
Tiga puluh menit berlalu, Cahaya masih dilanda gelisah. Banyak yang Cahaya khawatir. Keselamatan Doni dan juga pengaruh buruk Marinda untuk rumah tangganya. Entah kenapa Cahaya tidak begitu suka Doni harus menolong Marinda. Bukan nya tidak manusiawi tapi dari begitu banyak orang di villa termasuk petugas, mana mungkin tidak ada yang membantunya.
Cahaya semakin tidak tenang, setiap bunyi jarum jam terasa menusuk kulitnya. Tanpa menunggu Cahaya bangkit dari pembaringannya. Dengan langkah ragu ragu Cahaya menuju kamar Rania yang berada tepat di sebelah nya.
" Tok tok tok " Cahaya memberanikan diri untuk mengetuk.
" Ceklek " Beberapa detik kemudian pintu pun terbuka.
" Aya...? Ada apa, kok kamu pucat gitu. " Rania langsung melihat raut cemas di wajah Cahaya.
" Mas Adnan ada di dalam ? " Tanya Cahaya tanpa menjawab Rania.
" Ada, kenapa ? " Rania semakin penasaran.
" Ya, ampun. Berarti Abang pergi sendiri. " Pekik Cahaya tertahan. Wajahnya semakin memucat.
" Ada apa sebenarnya, Aya. " Rania memegang lengan Cahaya yang kini sudah terlihat bendungan bening nya hendak runtuh.
" Tadi Marinda menelpon, katanya di villa ada badai. Dan dia minta tolong, jadi Abang... " Cahaya lemas, pikiran nya kemana mana. Rasa takut dan khawatir melebur jadi satu.
" Tenanglah, ayo duduk dulu. " Rania membawa Cahaya ke sofa terdekat dengan mereka.
" Aku menyuruh Abang bawa Mas Adnan. Tapi nyatanya dia pergi sendiri . " Runtuh sudah air matanya. Cahaya benar benar takut. Entah takut dengan badai lautan atau badai rumah tangganya .
" Tenanglah, aku panggil Mas Adnan. " Rania bergegas kembali ke kamar. Selang beberapa menit dia datang dengan Adnan yang sudah memakai jaket dan membawa sebuah lampu emergensi kecil.
" Aya, kamu tenang. Biar aku menyusul Kak Doni. " Ucap Adnan yang masih mengancingkan jaketnya dengan benar.
" Aku ikut, Mas . " Ucap Cahaya yang berdiri dari duduknya.
" Nggak Aya, diluar masih badai. Kita tidak tahu seberapa parah badai sekitar villa. Tunggulah aktifkan ponsel, nanti aku hubungi." Ucap Adnan tegas dan disetujui oleh Rania.
" Hati hati, Mas. Jangan lupa bawa beberapa petugas. Aku tunggu kabarmu secepatnya. " Rania mengantar suaminya menuju pintu samping, takut mengganggu Ibu Ratih dan anak anak yang berada di depan.
" Pastikan Cahaya jangan sampai nekat. " Adnan mengecup kening Rania sebelum melangkah. Rania menjawabnya dengan anggukan.
Cahaya masih duduk di sofa kecil di luar kamarnya. Hatinya masih sangat gelisah. Rania datang mendekat dan memeluk Cahaya dengan hati hati . Berharap Cahaya bisa sedikit tenang.
__ADS_1
Sementara Adnan membawa dua orang petugas dengan mengendarai Buggy car menuju villa. Dari petugas Adnan dapat kabar jika di villa kondisi masih terkendali. Tidak ada yang terjadi ataupun bermasalah. Tapi demi memastikan mereka bersedia untuk menemani.
Kini Buggy Car yang Adnan kendarai bersama kedua petugas itu telah berhenti tepat di villa yang Marinda tempati. Tidak ada yang terjadi jika dilihat dari luar. Angin kencang yang disertai hujan hanya membuat beberapa ranting pohon patah dan tidak sampai tumbang. Air laut memang naik dan gelombang cukup besar. Tapi tidak sampai ke halaman villa.
" Bapak lihat sendirikan, disini aman aman saja. Bahkan yang lebih besar dari ini saja sudah pernah terjadi, Pak. Dan masih cukup aman disini. Badai seperti ini masih dalam kategori sedang, Pak. " Ucap Petugas itu menjelaskan.
" Apa ada yang ke pantai mungkin ? Bisa bantu saya carikan informasi, Mas. " Pinta Adnan sopan.
" Sebentar, Pak. Saya tanya penjaga pantai yang disebelah sana. " Salah seorang petugas resort iru pergi menuju sebuah bangunan yang agak tinggi diantara bangunan lain .
Sementara Adnan dan petugas yang lainnya berkeliling sekitar villa. Untuk memantau kemungkinan yang lain. Tapi tidak ada yang aneh disekitarnya. Adnan mencoba membuka pintu namun terkunci. Kemudian Adnan mengetuk pintu berkali kali. Berharap ada yang mendengar.
" Jika orangnya berada di kamar maka nggak akan kedengaran, Pak. Selain kamar di resort maupun villa semua kedap suara, hujan dan angin juga menyamarkan suara ketukan. " Terang petugas itu membuat Adnan menghentikan ketukannya.
