Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Menutup luka


__ADS_3

Acara makan yang Cahaya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kehadiran Marinda merusak suasana hatinya. Apalagi kecupan hangat yang Marinda tinggalkan di pipi Doni membuatnya sakit hati. Bahkan dirinya saja belum pernah melakukan.


Wajah bertekuk yang Cahaya bisa terbaca oleh Doni. Tapi Doni tidak berani bersuara karena sedari tadi Cahaya diam tanpa kata. Meski Cahaya tetap melayani Doni menyediakan makanan nya. Tapi tatapan sendu dari bola mata besar yang satu itu mengganggu Doni.


" Sialan kau Rinda... baru mau baikan, kini semua jadi kacau. Bagaimana aku harus membujuknya. " kutuk Doni dalam hati .


" Jingga, ambilkan Abang sayurnya. " Pinta Doni membuka suaranya.


Dengan cepat Cahaya mengambilkan Doni sayur. " Segini... cukup ? " Tanya Cahaya.


" Cukup ! Sambalnya juga. " Tambah Doni. Dengan telaten Cahaya menambahkan sambal yang Doni minta.


" Hmm... masakanmu enak... belajar dimana sih ? Rania saja yang belajar dari dulu sama Ibuk , nggak bisa bisa. " Puji Doni jujur.


" Aya suka masak . Belajarnya dimana saja. Buku, internet, media sosial, Media televisi bahkan improve sendiri. " Jawab Cahaya yang kembali melanjutkan makannya dalam diam .


Cahaya sama sekali tidak membahas tentang ciuman Marinda di pipi Doni, begitu juga dengan Doni. Tapi Doni merasa bersalah, tapi bingung hendak memulainya bagaimana. Alhasil Doni hanya bisa mendesah pelan.


Pandangan Doni tidak beranjak dari Cahaya yang sibuk merapikan rantang tempat makan siang mereka tadi . Cahaya tetap diam tanpa kata yang membuat Doni serba salah. Saat Cahaya hendak bangkit membawa gelas bekas mereka ke wastafel, Doni tak tahan lagi untuk tak bicara.


" Jingga... kamu marah ? " Tanya Doni sembari menahan tangan Cahaya yang hendak bangkit.


" Tidak, apa Aya terlihat sedang marah ? " Tanya Cahaya balik. Dan terdengar hembusan napas kasar Doni.


" Kalau ada sesuatu yang mengganggu cobalah untuk bicara, diamnya kamu mengatakan kalau ada sesuatu di pikiran kamu. " Ucap Doni lembut.


" Kenapa bukan Abang saja yang bicara, menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Jika memang Abang merasa ada yang salah, kenapa harus menunggu Aya yang bicara . " Cahaya benar, Doni hanya tidak tahu harus mulai dari mana.

__ADS_1


Doni merasa malu pada Cahaya karena membiarkan Marinda melakukan hal yang sangat berani di depan Cahaya. Doni juga merasa sangat bersalah pada istrinya. Tapi Doni takut Cahaya malah salah paham dan semakin menjauhinya.


" Maaf... " Doni kembali meraih tangan Cahaya yang kini sudah berdiri. " Maaf, jika tindakan Marinda tadi membuat kamu marah dan kesal sama Abang . Tapi itu terjadi tiba tiba, Abang tak sempat mengelak. " Ucap Doni akhir nya.


" Tentu saja Aya tidak terima. Tapi harus bagaimana sudah terjadi. Nikmati saja, Bang. " Cahaya tidak bisa menutupi rasa kecewanya. Cahaya melanjutkan langkahnya ke wastafel dan menaruh gelas kotor di sana.


" Maafkan Abang... " Doni tiba tiba sudah memeluk Cahaya dari belakang. Menempatkan dagunya di pundak Cahaya. Menatap wajah muram Cahaya dari balik cermin di depan mereka.


Sementara Cahaya hanya menunduk menyembunyikan pandangannya yang mengabur. Rasa sesak terasa menekan dadanya mengingat perbuatan Marinda. Cahaya merasa haknya dirampas dan Cahaya tidak rela.


Doni membalikkan tubuh Cahaya menghadap padanya. " Marahlah jangan ditahan. Kamu berhak untuk marah. Tapi jangan diam, Abang bingung dan tidak suka jika kamu diam. " Doni merangkul tubuh kurus yang mulai berisi itu. Menariknya agar masuk ke pelukan nya.


Doni merasakan getaran halus dari tubuh istrinya dan tak lama kemudian Doni juga merasakan bahunya basah. Ya... Jingga nya menangis tanpa suara . Rasa kecewa karena suaminya dicium oleh wanita lain di depan matanya. Dan Doni tidak berbuat apa apa.


" Maaf, membuatmu kecewa, Abang janji akan memperingati Marinda nanti. Dan ini yang terakhir. " Cahaya melepaskan diri dan kembali ke sofa. Membuka tas dan mengambil tissu untuk menghapus sisa air matanya.


