Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Liburan bersama


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu, kini kehamilan Cahaya memasuki bulan kelima. Tidak seperti kehamilan sebelumnya yang membuat Cahaya nyaris tidak bisa bangun karena morning sickness. Kehamilan kali ini Cahaya banyak makan dan tidak mengalami Tri semester awal yang berat.


Sementara Fakhrul telah kembali ke Australia seperti ucapan nya pada Amelia. Tepat seminggu setelah pertemuan terakhir mereka. Amelia tidak bisa berbuat apa apa untuk mempertahankan Farel di sisinya. Karena Fakhrul punya hak penuh tanpa bisa Amelia ganggu gugat lagi.


Semua berjalan pada garis takdirnya masing masing. Hidup pun berjalan sesuai garisan yang telah digariskan. Kehidupan Cahaya jauh lebih baik dari sebelumnya. Suami yang mencintai dan begitu perhatian padanya. Anak anak yang tumbuh jauh lebih baik dan sehat.


Begitupun dengan Binar , dengan melewati berkali kali konseling dan hipnoterapi kini Binar jauh lebih baik . Sudah banyak perubahan dari sikap dan kesehariannya. Pendekatan Doni dan kasih sayang semua orang membuatnya lebih terbuka dan ceria seperti sifat aslinya.


Amelia tidak lagi terdengar beritanya. Sejak Fakhrul membawa Farel pergi, Amelia mencoba menata hidup dengan mencari pekerjaan baru untuk menopang hidupnya.


Hari yang Doni janjikan pada anak anaknya akhirnya tiba. Rencana liburan bersama dengan semua anggota keluarga. Termasuk Rania dan keluarga kecilnya. Meski rencana awal ingin berkemah di daerah pantai yang memiliki perbukitan dibatalkan. Berhubung kini Cahaya sedang hamil. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada pulau pribadi milik Maxim yang miliki pantai dan hutan buatan.


Kehebohan di kediaman Doni dan Cahaya telah terjadi sejak subuh tadi. Biru dan Binar sibuk mempersiapkan perlengkapan berkemah dibantu Doni. Sementara Cahaya menyiapkan pakaian dan beberapa stok makanan dan minum ringan .


" Pa, tendanya yang kemarin sudah diganti, kan. Yang warna biru itu, loh. Robek bagian pinggir bawahnya." Tanya Biru.


" Sudah sayang, tuh...Papa ganti warna hijau army. Lebih besar dan lebih bagus. " Balas Doni yang sibuk merapikan lipatan tenda.


" Iya, Pa. Robekannya yang kemarin itu cukup besar, bisa masuk ular. Kan ngeri... iii " Biru terlihat geli sendiri. Doni terkekeh melihat tingkah Biru.


" Jangankan ular, Dek. Kecoak saja kamu takut. " Ejek Binar yang datang membawa beberapa pelampung yang masih bersegel.


" Mana ada, Kak Binar tu yang takut. Biru mah berani. " Ucap Biru membela diri.


" Sudah, jangan ribut. Nanti nggak siap siap berkemas nya. " Cahaya datang dengan membawakan kopi untuk Doni. Sejak bangun Doni sibuk membantu para bocah itu hingga lupa kopinya telah dingin. Cahaya berinisiatif untuk menggantikan dengan yang baru.


" Terima kasih, sayang. Kamu memang yang terbaik. " Bisik Doni setelah menerima kopi dari tangan Cahaya. Cahaya membalasnya dengan senyuman.


" Apa lagi yang belum ? Diingat yang benar nanti sampai pulau nggak ada yang jual. " Ucap Cahaya sambil duduk di samping suaminya yang tengah menyesap kopi buatan Cahaya.


" Kayaknya udah semua, Bunda. Tapi nanti Binar cek lagi di list. " Binar menyahut sambil mengamati semua persiapan yang tersusun di depan mereka.


" Cek list nya sekarang saja, Binar. Biar kita susun langsung di mobil, agar nggak ada yang ketinggalan. " Timpal Doni.


" Ok, Pa....


" Kamu gimana ? Nggak ada keluhan, kan ? Jika ada masih ada waktu untuk periksa dulu. " Ucap Doni sambil mengusap perut Cahaya yang belum terlalu besar.

