Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Cahaya ( pingsan)


__ADS_3

Doni memakai kemeja nya dengan asal. Langkah kaki lebarnya membawa lelaki matang itu menuju lift dan menekan tombol menuju rooftop. Hanya orang orang tertentu yang punya akses ke tempat itu. Termasuk Doni dan kawan kawan nya. Randi memberikan sandi khusus untuk mereka.


Sesampainya nya di rooftop Doni menghirup udara lepas untuk mengurangi sesaknya. Dadanya terasa terhimpit setelah melihat parut luka di sekujur tubuh istrinya. Hasrat yang memuncak seketika redup menyaksikan tubuh kurus tak terawat itu lengkap dengan berbagai bentuk bekas luka.


" Biadab... ! Iblis macam apa dia, yang mampu melakukan hal sekeji itu. Benar benar menjijikan !! Haaaaaah.... !!! " Doni memaki dan berteriak sembari memukul mukul pagar pembatas rooftop.


Sungguh Doni tak mampu membayangkan betapa sakitnya yang Cahaya rasakan. Bekas operasi yang tepat di bawah dada Cahaya begitu panjang. Doni tahu itu akibat tulang rusuk yang patah. Doni pernah melihat salinan hasil visum milik Cahaya. Tapi Doni tidak menyangka jika lebih banyak lagi bekas luka yang lain.


Entah mengapa Doni merasakan nyeri di dadanya. Penderitaan macam apa yang Cahaya lewati hingga dia tidak merawat dirinya dengan baik. membiarkan tubuhnya mengurus dan bekas luka itu dibiarkan begitu saja.


Doni terus mengutuk pembuat cacat kulit putih Cahaya. Orang yang harusnya melindungi malah menjadi predator tak berperasaan tak ubahnya monster berdarah dingin. Tak salah jika Binar yang masih terlalu kecil saat itu bisa mengalami gangguan pada psikisnya. Doni saja yang hanya melihat bekasnya saja merasa terpukul melihatnya. Sementara Binar melihat langsung dengan darah yang membasahi tubuh ibunya.


Doni lelah meredam emosinya. Efek alkohol yang Marinda cekoki padanya telah menghilang meninggalkan pegar dan sedikit pusing. Akhirnya Doni terduduk melantai dengan kaki ditekuk. Menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas itu. Doni menutup matanya sembari menyugar dan meremas rambutnya mengingat apa yang baru saja terjadi.


Malam telah menyisakan fajar yang mulai terlihat. Udara dingin menyadarkan Doni jika dia baru saja terlelap . Tak terasa sudah dia jam berlalu sejak Doni naik ke rooftop. Doni tersentak kala menyadari telah meninggalkan Cahaya sangat lama. Niat hatinya hanya ingin menenangkan diri sejenak, tapi malah ketiduran. Mungkin karena efek minuman yang Marinda berikan padanya membuatnya ngantuk.


" Sialan Rinda ... istriku menunggu hingga larut dan kini aku malah meninggalkan nya begitu saja. Apa yang Cahaya pikirkan tentang ku. Akh....bodohnya kamu Doni . " Ucap Doni memaki. Doni berusaha untuk mengembalikan kesadarannya seutuhnya dan barulah berdiri dengan sedikit oleng karena pegal.


Dengan langkah yang tergesa gesa Doni turun kembali ke kamar pengantinnya. Sepanjang perjalanan Doni mengingat saat dia menjamah Cahaya semalam. Cahaya mengalami tremor hebat dengan tatapan penuh ketakutan. Doni tidak tahu pasti penyebabnya, padahal Doni tidak menyakiti Cahaya sedikitpun.


Doni terbakar hasrat oleh minuman yang Marinda berikan dengan cara memaksa. Dengan alasan untuk terakhir kalinya. Seperti biasanya Doni selalu gampang on fire hanya karena sedikit alkohol. Dan Marinda sangat tahu kelemahan nya dan berusaha menjerat dan memancing Doni tadi malam. Tapi Doni hampir saja tidak bisa menguasai diri dan sudah sempat saling mencumbu dengan Marinda. Tapi dengan sigap Aryo menariknya paksa dan menyeret Doni kembali ke kamar Cahaya.