Dengan mengintip pun Adnan tidak bisa melihat apa apa. Semua tertutup rapat oleh gorden. Tak lama munculah petugas yang mencari informasi tadi. Dengan segera Adnan mendekat padanya.
" Bagaimana... " Tanya Adnan tidak sabar.
" Sejak melihat awan hitam, petugas sudah melarang semua orang ke pantai, Pak. Alat pendeteksi badai juga sudah memberi tahu lebih awal. Dan petugas sudah memeriksa pantai sejak peringatan dini diterima. " Penjelasan petugas itu membuat Adnan menduga hal yang lain.
" Bisa aku minta kunci cadangan villa itu. " Permintaan Adnan membuat kedua petugas itu saling tatap.
" Maaf, Pak. Ini bersifat pribadi. Kami tidak boleh melanggar privasi tamu, Pak. Apalagi yang menghuni Villa ini adalah sahabat Bos kami. Kami tidak berani. " Ucap salah seorang petugas.
Adnan dapat memahami alasan petugas itu. Mereka hanya karyawan, sangat beresiko untuk bertindak diluar SOP. Tapi saat ini Adnan tidak bisa menunggu.
" Apa jaringan internet atau telekomunikasi aman untuk keluar pulau ? " Tanya Adnan.
" Disini semua sudah memakai teknologi yang cukup canggih, Pak. Seharusnya semua baik baik saja. Silahkan dicoba saja, Pak. " Ucap seorang petugas.
Tanpa menunggu Adnan langsung menghubungi Maxim lewat panggilan telepon . Tapi setelah beberapa panggilan tak kunjung di angkat oleh Maxim . Adnan mulai gelisah , waktu beberapa menit itu sangat berarti buatnya. Entah apa yang terjadi jika dia terlambat.
Namun deringan ponselnya menjadi angin segar baginya. Maxim memanggilnya lewat panggilan telepon. Tanpa menunggu Adnan langsung mengangkat.
" Halo Max, aku mau minta tolong padamu, bisakah ? " Sesama pengusaha Max dan Adnan sering dipertemukan dan Adnan juga mengenal Max sebagai sahabat Doni. Jadi Max tak asing dengan Adnan Malik.
" Adnan , ada apa ? Bukankah kalian di villa, apa ada masalah ? " Tanya Maxim khawatir.
__ADS_1
" Ada sedikit masalah. Di sini sedikit badai, tapi tak berdampak buruk. Hanya saja... " Adnan menceritakan kejadian yang Cahaya cerita kan padanya dan kondisi saat ini dengan ringkas.
" Tunggu, Adnan aku lagi menuju villa . Dua menit lagi. " Panggilan Terputus begitu saja.
Adnan masih belum paham maksud Max. Dua menit ? Otak pintar Adnan mendadak blank karena situasi yang mendesak. Dan benar saja, dua menit Max datang dengan menggunakan Buggy car yang dikendarai seorang petugas dan seorang wanita. Terlihat Max dan wanita itu masih menggunakan pakaian kantor seperti baru pulang bekerja.
" Syukurlah kamu datang, aku sudah bingung harus bagaimana. " Adnan langsung menyusul Max dengan langkah besar.
" Ikut aku. " Max terlihat tegang seperti menahan amarah. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Tapi melihat Max melangkah ke villa Marinda membuat Adnan sedikit lega. Setidaknya Max punya kuasa untuk membuka paksa.
Max membuka pintu villa memakai kunci master yang ada padanya. Seorang petugas nampak membantunya. Adnan hanya melihat semua yang Maxim lakukan bersama wanita yang Adnan duga adalah sekretaris Max.
" Terbuka... ayo masuk. " Ucap Max pada Adnan." Kamu tunggu disini saja. " Max berbalik menginstruksi pada wanita itu.
" Baik, Pak. " Jawab wanita itu.
Dengan bergegas Adnan dan Max menuju kamar utama. Tak peduli apa yang telah berlaku di kamar itu Max mendorong pintu itu kuat. Tapi tak seorang pun yang ada di sana. Adnan berlari ke kamar mandi juga tidak menemukan siapapun.
Max keluar dan memeriksa kamar yang lain diikuti oleh Adnan. Sembari berlari kecil Adnan mencoba menghubungi ponsel Doni. Dan benar saja, ponsel itu terdengar samar di kamar atas tepat beberapa langkah dari mereka berdiri.
Max yang berniat masuk ke kamar sebelah nya mengurungkan langkahnya, setelah melihat Adnan menggedor kamar sebelah sambil menelpon. Max menyadari jika itu suara ponsel Doni.
" Kak... kak, buka pintu ini. Kak... aku tahu kamu di dalam. " Teriak Adnan.
Max yang tak sabar langsung mendobrak pintu itu dan dibantu Adnan.
" Bugh ... bugh... bugh... praak "
Akhirnya pintu itu terbuka lebar. Tapi mata keduanya terbelalak melihat pemandangan yang terpampang di depan mereka.
" A... Abang...
Pekikan wanita di belakang mereka lebih mengejut kedua pria itu.
...****************...
Happy Day Readersđź’•
__ADS_1