
Mata Kara sekelebat berwarna ungu, mengendalikan wanita di hadapannya. Tidak mungkin kan? Itulah kalimat yang ada dalam dirinya saat ini.
Leher Shui dicekik olehnya dengan sengaja. Bersamaan tubuhnya yang juga merasakan rasa sakit. Menahan segalanya, menatap guratan di belakang leher istrinya. Ada dua tanda disana, tangannya gemetar. Melepaskan cengkeramannya dari leher Shui, bersamaan dengan hilangnya kedua tanda tato tersebut.
Terjatuh terduduk di lantai, tanda yang muncul setiap hidup wanita di hadapannya ada dalam bahaya. Ada dua tanda yang serupa?
Mata Shui yang berubah menjadi ungu, kembali seperti semula. Terpejam memanyunkan bibirnya, sebelum dikendalikan Kara, mereka terlihat akan berciuman bukan?
Namun tidak ada orang di hadapannya, mata Shui kembali terbuka, melihat suaminya yang duduk di lantai marmer dalam keadaan tertunduk.
"Memalukan! Benar kan dia mempermainkanku? Benar-benar kekanak-kanakan!" batin Shui merutuki dirinya yang mau-maunya pasrah pada si tengil.
Kara menatap ke arahnya. Hanya terdiam, entah apa yang ada di fikiran suami anehnya saat ini. Namun, jemari tangannya mengepal, dirinya tidak akan tertipu lagi.
Terlalu banyak membaca novel romansa? Bagaikan alur novel yang sudah diketahuinya. Kara akan membuatnya jatuh cinta, perlahan mencari celah menguasai hartanya. Terakhir menikah dengan Sonya mengingat mereka memiliki hubungan dalam waktu yang lama.
Bisa-bisanya dia terjerat, hampir saja jatuh cinta pada si tengil pengkhianat.
Kara menelan ludahnya, raut wajahnya tiba-tiba berubah tersenyum lembut."Kenapa kamu marah padaku?" satu pertanyaan darinya.
"Kita tetap akan bercerai cepat atau lambat," jawaban acuh dari Shui.
Pemuda itu tertawa kecil, kemudian bangkit."Terserah padamu ingin bercerai atau tidak. Kita habiskan hari ini bersama,"
"Habiskan hari ini bersama?" tanya Shui mengenyitkan keningnya.
Kara mengangguk, semakin dekat dengan dirinya. Sungguh perasaan yang bodoh, lagi-lagi detak jantungnya sulit untuk dikendalikan.
Kursi roda Shui diraihnya, didorong menunju lantai satu. Hingga menanyakan tentang keberadaan dapur restauran.
Order yang mereka pesan dimasak sendiri oleh sang pemuda, dibantu seorang koki. Tentunya dengan mengeluarkan budget lebih.
Mata pemuda itu terlihat fokus mempelajari segalanya. Kemampuan belajar dengan cepat, berbagai hidangan yang matang dengan sempurna. Tissue diraihnya, tersenyum membersihkan sisa tata hidangan yang tidak rapi di atas piring.
__ADS_1
Wajah rupawan, dengan senyuman dan aura yang berbeda, mengenakan appron hitam, mata tajam terlihat fokus. Kemeja yang digulung hingga ke siku. Shui mengenyitkan keningnya, menampar dirinya sendiri. Tidak boleh jatuh cinta dengan pria ini, pria yang menjadi budak cinta dari Sonya.
Apa maunya pria ini? Mungkin itulah yang ada di fikirannya. Tidak dapat mengerti sama sekali.
*
Hingga semua makanan dan minuman telah siap. Mereka mulai makan siang dalam kamar hotel.
"Ada saus di sudut bibirmu," ucap Kara, meraih tissue, membersihkan sisa saus di sudut bibir Shui.
Perubahan sifat yang benar-benar nyata, bagaikan pria dewasa yang berkepribadian lembut. Shui memincingkan matanya lebih curiga lagi."Kamu sakit?" tanyanya.
Kara menggeleng, memakan makanannya dengan tenang. Suasana yang benar-benar aneh. Biasanya suaminya akan mengucapkan berjuta rayuan omong kosong. Tapi kali ini hanya diam? Menjadi terlalu hangat? Apa suaminya kerasukan?
Wanita yang tidak mengetahui, yang menikah dengannya dari awal memang bukan Kara, namun Junichi. Mengiris daging dengan tenang, tidak ada rayuan narsis sama sekali.
