
Terik matahari telah menghangat menerobos kaca jendela kamar yang berada di lantai lima belas itu. Kelopak mata bermanik coklat itu terlihat bergerak dan sesaat kemudian mulai terbuka berlahan . Beberapa kali bola mata itu mengedip untuk bisa menyesuaikan penglihatannya dengan terangnya ruangan .
" Hai... kamu sudah bangun ? " Suara bariton dari sampingnya mengejutkannya.
Cahaya mengangguk kepala sekedar mengiyakan. Cahaya merasakan pusing yang luar biasa . Namun dia tetap memaksa untuk mengingat apa yang terjadi. Dan sesaat kemudian mata besarnya kembali menatap ke arah Doni yang ternyata telah terlihat segar habis mandi. Cahaya masih bingung dengan yang terjadi hingga suara Doni kembali terdengar.
" Kamu pingsan dini hari tadi . Kata Dokter kamu hipotermia ringan dan sekarang kamu demam. " Doni duduk disamping Cahaya yang masih berbaring karena pusing. Tangan kekar dan hangat Doni menempel pada dahi Cahaya. Membuat Cahaya salah tingkah.
" kamu bisa duduk ? Sarapan dulu biar bisa makan obat. " Cahaya belum juga membuka suara hanya menjawab dengan gerakan tubuhnya saja. Meski pusing Cahaya berusaha untuk duduk , dan akhirnya dia meringis memegang kepalanya menahan sakit.
" Biar aku bantu, sini ! " Doni menarik tubuh Cahaya ke dekapan nya dan menyandarkan kepala Cahaya pada pundaknya. satu tangan Doni menahan tubuh Cahaya dengan satu tangan lagi menumpuk beberapa bantal agar Cahaya bisa berbaring dengan kepala lebih tinggi.
Tindak Doni sontak membuat Cahaya berdebar. Perlakuan yang sangat manis membuat siapa saja terbuai. Termasuk Cahaya .Dia merasa kikuk dan salah tingkah dengan apa yang Doni lakukan. Tapi Cahaya hanya bisa pasrah karena tubuhnya tak berdaya.
Sesaat Cahaya mengingat ucapan Doni semalam. Cahaya tersentak dan langsung memeriksa tubuh nya. Cahaya telah memakai pakaian lengkap . Sebuah piyama panjang berbahan satin . Tentu saja Doni yang melakukan semua itu. Mengingat semua itu Cahaya semakin merasa tak enak hati.
" Tadi aku mengompres kepala mu dan tubuh kamu sekalian aku seka karena demam membuatmu banyak berkeringat. Dan aku juga menganti pakaian kamu. Jangan merasa tak enak, aku suami kamu " Doni menyadari ketidak nyamanan dari Cahaya.
Dengan sedikit bergeser Doni meraih sebuah meja kecil yang berisikan semangkuk bubur dan teh hangat. Doni meraih mangkuk bubur dan tanpa diminta Doni menyuapi Cahaya .
" Aku saja. " Ucap Cahaya menolak.
" Kamu sakit, biar aku saja. Aaak... buka mulutmu. " Akhirnya Cahaya menurut . Dengan telaten Doni menyuapi hingga separuhnya telah berpindah ke perut Cahaya.
" Sudah, Bang. Kenyang ! "Cahaya menolak suapan Doni.
" Sedikit lagi. "
" Nggak mau, takut muntah. "
" Ok, minum teh nya. " Doni meraih gelas teh dan menyerahkan ke tangan Cahaya. Dengan pelan Cahaya minum teh itu hingga habis.
" Abang sudah makan ? " Tanya Cahaya.
__ADS_1
" Sudah, kamu tidurnya lama banget. Lihat ! Jam berapa sekarang. " Doni menunjukkan layar Ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas siang.
" Maaf... " Cahaya semakin merasa bersalah.
" Jangan minta maaf. " Doni mengambil gelas dari tangan Cahaya dan meletakkan di atas nakas. Kemudian Doni meraih jemari Cahaya dan menggenggam nya dengan lembut. " Aku yang minta maaf karena membuat kamu sakit begini. " Suara Doni lirih dengan penuh rasa bersalah.
" Tidak apa apa, aku aja yang lemah. " Jawab Cahaya.
" Minum obat, ya. Jika sampai sore nanti panasnya tidak turun juga kita ke rumah sakit." Doni sepertinya tidak ingin bicara banyak tentang kejadian semalam. Kemudian meraih bungkusan putih yang tadi dibelinya saat Cahaya masih tidur dan membukanya satu persatu.
Doni menyerahkan pada Cahaya , dan langsung Cahaya telan tiga buah pil itu bergantian dan meneguk air putih yang Doni sodorkan. Kemudian Cahaya kembali merebahkan kepalanya sembari memijat lembut dahinya untuk mengurangi sakit kepalanya .
" Apa sangat sakit, ayo kita ke rumah sakit saja. " Doni mengusap kepala Cahaya lembut.
" Tidak usah Bang, baru saja makan obat. Sebentar juga sembuh. " Suara Cahaya terdengar lemah.
