Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Pengkhianatan...?


__ADS_3

Akhirnya pintu itu terbuka lebar. Tapi mata keduanya terbelalak melihat pemandangan yang terpampang di depan mereka.


" A... Abang...


Pekikan wanita di belakang mereka lebih mengejut kedua pria itu. Cahaya muncul bersama Rania dan seorang berseragam karyawan villa.


Tubuh Cahaya melemah seiring air matanya jatuh membanjiri cadarnya . Beruntung Rania yang melihat kondisi Doni langsung mendekat pada Cahaya. Dan tanpa menunggu lagi Rania langsung menahan tubuh rapuh itu agar tak terhentak ke lantai.


Adnan mendekati Rania yang menopang Cahaya, sementara Maxim menerobos masuk ke dalam kamar dan berteriak membangunkan kedua pasangan yang tertidur lelap.


Kondisi keduanya yang berada di bawah selimut bisa ditebak tanpa busana, seakan keduanya kelelahan habis menikmati malam badai itu dengan gairah.


Namun teriakan Max hanya sia sia. Keduanya masih nyaman dengan saling mendekap. Akhirnya Max menepuk wajah Doni dan Marinda berganti sedikit keras, barulah keduanya menggeliat berusaha untuk membuka mata dengan sangat berat.


" Bangun...! " Suara Max kembali menggelegar memenuhi ruangan itu hingga ke lantai bawah.


" Hei... Max, kenapa kamu berteriak. Mengganggu orang tidur saja. " Ucap Marinda tanpa dosa sambil mengucek matanya.


" Bangun dan pakai bajumu, tak tahu malu ! " Bentak Max dengan geram dan amarah tertahan.


" Max... " Akhirnya Doni tersadar dengan susah payah sambil memijit pangkal hidungnya. " Kenapa kamu ada di kamarku. " Ucap Doni yang belum menguasai kesadaran nya sepenuhnya. Doni berusaha untuk duduk tanpa menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


" Kamarmu...? Maksudnya kamar mu bersama Marinda ? Wah hebat... See...!! " Maxim menunjuk ke arah pintu dimana Cahaya bersimpuh di lantai sambil menopang tubuhnya pada Rania. Yang kini sedang menatap Doni dengan pandangan penuh luka.


Doni mengarahkan pandangannya pada arah telunjuk Maxim . Dan setelah sadar siapa yang Max maksud, barulah Doni menatap sekelilingnya dan wanita yang berada di ranjang dengannya.


" Marinda... kau... " Doni langsung menatap ke arah Cahaya kembali. " Sayang... Jingga... " Doni berniat bangkit, tapi Max menahannya.


" Pakai dulu bajumu , apa kau ingin Cahaya melihat hasil pergumulan indah kalian tadi. " Sindir Max. Max melangkah keluar meninggalkan keduanya begitu saja.


" Ini tidak seperti yang kalian duga, aku... " Doni berteriak dan terputus...


" Kami bisa melihat, Kak. Dan kami tak perlu menduga duga. Ayo Aya kita pergi dari sini. " Rania menatap Doni nyalang. Kemudian memapah Cahaya untuk bangkit. Tapi naas saat Cahaya berdiri tubuhnya kembali amblas.


" Jingga... " Doni hendak bangkit tapi kembali urung karena tak memakai apapun. Doni mencari pakaiannya dengan frustasi. Tapi tak kunjung dia temukan.


Sementara Cahaya telah dibopong oleh Adnan ke lantai bawah dan membawanya ke villa yang mereka tempati sebelumnya. Dibantu oleh Maxim dan Rania. Seorang wanita yang sedari tadi mencuri dengar kejadian di lantai atas menatap Cahaya dengan tatapan bersalah. Tanpa seorang pun yang tahu wanita itu menitikkan air matanya.

__ADS_1


" Begitu mirisnya hidupmu... maafkan aku. " Gumam wanita itu yang tak lain adalah Amelia. Wanita itu kini melanjutkan hidupnya dengan baik tanpa bayang bayang masa lalu, tapi siapa sangka jika takdir mempertemukan nya dengan Cahaya dengan cara seperti ini.


