Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Saling bicara


__ADS_3

" Jingga, kamu sudah memasuki kamar Tiara ? Doni masih dalam tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Maaf, Bang. Aya lancang. Aya hanya penasaran seperti apa kamar yang membuat suamiku sulit untuk meninggalkan nya. " Cahaya tersenyum miris. " Tapi setelah melihatnya sendiri Aya baru tahu ternyata memang sangat indah. " Cahaya menatap Doni dengan senyuman yang dipaksa untuk mengembang.


" Mbak Tiara memang sangat memperhatikan kenyamanan mu, Bang. Semua perabotan nya adalah kualitas terbaik, kata Ibuk semua pilihan Mbak Tiara. Seleranya sangat bagus. Dia pintar menata, bahkan peralatan make up dan kosmetik nya tersusun apik. Pajangan dan fotonya semua indah pada tempat yang tepat. Pakaian Mbak Tiara juga barang bermerk. Terlihat perbedaan kelas diantara kami. Itulah yang membuat Aya tidak berharap banyak terhadap kamu dan pernikahan ini. Aya tahu , sampai kapan pun Aya tidak akan mampu untuk menggapai mu. Tapi jangan takut Aya tidak akan menuntut apapun. Melihat Ibuk dan anak anak bahagia adalah hal yang paling membahagiakan bagi ku. Itu saja sudah lebih dari cukup. " Cahaya masih dengan senyumnya.


Meski dengan susah payah Cahaya meredam gemuruh di dadanya . Sejak menyaksikan sendiri kamar yang membuat suaminya dan mertuanya bersitegang , Cahaya semakin tidak percaya diri. Di sanalah Cahaya merasakan perbedaan yang sangat kontras antara Tiara dan dirinya. Foto foto Tiara berbagai macam pose memperlihatkan betapa cantik dan anggunnya Tiara.


Dan beberapa diantaranya memperlihatkan kemesraan antara Tiara dan Doni. Kebersamaan mereka di berbagai tempat hingga luar negeri. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Meski Tiara sudah tiada tapi di kamar itu Tiara seperti hidup dan berkuasa.


Mendengar setiap detail kamar Tiara yang Cahaya jabarkan terasa denyutan menyakitkan di dada Doni. Doni tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Melihat senyum palsu di bibir istrinya ingin rasanya Doni memeluk tubuh kurus itu. Tapi Doni merasa tidak pantas karena dirinya memang seperti yang Cahaya katakan.


" Jadi , bisakah Abang mengabulkan permintaan Aya, tadi. Mulai sekarang Abang juga tidak perlu sembunyi sembunyi jika ingin ke kamar itu. " Ucap Cahaya memecah kesunyian.


" Beri Abang waktu, Abang juga ingin keluar dari semua ini. Abang juga ingin memperbaiki agar semua berada pada tempat seharusnya. " Ucap Doni akhirnya.


" Tidak usah berubah, Bang. Ini sudah seharusnya. Aya yang datang tidak pada tempat seharusnya . Aya tidak ingin masuk ke tempat yang tidak menginginkan ku. Percayalah Aya baik baik saja. " Senyuman itu kembali terlihat tulus namun penuh luka.


Se putus asa itulah Cahaya. Pengalaman membuat Cahaya berpikir lebih logis . Jika pernikahannya dengan Fakhrul karena cinta saja bisa hancur berkeping-keping . Bagaimana dengan Doni yang menatapnya saja enggan . Cahaya berusaha keras untuk mengikis setiap rasa yang tumbuh untuk menyelamatkan hatinya.


" Kamu menyerah, Jingga ? " Tanya Doni dengan suara yang lirih tapi masih Cahaya dengar dengan jelas.


" Bukan menyerah tapi belajar menempatkan diri. Agar hati ini juga tahu diri, tak banyak menuntut. " Cahaya tak kalah lirih nya . Ada kepedihan dari nada bicaranya.


" Jingga... beri aku waktu. "


" Ambil waktu sebanyak yang Abang mau. Tapi izinkan Aya sendirian di kamar kita. " Pinta Cahaya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin Abang bisa memperbaiki diri jika Abang tidur di kamar Tiara. " Doni merasa keberatan dengan permintaan Cahaya. " Jika kita tidak membangun hubungan ini berdua Abang tidak yakin, Jingga. Abang butuh kamu untuk berubah. "


" Tapi Aya butuh sendiri " Cahaya bersikeras karena dia ingin sembuh. Jika setiap malam Doni pulang dalam keadaan mabuk, maka Cahaya akan sulit untuk sembuh. Cahaya butuh rasa aman agar bisa tidur dan makan dengan baik itulah alasannya.


" Kamu merasa terganggu karena Abang sering pulang larut dan bau minuman ? " Doni tidak tahan lagi, dia ingin membantu Cahaya sembuh dan tidak ingin meninggalkan Cahaya berjuang sendiri tanpa Cahaya menyadari. Tapi kerasnya keinginan Cahaya untuk sendiri mau tidak mau Doni harus berterus terang.


" Abang... " Cahaya gelagapan. Dia lupa siapa Doni. Cahaya yakin tidak ada yang tidak Doni ketahui tentangnya.


