Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Luka Cahaya


__ADS_3

Cahaya tak juga membaik, tidak ada makanan yang bisa masuk ke perutnya. Rania cemas memikirkan tubuh Cahaya yang semakin lemah. Seperti sedang mengalami morning sickness setiap apapun yang melewati kerongkongan nya maka dalam hitungan detik langsung keluar.


" Mas, Kak Doni kemana. Ini tidak bisa dibiarkan. Aya nggak bisa makan sama sekali. Bahkan tidak sebutir nasi pun . Kita harus membawanya ke rumah sakit. " Ujar Rania ketika keluar dari kamar Cahaya.


" Tunggu disini, jaga Cahaya. Mas cari Kak Doni. " Tanpa menunggu Adnan langsung bergerak cepat. Dia tahu Doni dan Aryo ada di villa Max. Dengan langkah besar Adnan menuju ke sana.


Sementara di villa Max ketiga sahabat itu hanya bisa terdiam memikirkan langkah selanjutnya.


" Aku yakin Marinda memakai obat bius lewat penciuman yang marak sekarang ini. Sejenis sprey yang disemprotkan . Masalahnya kita akan kesulitan menemukan buktinya karena dia terbang terbawa udara. Kita hanya bisa menunggu hasil labor. Itupun kita hanya bisa berharap bisa terdeteksi. " Ucap Aryo memecah kebisuan.


" Bagaimana aku menyakinkan istriku, jika aku tidak melakukan semua yang dia pikiran. Aku yakin tidak melakukan itu. " Doni memijit kepalanya yang terasa berat.


" Bagaimana kamu bisa seyakin itu ? " Max terdengar sarkas karena masih merasa terkhianati oleh Doni.


" Aku bukan anak remaja yang baru saja mengenal s*x. Aku rasa kamu bisa merasakan bagaimana rasanya kita habis bercinta. Ada rasa lega dan ringan dalam diri kita jika cairan itu keluar bukan. Kalian pasti bisa merasakannya tanpa aku jelaskan. " Doni sedikit kesal pada Max yang selalu memojokkan nya.


Ketiganya kembali terdiam, baik Max maupun Aryo paham maksud ucapan Doni. Tapi semua itu hanya bisa dirasakan namun tidak membuktikan apa apa.


" Hanya satu cara yang bisa kita lakukan. Membuat Marinda mengakuinya sendiri. " Ucapan Aryo menarik ekstensi kedua temannya itu.


" Caranya ! " Max mengkerut kan keningnya.


" Kamu kan sangat dekat dengannya, coba kamu tanya baik baik siapa tahu dia mau terbuka dengan mu. " Ucap Aryo lagi memberi solusi.


" Aku tidak yakin. " Sahut Doni.


" Tidak ada salahnya mencoba. " Jawab Aryo. Sedangkan Max hanya diam memikirkan.

__ADS_1


Ketiganya kembali terdiam. Namun langkah kaki yang mendekat membuat mereka serentak menoleh ke arah suara. Adnan muncul dengan wajah tegang.


" Kak, kita harus bawa Cahaya ke kota . Kondisi nya memburuk. Dia semakin lemah dan tidak bisa makan....


Ucapan Adnan terhenti karena Doni telah berlari keluar diikuti oleh Max dan Aryo. Akhirnya Adnan pun ikut beranjak tanpa perlu meneruskan ucapannya.


" Max, tolong urus Helikopter untuk ku. " Pinta Doni sambil berlalu.


Tanpa bantahan Max menelpon pilotnya untuk standby di Halipad . Aryo dan Adnan segera mengikuti Doni ke villa tempat Cahaya berada. Tepat di depan villa Marinda menatap keempat pria itu berlarian. Tatapannya bertemu dengan Maxim sesaat namun dengan cepat Max memutuskan dan berlalu mengikuti ketiga temannya.


Sementara di depan kamar Cahaya Rania berjalan mondar mandir karena gelisah. Cahaya melemah dan tak mau bicara sepatah katapun. Hanya menutup mata tapi tidak tidur. Terlihat rembesan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Jangan tanya bagaimana mata Cahaya, super bengkak dan merah.


Baru saja Rania, berhasil memberi minum air putih itupun hanya dua tegukan. Jika berlebihan maka Cahaya akan muntah kembali. Mendengar derap langkah mendekat Rania sedikit lega. Dan segera menyusul ke depan.


" Kak, Cahaya...


Sama halnya dengan Adnan tadi, Rania pun terpaksa berhenti bicara karena Doni langsung menerobos masuk ke kamar. Tatapan Doni tertuju pada seonggok tubuh lemah yang terbaring menatap nanar ke arah jendela.


Doni mendekat dan duduk di samping Cahaya di pinggir ranjang. Cahaya tetap tak bergeming. Dengan perlahan Doni menyentuh tangan Cahaya yang terkulai lemah di sisi tubuhnya. Dengan lembut Doni meremas dan mencium tangan dingin itu berkali kali. Tanpa sadar Doni menitikkan air mata melihat kondisi Cahaya yang tidak merespon nya.


" Sejak kapan dia begini ? " Tanya Doni pada Rania yang berada di sisi lain ranjang.