Kembali ke kamar lantai atas, tempat Doni dan Marinda yang kini sama sama polos. Doni menatap Marinda dengan tatapan penuh amarah. Sedangkan Marinda sudah mengeluarkan air mata buayanya.


" Dimana pakaianku . " Doni tidak bisa berpikir tentang apa yang terjadi. Yang dia inginkan hanyalah pakaian nya. Dia ingin melihat Cahaya yang tak sadarkan diri karena semua ini.


" Kamu lupa, Don. Kita membukanya di dapur dan kamu menggendong ku ke sini. Kenapa kamu begitu marah, padahal kita sama sama menikmatinya tadi. " Marinda terisak seperti dia lah korbannya.


" Aku tak merasa berbuat seperti itu, dan aku malah tak mengingatnya. " Doni masih tidak yakin dengan apa yang terjadi. Pikirannya buntu dan kepalanya pusing.


Doni menatap sekeliling kamar mencari apapun untuk menutupi tubuhnya. Tapi belum lagi dia menemukan apapun, Marinda dengan berani menyentuh tubuh bawahnya dan memeluknya erat.


" Apa yang kamu lakukan. " Teriak Doni sambil mendorong Marinda.


" Kita sudah melakukannya, Don . Aku tahu kamu pria yang bertanggung jawab. Cahaya juga sudah mengetahui semuanya. Jadi kita tak perlu menyembunyikan nya. Lihat... bahkan tubuhmu pun tidak menolak sentuhan ku. " Marinda membuka selimut dan memperlihatkan bagian tubuh Doni yang telah bereaksi tanpa bisa di cegah.


" Aku pria normal, siapapun pasti seperti ini jika kau sentuh. Tapi bukan berarti aku ingin melakukannya dengan mu. Jika sesuatu terjadi diantara kita pun , aku yakin itu bukan dari keinginan ku. Aku sedikitpun tak berminat padamu, Rinda. " Doni menarik kasar selimut yang setengah masih membelit tubuh Marinda.


Tanpa peduli tubuh Marinda kini terekspos semuanya, Doni membelitkan selimut itu ke tubuhnya dan melangkah ke pintu. Namun sampai di ambang pintu Doni berbalik, sedangkan Marinda tersenyum senang karena mengira Doni akan kembali padanya.


" Aku kesini ingin menolong mu, bukan untuk mencicipi tubuh mu. Jadi aku yakin ini jebakan. Dan aku akan mendapatkan buktinya . " Dan Doni langsung berlalu. Tapi kaki Doni menendang sesuatu yang ternyata ponselnya.


" Sepertinya seseorang membuka bajuku di kamar ini, hingga tak menyadari jika ponselku tercecer di sini. " Doni keluar tanpa menoleh, sementara Marinda mulai terlihat gelisah.


Dengan cepat Marinda melangkah ke kamar mandi dan meraih bathrove dan berlari menuju kamar utama tempat barang barangnya berada. Tapi langkahnya melambat saat seorang wanita duduk di sofa dekat kamar itu.


" Wow... ada anak jal*ng di sini. Siapa lagi yang kamu rayu saat ini, hmm ? " Ucap Marinda mengejek.


" Sesama jal*ng dilarang saling menjatuhkan. Bukankah kamu baru saja membuktikan jika ucapan mu itu sekalian untuk dirimu. " Amelia membalas dengan senyuman penuh ejekan.


" Aku berbeda dengan mu, aku hanya mengambil apa yang seharusnya jadi milikku. " Jawab Marinda membela diri.


" Semua wanita seperti kita selalu merasa berhak terhadap milik orang lain, Kakakku tersayang. Jadi aku memaklumi dirimu. " Ucap Amelia yang tak mau kalah.


" Hei, mantan gund*k . Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum aku menyeret mu keluar dari villa ini. " Marinda terlihat murka mendengar ucapan Amelia.


" Wah, Kakak kamu masih saja pemarah. Apa pria tadi tak memuaskan mu. Ck... ck... ck... kasihan ! Udah mencuri milik orang itupun tidak memuaskan. Apa aku perlu membantumu merayu pria atau mengajarimu, Kak ! " Ejek Amelia sambil terkekeh.

