Greatest Husband

Greatest Husband
Bidak Catur


__ADS_3

Mobil mulai melaju meninggalkan area yang dipenuhi dengan ilalang. Perlahan masuk ke area pedesaan, cukup jauh memang sekitar satu setengah jam perjalanan menuju kediaman keluarga Murren.


Shui menatap ke arah jendela, wajahnya kini dapat tersenyum menghela napas berkali-kali. Matanya sedikit melirik ke arah Kara. Jatuh cinta? Apa mungkin dirinya jatuh cinta pada pemuda tengil ini?


Dalam bayangannya mungkin tipikal pria yang disukainya adalah pria dewasa yang matang dalam pemikirannya. Namun, entah kenapa Kara memberikannya perasaan nyaman yang tidak dapat dielakkan.


"Kenapa terus melihatku? Apa karena aku tampan? Karena itu kamu menyukaiku?" tanya Kara.


"Ada sedikit rambut di lubang hidungmu yang terlihat," jawaban Shui mengalihkan pandangannya, membuat alasan.


Dengan bodohnya Kara melepaskan salah satu pegangannya dari setir. Kemudian memeriksa lubang hidungnya."Tidak ada," ucapnya.


"Kara kamu benar-benar tidak bernapsu padaku? Menurutmu sebagai pria, aku kurang apa? Apa terlalu kurus?" tanya Shui, benar-bebar penasaran. Pemuda yang memandikannya, tapi tubuhnya tidak bereaksi sama sekali. Apa dirinya kurang menarik?


"Tidak ada yang kurang. Aku hanya tidak bernapsu." Jawaban darinya masih fokus pada jalan raya.


"Kamu menyukai Herlan? Bermain pedang-pedangan? Tapi kata Sonya kamu pernah tidur dengannya?" tanya Shui benar-bebar penasaran tentang sosok suaminya.


Bug!


Kara memukul stir hingga sedikit bengkok. Tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan pedesaan yang sepi. Wajahnya tersenyum, tapi lebih tepatnya berusaha tersenyum.


"Menyukai sesama jenis? Tidur dengan anak selir (Sonya)? Apa saja yang ada di fikiranmu tentangku?" tanyanya lagi, benar-benar kesal.


Shui menelan ludahnya, sedikit melirik ke arah setir yang bengkok. Apa mobilnya sudah sempat di modifikasi oleh Kara? Sehingga bahan setirnya diganti dengan kawat dilapisi karet? Mungkin Itulah yang ada di benak Shui.


Dengan lugunya wanita itu menjawab sungguh-sungguh."Apa mungkin kamu impoten? Tidak bisa berdiri? Ingin aku membiayaimu berobat?"

__ADS_1


Kara tertawa kecil."Tidak bisa berdiri?" tanyanya memastikan. Dengan cepat Shui mengangguk.


"Aku hanya dapat mengendalikan diri. Bukan berarti aku tidak normal." Jawab Kara melepaskan sabuk pengamannya.


Dagu Shui disentuh menggunakan jarinya. Menatap lekat ke arah matanya. Dua pasang mata yang bertatapan sesaat. Perlahan Kara semakin mendekat, menjilat bibir sang wanita.


Dengan bodohnya Shui membuka mulutnya, membalas permainan lidah suaminya. Hanya sesaat dirinya benar-benar menikmati ini, hanya permainan lidah yang saling menyapa di luar mulut, hingga berubah menjadi ciuman yang menuntut.


Jantung yang benar-benar bodoh, detaknya kini tidak teratur. Ini benar-benar nyaman, kala darahnya berdesir, mengalungkan tangannya pada leher Kara.


Hingga ciuman itu terlepas."Aku dapat mengendalikan napsu dan keinginanku dengan sangat baik. Jika kita lanjutkan aku dapat mengambil kesucianmu. Apa itu yang kamu inginkan? Memiliki anak dariku? Tidak takut aku tinggalkan?" tanyanya.


Pertanyaan macam apa itu? Seharusnya ketika seorang pria menggoda wanita untuk menyerahkan mahkotanya, hanya bertanya 'Bolehkah?' Atau berkata,'Aku sudah tidak dapat menahan diri lagi aku menginginkanmu.' Bahkan orang yang belum menikah akan lebih lembut lagi.'Jika kamu hamil aku akan bertanggung jawab, tidak akan mengkhianatimu.'


