
Sebuah perasaan Dejavu aneh yang dirasakannya. Mengapa? Bukan hanya Shui, Kara juga merasakannya. Air mata pemuda itu mengalir entah kenapa di sela ciuman mereka.
Mengingatkannya akan segalanya...
*
Hutan berkabut 500 tahun lalu.
Fu tersenyum, untuk pertama kalinya dirinya tersenyum setelah empat tahun. Dirinya berusia lebih muda, tidak mendapatkan pendidikan selama dua tahun saat tinggal bersama Junichi. Namun keluarganya menuntutnya untuk lebih sempurna dari anak selir yang berusia lebih tua.
Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan pukulan rotan dari nenek, ibu, bahkan ayahnya. Tubuhnya bertambah tinggi namun jauh lebih kurus, wajahnya berusaha tersenyum mengikuti langkah Junichi. Berharap dapat tinggal dengan pemuda itu di hutan berkabut lagi.
Hingga sampai di tempat tinggal mereka dulu. Bukan gua atau sejenisnya, namun rumah kayu kokoh bagaikan bangsawan. Junichi sering menyamar menjadi manusia, rumah yang mengikuti arsitektur kediaman bangsawan. Namun, bedanya tidak ada budak disana. Hanya dirinya yang tinggal.
"Junichi, kenapa dulu mengembalikanku pulang? Aku---" kata-kata Fu terpotong.
"Karena kamu manusia, jika dekat denganku tubuhmu dapat terluka. Selain itu kamu akan tumbuh dan menikah dengan manusia. Jika tinggal di hutan berkabut, tidak akan dapat menemukan pria yang baik," itulah jawaban darinya. Membuat Fu memeluknya dari belakang.
"Aku tidak mau menikah! Mereka memukulku dengan rotan hanya karena menumpahkan arak ketika belajar pelajaran etika. Katanya aku akan menjadi istri yang buruk, aku harus anggun dan berpura-pura tersipu, hanya agar suamiku nanti tidak mengangkat selir..." Suara tangisan memilukan dari anak berusia 11 tahun. Anak yang sudah mengetahui dan mendengar segalanya.
Belajar menjadi nyonya bangsawan, berjalan perlahan. Bahkan hanya untuk menguap di acara resmi, dirinya akan dihukum. Menyakitkan? Ini benar-benar menyakitkan untuk anak berusia 11 tahun. Bersaing, dibanding-bandingkan dengan anak selir yang berusia 14 tahun.
Junichi melepaskan pelukan Fu."Kamu tidak dapat tinggal disini. Tapi aku juga tidak akan mengijinkanmu menjadi wanita yang bergantung pada pria. Jangan belajar menuang arak lagi. Kita akan belajar filsafat, membuat usaha, bermain kecapi dan menari. Apa kamu suka?" tanyanya.
Fu mengangguk, menatap ke arah Junichi."Tapi nenek dan ibu---" Kata-katanya kembali disela.
"Kita bertemu di tembok belakang rumahmu setiap malam. Aku akan mengajarimu segalanya. Carilah calon suami yang baik dengan semua yang aku ajarkan. Cari yang setia dan tidak akan mencari selir." Junichi tersenyum padanya.
Fu kembali mengangguk."Jika sudah besar nanti. Aku ingin menikah dengan Junichi. Menjadi istri yang baik untuknya,"
"Dasar! Jangan menyukai siluman sepertiku! Karena aku hanya kasta terendah. Menikahlah dengan manusia yang tampan dan pekerja keras." Ucap Junichi mengacak-acak rambut sang gadis kecil.
Namun, gadis kecil yang terpaut pada satu tujuan. Pemuda paling sempurna di matanya satu-satunya orang yang benar-benar menyayanginya.
__ADS_1
Beberapa buku yang disalinnya dari kumpulan filsafat kerajaan bahkan dari negeri lain di raihnya. Mengambil kuas dan tinta, mengajari anak itu perlahan. Sang anak yang kini duduk di pangkuannya.
Tangan Fu bergerak dibimbing Junichi, melatih tulisannya sekaligus menghafal. Sedangkan tangan Junichi mengajarinya, mengawasi apa yang dilakukannya. Rasa nyaman menderunya kala duduk di atas pangkuan sang pemuda.
Bukan makanan mewah, hanya ada buah persik dan apel disana. Namun cukup untuk menjadi nutrisi otaknya, kembali belajar bersama Junichi.
Mengalahkan anak selir? Dirinya menyadari tidak akan bisa. Namun, apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun? Entahlah,
Empat tahun kemudian.
Putri dari sang selir telah menikah masuk ke rumah keluarga bangsawan lain. Sedangkan dirinya yang berusia 15 tahun sudah mendapatkan banyak tawaran pernikahan. Tapi sang perdana menteri seperti memiliki rencana lain pada putrinya.
Bunga Peony mekar perlahan, menunjukkan keanggunan. Tidak di masa kecilnya, tapi kini memiliki harum yang begitu memikat. Beberapa masalah di kota diselesaikan oleh Fu, bahkan kala para sarjana berlutut di hadapan aula kaisar, tentang tidak adanya cadangan air. Dirinya datang dengan sebuah kertas perencanaan pembuatan bendungan.
Wanita yang berpengaruh? Itulah dirinya kini. Wanita yang tengah memainkan kecapinya sambil mengucapkan puisi yang indah di hadapan para bangsawan dan kaisar yang datang ke rumah perdana menteri. Tidak ada pria yang tidak menginginkannya menjadi istri.
"Fu, tuangkan arak untukku," perintah sang kaisar. Tepatnya putra mahkota yang kini diangkat menjadi kaisar setelah kematian ayahnya.
