
" Apa alasan wanita itu melakukan semua itu ? " Tanya Doni yang penasaran dengan isi rekaman itu yang menyebut nama Amelia. Tentu saja Doni sangat yakin jika itu Amelia yang sama dengan yang ada dipikirannya. Sebab Amelia sekarang adalah sekretaris Maxim.
" Dia hanya membantu sebagai bentuk permintaan maaf atas kesalahan nya yang lalu. " Ungkap Max.
" Benarkah ? Apa kamu tidak curiga dengan motif nya yang lain ? Siapa tahu dia ingin menarik perhatianmu. " Aryo menyela.
" Aku tidak akan terperangkap karena aku sudah mengetahui masa lalunya. " Ucap Max yakin.
" Setidaknya berhati-hati lah Max. Aku tidak ingin kamu jadi korban berikutnya. Tapi aku berterima kasih padanya. Tanpa inisiatif nya aku yakin akan kesulitan untuk menyelesaikan masalah ini. " Doni membayangkan seandainya itu terjadi bisa dipastikan Cahaya akan semakin jauh darinya.
" Iya, aku juga mengakui itu. Pantas saja kita tidak bisa menemukan bukti. Karena obat bius itu menguap bersama udara,. Walaupun aku yakin hal itu sedari awal, tapi kita tidak punya bukti untuk memastikan nya. " Ucap Aryo.
" Thank you Bro, kalian telah banyak membantu. Aku tidak bisa membayangkan jika menghadapi ini sendiri. " Ucap Doni tulus .
" Itulah gunanya teman ya, nggak !! " Max menepuk lengan Doni dan ketiganya mengangguk membenarkan ucapan Max.
" Max, maaf... lupakan Marinda. Dia tidak layak untuk mu. Apa yang dia lakukan sudah membuktikan jika sedikitpun dia tidak mempertimbangkan perasaannya mu . " Doni mencoba mengingatkan Max.
" Iya, Max. Carilah wanita yang benar benar bisa membahagiakanmu. Sudah waktunya untuk berumah tangga. Dan Marinda tidak layak untuk dipertahankan. " Aryo ikut menimpali.
" Iya, baiklah. Aku akan mencoba untuk melupakan nya. Sepertinya aku butuh menjauh untuk sementara . Dan rencananya aku akan mengurus perusahaan yang di Singapura untuk beberapa waktu sekalian mencari wanita yang layak untuk aku jadikan istri. " Jawab Max.
" Lakukan jika itu bisa membantumu untuk bangkit. Kami mendukungmu. "
*****
Setelah bicara banyak hal, ketiga sahabat itu akhirnya membubarkan diri. Mereka kembali pada aktifitas masing masing. Sedangkan Doni kembali ke kamar tempat Cahaya dirawat.
Ketika masuk ke ruangan itu Doni disambut oleh mata bulat Cahaya yang basah. dengan cepat Doni mendekat takut Cahaya membutuhkan sesuatu.
" Maaf, Sayang. Abang terlalu lama pergi. Apa kamu butuh sesuatu ? Haus...? Lapar...? Atau.....
Cahaya tiba tiba menarik tangan Doni agar mendekat dan memeluknya. Sejak terbangun barusan Cahaya memikirkan apa yang telah dia lakukan pada Doni. Meski berulang kali Doni mengatakan tidak mengkhianati nya, tapi Cahaya sulit menerimanya. Kini Cahaya dirasuki rasa bersalah pada suaminya ini.
__ADS_1
" Maafkan Aya...
" Tidak...! Jangan minta maaf. Kamu tidak bersalah. Semua orang pasti melakukan hal yang sama jika berada di posisi kamu. Abang lah yang patut disalahkan. Jika saja Abang mendengarkan ucapan mu pasti ini tidak akan terjadi. " Ucap Doni sembari memeluk Cahaya dan mengusap punggung rapuh yang kini bergetar karena tangisan.
" Anggap saja ujian dalam pernikahan . " Tiba tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak muda lagi dari arah pintu.
" Ibuk...
Doni dan Cahaya memanggil serentak. Ibu Ratih datang dengan senyuman sebab melihat kedua anak dan menantunya sepertinya sudah berdamai.
" Intinya, rumah tangga itu harus saling jujur dan saling mempercayai. Selain dari pada cinta kepercayaan jauh lebih penting. Jika itu ternoda maka sangat sulit untuk bersama. Maka dari itu untuk kedepannya berhati-hati lah Doni. Jangan mendekati sesuatu yang akan merusak kepercayaan istrimu. " lanjut Ibu Ratih.
" Iya, Buk Doni mengerti.
******
Cahaya telah pulih secara fisik, meski tetap dalam kontrol Dokter Nadya untuk urusan psikis. Benturan demi benturan mental yang Cahaya alami membuatnya gampang goyah. Untuk itu Doni sangat mewanti wanti agar Cahaya tetap konseling meskipun merasa lebih baik.
Hari ini adalah jadwal konseling pertama Cahaya sejak kembali dari rumah sakit. Cahaya sedikit terganggu sejak mendengar rekaman yang Max tunjukkan dua minggu lalu. Entah kenapa Cahaya merasa Doni pun tidak mau membahas masalah itu dengannya.
Hanya saja kini dia berperan sebagai penolongnya bukan yang mengambil keuntungan darinya. Benarkah dia adalah Amelia yang sama. Kenapa kini nama timbul tiba tiba. Apa niat dibalik semua ini ? Dan banyak lagi pertanyaan yang mengambang di benak Cahaya.