" Iya, Abang sudah tahu jika hari ini kamu menemui Psikiater. " Ucap Doni jujur. " Biarkan Abang membantu mu. Abang janji akan berubah demi kamu. "


" Cukup bantu dengan kartu milik Abang saja. Karena jujur Aya nggak cukup uang untuk berobat. Selebihnya biar Aya saja, please jangan berbuat lebih lagi, Aya tidak sanggup membayarnya kelak. " Manik coklat terang itu terlihat berkaca kaca.


" Tidak ada yang perlu kamu bayar, Jingga. Kamu istri Abang. Semua yang Abang punya milikmu juga. Mulai saat ini manfaatkan Abang sesuka kamu. " Ucap Doni merasa tersentil dengan ucapan Cahaya .


" Milik Aya, kecuali hati mu... " Tapi Cahaya hanya sanggup mengucapkan nya dalam hati.


" Abang butuh waktu, kan. Aya juga ! Mari kita coba untuk pisah kamar dulu beberapa waktu. Sambil menyakinkan diri kita berdua. Jika suatu saat kita memang saling membutuhkan satu sama lain, pasti ikatan ini akan menemukan caranya untuk saling mengikat lebih kuat. " Cahaya kekeh dengan keinginannya.


Doni hanya bisa menghembuskan napas lelah. Jingga nya mengeras, karena terlalu dia abaikan. Doni harus mengalah untuk sementara waktu. Jingganya sedang menjaga hati nya sendiri agar tidak terluka lagi. Tapi tetap dengan cara lembut dan tak menyakiti. Biarlah Doni mengalah memberi ruang yang Cahaya inginkan. Toh Cahaya masih di rumah yang sama dengan nya dan Doni masih bisa mengawasi Cahaya dari jauh.


" Ok , Abang mengalah. Tapi untuk waktu yang Abang tentukan. Jika Abang rasa cukup, Abang akan mendatangi kamu . Dan tidak ada penolakan. Jika sampai pada waktu itu, Abang harap kamu mau menyerahkan dirimu seutuhnya untuk Abang. "


" Aya harap Abang juga sudah bisa menempatkan Aya dalam hati Abang dengan tempat yang lebih luas . " Doni paham apa yang Cahaya maksudkan. Cahaya ingin hatinya yang kini masih menempatkan Tiara di sana.


" Akan abang usahakan. " Jawaban Doni menerbitkan senyum di bibir Cahaya. " Kita hanya berpisah tidur saja, kan ? Kamu tidak akan menghindari Abang dan Abang masih bisa mandi dan ganti baju di kamar kita ? " Tanya Doni.


" Iya... memangnya siapa yang akan menyiapkan kebutuhan Abang kalau bukan Aya. " Keduanya saling melemparkan senyuman.

__ADS_1


" Sudah mau magrib, belanjanya besok aja ya, takut nggak sempat lagi. " Ucap Doni setelah menyadari langit telah berwarna jingga.


" Ya, sudah. Ayo pulang. "


" Kita cari masjid , terus kita pergi kencan. Mau kan ? " Tawaran menggiurkan. Cahaya tersenyum sebagai jawaban.


Keduanya akhirnya menunaikan ibadah magrib di sebuah masjid. Setelahnya Doni memacu kendaraan nya menuju sebuah restoran pinggir laut yang terdapat dipinggir kota. Restoran seafood yang menyediakan gazebo gazebo yang menghadap ke laut .


" Tempatnya bagus, Aya tidak tahu ada tempat yang seperti ini . Apa Abang sering ke tempat ini dulu ? . " Ucapan Cahaya memancing Doni untuk menatap mata Cahaya yang asyik menikmati pemandangan.


Doni sangat tahu arah ucapan Cahaya, meski istrinya bicara dengan nada datar. " Tidak sering hanya beberapa kali dengan Ibuk dan Rania. " Jawab Doni.


" Dengan Mbak Tiara ...


" Tidak pernah , Jingga. Karena restoran ini baru buka tujuh tahun lalu. Lagi pula Tiara tidak suka tempat makan seperti ini . "


" Kenapa, bukan kah ini sangat indah. Kita bisa makan sekalian merasakan angin laut dan mendengarkan ombak. " Cahaya menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya.


" Dia menyukai hidangan italy atau Jepang. Dan dia lebih menyukai makan di hotel atau restoran yang mewah. " Doni masih menatap ke arah Cahaya yang sibuk memandangi lautan gelap itu. Doni memperhatikan setiap perubahan mimik wajah istrinya melalui mata Cahaya.


Doni tahu Cahaya sedang mengorek info tentang Tiara. Meski kelihatan santai tapi istrinya sedang menyembunyikan perasaannya. Mungkin cemburu ? Doni berharap seperti itu, apakah berlebihan ? Entahlah Doni hanya merasa bahagia saat menangkap sinyal itu pada Cahaya.


Tiba tiba Doni gemas sendiri. Dengan lembut dia merangkul Cahaya yang berada di sampingnya. Lalu melabuhkan kecupan di pipi kanan Cahaya meski terhalang kain cadar . Dan berakhir di kening Cahaya dengan durasi yang cukup lama.


Kedua pasang mata mereka bertemu saling membagikan kebahagiaan. Walaupun wajah tertutup cadar Doni tahu Jingganya tersenyum .


...****************...

__ADS_1


Happy Readingđź’•


__ADS_2