
Tidak ada kejelasan tentang nasib Amelia. Restoran nya yang dibangunnya dengan susah payah telah diambil Fakhrul secara paksa. Amelia tidak menampik jika semua dia bangun dari uang Fakhrul. Tapi tetap saja Amelia merasa kesal karena Fakhrul tidak menyisakan sedikitpun uang di rekening nya.
Malam ini Amelia duduk termenung disisi ranjang. Menatap wajah polos Farel yang terlelap sejak selesai makan malam tadi. Wajah pucat anak kesayangannya telah terlihat sejak seminggu ini. Amelia pernah berpikir untuk membawanya ke Singapura untuk berobat. Tapi rasa takut yang menghantui nya membuatnya mengurungkan niatnya.
Kini Fakhrul terlanjur menemukannya, dan Amelia memilih untuk menuruti saja semua demi Farel. Amelia yakin Fakhrul tidak akan menyakiti anaknya sendiri. Tapi Amelia khawatir tentang dirinya. Apa yang akan Fakhrul lakukan padanya.
" Tok... tok... tok... "
Ketukan pintu mengejutkan Amelia. Ternyata Fakhrul yang berdiri di depan pintu. Masih dengan tatapan penuh kebencian. Amelia sangat sadar jika Fakhrul tidak pernah memberikan tatapan penuh cinta padanya. Hanya napsu yang minta dipuaskan saja yang Fakhrul punya untuknya.
" Dia sudah tidur ? Keluarlah aku ingin bicara." Setelah mengatakan maksudnya Fakhrul langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Amelia.
Amelia menutup pintu kamar setelah dia keluar dari sana. Kemudian Amelia menuju ruang tengah yang langsung berbatasan dengan ruang makan. Keadaan rumah sangat sepi karena mereka cuma bertiga. Pembantu Amelia telah dipecat oleh Fakhrul tadi siang dengan alasan Amelia akan meninggalkan kota ini.
Fakhrul telah menunggu dengan beberapa berkas di atas meja. Dengan duduk bersandar dan menumpuk kakinya satu sama lain. Jangan lupakan tatapan tajam yang menusuk. Sungguh Amelia cukup terintimidasi dengan situasi ini. Wajah yang selalu ramah padanya dulu, kini jangankan tersenyum menatap biasa saja tidak lagi Amelia dapatkan.
" Duduklah cepat, aku tidak punya waktu. " Bentak Fakhrul tidak sabar melihat Amelia terpaku menatapnya.
" Restoran telah aku alihkan pada Haris. Kamu ingat Haris, kan. " Ucap Fakhrul setelah Amelia duduk di seberang nya.
Tentu Amelia ingat, Haris adalah bawahan Fakhrul dulu di perusahaan dan hanya Haris yang tahu hubungan Fakhrul dan Amelia. Karena mereka memiliki ruangan yang berada di satu lantai. Meski sedikit terkejut Amelia berusaha menyembunyikan keterkejutan nya.
" Dan ini... tanda tangani surat ini. " Fakhrul menghempaskan satu map coklat di hadapan Amelia. " Itu pemindahan hak asuh Farel. " Lanjut Fakhrul tegas.
__ADS_1
Amelia yang telah meraih map itu kembali menghempaskan tak kalah kerasnya. " Apa maksudmu ! " Ucap Amelia setengah teriak.
" Kamu tidak mengerti maksudku ? Ok, aku jelaskan... tanda tangani itu atau Farel akan berakhir tanpa pengobatan. " Ucap Fakhrul dingin dan penuh penekanan.
" Apa kamu sejahat itu, Mas. " Isak Amelia.
" Aku pernah lebih kejam dari ini, Amel. Dan kamu tidak akan pernah menyangka itu. Kamu mau tahu...? Sebentar... " Fakhrul terlihat memerah. Dengan sigap Fakhrul meraih sebuah map yang lain dan membuka isinya dan menebarkan di depan Amelia.
Amelia ternganga sambil menutup mulutnya. Foto foto yang mengerikan terpampang di hadapan nya. Amelia sangat mengenal siapa yang ada di foto tersebut. Belum selesai dengan keterkejutan nya Fakhrul kembali melemparkan lembaran lembaran rekam medis milik Binar dan Amelia.
" Kamu lihat... ini semua hasil karya ku. Bahkan Binar sampai saat ini tidak bisa melihat diriku. Dia akan histeris menggigil dan kemudian pingsan. Dan semua itu kamulah penyebabnya. Dasar penghancur...!!! " Fakhrul bicara dengan mata memerah dan gemetar menahan diri agar tidak mencekik Amelia saat ini. Masih ada urusan yang perlu dia selesaikan terlebih dahulu.
Amelia merasa tubuhnya telah basah karena keringat. Wajah Fakhrul begitu menakutkan membuat nyalinya menciut apalagi melihat foto foto tragis milik Cahaya dengan banyak robekan di tubuhnya .
" Tanda tangani, sebelum aku habis kesabaran. " Dinginnya suara Fakhrul membuat Amelia menggigil ketakutan. Tanpa bicara dan tangan yang gemetar Amelia meraih map dan menandatangani berkas yang ada di dalamnya tanpa membacanya.
" Tidak perlu, aku juga tidak bisa menolak bukan. " Jawab Amelia yang terlihat pasrah.
" Baiklah, biar aku bacakan ! Ini surat pengalihan hak asuh Farel tak perlu ku baca, kamu pasti tahu isinya. Dan ini surat perjanjian isinya, kamu dilarang menemui Farel mulai besok. Karena Farel sudah sah anakku sendiri. " Ucap Fakhrul sambil tersenyum miring menatap Amelia yang terbelalak tak percaya.
