Greatest Husband

Greatest Husband
Lotus


__ADS_3

Jemari tangan seorang pria meraba sekat kaca lukisan tua di hadapannya. Napasnya perlahan sesak, ada rasa sakit yang aneh, juga sebuah kerinduan. Air matanya mengalir tidak tertahankan. Air mata yang segera dihapus olehnya, diseka dengan cepat.


"Namanya Fu, selir kesayangan kaisar. Aku benar-benar sudah gila!" gumamnya berjalan pergi, meninggalkan apartemen miliknya.


Lukisan yang benar-benar indah. Menyiratkan sebuah kejadian di masa lalu. Terkadang apa yang tertulis dalam sejarah tidak sepenuhnya benar.


500 tahun lalu.


Fu terdiam, menunggu kedatangan Junichi di dalam hutan berkabut. Dirinya tidak ingin kembali ke kota. Air matanya mengalir, merindukan Junichi, tapi juga merindukan keluarganya.


Hingga dirinya pada akhirnya kembali, mungkin ini kesempatan terakhirnya bertemu dengan ibu, nenek dan ayahnya. Setelahnya dirinya akan tinggal di hutan berkabut.


Gerbang kota terlihat, beberapa prajurit terlihat berbaris berlalu. Mungkin pasukan yang dikirim sebagai pasukan bantuan untuk membantu sang perdana menteri menghadapi pemberontakan jenderal dan Raja Yan.


Ayahnya ternyata sudah berangkat. Tidak dapat berpamitan sama sekali. Dirinya mulai melangkah menuju rumah terbesar di tempat tersebut. Rumah perdana menteri.


"Nona!" pengawal terlihat terkejut menatap kedatangannya. Sedangkan seorang pelayan datang, terlihat canggung dan ketakutan, membantunya masuk.


Suara lonceng terdengar, semangkuk darah ayam terlihat di atas meja persembahan. Dupa dinyalakan, ada beberapa buah jeruk dan apel juga di atas meja. Sang cenayang membawa pedang dari kayu mahoni bergerak dengan cepat. Mengatakan beberapa hal yang aneh, hendak mengundang seekor siluman yang membuat nona rumah ini menghilang.


Sedangkan ibu dan neneknya terlihat menangis cemas. Kertas mantra dibakar, kembali mengucapkan entah apa, Fu juga tidak mengerti.


"Siluman ini terlalu kuat!" ucap sang cenayang yang entah benar-benar memiliki kemampuan atau tidak. Yang jelas Junichi tidak datang sama sekali.


Hingga sang pelayan melapor pada nyonyanya."Nyonya, nona Fu sudah kembali,"


Wanita paruh baya itu menatap ke arah putrinya. Air matanya mengalir, berjalan menghampiri kemudian memeluknya."Kamu kemana saja, ibu cemas!" ucapnya.


"Fu sudah kembali, sebaiknya beri kabar pada istana. Berikan imbalan besar pada cenayang karena sudah berhasil membawa Fu pulang." Sang nenek tersenyum mendekati, menantu dan cucunya.

__ADS_1


"A...aku tidak diculik siluman, aku pergi sendiri. Nenek, aku tidak ingin masuk ke istana dan menjadi selir. Bersaing dengan puluhan, bahkan ratusan wanita untuk mendapatkan perhatian seorang pria. Aku mencintai---"


Bruk!


Satu pukulan melayang di tubuhnya, tongkat yang biasanya dipakai sang nenek untuk berjalan, benar-benar menghujam tubuhnya.


"Kamu! Kamu membuatku emosi! Anak pembawa sial! Ayahmu sedang berjuang antara hidup dan mati di medan perang agar kamu mendapatkan status tinggi di istana! Tapi ini balasanmu! Apa yang kurang kami berikan padamu!? Putraku sedang berada di antara hidup dan mati demi putri yang tidak berbakti padanya!" teriak sang nenek murka, pukulan demi pukulan kembali dilayangkan.


Fu terdiam tidak menangis sama sekali."Siluman dan manusia tidak dapat bersatu, tidak ada jalan sama sekali," batinnya, membiarkan tubuhnya dipukuli.


"Sudah Bu! Sudah! Fu mungkin sedang terkena pengaruh sihir siluman. Dia tidak sadar ketika mengucapkan ini! Lebih baik kita minta bantuan pada cenayang!" Kata-kata dari sang ibu yang mencemaskan putrinya.


"Aku men...cintainya. Hanya mencintainya---" ucap Fu terbata-bata.


"Fu, dengar melayani yang mulia kaisar merupakan suatu kehormatan, sebagai bakti pada negara, anakmu kelak juga mungkin menjadi putra mahkota. Tidak peduli memiliki selir, mereka semua hanya memiliki status di bawahmu." Sang ibu meyakinkan.