" Kalau begitu, istirahat lah. " Doni mengangkat tubuh Cahaya sedikit dan mengurangi tumpukan bantal agar Cahaya bisa berbaring dengan nyaman.
" Bang... kapan kita pulang ? " Cicit Cahaya.
" Ak... aku rindu anak anak. " Cahaya bisa melihat senyuman tipis di bibir Doni.
" Mereka sudah pulang dengan Ibuk dan Rania. Tadi aku sudah bilang pada mereka jika kita di sini selama tiga hari. Tapi jangan khawatir aku tidak akan memintanya sekarang, karena kamu lagi sakit. Lain halnya kalau kamu yang minta. " Doni mencoba bercanda ketika menyadari raut tegang di wajah Cahaya.
" Nggak lah ! " Jawab Cahaya cepat. " Mana mungkin aku gitu. " Cahaya membuang pandangannya ke arah jendela, untuk menghindari tatapan jahil Doni.
" Baiklah, aku akan membuat kamu memintanya suatu saat nanti kalau begitu. " Ucap Doni tersenyum penuh arti.
" Aku tidur dulu, ngantuk ! " Cahaya menarik selimut sepinggang nya dan berbaring membelakangi Doni. Pipinya sudah panas dan merona karena ucapan Doni barusan. Doni membiarkan Cahaya istirahat. Dengan kekehan yang masih terdengar Doni mengusap kepala Cahaya dan kemudian mengecupnya.
Cahaya membeku dengan jantung yang berdegup kencang. Sembari memejamkan mata Cahaya meresapi kecupan hangat Doni yang berdurasi lebih dari lima detik itu. Hatinya mendadak cemas menerima perlakuan Doni sejak tadi. Mengingat kejadian semalam dan hari ini semua bertolak belakang.
" Yang mana kamu sebenarnya, jika kamu jijik kenapa pagi ini begitu hangat. " Gumam Cahaya dalam hati.
__ADS_1
" Istirahat lah, aku di sofa kalau ada apa apa panggil saja. " Doni bangkit dan berjalan menuju sofa. Ternyata terdapat sebuah laptop dan beberapa kertas tergeletak di meja. Sepertinya Doni membawa pekerjaannya mengingat mereka akan di sini hingga Cahaya sembuh.
Setelah terdiam beberapa lama Cahaya akhirnya tertidur. Mungkin karena efek obat membuat mata Cahaya kembali berat. Entah berapa lama dia terlelap, Cahaya mulai terusik oleh suara seseorang sedang bicara. Tanpa membuka mata Cahaya tahu itu adalah Doni yang sedang bicara dengan seseorang.
" Tolong panggilkan beberapa orang ke rumah ku. Merapikan dan merenovasi kamar dan memindahkan ruang kerja. Nanti aku kabari orang rumah untuk memandu mereka nanti. Dan aku minta harus siap dalam dua hari. "
".... "
" Ok, aku tunggu. " Doni memutuskan panggilan. Entah dengan siapa yang pasti Cahaya yakin Doni bicara lewat ponsel.
Beberapa saat kemudian.....
" Assalamu'alaikum, Buk. Aku menyuruh beberapa orang ke rumah untuk merapikan kamar bekas Ibuk dulu dan ruang kerja Ayah. Nanti tolong Ibuk tunjukan seperti yang kita bahas tempo hari. "
" .... "
" Buuk, tolong jangan dibahas lagi. Aku ingin kamar Tiara tetap seperti itu. Cuma itu saja yang aku minta, Buk. Aku sudah penuhi keinginan Ibuk untuk menikahi Cahaya, kan ? "
"..... "
" Buk ! Aku tidak akan pernah melupakan Tiara . Jangan ada yang mengusik milik Tiara apapun itu termasuk kamar kami.
"...... "
" Aku tidak peduli, Buk. Biar Cahaya maupun Ibuk tak berhak melarang ku. Maaf Buk ! "
Cahaya bisa mendengar pembicaraan antara Doni dan Ibu Ratih dengan jelas, meski sebelah sisi. Tapi Cahaya bisa memahami arti ucapan Doni dengan jelas. Entah mengapa hati Cahaya merasa tercubit dan ngilu.
Cahaya kembali memikirkan perkataan Doni yang mengatakan kalau pernikahan ini dilakukannya dengan sepenuh hati. Bagaimana mungkin jika di hatinya masih dipenuhi oleh Tiara mantan istrinya.
Hingga saat ini Cahaya belum bisa, menilai Doni seperti apa. Kenapa semakin ke sini Cahaya seperti melihat Doni yang pandai manipulasi. Kadang Cahaya merasa tersentuh kala melihat setiap ucapan manisnya, tapi semalam ucapan Doni mampu mengoyak hatinya.
Cahaya masih setia memejamkan matanya. Dia merasa enggan untuk membuka mata dan melihat senyum manis Doni yang penuh kepalsuan. Hingga langkah kaki Doni terdengar dari balkon mendekat kearah Cahaya.
__ADS_1
...****************...
Happy day Readers 💕