Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Para kutu bermunculan


__ADS_3

Tubuh Cahaya tiba tiba melemah dan nyaris ambruk. Beruntung Cahaya masih dalam dekapan Doni. Dengan sigap Doni menahan tubuh Cahaya saat merasakan Cahaya merosot. Doni mengangkat tubuh Cahaya yang lemas ke ranjang dan membaringkan dengan lembut.


" Abang... " Saat Doni hendak menelpon Dokter tiba-tiba Cahaya bersuara.


" Jingga... kamu sudah sadar? " Doni mendekati Cahaya. " Apa yang sakit, tunggu sebentar Abang telpon Dokter. " Saat Doni hendak beranjak Cahaya menahan tangan Doni.


" Tidak usah, Aya hanya sedikit pusing. Sebentar juga baik lagi. " Cahaya memijit kepalanya.


" Kamu kelelahan mengurus segalanya sendiri. Di rumah banyak orang, jangan handle sendiri. Cukup urusi Abang dan anak-anak. Yang lain biar pembantu yang lakukan. " Doni menggenggam jemari lentik Cahaya.


" Tidak, bukan lelah. Mungkin karena emosi berlebihan membuat Aya lemas jika tekanan darah Aya rendah. Ini biasa terjadi. "


" Abang bantu pasangkan baju, ya ? " Doni melepaskan handuk di kepala Cahaya yang sudah berantakan.


" Aya aja, Bang. "


" Masih malu sama Abang ? " Doni tidak mengindahkan ucapan Cahaya. Dengan sigap Doni memungut kembali pakaian Cahaya yang berceceran saat Cahaya lemas tadi.


Cahaya hanya pasrah menerima semua yang Doni lakukan. Membuka kimono dan memakaikan setiap tahap demi tahap pakaian Cahaya. Hingga bagian yang paling pribadi. Cahaya hanya bisa menahan malu tapi tidak berdaya untuk membantah.


Dengan telaten Doni menyelesaikan misinya. Walau berusaha keras menahan dirinya untuk tidak menerkam Cahaya saat ini juga. Setelah selesai membantu Cahaya, Doni memeluk Cahaya kembali tiba-tiba. Sekedar menenangkan dirinya sendiri yang tengah dilanda resah.


" Abang, kenapa ? Tanya Cahaya bingung.


" Sebentar, Jingga. Abang sedang menahan sesuatu, jangan bergerak. " Suara Doni lirih.


Cahaya paham yang Doni maksud. Suaminya sedang menahan diri. Cahaya merasa bersalah karenanya, tapi belum siap untuk menyerahkan diri. Akhirnya Cahaya membalas pelukan Doni dan merasakan perasaan aman dan nyaman.


Disaat kedua suami istri itu sedang berbagi kenyamanan di belahan dunia yang lain Fakhrul sedang meratapi nasibnya. Kehilangan Cahaya membuatnya tak lagi fokus untuk bekerja padahal restoran nya dalam masalah saat ini.


Setelah di usir dari hotel tempat resepsi pernikahan Cahaya kala itu Fakhrul mendapatkan panggilan kalau salah satu restorannya mengalami musibah kebakaran yang menewaskan tiga karyawan nya.


Di Australia proses hukum sangat ketat. Oleh sebab itu Fakhrul harus jadi tahanan kota selama pemeriksaan berlangsung. Setiap tahap pemeriksaan dilakukan untuk menyelidiki apakah ada faktor kesengajaan atau faktor kelalaian yang menyebabkan orang lain kehilangan nyawa.


Untuk itu sebagai penanggung jawab restoran Fakhrul harus taat hukum. Dan selama itu pula Fakhrul tak lagi fokus mengurus usaha nya. Bukan karena masalah kebakaran itu melainkan ketidak berdayaan nya untuk menggapai Cahaya saat ini.