"Bersaing dengan banyak wanita? Mungkin suatu hari nanti jika ada wanita yang lebih cantik aku akan disingkirkan oleh kaisar. Dalam hutan berkabut ada pemuda yang hanya mencintaiku. Kenapa aku harus bersaing dengan banyak wanita di istana. Ibu aku---"


Satu tamparan mendarat di pipinya, sang ibu menitikkan air matanya."Siluman itu dapat memakanmu! Mereka memakan daging manusia mentah-mentah! Itu hanya rayuannya saja! Ayahmu bertaruh nyawa di medan perang demi anak tidak berguna sepertimu! Aku menyesal sudah melahirkanmu! Jika tau anak dari selir lebih berbakti!" bentak sang ibu, mengingat anak dari istri suaminya. Anak yang sempat menggantikan posisi Fu sebagai anak sah.


"Ibu aku tidak ingin--- Junichi akan menyelamatkan ayah. Jika---" Kata-katanya terhenti. Wajah sang ibu terlihat lebih dingin lagi.


"Seret nona kalian ke altar leluhur. Jangan berikan makan dan minum seharian ini. Agar dia merenung dan sadar, yang mana yang benar dan salah." Kata-kata dari sang ibu membuatnya tertunduk, tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan.


Seharusnya dirinya tidak meninggalkan hutan berkabut bukan? Namun, ibu yang melahirkannya, tetap dirindukan olehnya.


Pakaiannya berantakan, rambut panjang tergerai. Beberapa papan nama terlihat disana, orang-orang dengan marga keluarganya.


"Aku minta maaf, aku mencintainya---" rintihannya terduduk di lantai kayu, menatap papan-papan kayu dengan nama orang yang telah meninggal.

__ADS_1


Mengepalkan tangannya, air matanya menetes di atas lantai kayu. Mengapa tidak ada orang yang dapat mengerti? Atau ini memang adalah salahnya dari awal. Entah ini kesalahannya atau bukan.


Namun, tidak dapat melupakan Junichi sama sekali. Satu-satunya yang dapat menghargainya, menarik tangannya di saat-saat terpuruk dalam hidupnya.


Luka di sudut bibirnya terlihat, wajah yang masih tertunduk, merindukannya.


*


Seorang pemuda berpakaian dengan dengan sulaman benang emas bermotif naga menatap ke arah kolam teratai yang tenang. Beberapa kasim dan dayang ada di sekitarnya.


Kesal? Tentu saja, Fu menghilang entah kemana. Dirinya telah mengerahkan pasukan untuk memasuki hutan berkabut. Namun hasilnya, beberapa orang menghilang, sedangkan yang dapat kembali ketakutan, tidak ingin masuk ke dalam hutan berkabut lagi. Banyak siluman ganas didalamnya, menyalakan api di hutan itupun tidak bisa, hawa dingin aneh dari kabut yang menyebabkannya.


Hingga seorang petinggi militer datang, menunduk memberi hormat."Yang Mulia, pasukan perdana menteri kalah jumlah. Sebuah keajaiban dapat bertahan hingga saat ini. Mengandalkan strategi mundur dan bertahan, pasukan membuat formasi. Perdana menteri hanya menang strategi, namun kalah jumlah. Jika begini terus, saat pasukan perdana menteri tumbang pemberontak akan memasuki ibukota,"


"Walaupun tidak banyak prajurit yang tersisa di istana. Kirimkan pasukan bayangan milikku." Perintahnya.


"Akan hamba laksanakan Yang Mulia," sang petinggi militer melangkah pergi, meninggalkan kaisarnya.


Hingga suara langkah kaki beberapa orang terdengar."Hamba memberi hormat Yang Mulia," sang permaisuri tertunduk.


"Ayahmu membuat masalah. Jika bukan karena kandunganmu, aku sudah menjatuhimu dengan hukuman mati," ucap Kaisar dengan raut wajah dingin, tanpa senyuman atau ekspresi sedikitpun.


Sang permaisuri hanya menunduk sembari tersenyum, mengelus perutnya yang rata. Hanya kecil kemungkinan ini adalah anak kandung sang Kaisar, mengingat pria yang telah menjadi suaminya selalu menghindari kemungkinan dirinya mengandung.


Ini adalah anak dari raja Yan. Dengan bodohnya Kaisar mempercayai jika ini adalah anaknya.


Sedangkan kaisar sendiri tiba-tiba menghentikan langkahnya."Anak seekor ular tidak akan pernah menjadi naga." Sebuah kata sindiran yang membuat wajah permaisuri seketika pucat pasi. Menerka-nerka, kemungkinan sang Kaisar telah mengetahui segalanya.


"Setelah perang ini usai, putri perdana menteri akan memasuki istana. Bukankah menyenangkan memiliki burung Phoenix (burung api, sering menjadi simbol permaisuri) yang cerdas?" gurauannya. Pada akhirnya melangkah pergi tanpa berbalik sedikitpun.

__ADS_1


Sang permaisuri terduduk di lantai, kakinya tiba-tiba lemas, mengepalkan tangannya meyakinkan dirinya sendiri. Tidak, ayahnya sang jendral akan menang, kemudian memenggal kepala Kaisar k*parat itu. Dirinya dapat tetap menduduki tahta menjadi permaisuri raja Yan.


__ADS_2