Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Badai datang


__ADS_3

Acara berkemah urung dilakukan sebab cuaca yang buruk. Sejak sore angin bertiup kencang dan awan gelap karena mendung. Demi keselamatan semua orang Doni dan Adnan menunda acara camping hingga besok. Tentu saja anak anak pada kecewa.


Akhirnya untuk mengobati kekecewaan mereka Cahaya dan Rania mengajak semua orang pindah ke resort yang ada di kawasan hutan pinus . Mengganti acara camping dengan acara barbeque.


Dan di sinilah mereka berada, di resort milik Maxim yang terletak di kawasan hutan buatan tak jauh dari belakang villa yang di pantai. Hanya sekitar tujuh sampai sepuluh menit jika naik Buggy car yang tersedia di sana.


Cahaya dan Rania mempersiapkan bahan bahan yang mereka pesan dari pihak resort. Dibantu oleh beberapa pelayan dan petugas resort acara dipersiapkan di outdoor sekitar halaman resort. Walaupun tidak sesuai dengan rencana awal, setidaknya anak anak masih antusias menyambut ide itu.


Bukan tanpa alasan untuk Cahaya mengajak semua orang pindah ke resort yang di kawasan hutan. Semua karena kehadiran Marinda yang meresahkan. Bagaimana tidak, Marinda memakai villa yang tepat di sebelah villa yang Doni booking untuk keluarganya.


Saat Cahaya duduk santai di balkon ataupun di beranda, Marinda selalu terlihat. Mood Cahaya rusak jika Marinda selalu gentayangan di sekitarnya. Bukan karena benci hanya saja Cahaya lelah beramah tamah dengan makhluk sebangsa ulat bulu itu.


Apalagi bahasa tubuh dan penampilan Marinda yang seperti minta ditelanjangi. Cahaya risih jika Doni melihat ke arah Marinda meski sebenarnya Doni juga tidak begitu peduli. Tapi tetap saja Doni dan Adnan adalah pria. Tentu tidak bisa menampik jika pria normal seperti mereka tetap berdenyut saat menatap tubuh licin itu terekspos.


Dan dengan cerdas Cahaya dan Rania sepakat untuk melindungi mata suami mereka dari pandangan menyesatkan. Dari pada berkata kasar ataupun bersikap tidak sopan lebih baik menghindar saja.


Acara berjalan dengan lancar. Anak anak dibiarkan membakar sosis maupun jagung sesuka hati mereka. Tapi tetap dibawah pantauan orang dewasa. Sementara Cahaya dan Ibu Ratih tidak dibiarkan membantu oleh Doni. Hanya Rania yang menyiapkan minuman dan beberapa puding sebagai pelengkap.


Di tengah kebahagiaan yang mewarnai kebersamaan mereka tiba tiba udara terasa begitu dingin. Angin yang tadi mulai stabil kembali bergejolak. Langit juga kembali pekat sebab mendung yang sangat tebal.


" Sepertinya akan ada badai, Kak. Sebaiknya kita sudahi saja acaranya. Kita lanjutkan makannya di dalam resort saja. " Ucap Adnan yang mulai khawatir.


" Kamu benar, biar aku suruh Cahaya dan Rania bawa anak anak. Kamu lanjutkan dulu bakarnya. " Doni langsung berlari ke arah Ibu dan istrinya.


" Bang, mau hujan. Kita masuk saja, ya. " Ternyata Cahaya juga menyadari cuaca yang mulai mendung.


" Itulah sebabnya Abang kemari, untuk menyuruh kamu masuk dan bawa semua orang. Biar Abang dengan Adnan yang bereskan. Nia... bawa Ibuk ! " Ucap Doni. Ucapan Doni ditanggapi dengan anggukan oleh Rania.


Semua akhirnya masuk sedangkan Doni dan Adnan menyiapkan bakaran dan membawanya ke dalam. Beberapa pelayan membantu menyiapkan meja makan untuk santap malam yang tertunda.


Hujan mulai turun disertai angin dan kilat. Beruntung mereka pindah ke resort yang tak terlalu dekat dengan pantai . Setidaknya ada pohon pohon yang menahan angin agar tidak terlalu berdampak pada bangunan resort.


Makan malam kali ini begitu mencekam. Bagi mereka yang tinggal di pinggir laut hal ini biasa bagi mereka. Tidak bagi Doni dan keluarga nya. Kejadian ini mengundang ketakutan. Tapi petugas sudah membantu menenangkan mereka. Dengan mengatakan hal ini biasa terjadi dan masih dalam batas wajar.


" Kamu takut ? Ucap Doni yang memeluk Cahaya dari belakang. Mereka duduk di dekat jendela kamar sambil menatap hujan dari dalam.


" Sedikit mengerikan, suara angin bercampur hujan yang berisik. Seakan atap resort ini hendak terangkat dan jebol. " Cahaya merinding sendiri membayangkan jika itu terjadi.


" Jangan khawatir, Max pasti sudah mempertimbangkan hal itu saat membangun ini. Buktinya pulau beserta isinya ini sudah ada sejak belasan tahun lalu. Nyatanya masih awet dan aman aman saja. " Ucap Doni menenangkan Cahaya.


" Tapi tetap saja Aya merasa takut. Karena baru kali ini mengalami nya. "

__ADS_1


" Nggak apa apa, ada Abang. Dan tadi petugas bilang ini masih dalam kategori sedang. Jadi masih aman. " Doni mengeratkan pelukan sembari mengecup pipi Cahaya yang sedikit bulat.


" Anak anak apa sudah masuk kamar, Bang ? " Tanya Cahaya.