__ADS_1


Jangankan untuk mendekati, bahkan untuk keluar dari negara Australia saja Fakhrul tidak bisa. Apalagi kabar terakhir yang dia dapatkan jika Cahaya dan anak anaknya tidak bisa dilacak keberadaan nya. Seperti ada tangan tak kasat mata yang melindungi keberadaan mereka.


Fakhrul yakin suami Cahaya bukanlah orang yang bisa dia remehkan. Tapi Fakhrul masih bertekad untuk meraih Cahaya kembali. Dia tidak yakin Cahaya bisa melupakan nya. Fakhrul masih sangat yakin Cahaya mencintainya. Karena dengan pengkhianatan yang dilakukan nya saja Cahaya masih bisa bertahan. Fakhrul hanya perlu mendapatkan maaf atas kekerasan yang Cahaya alami. Dengan begitu Cahaya pasti akan kembali padanya.


" Tunggu saatnya aku datang, Aya. Aku akan mendapatkan mu bagaimana pun caranya. Jika perlu aku akan bersujud bahkan mencium kakimu. Aku sudah sehat dan tidak akan pernah menyakitimu lagi. "


Fakhrul bergumam sendiri sambil menatap foto Cahaya di ponselnya. Foto masa lalu yang selalu dia simpan.


*****


Siang ini Cahaya berniat mengantarkan makan siang untuk Doni atas permintaan suaminya itu. Kemaren Doni menemani Cahaya belanja dan mereka membeli banyak udang Galah. Doni pecinta makanan laut meminta Cahaya membuat Udang Saos Padang .


Tak sengaja Cahaya melihat seorang pembantu membawa keranjang pakaian kotor dari kamar tamu. Karena merasa heran Cahaya pun mencegat pekerja wanita yang lebih muda darinya itu.


" Min, itu pakaian siapa. Kok ambilnya di kamar tamu. Memangnya ada tamu yang nginap di sana ? " Tanya Cahaya heran.


" Maaf, Nyonya ini milik Bapak. " Jawab Mina.


Cahaya termangu mendengar jawaban Mina. " Emang Bapak tidur di sana, bukanya di atas? " Cahaya bertanya kembali untuk memastikan.


" Bapak tidur di kamar tamu sudah sebulan ini, Nyonya. " Entah apa yang dipikirkan oleh pembantu itu Cahaya tidak lagi peduli. Pikiran Cahaya buntu mengingat selama ini dia menyangka Doni tidur di kamar Tiara. Tapi kenyataan nya Doni di kamar tamu.


Anggaplah Cahaya mulai serakah . Berkat support dari Dokter Nadya dan Rania Cahaya kembali memiliki semangat untuk menggapai kebahagiaan nya. Karena bahagia adalah obat untuk orang orang yang terluka jiwanya.


Dengan penuh semangat Cahaya menyiapkan makanan pesanan suaminya. Cahaya tak sabar untuk bertemu Doni. Menikmati makan berdua di gedung tertinggi Aksa Group.


Dengan diantar oleh supir Cahaya sampai di lobi perusahaan. Cahaya melangkah pasti menuju lift. Tidak ada yang menghalangi karena Cahaya memiliki kartu akses lift khusus CEO. Dan mereka tahu Cahaya adalah istri bos mereka.


Tepat di lantai terakhir paling atas Cahaya keluar dari lift dan langsung di sambut oleh meja sekretaris Doni. Cahaya tersenyum ramah mendapati seorang wanita muda yang duduk di sana. Dan sekretaris itupun langsung berdiri menyambut kedatangan Cahaya.


" Selamat siang, Bu. Langsung masuk saja, Bapak sudah menunggu. " Sapa sang sekretaris pada Cahaya.


" Siang, terima kasih.. " Balas Cahaya sambil melangkah ke pintu. Kemudian membuka tanpa mengetuk terlebih dahulu.


" Assalamu'alaikum, Bang... " Ucapan Cahaya terhenti ketika mendapati wanita yang dia kenal duduk dengan santai di sofa.