Fu menghentikan permainan kecapinya."Mohon ampun yang mulia kaisar. Hamba tidak dapat melakukannya, setiap orang memiliki prinsip, begitu juga dengan hamba. Hamba hanya menuangkan arak untuk pria yang akan menjadi suami hamba. Menjaga dan mendapatkan rasa hormat darinya nanti."
"Fu! Kamu semakin pintar saja, wanita yang memiliki prinsip? Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu," ucap sang kaisar pada sahabat masa kecilnya.
Namun Fu hanya tersenyum, dengan beberapa helai kain transparan tergantung di dekatnya. Kecapi itu kembali dimainkannya, melodi yang benar-benar indah. Tiupan angin menyingkap tirai tipis, wajah yang benar-benar cantik itu terlihat. Bahkan jauh mengalahkan kecantikan sang ratu, dan selir-selir kaisar.
Sang kaisar tertegun, tersenyum menatap ke arah sang gadis. Menginginkannya? Kini dirinya menginginkan Fu, bunga terindah di kerajaannya. Bukan seperti ratunya yang hanya dapat menjadi pajangan. Namun, wanita yang dapat menjadi permata di mahkotanya.
Seorang putri bangsawan lainnya, meminta ijin, menuangkan arak untuk sang kaisar, mencari perhatiannya. Namun pandangan pria itu tidak lepas dari sang gadis yang tengah memainkan kecapinya.
Kecantikan yang tidak dapat dielakkan, kecerdasan yang tidak dapat ditandingi, bahkan wanita yang tidak memiliki ambisi atau menginginkan kekuasaan. Senyuman menyungging di bibirnya, merasa dirinya-lah yang menyelamatkan Fu. Kala Junichi mendatanginya 8 tahun lalu. Menjadikan Fu sebagai ratu? Sekarang tidak masalah baginya. Wanita yang dapat menarik hatinya, walaupun belum sedikitpun menyentuhnya.
Perdana menteri melirik ke arah sang kaisar. Pria yang menginginkan kekuasaan, meminum araknya. Menatap mata kaisar muda yang tidak lepas dari putrinya.
Pada akhirnya Fu mundur memohon ijin untuk beristirahat di kamarnya. Beberapa pejabat yang mengunjungi kediaman perdana menteri juga sudah pergi dengan tandu mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Kaisar.
__ADS_1
Sang kaisar masih disana, duduk di sebuah gazebo dengan perdana menteri. Beberapa Kasim mengawasi area sekitar, memastikan keamanan kaisar mereka.
"Apa kamu membenci jendral? Dia semakin hari semakin sombong, karena aku memilih putrinya sebagai putri mahkota dulu. Dan sekarang kini sudah menjadi permaisuriku," ucap sang kaisar meminum araknya.
Wajah perdana menteri diam-diam tersenyum, mengetahui arah pembicaraan kaisar."Mohon ampuni hamba, hamba tidak memiliki kekuasaan menentangnya. Hanya memiliki putra dari selir yang menduduki jabatan rendah dan putri sah yang entah akan memasuki rumah bangsawan mana,"
Kata-kata yang bagaikan berarti menawarkan putrinya pada sang kaisar. Jika sang kaisar tidak mengangkat Fu sebagai selir, masih banyak putra bangsawan lain yang mengincarnya, sebuah kalimat ambigu.
Namun, jawaban aneh didapatkannya benar-benar sebuah keberuntungan besar baginya.
"Aku akan membawa putrimu ke istana sebagai selir tingkat satu (status satu tingkat di bawah ratu). Ratu akan segera digulingkan, wanita itu sudah tidak berguna lagi. Hanya pandai merayu dan mengayunkan pedangnya membunuh selir-selir yang membuatnya cemburu," ucap sang Kaisar muda.
Pria yang sejatinya benar-benar tidak peduli dengan janjinya pada Junichi. Menjadikan Fu sebagai permaisuri? Tidak memiliki selir? Bahkan dulu ketika perdana menteri mengajukan Fu sebagai calon putri mahkota, ditolak secara tidak langsung.
Kini setelah kuncup bunga itu mekar, barulah harum aromanya tercium. Mengapa kaisar begitu menginginkannya? Mengangkatnya menjadi ratu?
Kaisar saat itu tidak dapat keluar sama sekali. Rakyat mulai menggunjingkan masalah banjir dan kemarau di setiap musim. Para sarjana, berlutut selama dua hari di depan kediaman kaisar meminta solusi.
Dirinya tertegun saat itu, menatap Fu yang datang di hadapan para sarjana, menunjukkan solusi yang tidak terfikirkan, pembangunan bendungan dan solusi pengairan. Perlu waktu satu setengah tahun untuk membangun bendungan yang kini berdiri kokoh. Rakyat berpihak padanya, para sarjana ingin berguru padanya, kecantikan? Apa yang tidak dimiliki olehnya?
Jantung yang berdegup kencang setiap melihat wajah gadis yang lima tahun lebih muda darinya itu. Wanita yang mungkin akan menjadi permata terindah di mahkotanya.
*
Bug!
Suara wanita itu melompati tembok. Seperti biasanya Junichi akan menangkapnya yang menjatuhkan diri tanpa ragu.
Sinar bulan terlihat terang malam ini. Wajah rupawan itu ditatapnya. Wanita yang mungkin ada pada fase dimana sudah dapat menyukai pria.
"Kamu tampan..." Fu tertegun.
Bug!
__ADS_1
Tubuh wanita itu dijatuhkan Junichi, ke tanah berjalan mendahuluinya. Sedangkan Fu memegang pinggangnya yang sakit.
"Junichi! Tunggu!" ucap Fu berlari menyusulnya. Benar-benar manja pada sang pemuda.