Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Ingin bahagia


__ADS_3

Acara belanja tinggal wacana. Kedua sejoli kini menikmati malam di pinggir pantai. Dengan menyantap hidangan laut yang menggugah selera. Cahaya yang tidak begitu menyukai seafood jadi ketagihan .


Paduan bumbu ala Indonesia yang kaya rempah bertaburan pada seekor ikan Kakap merah yang dipanggang matang sempurna. Ditambah sambal terasi khas Jawa Barat dan lalapan sebagai pelengkap.


Tanpa malu malu Cahaya melahap sajian sampai tak bersisa. Pandangan mata Doni tidak beranjak dari wajah ayu Cahaya. Cara makan Cahaya yang apa adanya menerbitkan senyum tipis di bibir Doni. Sesaat hati Doni membandingkan dua wanita yang pernah singgah di hidupnya ini.


Tiara yang makan selalu menggunakan cara elegant. Tak luput dari sendok garpu dan pisau. Tiara tidak pernah mau di ajak makan di tempat makan sederhana bahkan sekelas restoran kelas menengah pun tidak. Tiara menyukai hidangan sekelas hotel berbintang lima , yang menyajikan hidangan luar negeri. Tiara juga terbiasa menghadiri acara makan resmi dan menguasai Table manner dengan baik.


Sangat berbeda dengan cara makan Cahaya yang apa adanya. Bukan berarti Cahaya makan serampangan, tidak tahu aturan. Cahaya tetap makan dengan sopan hanya saja Cahaya tidak segan makan mengunakan tangan. Makan dengan lahap tanpa beban. Cahaya menyukai hidangan sederhana. Seleranya khas Indonesia.


Tapi entah mengapa Doni menyukai cara Cahaya makan. Terlihat alami dan tidak dibuat buat atau sok anggun. Cara mengunyah makanan yang membuat orang lain melihatnya jadi berselera . Yah... Jingganya terlihat apa adanya dan tidak membosankan.


" Abang... makanannya nggak bakalan habis jika di anggurin gitu. Dimakan, Bang biar kenyang. Lagian Abang melihat Aya makan segitunya. " Cahaya merasa tidak nyaman saat Doni menatapnya makan. Takut Doni terganggu dengan cara makan nya.


" Asyik lihat kamu makan. " Ucap Doni terkekeh kecil.


" Kenapa... Aya berantakan ya ? Atau kelihatan rakus atau tidak sopan. " Doni malah terbahak mendengar Cahaya cemas.


" Nggak gitu , kamu makannya biasa saja dan santai. Tidak sok jaim dan sok elegant, apa adanya dan tidak pura pura. Abang suka. " Ucap Doni jujur.


" Bilang saja Aya makan kayak tukang bangunan. " Balas Cahaya cemberut. Dan Doni semakin terbahak lebih keras.


" Iya... iya, tukang bangunan kurus ! " Ucap Doni di sela sela tawanya. Tapi tawa Doni sontak terhenti melihat perubahan raut wajah Cahaya yang muram.


Tercipta hening sesaat . Doni masih menatap Cahaya yang pura pura sibuk dengan makanan nya. Ucapan Doni bukan membuat Cahaya tersinggung melainkan insecure. Tentu saja pikiran Cahaya kembali membandingkan tubuhnya dengan Tiara.


Tiara yang padat berisi, tidak gemuk tapi berisi di bagian bagian yang tepat, sementara Cahaya kurus tinggi dan terlihat rata dimana mana. Tidak ada yang menarik. Jika disandingkan dengan Doni jujur Cahaya merasa tak pantas.


" Maaf, Abang nggak sengaja. Niatnya tadi hanya bercanda. " Ucap Doni yang masih berharap Cahaya mengangkat wajahnya. Doni ingin menatap wajah sedih istrinya yang kini kembali kehilangan rasa percaya dirinya. Segitu tertekannya Cahaya dengan kondisi fisik dan psikisnya yang jauh dari kata sehat.

__ADS_1


" Boleh Abang kasi saran ? " Ucap Doni memancing Cahaya untuk menatapnya. Tapi harapan Doni pupus saat mendengar suara Cahaya yang sedikit bergetar. Tapi tetap menunduk menatap piring yang masih menyisakan sedikit makanan.


" Saran apa ? "


" Di lantai atas, dekat kamar Biru sebelah perpustakaan ada ruang yang mengarah ke halaman belakang. Dengan jendela kaca yang besar. Kamu pernah ke sana ?" Cahaya menggeleng. " Di situ ada gym pribadi milik Abang. Setiap pagi habis subuh temani Abang olah raga, mau ? "


" Mau...


" Sekalian kamu juga, nanti Abang yang jadi instruktur nya. " Tambah Doni. Barulah mata bermanik coklat itu menoleh ke arah Doni.