__ADS_1


" Aya baik, Bang. Dedeknya juga nggak rewel." Cahaya meletakkan tangannya di atas tangan Doni yang masih mengusap perutnya.


" Vitamin, susu dan obat sudah disiapkan ? " Tanya Doni .


" Sudah, Abang. Kotak P3K lengkap dengan minyak kayu putihnya juga udah siap. " Sambung Cahaya.


" Istri pintar.. ! Cup. " Satu kecupan mendarat di pipi Cahaya. Spontan Cahaya melirik Biru yang sibuk merapikan beberapa mainannya.


" Abang...!! Ada Biru. " Bisik Cahaya gemas dengan tingkah suaminya. Yang hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Doni.


Setelah semua persiapan telah tersusun rapi di mobil kini giliran mereka yang bersiap siap. Anak anak sangat antusias untuk liburan kali ini. Karena sejak dahulu mereka memang jarang berlibur seperti ini. Hanya beberapa kali Cahaya membawa anak anak pergi ke Ancol sekedar melihat pantai bermain dan kemudian pulang.


Doni sedang menunggu Cahaya yang sedang memasang hijab dan cadarnya. Dengan jahil Doni mencuri ciuman sebelum Cahaya selesai dengan kerjaannya. Dan akhirnya cadar pun gagal terpasang karena ulah Doni.


" Abang... udah... " Rengut Cahaya.


" Sebentar, Sayang . Abang butuh stok energi selama perjalanan. " Jawab Doni dan melanjutkan kemauannya.


Dan dengan segera Cahaya hentikan , jika tidak maka mereka akan terlambat. Semua sudah menunggu kedua pasangan itu di lantai bawah. Kecuali keluarga Rania yang langsung ke pelabuhan.


" Nanti anak anak protes kalau kita lama, Sayang. Udah dulu nanti kita sambung di villa. " Bujuk Cahaya.


" Ish... ngelunjak ! " Cahaya mencubit hidung suaminya yang kini malah tertawa lepas sambil memeluk Cahaya sejenak dan mengecup keningnya. Kemudian Doni melepaskan Cahaya agar bisa meneruskan pekerjaan nya.


Keduanya keluar dari kamar dengan bergandengan. Sesampainya di teras kedua bocah itu telah menunggu dengan wajah yang bertekuk dan masam. Keduanya kompak menatap orang tua mereka dengan tajam dan marah. Sementara Ibu Ratih malah terkekeh melihat dua orang dewasa itu salah tingkah.


" Maaf, anak anak. Tadi Bunda kebelet mau pup dulu. Jadi terpaksa Papa tungguin . Ayo berangkat... " Ucap Doni mencairkan ketegangan.


" Papa nggak bohong, kan ? " Biru menatap curiga.


" Nggak lah. Tanya saja Bunda. " Ucap Doni mencari pembelaan.


" Sudah... kalau berdebat lagi tambah lama. Ayo... " Cahaya yang tak ingin berbohong langsung mengalihkan perdebatan kedua pria kesayangannya itu.


" Ayo, Oma sudah pegal juga berdiri terus. " Ibu Ratih menarik Binar lembut menuju mobil di ikuti Biru yang langsung berlarian. Terakhir Doni dan Cahaya yang tetap bergandengan.


Kali ini mereka menggunakan mobil ukuran besar yang dikendarai supir. Karena nanti dari pelabuhan mereka akan menyeberangi Laut dengan sebuah yacht ukuran kecil. Tentu saja milik Aksa Group. Yang biasa disewakan untuk para turis. Baik Doni , Max , Randi dan juga Aryo sering menggunakan Yacht itu. Dan kini untuk pertama kalinya Doni membawa Cahaya dan anak anaknya menaikinya.

__ADS_1


Setibanya di pelabuhan Rania juga sudah menunggu bersama Adnan dan anak anak mereka. Dibantu oleh beberapa kru kapal semua bawaan mereka telah berpindah ke Yacht itu. Dengan wajah yang gembira anak anak dituntun oleh para orang tua menuju tempat duduk yang nyaman di dak kapal.


" Bumil... aku merindukan mu. " Sesampainya nya di kapal Rania langsung duduk di sebelah Cahaya dan merangkulnya .


