
"Setelah ini aku akan menyerahkan diriku pada pihak kepolisian. Setelah kematian Cantika," gumamnya, terlihat tersenyum.
"Bisa kamu melupakan dendammu? Aku akan membuatmu bisa melupakan dendammu sepenuhnya." Kara melangkah, hendak menghentikan iblis yang ada di belakang Warto. Menginginkan pemuda itu memiliki kesadaran sepenuhnya, terlepas dari pengaruh napsu dan dendam duniawi. Belajar menerima dan memperbaiki kesalahannya.
"Apa orang-orang keji seperti mereka pantas hidup?" tanyanya tersenyum dengan air mata yang mengalir.
Kara mulai duduk, menyadarkan tubuhnya pada pembatas gedung."Adakah makhluk yang tidak pantas hidup?" tanyanya penasaran.
"Ada, tentu saja ada. Kamu fikir kenapa Agustin dan Shela bersedia berhubungan badan denganku? Aku menunjukkan status asli keluargaku dan isi dompetku. Hanya dengan modal wajah dan uang mereka menempel. Tidak peduli aku merenggut kesucian mereka di tangga darurat atau ruang olahraga. Wanita-wanita yang berpura-pura polos, tapi tingkahnya seperti wanita penghibur..." Cibirnya dengan bibir bergetar.
"Status? Apa status yang kamu miliki?" Kara mengenyitkan keningnya.
"Aku keturunan darah biru, memiliki hektaran sawah dan perkebunan di desa tempatku tinggal. Memiliki kekasih yang jauh lebih muda, ingin melanjutkan kuliah ke kota. Aku berkata ingin membiayai kuliahnya, tapi dia tidak bersedia. Membawa uang tabungannya untuk membuat usaha di kampus, membuka kantin. Dia selalu berpenampilan sederhana, menjaga diri hanya untuk menikah denganku."
"Dua tahun dia kuliah sambil bekerja di kota, tapi yang pulang hanya mayatnya. Ada bekas luka dan jahitan di lehernya, beberapa lebam kecil di tubuhnya bagaikan wanita penghibur pinggir jalan yang meninggalkan bekas percintaan dari pria hidung belang. Tapi pihak kepolisian hanya tertunduk mengatakan pacarku meninggal bunuh diri."
"Ada tiga orang mahasiswi yang hadir, aku fikir mereka adalah sahabat dari kekasihku. Jadi aku hanya diam saja, sambil menurunkan peti kekasihku ke dalam liang kubur. Aku ikut memakamkannya, mengantarkan kepergiannya."
Nada suaranya lebih bergetar lagi, namun senyuman tetap menyungging di bibirnya."Aku tidak percaya pada penyidikan pihak kepolisian. Karena itu aku pergi ke kampus tempat kekasihku kuliah sekaligus berjualan. Sudah satu tahun aku bekerja disini. Membayangkan dia yang sudah meninggal memakai celana jeans dan kaos kebesaran, berjualan di kantin. Tapi itu hanya fatamorgana, aku ada disini untuk menyelidiki kematiannya."
"Tapi satu nyawa dibayar dengan tiga nyawa---" Kata-kata Kara disela.
"Tiga?" Pemuda itu tertawa kecil."Tepatnya bukan tiga, tapi mungkin hanya kekasihku yang bernasib sial."
__ADS_1
"Shela, Agustin dan Cantika. Tiga orang mahasiswi terpopuler di kampus ini, cantik dan pintar, menjaga kehormatan mereka bagaikan putri bangsawan. Tapi memiliki rasa iri yang tinggi, aku melihatnya sendiri beberapa bulan terakhir. Seorang mahasiswi yang menenangkan penghargaan dirampok orang tidak dikenal dan dilecehkan. Peraih mendali sains tingkat nasional, meninggal akibat kecelakaan. Mereka yang merencanakan semuanya. Tidak ingin ada yang lebih menonjol dari mereka." Jawabnya.
"Darimana kamu tahu kalau mereka bertiga yang membunuh kekasihmu?" tanya Kara, masih duduk di lantai menatap ke arah hamparan langit biru yang luas.
"Aku membuat Shela mabuk, sekitar empat kali minum bersama, menanyakan pelan-pelan padanya. Tiga orang terkeji di kampus ini yang pernah aku temui. Dia bahkan menceritakan secara detail."
"Kekasihku memergoki mereka membeli kunci jawaban evaluasi semester. Kekasihku memilih untuk diam, dia tidak ingin ikut campur. Tapi mereka takut ini akan terbongkar, mulai meneror kekasihku. Puncaknya hari itu, dimana kekasihku pergi ke ruangan rektor untuk membicarakan perpanjangan kontrak kantin kampus. Mereka mengira dia mengadu, jadi malam itu, mereka bertiga memaksanya meminum obat p*rangsang. Mengikatnya di tangga darurat kampus, menyaksikan sendiri beberapa orang suruhan mereka melecehkan kekasihku."