" Abang menyuruh Aya olah raga ? " Tanya Cahaya memastikan.


" Hmm... " Doni menjawab dengan deheman karena mulutnya penuh dengan makanan.


" Terus yang urus sarapan untuk Abang dan anak anak siapa ? " Tanya Cahaya lagi.


" Banyak pembantu di rumah, Sayang . Jangan khawatir. Nanti kita atur waktunya. Bagusnya sih tiga kali seminggu. Jadi tugas kamu nggak terganggu amat. " Doni bicara tanpa dosa, sementara Cahaya telah membeku mendengar kata ajaib yang Doni ucapkan barusan.


" I.. iya... deal... " Balas Cahaya akhirnya. Doni tersenyum sembari mengusap kepala Cahaya.


" Ayo lanjutkan makannya . " Keduanya kembali makan dengan tenang hingga makanan mereka habis.


Malam yang semakin larut membuat udara semakin dingin. Selesai makan keduanya pun memutuskan untuk pulang. Hanya kencan sederhana tapi Cahaya dan Doni bisa saling bicara. Membuka diri untuk lebih terbuka satu sama lain.


Setidaknya hari ini Doni sedikit lega. Rasa bersalahnya pada Cahaya sedikit berkurang. Di dalam hati Doni bertekad untuk mencoba untuk menepikan Tiara ke sudut hatinya,. Itulah yang seharusnya dia lakukan. Untuk melupakan Doni yakin dia tidak mampu . Doni hanya perlu mengosongkan ruang yang seharusnya milik Cahaya. Karena sekarang istrinya adalah Cahaya.


*****


Seminggu berlalu...

__ADS_1


Perubahan Doni mulai terlihat, lebih sering bicara dengan Cahaya . Tidak lupa mereka bertukar pesan walaupun untuk hal hal yang remeh. Rencana olah raga juga sudah mereka lakukan beberapa kali. Dan seminggu ini Cahaya juga tidur sendiri di kamarnya.


Doni... ? Entahlah. Cahaya tidak ingin membayangkan Doni tidur di kamar Tiara. Cahaya tidak ingin merusak hatinya. Cahaya hanya ingin sembuh dengan tidur yang cukup seperti yang Dokter Nadya katakan. Walaupun ada obat penenang tapi Cahaya ingin tidur tanpa obat.


Obat hanya untuk keadaan darurat saja. Itulah sebabnya Cahaya meminta Doni tidur pisah kamar. Karena kebiasaan Doni yang pulang larut dan kebiasaan minum yang sulit dihentikan.


Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, hari ini Cahaya kembali ke klinik milik Dokter Nadya. Masih dalam tahap konseling dan melihat perkembangan Cahaya selama satu minggu ini. Tapi Cahaya tidak sendiri. Rania menemaninya kali ini karena Rania memaksa.


Tentu saja Rania ingin tahu kondisi Cahaya saat ini. Dan sekarang mereka dalam perjalanan menuju klinik.


" Jadi benar kamu pisah kamar dengan Kak Doni ? " Rania baru saja dapat kabar dari Ibu Ratih makanya Rania tidak sabar ingin menanyakan pada Cahaya.


" Benar... " Jawab Cahaya singkat.


" Terus...


" Terus apanya...


" Kok malah bertanya. Maksudku kenapa?? Terus kelanjutannya bagaimana ? " Ucap Rania dengan nada sewot.


" Hmm... alasannya kamu tahu kan ? Tapi kelanjutan nya... intinya kami masih perlu sedikit waktu untuk bisa saling menerima. Aku butuh waktu untuk sembuh dan Abang butuh waktu berubah. " Jelas Cahaya.


" Kalian memang butuh waktu, tapi jangan terlalu lama. Takutnya akan semakin sulit untuk membangun chemistry. " Ucap Rania.


" Iya... aku akan berusaha. Nia... menurutmu bisakah bekas luka di tubuhku dihilangkan. " Tanya Cahaya ragu.


" Tentu saja bisa, tapi kita butuh Dokter untuk konsultasi. Aku punya kenalan Dokter namanya Rose, coba aku tanya tentang Dokter yang cocok untuk masalah kamu. Tenang Aya... aku akan membantumu. Hah... rasanya lega mendengar dari mulutmu sendiri. Dari kemaren aku ingin mengajak mu, tapi aku takut kamu tersinggung. Apalagi aku tahu kamu lagi ke Psikiater. " Rania bicara tanpa rem. Dia senang Cahaya ingin menyembuhkan bekas lukanya .


" Aku ingin sembuh Rania... menghapus semua masa kelam itu.Dari hati... jiwa...maupun tubuhku . Aku ingin merasakan bahagia...

__ADS_1


...****************...


Semoga bahagia 💕


__ADS_2