Doni telah bertekad untuk menahan diri agar Cahaya bisa membuka diri untuk menerimanya dengan suka rela. Tapi melihat Cahaya yang belum tidur, Doni menyangka Cahaya sedang menunggunya. Dan wajah ayu Cahaya membuat hasrat Doni kembali bergelora dan tidak mempedulikan tubuh Cahaya yang bergetar dalam kungkungannya.


Rasa bersalah menyelimuti hati Doni. Doni menikahi wanita itu memang bukan karena cinta seperti pernikahan nya dengan Tiara. Tapi Doni melakukannya dengan sungguh sungguh dan sepenuh hatinya. Kini Doni ingin cepat sampai di kamarnya. Meminta maaf pada sang istri yang ditinggalkan nya tanpa penjelasan.


" Ceklek "


Bahkan pintu kamar pun tak terkunci sejak semalam. Doni merasa janggal , bagaimana mungkin Cahaya se ceroboh ini. Apa Cahaya tidak takut sendirian di kamar. Bagaimana jika ada yang masuk saat Cahaya tertidur.

__ADS_1


Semua pertanyaan itu mengambang seketika setelah melihat apa yang terjadi. Doni langsung tercekat saat melihat tubuh rapuh Cahaya tergolek di lantai hanya dengan dalaman saja. Sontak Doni mendekat dan meraba tubuh Cahaya. Dingin.... seperti es.


Dengan sigap Doni meraup tubuh istrinya dan membaringkan di ranjang. Meraih selimut yang masih tergeletak di tempat semula saat Doni meninggalkan Kamar. Menyelimuti tubuh Cahaya hingga lehernya dan mematikan pendingin ruangan.


" Jingga...Jingga... bangun ! " Sia sia Doni menyeru, Cahaya hanya terdiam kaku dengan kedua mata tertutup rapat.


Doni memucat gelisah. Hatinya resah dan bingung harus apa. Sesaat Doni hanya teringat Aryo. Tidak mungkin Doni menghubungi Rania. Bisa bisa Doni babak belur oleh Rania atau mungkin oleh Ibunya.


" Yok, Rose masih di hotel denganmu, kan ? " Ucap Doni tanpa salam setelah berhasil menghubungi nomor Aryo.


" Kau mengganggu saja, aku baru saja terti...


" Nanti saja mengumpat, Cahaya tidak sadarkan diri. Tolong bawa Rose ke kamar ku jangan lupa bawa peralatan medisnya. " Potong Doni yang bicara cepat tapi dimengerti oleh Aryo.


" Kau...


Sembari menunggu Doni kembali ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Cahaya dan meraup tubuh lemah itu ke dalam pelukannya. Berharap bisa sedikit menghangat tubuh perempuan lemah itu.


" Maaf... maaf Jingga. Maaf.... ! " Ucap Doni lirih. Sebuah kecupan mendarat di kening dingin Cahaya. Bibir yang tadi malam terlihat ranum menggoda kini membiru kaku. Doni meraup bibir yang tebal sempurna itu. Terasa dingin dan beku. Doni mengulumnya tak henti menyalurkan rasa hangat lewat bibirnya meski tak berbalas sedikitpun.


" Bangunlah... aku mohon, bangun Jingga...! " Bisikan Doni pun sia sia. Cahaya tetap bergeming dalam tidurnya. Rasa Khawatir Doni sesaat teralihkan oleh ketukan pintu.


Dengan sigap Doni bangkit dan melangkah lebar ke arah pintu. Dan sesuai harapan nya Aryo dan Rose datang dengan rambut yang masih acak acakan khas bangun tidur. Dan tentu saja lengkap dengan pakaian tidur juga.


" Biar Rose yang masuk, kamu tunggu di luar. Istriku tak pakai baju. " Doni menahan Aryo dan membiarkan Rose masuk . Aryo yang sedang menahan rasa kantuk pun menurut dan malas berdebat.


" Apa yang kamu lakukan pada istrimu, Mas. Sampai pingsan begini. " Ucap Rose sambil menatap Doni sengit. Doni hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Setelah sampai di ranjang Rose langsung memeriksa suhu tubuh Cahaya. " Dingin sekali ! Apa kamu merendamnya semalaman di kamar mandi ? " Tanya Rose tegas.