"Tidak hanya itu, tubuh kecilnya juga dibawa ke ruang olahraga untuk dinikmati disana. Hingga pada akhirnya, lehernya disayat, mayatnya dibawa kembali ke dalam kontrakan. Dibuat seolah-olah kasus bunuh diri. Orang tua mereka cukup memiliki kekuasaan untuk menghalangi kepolisian menyelidiki kasus lebih dalam."
"Apa mereka pantas hidup? Bayangkan jika itu terjadi pada kekasihmu. Apa kamu tidak akan menjadi gila? Mudah untuk bicara memaafkan. Tapi---" Kata-katanya terhenti mendengar tawa dari mulut Kara.
"Gila?" Tanya Kara, sekelebat matanya memerah. Kara menghela napas kasar masih menyenderkan punggungnya.
"Bunuh dia, aku akan berpura-pura tidak tahu. Tidak akan menghalangimu," ucapnya menepuk bahu Warto, berjalan berlalu meninggalkannya.
Pemuda desa yang juga tersenyum. Merasakan angin menerpa rambutnya, dirinya gila? Memang sudah gila, saat melihat bekas sayatan di leher istrinya. Serta tanda keunguan pada jenazah yang petinya dikuburkan olehnya. Tidak bolehkah dirinya gila.
"Kenapa kamu setuju, tidak langsung memenjarakanku?" tanya Warto.
Kara menghentikan langkahnya."Kekasihku mati saat acara pernikahannya. Dia menusuk dirinya sendiri, hingga aku tidak punya tempat untuk balas dendam. Jika saja dia mati dibunuh oleh suaminya saat dipaksa melayaninya di tempat tidur. Aku mungkin akan menjadi lebih keji darimu, membunuh ratusan bahkan ribuan orang karena dendam..."
Pemuda yang melanjutkan langkahnya berpura-pura tidak mengetahui apapun. Apa jalan yang dipilihnya salah? Salah tapi juga sebuah jalan yang benar. Tidak ada sesuatu yang benar 100%.
__ADS_1
Ikut merasakan rasa sakit yang sama. Berjalan menuruni tangga darurat.
*
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana sang security dapat membuat alibi dan keterangan sesuai dengan waktu?
Shela yang pertama didekatinya. Walaupun aslinya keturunan darah biru dan berasal dari keluarga konglomerat. Shela tidak akan mempertaruhkan harga dirinya dengan mengatakan pacarnya seorang security.
Dengan bujuk rayuan Warto, menyerahkan kesuciannya di tangga darurat menuju atap. Hingga kala dirinya dipeluk oleh seseorang yang dianggapnya sebagai kekasih bagian tengkuknya dipukul hingga tidak sadarkan diri.
Menjatuhkan tubuh wanita itu dari atap. Apa dirinya salah? Hanya dirinya yang melecehkan mereka. Namun kekasihnya digiliri beberapa pria.
Begitu juga dengan kematian Agustin. Malam itu dirinya meletakkan handycam di dekat gerbang depan. Memastikan siapa saja yang melewati post security kala dirinya tidak ada di tempat. Hingga dapat membuat alasan berkeliling kampus, pada waktu-waktu tersebut.
Pukul 22.00 hingga 22.45 Cantika ada di post security. Tentunya dirinya harus membuat alasan berkeliling.
Pukul 00.00 hingga 00.15 dirinya terlihat keluar dari kampus dengan alasan membeli makanan. Sejatinya? Menyingkirkan barang bukti.
Entah apa yang akan terjadi. Hati berselimut dendam. Hingga saat ini Cantika yang masih hidup, dengan percaya diri mengatakan dirinya dan ketiga temannya tidak pernah melakukan hal buruk.
Tidak pernah melakukan hal buruk? Lalu kenapa Warto tidak dapat menikahi kekasihnya. Wanita yang telah dibuatkan koperasi desa olehnya, mengingat sang kekasih calon sarjana akutansi dan manejemen.
Bayangan dalam imajinasinya memudar. Menginginkan memiliki keluarga kecil di desa. Dirinya yang meninjau lahan sedangkan kekasihnya mengantarkan makanan. Memakan ubi bakar di tepi sawah, bergurau dalam kebersamaan yang sederhana.
__ADS_1
Dirinya sudah gila, memang sudah gila. Karena merindukan dan mencintainya yang telah terkubur di dalam tanah