"Apa ini trik baru yang kamu mainkan? Apa maumu?" tanya Shui pada pria di hadapannya.
Shui menjadi semakin merinding dibuatnya. Apa yang terjadi pada suaminya? Mengapa tiba-tiba berubah? Pria licik yang memanfaatkannya. Walaupun dirinya juga memanfaatkan Kara. Tapi rayuan kali ini benar-benar tidak wajar.
Pemuda yang semakin pintar menunjukkan pesonanya. Semakin juga harus diwaspadai, akting Kara kali ini terlalu bagus, bahkan terlalu rapi.
"Jadi ceritakan tentang dirimu. Kenapa kamu tidak dapat berjalan?" tanya Kara tiba-tiba.
Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakannya. Mungkin hanya pernah sekali, di hari pernikahan mereka.
"Tidak akan dapat diobati. Ini penyakit aneh, bahkan berobat ke Singapura juga tidak ada hasilnya." Jawaban dari Shui, berusaha untuk tersenyum.
"Bukan penyakit, tapi keracunan. Terkadang manusia dapat begitu mengerikan. Menginginkan lebih banyak dengan mengorbankan orang lain." Ucap Kara, kembali memakan daging di hadapannya.
"Jangan begitu peduli, setelah satu atau dua tahun kita akan bercerai. Lalu---" Kata-kata Shui terhenti. Kara terlihat tersenyum, senyuman yang benar-benar aneh baginya.
"Setelah sekian lama bercerai? Apa benar ingin berpisah denganku?" tanya Kara pada wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Sekian lama? Kita baru beberapa bulan menikah, tidak akan---" Kalimat yang lagi-lagi terhenti. Kala Kara berjalan ke belakang tubuhnya. Memeluknya dari belakang.
"Bercerai? Jangan katakan itu lagi, aku sudah banyak belajar. Tidak akan ada pria yang dapat membuatmu bahagia. Mengenalimu? Perasaanku lebih dulu mengenalimu dari pada otakku," Beberapa kalimat yang tidak dimengerti oleh Shui. Jantungnya berdegup lebih cepat kali ini, menelan ludahnya sendiri.
Apa yang terjadi dengan si tengil! Ingin rasanya Shui berteriak. Wanita yang tidak ingin terkena bujuk rayunya. Aura yang benar-benar manis terasa menyengat, wanita manapun akan terkena bujuk rayunya.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" batin wanita itu kala darahnya terasa berdesir hebat.
"Kara, bersikaplah normal." Pinta Shui tidak ingin terjerat.
"Normal? Kamu menyukai saat aku bersikap normal?" tanya sang pemuda berbisik di lehernya.
Shui mengangguk dengan cepat."Aku tidak menyukaimu yang sekarang!" dustanya.
Pemuda itu segera mundur, kembali duduk di kursinya. Memakan makanannya dengan tenang. Tersenyum aneh seperti biasanya."Sayang, malam ini mau aku pijat?"
Shui mengenyitkan keningnya, menghela napas lega. Pada akhirnya suaminya kembali seperti semula. Pria aneh yang menyebalkan.
"Boleh, kelola restauran dengan baik. Jangan membuat masalah lagi," jawaban dari Shui yang kini sudah merasa tidak dipojokkan tadi. Sungguh beberapa saat yang lalu, terasa nyaman sekaligus menjeratnya. Bagaikan tipe pria idealnya.
Matanya menelisik menatap ke arah suaminya. Sifat dan perilaku yang berubah-ubah, apa yang sebenarnya terjadi?
"Sayang, malam ini aku akan pergi dengan Herlan. Apa kamu mau ikut? Lagipula kamu sudah terlanjur libur sehari. Aku janji, besok sepulang restauran akan membantumu di kantor." Kata-kata darinya, seperti biasanya lebih cerewet dari pria pada umumnya.
Shui mengangguk, kemudian tersenyum. Mungkin liburan sehari akan lebih baik.
*
Beberapa jam berlalu, Shui saat ini tengah menerima perawatan spa. Sedangkan Kara, terdiam menatap ke arahnya. Menerima panggilan dari seseorang.
"Aku sudah mengumpulkan beberapa orang dengan karakter yang kamu katakan. Kamu boleh memeriksanya satu persatu," suara Shim terdengar dari seberang sana.
"Tidak perlu." Jawaban dari Kara mematikan panggilan. Kematian Fu masih dapat diingatnya. Tubuh manusia benar-benar rapuh, hanya itulah yang ada di benaknya saat ini.
__ADS_1