" Aku juga, Nia. Habis kamu sibuk banget sekarang. Kita jarang ketemu. " Balas Cahaya mendekap Rania.


" Aku nggak bisa biarin Mas Adnan kerja sendirian, maklumlah sekarang jamannya pelakor. " Bisik Rania di ujung kalimat nya.


Jantung Cahaya terasa berdetak cepat mendengar ucapan Rania. Tidak ada yang salah dengan dengan ucapan itu, hanya saja mendengar kata pelakor Cahaya terasa tercubit. Kondisi sedang hamil dan pelakor adalah dua hal yang mengingat Cahaya akan rasa sakitnya.


Spontan mata Cahaya menatap Doni yang sedang berbincang dengan Adnan di pagar pembatas kapal. Apakah Doni akan seperti Fakhrul suatu saat nanti ? Pertanyaan yang kini mengambang dalam benak Cahaya. Kecemasan dan overthinking efek dari Anxiety Disorder masih Cahaya rasakan. Meski berkali-kali Doni menyakinkan nya tapi entah mengapa alam bawah sadar Cahaya selalu mengingat kenangan lama.


Rania yang menyaksikan kebisuan Cahaya baru menyadari kesalahannya. Apalagi arah pandang Cahaya yang menatap Doni dengan tatapan gamang. Kini Rania merutuki dirinya yang ceroboh.


" Mas Adnan bukan pria jenis gitu, sih. Hanya saja aku ingin selalu didekatnya sekalian antisipasi. " Tambah Rania akhirnya agar perhatian Cahaya teralihkan. " Aku yakin seribu persen Kak Doni juga nggak gitu. Dia orangnya bucin parah kalau sudah jatuh cinta. " Sambung Rania lagi.


" Kamu benar, tapi hati seseorang siapa yang tahu. Kadang terlalu percaya juga nggak bagus. Di situlah pria merasa ada kesempatan saat ada wanita yang menawarkan dirinya. Terlalu percaya itu juga yang melukai begitu dalam saat dikhianati. Akibatnya susah untuk memberikan kepercayaan yang sama pada seseorang setelahnya. " Ucap Cahaya dengan pandangan yang tak beralih dari Doni asyik dengan pembicaraan nya.


" Tak ada salahnya untuk mencoba mempercayai lagi. Karena tidak semua pria seperti itu. Dan aku bisa jamin Kak Doni spesies yang setia. Overthinking itu akan menyiksa Aya, cobalah untuk mengelola perasaan mu. Lakukan saja apa yang membuatmu tenang. Contohnya aku, ngintilin suami kemana saja. " Rania terkekeh di ujung kalimat nya.


" Ide bagus, aku juga akan seperti itu setelah ini. Jadi Abang ada di jarak pandangku setiap waktu. " Balas Cahaya dengan tawa yang sama.


" Good... jadi kita basmi para pelakor dengan elegant . Dengan cara tak dikasi bernapas." Keduanya tertawa bersama sehingga para suami mereka jadi teralihkan ke arah mereka.


Tidak lama kemudian kedua suami itu pun mendekat pada bidadari mereka masing masing. Apalagi Doni ada rasa ingin dekat selalu dengan Cahaya. Perasaan ingin selalu melindungi membuatnya tak ingin jauh dari Bumil nya itu.


" Apa yang membuat kalian tertawa begitu lepasnya. Kenapa aku merasa kalian sedang menggosipkan kami. " Ucap Adnan yang langsung duduk di samping Rania sembari mencubit pipi Rania gemas.


" Nggak kok Mas, kami lagi rapat kilat istri istri CEO membahas cara membasmi pelakor yang nekat. " Jawab Rania terus terang.


" Jadi hasilnya rapatnya apa ? " Tanya Doni yang merasa lucu .


" Mulai sekarang kami akan menjadi bayangan suami. " Jawab Cahaya.


" Singkatnya kami ngintil kemana suami kami pergi. " Tambah Rania.


Kedua pasang suami istri itu tertawa lepas mendengar ulah para wanita itu. Dan tentu saja para suami itu merasa senang dan tidak keberatan. Karena otak mesum mereka malah berpikir hal menguntungkan lainnya.

__ADS_1


...****************...


Happy Reading 💕


__ADS_2