pernah dioperasi ? " Tanya Alendra yang ditujukan pada Amelia.


" Belum, karena menunggu perkembangan nya. Berharap dengan bertambahnya umur parunya bisa berkembang dengan baik dan sempurna. " Jawab Amelia.


" Kita harus bawa ke rumah sakit yang lebih besar. Disini peralatan tidak memadai. Bawa saja ke Jakarta setidaknya di sana banyak rumah sakit yang memiliki peralatan canggih. Jika melihat kulit dan matanya kondisinya kurang baik. Kita harus cepat dan bertarung dengan waktu. Berkemungkinan harus rawat intensif atau operasi jalan terakhirnya. " Ucap Alendra panjang lebar.


" Ok, Al... aku akan bawa segera. Tunggu aku di sana dengan tim mu. " Jawab Fakhrul tanpa minta persetujuan Amelia.


Sementara Amelia hanya bisa menarik napas dalam. Dia tahu semua yang dikatakan Alendra. Dokter yang menangani Farel sudah pernah mengatakan itu. Tapi Amelia mengambil opsi aman dengan menunggu. Berharap kemungkinan sembuh seiring waktu yang Dokter itu katakan menjadi kenyataan. Tapi setelah beberapa tahun tetap tidak menunjukkan perubahan.


Bukan Amelia enggan mencari rumah sakit yang besar, tapi ketakutan bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya yang membuat Amelia menahan diri. Hanya kota kecil inilah yang dia rasa aman, nyatanya masih diketahui oleh Fakhrul. Amelia hanya bisa menurut saat ini, toh Fakhrul ayah Farel dan Amelia sudah tidak punya apa-apa lagi.

__ADS_1


...****************...


Happy Day readers, sorry kemaren nggak Up date 🙏💕


__ADS_2