Greatest Husband

Greatest Husband
False


__ADS_3

Koridor rumah sakit yang dipenuhi dengan orang-orang berlalu. Segera setelah Cantika berada di ruang gawat darurat, satu ambulance lagi masuk. Menampakkan tubuh yang telah kehilangan nyawanya.


Welan yang saat itu berada di area depan rumah sakit berbincang dengan pihak kepolisian menceritakan kejadian yang sebenarnya. Pahlawan? Seperti itulah semua orang menganggapnya. Membunuh? Dirinya akan menjadi tersangka, namun akan tetap dibebaskan, karena tidak berpengalaman menggunakan senjata api. Berniat melindungi Cantika, tidak ada niatan untuk membunuh. Dirinya akan mendapatkan pengampunan, tidak akan terjerat hukum.


Tangannya masih gemetar saat ini. Ini pertama kalinya dirinya berbuat jauh. Tidak sengaja, hanya itulah kata dalam benaknya. Welan bahkan meneteskan air matanya, duduk seorang diri setelah kepergian pihak kepolisian.


Aneh, bahkan terlihat ajaib Kara memakai pakaian putih. Pemuda itu yang menyetir ambulance berisikan mayat menuju rumah sakit.


Semenjak duduk berdampingan dengan Welan.


"Kenapa kamu kemari?" tanya Welan.


"Mengantar kepergian seorang teman." Jawaban dari Kara.


"Teman? Apa kamu mempunyai teman disini?" Welan kembali bertanya.


"Tidak bisa dibilang teman, aku hanya mengenalnya beberapa jam. Tapi lumayan tertarik padanya," Kara menghela napas kasar, membuka kaleng softdrink yang disodorkan Herlan padanya.


"Siapa?" Welan menghela napas kasar. Ingin mengalihkan fikirannya dari hal yang terjadi hari ini. Bahkan jika bicara dengan makhluk yang paling tidak disukainya pun.


"Warto, aku yang mengantarkan kepergiannya. Keluarganya di desa sudah aku hubungi. Mereka tidak ingin mayatnya kembali ke desa. Terlalu memalukan bagi mereka, jadi aku memutuskan untuk mencari tempat pemakaman di dekat sini untuknya. Ingin sering-sering berkunjung," ucap Kara penuh senyuman.


"Tapi dia sudah memperk*sa dan membunuh dua orang. Membuat satu orang lagi cacat permanen dia---" Kata-kata Welan disela.


"Aku punya sebuah cerita untukmu. Cerita tentang kepahlawanan. Ada sebuah kerajaan sekitar 500 tahun lalu, dipimpin oleh seorang kaisar muda. Kaisar yang memiliki sahabat kecil Putri bangsawan yang tercantik. Namun, sang putri bangsawan sering pergi ke hutan, menemui seekor siluman. Bahkan putri bangsawan menolak untuk menikah dengan kaisar, karena siluman yang setiap malam ditemuinya. Hingga sang kaisar putus asa, pada akhirnya mencari cara membunuh sang siluman. Setelah sang siluman mati, kaisar hidup bahagia dengan putri bangsawan sebagai selirnya," ucap Kara.


"Cerita lama, dimasa ini juga ada bukan? Cerita misteri siluman yang menggoda manusia, berniat mengambil jiwanya. Hingga ada orang yang mengalahkan siluman, berakhir menikah dengan sang gadis. Drama FTV," cibirnya tertawa.


"Siluman? Ada Inari, rubah berekor sembilan yang dianggap sebagai utusan dewa di Jepang. Tidak semua siluman itu buruk, terkadang apa yang ada di fikiran, belum tentu adalah kenyataan," ucap Kara mulai bangkit berjalan pergi.


Welan terdiam tidak mengerti dengan maksud kata-kata Kara.

__ADS_1


"Kamu juga mengenal Warto walaupun hanya sebentar. Mau pergi ke pemakamannya denganku?" tanya Kara.


Welan menggeleng dengan cepat."Benar-bebar pria keji menjijikkan. Melecehkan wanita baik-baik, bahkan membunuhnya. Aku tidak ingin mengetahui hal apapun tentangnya," tegasnya.


Kara berjalan pergi masih mengenakan setelan pakaian putihnya. Menatap hujan gerimis yang tidak ada hentinya.


Sebuah dosa, perbuatan salah, itulah yang dilakukan Warto. Tapi mungkin pemuda itu sudah dapat melepaskan segala dendamnya saat ini, untuk beristirahat dengan tenang.