Untuk itu Cahaya butuh Dokter Nadya saat ini. Kehadiran nama itu menimbulkan kegelisahan dan ketakutan dalam diri Cahaya. Dan itu sangat berpengaruh pada pemulihan mentalnya saat ini.
" Dia datang dalam hidup ku lagi , Dok. Dan itu sangat mengganggu ku. Apa maksudnya kembali berurusan dengan ku. Aku takut dia datang hanya untuk merampas kebahagiaan yang baru saja aku rasakan. " Cahaya mengeluarkan isi hatinya pada Dokter Nadya.
" Kalau begitu temui dia, tanyakan maksudnya. Dengan begitu kamu tidak khawatir lagi. Setidaknya dengan begitu kamu bisa mengetahui niatnya tujuannya. Jika kamu hanya diam dan memendam kecemasan itu akan memperburuk keadaanmu. Kamu akan mulai overthinking dan mencurigai suami mu. " Saran Dokter Nadya.
" Begitu kah ? Ada ketakutan dalam diriku untuk bertatap muka dengannya , Dok. Rasa tak percaya diri dan merasa buruk jika bertemu dengannya. " Ungkap Cahaya lagi.
" Cahaya... ingat ! Kamu itu istri dari CEO Aksa Group. Dia memilihmu dari sekian banyak wanita di sekitarnya. Berarti kamu punya banyak kelebihan dari wanita wanita itu. Dan Pak Aksa bukanlah Fakhrul yang mudah tergoda hanya karena paha mulus. Jadi tidak perlu insecure bila berhadapan dengan pelakor. Mereka menang hanya karena lelakinya yang lemah, bukan karena diri kita yang kekurangan. " Kata motifasi dari Dokter Nadya sedikit melegakan hati Cahaya.
Dalam hati Cahaya kembali membangun sugesti dalam dirinya, jika Amelia hanya manusia biasa yang banyak kekurangan. Dan dirinya adalah istri seorang CEO apa yang lebih baik dari itu.
__ADS_1
" Baiklah Dokter, sepertinya aku memang harus bertemu dengannya. " Cahaya membangun tekad dalam hatinya untuk menemui Amelia.
Sepulangnya dari klinik Dokter Nadya, Cahaya langsung menuju ke kantor suaminya dengan pribadi sekaligus bodyguard nya. Siapa lagi kalau bukan Kenzo dengan mengendarai mobil mewah hadiah dari Doni. Tanpa mengabari terlebih dahulu .
Setibanya di kantor, Cahaya langsung menuju ruangan Doni di lantai teratas gedung itu. Semua karyawan telah mengenal Cahaya jadi tidak ada yang menghalangi langkahnya. Ketika pintu lift terbuka tepat di depan ruangan CEO mata Cahaya langsung bertemu dengan Doni yang baru saja hendak keluar dari ruangannya.
Menyadari kesalahannya Cahaya Doni langsung mendekati Cahaya dengan langkah besarnya.
" Sayang, kenapa kamu kesini. Kan baru pulih, kenapa tidak beristirahat di rumah saja. " Cerca Doni yang langsung memberikan tangannya di pinggang Cahaya.
" Barusan dari Dokter Nadya, Bang. lansung kesini. Kangen sama kamar pribadi kamu yang di kantor. " Jawab Cahaya asal.
" Kangen kamarnya atau kegiatannya ? " Pertanyaan Doni menimbulkan semburat merah jambu di pipi Cahaya.
" Tahu aja Abang kalau urusan itu, " Cahaya tidak mengelak karena percuma menurutnya, toh memang kamar itu punya rasa spesial bagi Cahaya. Mungkin karena di tempat itulah Cahaya pertama kali menyerahkan diri pada Doni.
Keduanya masuk ke ruangan Doni dan langsung menuju ruangan yang Cahaya maksudkan. Doni mengiring Cahaya untuk duduk di ranjang dan kemudian duduk berlutut di depan Cahaya.
" Kenapa nggak bilang mau kesini, Abang ada meeting dengan beberapa teman di restoran hotel Starlight. Apa kamu mau ikut ? " Tanya Doni dengan lembut.
" Aya tunggu di sini saja, boleh. Sekalian tidur siang. Tapi pesan kan makanan Aya lapar. " Cahaya mengelus wajah Doni dari rambut sampai ke rahang.
" Jangan mancing Abang, nanti Abang khilaf." Ujar Doni yang tidak tahan dengan tatapan Cahaya yang menurutnya menggoda.
" Mana ada menggoda, Aya biasa aja. " Bantah Cahaya tak terima tuduhan Doni.
" Tapi melihat kamu saja Abang sudah tergoda , Sayang . Satu putaran dulu , ya. Sambil menunggu pesanan makan siang kamu. " Tanpa bicara Doni langsung membuka hijab Cahaya dengan lembut. Dan Kemudian Doni menelpon Winda untuk minta dipesankan makanan sehat untuk Cahaya dan mengundur pertemuan dengan temannya satu jam ke depan.
" Bang... nanti meeting telat. Nanti saja ya, kembali dari meeting. " Rengek Cahaya yang masih merasa capek. Tapi Doni tidak mengindahkan permintaan Cahaya malah semakin membuat Cahaya tak bisa berkata kata lagi selain hanya pekikan kecil diiringi oleh lenguhan yang bisa Cahaya keluarkan dari bibir seksinya.
" Abanghh.....!?!?!?
...****************...
__ADS_1
Happy Reading 💕