" Sejak bangun tadi pagi. " Jawab Rania.


" Maaf Sayang, maafkan Abang menyakiti mu tanpa sengaja. Tapi Abang tidak melakukan. Percayalah, itu jebakan. Abang mencintaimu... sangat. " Doni terisak melihat betapa terpuruk nya Cahaya karena keteledoran nya. Dan Doni tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada Jingganya.


Tiba tiba ponsel Max berbunyi. Setelah bicara sebentar Max pun menutup panggilan itu.

__ADS_1


" Helikopter sudah siap, Cahaya bisa dibawa sekarang. " Max memberi kabar pada semua orang.


" Nia dan Adnan, disini saja dulu. Jaga anak anak dan Ibuk. Biar aku dan Aryo yang pergi. " Titah Doni pada kedua adik dan iparnya. Tanpa membantah keduanya mengangguk.


Doni membopong Cahaya menuju pintu keluar diikuti semua orang. Buggy Car telah menunggu mereka di luar. Dengan tetap mengendong Cahaya Doni duduk di bagian belakang Buggy Car dan Aryo di sisi pengemudi. Dengan perlahan Buggy Car itu berjalan menuju Halypad.


Semua mata menatap kepergian suami istri itu dengan tatapan kasihan. Mereka harus melalui ujian rumah tangga di tengah kebahagiaan baru saja mereka rasakan. Bahkan Rania tersedu di dalam pelukan Adnan karena tak sanggup menahan sesak melihat kondisi sahabat nya.


Adnan memapah Rania kembali ke villa untuk menenangkan diri sejenak sebelum menemui anak anak. Sedangkan Max berjalan lesu menuju villa pribadinya. Di tengah perjalanan Marinda mencegatnya. Ternyata Marinda masih penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi sebelum Marinda membuka mulut Max terlebih dahulu bersuara .


" Kamu puas sekarang ? Wanita hamil itu sedang terguncang jiwanya. Apa kamu menikmati kemenanganmu, Marinda. Dimana nurani mu. Bukankah kamu juga wanita ? " Suara Max tidaklah keras tapi dari tekanan suara itu Marinda tahu Max menahan amarahnya.


" Kenapa aku yang disalahkan. Doni yang menginginkan ku, aku harus apa. Menolaknya ? Tentu tidak mungkin. Kamu tahu betul berapa lama aku menunggunya bahkan sebelum dia menikahi Tiara . Dan sekarang aku hanya ingin memiliki apa yang seharusnya jadi milikku. " Balas Marinda tanpa dosa dan tidak mau terintimidasi oleh Max.


" Sejak kapan Doni itu milikmu. Jika dia memang menginginkan mu pasti dia telah menikahi kamu setelah Tiara tiada. Tapi apa...? Menyentuhmu pun Doni tidak sudi. Jadi apa menurut kamu setelah dia jatuh cinta pada istrinya barulah dia menginginkan mu, begitu ? Aku tidak senaif itu Marinda. Siapa yang ingin kau bodohi. " Max terkekeh mengejek Marinda.


" Terserah apa yang kamu pikirkan, Max . Tapi kenyataan nya Doni telah meniduri ku. Tunggu saja waktunya tiba, jika bulan depan aku hamil mau tidak mau, suka tidak suka Doni mesti menikahi aku. " Marinda berbalik meninggalkan Max dengan wajah yang kecewa.


Sama halnya dengan Marinda Max juga cinta sendirian. Dia bertahan menunggu Marinda membuka hati hingga kini umur mereka telah kepala empat. Menyimpan cinta sejak masa kuliah pada gadis idola kampus yang menarik perhatian nya. Tapi pada akhirnya Maxim hanya bisa menelan kekecewaan.


Sebenarnya Maxim yakin Doni tidak akan terbujuk rayunya Marinda. Max yakin Marinda yang menciptakan kondisi ini. Tapi yang Max sesalkan adalah Marinda melakukan sejauh ini hanya demi merebut suami orang lain. Rasa kesalnya dia lampiaskan pada Doni dengan bersikap dingin sejak dia menemukan Doni tanpa sehelai benang dengan Marinda di bawah selimut.


Kini Max harus belajar melepaskan. Marinda bukanlah seseorang yang layak buat diperjuangkan. Wanita itu sulit untuk ditaklukkan dan terobsesi pada pria lain. Menunggu atau berjuang sama sama menemukan rasa sakit. Max memilih untuk menyerah.


Max membuka ponselnya yang bergetar. Ada pesan suara dari Doni . Dengan segera Max buka takut ada yang urgent.


" Max... aku tahu kamu kecewa pada ku, tapi percayalah Max... aku tidak mungkin melakukan semua itu dengan Marinda. Kamu pasti tahu, aku sedikitpun tidak tertarik padanya. Aku mencintai istri ku. Sumpah demi bayi yang ada di perut istri ku. Aku yakin tidak ada yang terjadi malam itu. Please... Max bantu aku mengungkapkan semua ini. Aku yakin dia tak sendiri. Pasti ada yang membantunya . Aku mengandalkan mu, Bro... please help me... "

__ADS_1


...****************...


Hai Readers jangan lupa like and ⭐5 🙏🥰


__ADS_2