" Mas, jangan keterlaluan. Farel butuh aku, dia tidak pernah jauh dariku. " Amelia terlihat kembali berkaca kaca.
" Ada penawaran menarik untuk mu, aku yakin kamu pasti setuju. " Fakhrul diam sambil menikmati kepedihan di mata Amelia.
__ADS_1
" Jadilah pemuasku seperti biasa sampai aku bosan. Tapi tentu saja aku tidak akan memperlakukan mu dengan spesial lagi. Aku akan membuatmu merasakan apa yang Cahaya rasakan selama menjadi objek fantasi ku. Kamu tahu, selama dua tahun aku melampiaskan kebencianku terhadap mu pada Cahaya. " Fakhrul kembali pada mood yang menakutkan.
" Hampir setiap malam aku mengkonsumsi racun yang membuatku menjadi binatang. Dan aku akan berfantasi jika Cahaya adalah dirimu. Setelahnya yang terdengar hanyalah teriakan Cahaya. Besok paginya aku akan terbangun dan melihat tubuh Cahaya yang penuh luka dan lebam. Punggungnya bahkan tidak muat lagi untuk bekas luka yang baru. Aku juga menyulut rokok di sana . Bekas gigitan yang robek. Dan goresan goresan silet. " Fakhrul menggeram dengan air mata yang keluar dari mata merahnya.
Hati Fakhrul terasa terkoyak koyak setiap menyebutkan setiap detail kekejamannya. Tidak pernah dia selemah ini dalam hidupnya. Mengingat wanita tercintanya menderita begitu dalam karena kebodohannya dan tangan kotornya. Fakhrul menatap kedua telapak tangannya dengan air mata yang masih berjatuhan.
" Dengan tangan ini Amel... aku mengoyak tubuh cantiknya. Aku merasa mengoyak mu, tapi pada kenyataannya Cahaya yang terluka. Apa menurutmu aku akan melepaskan mu, Amel. Setelah susah payah aku mendapatkan mu. " Mata yang tadi sendu kini menajam kembali ke arah Amelia yang semakin gemetar.
" Jangan lakukan, Mas... aku mohon. Jangan lakukan. Aku mencintaimu, hingga kini cinta itu masih utuh di sini. " Amelia menangis dan memohon . Dia berusaha untuk merayu Fakhrul kembali.
" Aku tidak butuh cintamu, ******. Aku hanya butuh tubuh itu. Karena tubuh itu aku menyakiti hati istriku. Karena tubuh itu pula aku menyakiti tubuhnya. Bahkan mentalnya juga mental Binar. Sekarang kamu tidak punya pilihan, lari lah sejauh mungkin dari ku dan Farel . Atau menjadi samsak hidupku, seumur hidupmu. Pilihlah... "
Amelia semakin bergetar dengan air mata yang bersimbah basah di pipinya. " Mas, jangan jauhkan aku dari Farel. Hanya dia yang aku punya, Mas. Setidaknya izinkan aku menemuinya sesekali. " Pinta Amelia diantara isakan yang memilukan.
" Saat kamu mengambil semua hartaku tanpa menyisakan sedikitpun untuk keluargaku, apa yang kamu pikirkan ? Adakah sedikit saja rasa kasihan untukku. Dan kini aku juga kehilangan istriku, Amel. Bahkan dia tidak sudi lagi menatapku. Dulu tatapan penuh cinta selalu aku terima saat pulang habis menikmati tubuhmu. Sekarang aku bersedia memberikan seluruh hidupku tapi dia tidak mau lagi . Kau tahu Amel... dia bahkan ketakutan melihat iblis seperti ku. " Fakhrul tanpa sadar berteriak di kalimat terakhir nya.
Fakhrul memukul mukul sofa di sisi tubuhnya hingga lelah. Sebagai pelampiasan rasa sesak yang menggerogoti nya. Rasa sakit menghantam nya mengingat saat Cahaya menatap Doni dengan tatapan yang dahulu Cahaya berikan hanya untuknya. Fakhrul melemah dan tersandar sambil memejamkan matanya yang masih basah.
Amelia bisa melihat kehancuran Fakhrul. Rasa kecewanya terhadap Fakhrul dulu membuatnya buta. Rasa sakit itulah yang mendorongnya untuk menghukum Fakhrul. Tapi sekarang, melihat Fakhrul melakukan kesalahan besar di masa lalu yang rumit membuat Amelia menyesali perbuatannya.
" Binar dan Biru saja tidak bisa aku temui. Kamu tahu rasanya, Amel. Aku merindukan mereka. Aku ingin Cahaya ku kembali. Tapi sekarang mustahil aku lakukan, karena Cahaya telah menjadi milik orang lain. Dan sebagai gantinya aku akan merawat Farel dengan tanganku sendiri. Pergilah Amelia... pergilah sejauh mungkin. Aku tidak ingin menjadi monster lagi. Aku tidak mau menyakiti kamu meskipun aku sangat ingin. Anggaplah ini hukuman buat kita. Aku dengan hukuman Cahaya dan kamu dengan hukuman ku. Inilah keadilannya. "
Fakhrul bicara tanpa membuka matanya. Masih dengan posisinya semula hanya nada bicaranya yang telah berubah menjadi lebih tenang. Tanpa amarah yang menggebu lagi. Bahkan suaranya seperti ******* lelah. Ya... Fakhrul lelah...
__ADS_1
...****************...
Happy day Readers 💕