Apa dirinya yang salah? Atau Welan yang salah? Kara bagaikan tidak peduli, meninggalkan pria yang bagaikan bagian sebaliknya dari dirinya.


***


Beberapa minggu berlalu. Welan kini cukup terkenal di universitas sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan Cantika.


Sesekali Welan memang datang menjenguk keadaan Cantika di rumah yang memang cukup besar.


Buah-buahan yang dipegangnya terjatuh, kala menatap seorang pelayan yang menangis berlari dengan tubuh babak belur. Dirinya bergerak cepat hendak mengetahui apa yang terjadi. Hanya Cantika yang berada dalam ruangan, rumah besar tersebut.


"Dia memang pantas dipukul," jawaban dari Cantika tertunduk, dengan air mata yang mengalir."Orang rendahan seperti mereka, hanya bisa mencuri atau berharap menemukan uang di jalan. Tau apa mereka soal susahnya mencari uang."


"Mereka miskin tapi mereka---" Kata-kata Welan disela.


"Pak Welan, ayo kita makan siang," ucapnya tersenyum, mengantarkan Welan ke ruang makan. Sebuah perlakuan yang benar-benar berbeda dengan pelayan tadi.


*


"Orang desa sialan itu ternyata pelaku yang sebenarnya. Terimakasih pak Welan sudah menyelamatkanku," ucapnya penuh senyuman, kala telah selesai makan menghabiskan waktu dengan Welan di ruang tamu.


Peringai yang tidak dimengerti oleh Welan. Namun mungkin satu hal yang membuatnya tidak mengerti sampai saat ini."Kenapa Warto ingin membunuhmu?"


"Ini rahasia diantara kita saja. Aku dan kedua temanku membunuh kekasihnya. Kami benar-benar tidak sengaja, dia datang ke ruangan rektor kemudian menjelek-jelekkan kami. Karena itu kami membunuhnya, kami juga memberikan uang kompensasi yang cukup besar pada keluarga mereka. Dimana salah kami? Tiba-tiba pria br*ngsek itu datang dan membunuh kami satu persatu." Kalimat darinya tiba-tiba disela.

__ADS_1


"Jadi kamu membunuh kekasihnya?" gumam Welan gugup. Wanita itu mengangguk polos membenarkan.


Ini sama sekali tidak ada di fikirannya. Pemuda yang menjambak rambutnya sendiri. Bingung harus bagaimana.. Hanya satu jalan yang dipilihnya, menyembunyikan segalanya. tetap saja Warto sudah mati. Mayat tidak dapat untuk bicara. Tidak ingin nama baiknya rusak haya karena orang-orang mengetahui cerita sesungguhnya.


*


Sekitar dua minggu setelahnya, terdapat sebuah berita yang sempat viral. Cantika yang lumpuh ditenggelamkan paksa oleh pembantunya hingga tewas.


Seperti air yang mengalir, lama kelamaan, cepat atau lambat akan menggapai laut. Namun, tidak begitu bagi Welan, hingga saat ini menutupi segala hal yang diketahuinya tentang Cantika. Menganggap dirinya tidak mengetahui apapun, tidak memiliki bukti nyata menjadi alasan dalam hatinya.


Tetap menyalahkan Warto sebagai seorang pembunuh yang rendah.


*


Sedangkan di tempat berbeda Kara menghentikan langkahnya. Menatap ke arah istrinya yang masih duduk di kursi roda.


"Aku mendengar kabar, sebentar lagi kamu wisuda." Ucapnya pada Kara.


Dengan cepat Kara mendorong kursi roda istrinya, kembali memasuki kamar mereka."Iya, sebentar lagi aku wisuda," ucapnya.


Shui tersenyum simpul, menghela napas kasar. Mulai bangkit dari kursi roda seiring dengan tertutupnya pintu kamar.


"Sonya setiap hari menemuimu di kampus untuk---" Kata-katanya terhenti, pemuda itu tiba-tiba berada di hadapannya.


"Dia menemuiku untuk tujuan buruk. Tapi kenapa kamu bisa tahu? Kamu memata-matai ku?" tanya Kara, mengangkat sedikit dagu Shui.


"A...aku tidak," ucapannya kembali terhenti. Kara mengecup bibirnya hanya kecupan sekilas.


"Jangan terlalu banyak berfikir. Anakku sudah ada di dalam sini. Dia harus berkembang dengan baik," ucapnya, meraba perut istrinya.


"Bagaimana bisa ada anak? Siklus bulananku belum---" Kata Shui disela.

__ADS_1


"Sudah ada, panggil aku Junichi jika kita hanya berdua," bisiknya.


__ADS_2