__ADS_1


" Sialan kau , pergilah...!! . Aku tidak ada masa untuk melayani mu. Carilah mangsa diluar sana. Dan ingat aku bukan Kakakmu, jal*ng." Marinda bergegas pergi ke tujuannya semula. Dia harus menyelesaikan sesuatu sebelum terlambat. Tak ingin terpancing oleh Amelia yang memang sengaja memprovokasi nya.


Sementara di villa lain, Cahaya telah mulai siuman. Tatapannya nanar menatap langit langit kamar dengan cairan bening yang terus mengalir di sudut matanya. Rania dengan setia menemani tanpa berani mengajak bicara. Rania malah ikut larut dalam tangisannya dalam diam, sama halnya dengan Cahaya.


Kamar itu hening tanpa suara hanya suara isakan tertahan dan sesekali helaan napas kedua wanita itu. Rania merasa sangat prihatin dengan semua yang menimpa sahabatnya . Namun di sudut hatinya Rania tidak mempercayai apa yang terlihat tadi. Tapi semua akan sulit untuk diterima.


Di luar kamar Adnan dan Maxim duduk berhadapan sambil memegang kaleng minuman ringan bersoda.


" Aku tak percaya Kak Doni tega melakukan semua ini. Entah kenapa aku merasa ini bukan seperti yang terlihat. " Ucap Adnan sambil menatap Maxim yang terdiam sambil menyesap minumannya.


" Entahlah, aku tak bisa berpikir. Dadaku terasa sesak. " Ucap Max sambil menengadahkan kepalanya dengan mata tertutup.


Adnan menyipitkan matanya mencurigai sesuatu. " Kamu menyukai Marinda, Max ? " Ucap Adnan mencari jawaban dari Max untuk mengobati rasa penasarannya.


" Sangat dan sejak lama. Tapi di matanya aku tak terlihat karena semua dalam hidupnya hanya ada Doni. Dan Doni tahu itu. Tapi dengan teganya... " Bule tampan dan gagah seperti Max tak mampu mengalihkan Marinda dari Doni. Sungguh Maxim yang malang.


" Aku malah semakin yakin ini hanya jebakan. " Ucap Adnan yang membuat Max menegakkan kepalanya.


" Begitukah menurut mu ? " Tanya Max meyakinkan hatinya.


" Aku juga berpikir begitu, Max. Tolong panggilkan Dokter, ambil darahku. Aku yakin kita akan menemukan sesuatu. " Doni datang menyambar dari pintu masuk. Kini dia telah berpakaian lengkap . " Dan tolong minta rekaman CCTV sekitar villa itu. Max, hubungi Aryo suruh kesini. " Doni duduk di salah satu sofa dengan menyandarkan punggungnya yang terasa berat menahan beban.


" Kamu yakin tak sempat menikmatinya, Kak. Jika sudah... Marinda tidaklah bodoh membiarkan mu lolos begitu saja. Kamu dalam masalah besar. " Adnan malah membuat Doni semakin kalut.


" Bagaimana dengan keadaan, istriku. " Ucap Doni lemah.


" Hancur, patah hati , menangis dan rasa ingin mati . Emang apalagi... " Ucap Adnan sinis.


Doni semakin frustasi , apalagi Maxim menatapnya datar dan dingin.


" Tolong... aku yakin ini tidak seperti yang kalian pikiran. Please Max... help me... please ! " Doni meremas rambutnya. Tak ada kekuatan untuk menatap mata Cahaya. Meski hatinya ingin memeluk erat istrinya yang tengah rapuh.


" Ok... tunggulah... " Max melangkah keluar entah kemana tujuannya.


" Minta Rania temani Jingga. Aku tak sanggup melihatnya sekarang. Aku akan menemuinya setelah aku bisa membuktikan kebenarannya. Adnan... bisakah kamu membawa mereka semua kembali besok. Katakan kalau aku ada pekerjaan mendadak atau apapun, terserah padamu. Aku mohon...! "


Tak hanya Cahaya, Doni juga merasa sangat hancur. masih terbayang tatapan penuh luka istrinya. Mata cantik kesayangannya basah tak terbendung. Doni merasakan sakit yang sama. Sambil menyesali telah mengabaikan saran Cahaya untuk membawa Adnan . Doni merasa bodoh, sangat bodoh.

__ADS_1


...****************...


Hai readers, Salam sayang Author 🙏🥰


__ADS_2