Keduanya menunaikan ibadah sholat zuhur berjamaah untuk pertama kalinya. Ada rasa haru dalam hati Cahaya. Mendengar fasih nya Doni melafazkan setiap bacaan sholatnya. Benar kata Rania jika sebenarnya dulu Doni adalah umat yang taat. Dan kini Cahaya membuktikan nya.


Setelah sholat Doni mengajak Cahaya untuk kembali duduk di sofa. Saat nya Doni bicara empat mata dengan Cahaya. Dan akhirnya mereka duduk berdekatan di sofa panjang dengan posisi berhadapan.


" Jingga, ini sudah hampir tiga bulan kita menikah. Dan hampir dua bulan kita pisah kamar. Abang rasa sudah saatnya kita berkomitmen dengan serius. Oleh sebab itu Abang ingin bertanya pada mu tentang apa yang kamu rasakan. Agar kita menemukan satu jalan untuk kira agar bersama. "


" Boleh Abang bertanya padamu ? " Cahaya mengangguk kepala nya sambil menatap ke arah Doni dengan raut serius. " Apakah kamu ingin melanjutkan pernikahan ini ? "


" Tentu saja. " Jawab Cahaya cepat dan singkat. " Aya tidak pernah berniat untuk mundur meski hati Abang tidak untuk Aya. " Lanjut Cahaya. Doni tertampar oleh ucapan Cahaya.


" Syukurlah, tapi sebenarnya dari awal kamu sudah menarik Abang untuk mendekat padamu, Jingga. Walaupun Abang belum bisa memastikan rasa apa itu pada awalnya. Tapi percayalah jika sejak kita menikah pelan pelan kamu mulai masuk dan mempengaruhi hatiku. Untuk itu Abang butuh dirimu untuk membangun rasa itu agar lebih kuat. Kamu pasti mengerti maksud Abang kan ? "

__ADS_1


" Abang rasa sudah waktunya, kita bersama. Saling berbagi dan bersama membangun hubungan ini agar menjadi utuh. Dan mulai malam ini kita akan tidur di kamar yang sama." Ucapan Doni terdengar tegas .


Seperti kata Doni sebelum mereka pisah kamar, jika saatnya tiba Doni akan datang sendiri tanpa penolakan. Cahaya masih ingat ucapan Doni kala itu, dan sekarang Cahaya tak bisa membantah lagi. Siap tidak siap Cahaya tetaplah seorang istri, dan Cahaya tahu betul kewajibannya.


Waktu yang mereka butuhkan untuk bisa memperbaiki kekurangan masing masing telah tiba pada batasnya. Kini waktunya Cahaya menerima seperti Doni yang telah berusaha untuk berubah.


" Baiklah, jika Abang merasa ini sudah waktunya. Bolehkah Aya bertanya satu hal ? " Cahaya menatap manik mata tajam milik suaminya dengan lekat.


" Apa yang ingin kamu tanyakan ?" Ucap Doni.


" Apakah Mbak Tiara masih berkuasa di sini. " Cahaya mengelus dada Doni lembut dengan tatapan yang masih menatap mata Doni.


" Abang tidak bisa menghilangkannya sekaligus, Jingga . " Doni menunduk tak sanggup menatap Cahaya. Sontak Cahaya melepaskan tangannya dari dada Doni.


" Tidak apa apa. " Cahaya meluruskan duduknya menghadap ke depan. Agar tidak lagi menghadap Doni . Ada rasa kecewa mendengar ucapan Doni. Dan Doni menyadari itu.


" Tapi Abang sudah bisa tidur tanpa ke kamar itu terlebih dahulu. Abang sudah tidak tergantung lagi dengan alkohol untuk tidur. Untuk itu Abang butuh kamu untuk bisa lepas sedikit demi sedikit. " Doni kembali menarik Cahaya untuk duduk lebih dekat dengannya.


Doni memang selalu ke kamar Tiara sebelum masuk ke kamar Cahaya. Doni tidak bisa tidur tanpa menghirup aroma yang Tiara sukai yang menjadi candu bagi Doni. Tapi sejak bertekad untuk berubah Doni berusaha untuk tidak memasuki kamar Tiara lagi. Dan untuk menjaga perasaan Jingga nya.


" Dengarkan Abang, Jingga. Mustahil jika Abang bisa lupa seratus persen, kecuali Abang amnesia. Tapi kita bisa membuat kenangan yang lebih indah untuk menimbun kenangan lama. Hingga akhirnya kenangan itu terkubur hanya disudut hati Abang saja sementara kamu dan kebahagiaan kita menguasainya. " Ucap Doni sungguh sungguh. Cahaya bisa melihat tatapan penuh harap di mata Doni.


" Baiklah, ayo kita coba. Saling mengisi dan mengubur masa lalu. Jujur Aya juga butuh Abang untuk menutupi semua goresan luka masa lalu ini. " Keduanya saling genggam menguatkan tekad.


Harapan baru yang mereka renda untuk masa depan yang lebih baik. Keluar dari masa lalu adalah cara untuk bisa bahagia. Dan mereka ingin bahagia dan menghapus luka masa lalu yang yang terlanjur membekas.


...****************...

__ADS_1


Happy Reading 💕


__ADS_2