__ADS_1


Marinda duduk dengan kaki bersilang anggun dan memamerkan paha mulusnya. Dengan Mini dress tanpa lengan dengan krah kemeja berwarna hitam dan bagian bawah yang mengembang sepaha . Sangat kontras dengan kulit putih mulusnya. Kancing yang sengaja terbuka menampakkan belahan dadanya. Dan pinggang ramping itu diperindah dengan ikat pinggang kecil berwarna Gold serasi dengan tas dan high heels nya. Jangan lupakan anting panjang yang dia kenakan juga berwarna senada. Perfect woman !!


Kedua wanita itu sama sama terkejut, tapi dengan reaksi akhir yang berbeda. Cahaya yang menyapa ramah sedangkan Marinda dengan tatapan sinis.


" Eh ada tamu juga kiranya. Selamat siang Mbak Marinda. " Sapa Cahaya ramah. Matanya mengelilingi seluruh ruangan mencari keberadaan Doni tapi tidak dia temukan.


" Kamu ngapain ke sini. Aku mau makan siang dengan Doni , ganggu aja. " Gerutu Marinda tidak tahu diri.


" Maaf jika terganggu, Mbak. Tapi saya mengantarkan makan siang untuk Abang. " Jawab Cahaya yang melangkah menuju kursi kebesaran Doni sambil melepaskan cadar nya . Tanpa segan Cahaya duduk di sana seakan mengatakan akulah pemiliknya.


" Tidak sopan. " Ucap Marinda lirih tapi terdengar jelas. Cahaya hanya tersenyum manis tanpa merasa tersinggung. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi. Doni keluar dengan wajah yang basah seperti habis cuci muka.


" Kamu sudah datang, Sayang. " Ucap Doni saat mendapati Cahaya di kursinya. Dengan langkah tegap Doni menghampiri dan mengecup kening Cahaya tanpa malu.


" Abang habis ngapain kok cuci muka. " Tatapan Cahaya penuh curiga. Membuat Doni menciut, apalagi keberadaan Marinka di ruangannya.


" Ish... Abang habis whudu' yaa. Curiga aja. " Jawab Doni menyadari arah pandang Cahaya.


" Siapa yang curiga, kan cuma bertanya. " Sanggah Cahaya. " Ya udah sholat sana. "


" Nggak jadi deh, whudu' nya batal habis cium kamu. Nanti saja bareng ya ? " Doni berkata sambil tersenyum cengengesan.


" Alasan ....


Marinda benar-benar meradang melihat interaksi kedua pasangan suami istri itu. Niatnya dijamin gagal untuk makan siang berdua dengan Doni. Baru saja Marinda pulang dari Paris dan langsung ke kantor Doni untuk melepas rindu. Tapi sejak tadi Doni terlihat tidak nyaman dengan kedatangan nya. Sekarang Marinda tahu alasannya.


" Ayo makan dulu, Bang. Selagi masih hangat." Ajak Cahaya.


" Don... aku kesini mau ngajak makan siang, tapi sepertinya kamu nggak bisa. Kalau gitu aku pamit dulu aja. " Marinda lebih baik pergi dari pada jadi obat nyamuk. Lebih baik menyelamatkan harga diri dari pada terlihat tak berharga mengharap perhatian. Ini bukan saatnya. Marinda menatap tajam pada Cahaya.


" Ok... maaf ya tidak bisa menemani kamu, habis aku sudah janji sama Jingga. " Jawab Doni santai tanpa rasa bersalah.


" Its ok... " Marinda melangkah mendekati Doni dan meninggalkan kecupan di pipinya. Semua terjadi begitu saja dalam waktu yang cepat. Doni tak sempat menghindar. " See you next time... " Marinda melangkah dengan senyuman penuh kemenangan.


" Aku tidak akan merengek mendapatkan cintaku kembali . Tapi aku akan membuat kamu datang sendiri ke pelukanku. Tunggu saja....

__ADS_1


...****************...


Happy Reading 💗


__ADS_2