" Tidak, mereka memilih main game di ruang tengah dan tidur bersama di sana. Tapi jangan khawatir ada Ibuk dan Mbak Yuni yang menemani mereka. " Cahaya barulah merasa tenang dan kembali menyandarkan dirinya pada dada Doni dengan nyaman.


" Apa baby nya aman, nggak rewel, kan ? " Doni mengusap perut Cahaya dengan lembut.


" Hmm...


" Bundanya juga nggak rewel. Baik banget malah, pasrah gitu. " Pancing Doni melihat Cahaya memejamkan matanya merasa nyaman dengan usapan Doni.


" Nyaman banget kalau diusap, Bang. Sepertinya baby nya suka. " Jawab Cahaya.


" Kalau Bunda sukanya apa ? " Tanya Doni terus mengecup pipi Cahaya dari samping.


" Suka Papa nya. Diapain aja suka asalkan jangan diselingkuhin. " Jawab Cahaya asal.


" Papa juga nggak suka selingkuh, sukanya bikin mendesah, mau...? " Tanya Doni penuh maksud.


" Mau...


" Bunda mulai nakal, ya semenjak hamil. " Ucap Doni yang terkekeh mendengar jawaban Cahaya.


Cahaya masih dalam posisi semula , menyandarkan punggungnya dengan nyaman di dada Doni. Masih dengan mata terpejam menikmati sentuhan tangan Doni yang dari perut kini telah baik kelas sedikit demi sedikit. Bukannya ke atas melainkan ke bawah .


Daster longgar yang Cahaya pakai kini telah naik menampakkan paha mulusnya. Cahaya tak peduli dengan apa yang Doni usap saat ini. Dia hanya menikmati sentuhan yang Doni berikan. Doni menarik wajah Cahaya agar menghadap padanya . Dengan lembut Doni meraup bibir yang telah terbuka sedikit kerena mendesah.


Cahaya bergetar menahan rasa yang nikmat dari tangan dan bibir suaminya. Hingga Cahaya tidak lagi menahan suaranya yang terdengar seperti gumaman dalam ciuman. Sementara tangan Cahaya mencari pegangan di kaos bagian depan Doni.


" Pindah ke ranjang, Sayang. " Ucap Doni yang sudah merasakan desakan dalam tubuh bawahnya.


Dengan sigap dan hati hati Doni mengangkat Cahaya yang telah dia buat lemas . Doni menyukai wajah Cahaya yang sayu dan pasrah seperti ini. Begitu cantik dan membangkitkan gejolak kelaki lakian nya.


Sesampainya di ranjang Doni memberikan ciuman panjang dan sedikit kasar pada bibir yang tadi basah olehnya. Cahaya pasrah menerima karena dia juga menyukainya. Tanpa sadar tangan Cahaya juga telah menyusup ke leher Doni dan mengusap lembut hingga tengkuk dan wajah suaminya bergantian.


" Triiing...triiiing... triiiing "


Nada panggilan dari ponsel Doni mengusik aktifitas panas mereka. Tapi Doni hanya berhenti sesaat dan kemudian melanjutkan kegiatannya. Tapi suara ponselnya kembali menggema mengalahkan suara hujan yang lebat di juara sana.


" Abang , lihat dulu. Siapa tahu itu penting." Ucap Cahaya yang kehilangan konsentrasi nya.

__ADS_1


" Biarkan saja, Sayang. Abang lagi tanggung. " Jawab Doni yang tak peduli. Tapi suara ponselnya kembali terdengar yang memaksanya untuk bangkit dan meraih ponsel itu.


" Marinda...? " Ucap Doni Spontan dengan kening mengkerut dan terlihat jengkel.


" Angkat saja, siapa tahu penting. " Cahaya bangkit dan membenarkan pakaiannya yang sudah setengah terbuka.


" Mengganggu saja... " Dengan setengah hati Doni mengangkat panggilan Marinda.


" Ada apa...! "


" Don... tolong...!! " Terdengar suara ketakutan dan gemetar di seberang sana.


" Rinda... kamu kenapa ? " Tanya Doni yang sontak berdiri.


" Don... disini badai, aku terjebak. " Suara tangisan Marinda jelas terdengar.


" Dimana posisimu ? " Doni berjalan ke arah lemari mengambil jaket dengan ponsel yang dijepit antara telinga dan bahunya.


" Di villa...


" Rinda... Marinda..." Panggilan terputus.


"Sayang , aku harus ke villa. Marinda terjebak badai sekitar pantai. Kamu nggak apa Abang tinggalkan. " Ucap Doni meminta kesediaan Cahaya.


" Abang sendirian ? Aya ikut. " Tentu saja Cahaya mencemaskan Doni.


" Tidak boleh, tingga lah disini. Sangat bahaya jika kamu ikut. Biarkan Abang pergi sendiri, ok.!? " Doni mengusap kepala Cahaya dan mengecupnya. Setelah itu Doni melangkah cepat.


" Abang...


" Iya...


" Ajak Mas Adnan... Aya takut dan tak tenang kalau Abang sendiri. " Ucap Cahaya yang merasakan hatinya berdebar tak biasa.


" Baiklah...


Doni pergi tanpa menoleh lagi. Mendengar suara Marinda yang ketakutan dan melemah membuat Doni khawatir. Marinda temannya, sahabatnya sejak masih kuliah dulu. Dan situasi yang memang sedang badai dan Marinda sendirian membuat Doni khawatir.


Entah bagaimana situasi di pantai, sedangkan di hutan ini saja nampak menegangkan. Doni setengah berlari ingin segera sampai di sana.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia Guys 💕


__ADS_2