__ADS_1


" Tidak, mana mungkin aku setega itu. Aku meninggalkan nya sendiri. Saat tiba disini setengah jam lalu, aku menemukan Jingga tergeletak tidak sadarkan diri di lantai tanpa... tanpa pakaian. " Jelas Doni sedikit gugup dan rasa bersalah.


" Apa kamu habis menghajarnya semalaman hingga dia kelelahan ? " Rose tidak merasa puas dengan jawaban Doni. Tangan Rose dengan cekatan memeriksa nadi dan tekanan darah Cahaya.


" Aku bahkan belum melakukannya, baru sampai tahap pemanasan . " Jawab Doni blak blak-blakan.


" Terus... ! Hah... sudah lah apa pun itu, istrimu kena hipotermia ringan. Dan tekanan darahnya rendah sekali. " Rose melepaskan sebuah termometer kecil yang dia selipkan di ketiak Cahaya. " Dan aku yakin besok dia akan mengalami demam. " Rose menyiapkan alat suntik dan dua botol kecil berisi cairan bening.


" Bantu aku memiringkan tubuhnya ." Setelah mengisi alat injeksi itu dengan kedua cairan dengan takaran tertentu, Rose langsung menyuntikkannya pada panggul Cahaya .


" Kapan dia siuman ? " Tanya Doni . Wajah yang biasa berwibawa itu terlihat sangat khawatir.


" Tunggu saja, mungkin satu hingga dua jam kemudian. Ini... tebus obat ini dan berikan jika dia sadar. Jangan lupa perhatian asupannya. Tubuhnya sangat kurus untuk ukuran wanita normal dengan tinggi badan sesempurna ini. " Rose berkata sembari mengemas peralatannya.


Sementara Doni hanya menangguk angguk mengiyakan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah pucat istrinya. Dan setelah menyelesaikan tugasnya Rose pun berdiri sembari berkata...


" Tentang belas luka pada tubuhnya jika Mas Doni mau... " Rose menjeda perkataan nya. " Maaf... jika Cahaya bersedia aku punya teman seorang Dokter kulit sekaligus pemilik Clinic Estetik. Dengan bekas luka di tubuhnya pasti Cahaya sangat tertekan dan insecure. " Sungguh Rose merasa ngilu saat secara tak sengaja melihat beberapa bekas luka sobek di punggung Cahaya.


" Thanks Rose, nanti aku akan menghubungi kamu jika aku butuh. Saat ini ada yang lebih penting. Seperti nya Jingga butuh psikiater atau psikolog. Kamu punya kenalan psikiater yang bagus ? " Tanya Doni.


" Nanti aku bantu carikan yang kompeten. Baiklah , Mas aku balik dulu. Jika ada apa apa langsung saja ke rumah sakit. Dan... jangan buat dia tertekan, sepertinya dia hidupnya tidak gampang. Aku tahu alasan Mas Doni menikahinya, aku harap Mas tidak menyakitinya kelak. Aku yakin, jika terawat dengan baik Cahaya jauh lebih cantik dari... maaf. Aku pergi ! " Rose langsung angkat kaki takut Doni bertanya arti ucapan nya yang tak sampai .


Doni mengerti maksud Rose . Sesaat Doni tertegun memandang punggung Rose yang menghilang dari balik pintu. Banyak yang Doni pikirkan di kepalanya saat ini. Apa yang akan dia lakukan ke depannya. Bagaimana cara menghadapi Cahaya setelah ini. Langkah apa yang harus dia tempuh lebih dahulu.


" Ahhh... !" Doni menyugar rambutnya. Kepalanya pusing, kurang tidur dan pegar. Ditambah kondisi Cahaya yang belum juga sadarkan diri. Lama menatap wajah teduh Cahaya membuat Doni diserang rasa kantuk. Akhirnya merebahkan badannya di ranjang dan kembali meraup tubuh Cahaya ke dekapannya mencari kehangatan untuk dirinya sendiri.


...****************...


Happy day Reader's 💕

__ADS_1


__ADS_2