Tapi ini? Suaminya seakan mendorongnya menjauh. Shui menghela napas kasar, orang yang dicintai suaminya tetap saja Sonya adik beda ibunya. Seharusnya dirinya sudah dapat menduga, pria mana yang tidak ingin memiliki keturunan dari istri sahnya.


"Bagus, pintar," hanya itu kata-kata dari Kara kembali mengemudikan mobilnya. Pemuda yang hanya terdiam, perlahan terkadang dirinya menganggap Shui adalah Fu. Mungkin hal itu yang membuatnya merasa aneh dan tidak nyaman dengan kata-kata Shui. Tidak ingin memiliki anak darinya?


Wajahnya tersenyum, namun hatinya benar-benar merasa konyol. Shui dan Fu adalah dua orang yang berbeda, mengapa? Perbedaan karakter yang mendasar baginya.


Benar-benar dua orang yang tidak menyadari segalanya. Kala perasaan mereka terkait dalam diam dan penolakan, mengelak segalanya, tapi juga mendamba.


Sungguh konyol bukan? Mungkin akan ada saatnya kala mereka akan mengetahui segalanya. Apa akan terlambat? Atau dapat mengikat mereka mengubah takdir yang terjadi di kehidupan sebelumnya.


"Kara, apa kamu ingin bekerja sambilan? Aku akan memberikan pembagian keuntungan padamu. Aku tidak bisa menghendel usaha sampinganku. Belum menemukan pengganti posisi Azra. Bisa kamu bekerja sama dengan Fahira?" tanya Shui. Memang saat ini belum ada orang yang dapat dipercayai olehnya.


"Apa menghendel usaha dapat memperluas kekuasaanmu?" tanya Kara mengenyitkan keningnya, wajahnya tersenyum tetap menganggap Shui batu pijakannya.

__ADS_1


"Tentu saja, kamu juga akan mendapatkan uang yang cukup banyak, dapat membeli apa saja. Asalkan tetap buat usaha sampinganku berkembang." Jawab Shui tersenyum penuh rencana, suami yang pintar tapi lugu, tidak akan sadar jika sudah dimanfaatkan. Saat dirinya sudah menemukan orang lain untuk menghendel bisnis sampingannya lagi, dirinya dapat tetap menceraikan Kara sekitar satu atau dua tahun lagi. Lagipula pria br*ngsek ini menyukai Sonya bukan? Musuh dalam selimut.


"Aku setuju!" ucap Kara membalas senyumannya. Memperluas kekuasaan Shui Murren, setelah itu menjadikannya batu pijakan. Merebut miliknya, hingga berada di puncak. Menemukan reinkarnasi kekasihnya, Fu. Hidup bahagia dengan Fu, tidak mempedulikan wanita kurang ajar ini. Lagipula tidak mungkin Fu terlahir sebagai wanita menyebalkan bukan? Benar-benar gajah di pelupuk mata tidak terlihat, namun micro plankton di seberang lautan terlihat.


Dua orang picik dengan tujuan buruk. Saling mencintai, tapi juga saling mengelak, saling memanfaatkan, juga saling membenci.


*


Liburan semester, dari universitasnya, membuat Kara dapat tinggal di restauran dengan bebas. Sementara Fahira mengurus hotel dan restauran secara random.


Seperti sudah diduga, Azra menyewa gedung di seberang jalan. Membuat restauran dengan konsep serupa dengannya. Namun, nomor travel, pelanggan kalangan menengah keatas semuanya dimiliki oleh Azra.


Pria yang benar-benar ingin menyingkirkan Kara. Acara pembukaan restauran seberang terlihat. Restauran J&W milik Murren benar-benar sepi, hanya ada beberapa pelanggan disana. Sedangkan restauran Diamond yang baru dibuka dipadati pengunjung.


Kara mengenyitkan keningnya, beberapa koki dan pelayan yang berpihak pada Azra juga tiba-tiba berhenti pindah ke sana.


Azra menyambut tamu yang masuk di depan restaurannya. Tersenyum mengejek pada Kara yang duduk meminum orange juice.


"Kara apa yang harus kita lakukan? Apa tidak sebaiknya menghubungi Shui atau Fahira?" tanya Herlan yang kini memakai pakaian kasir.


"Tidak perlu, walaupun melihat kita terpuruk, dia akan berbuat kecurangan yang lebih buruk lagi, agar restauran ini rata dengan tanah," jawaban santai dari Kara, mulai membuka media sosial, mencari data gadis-gadis yang mungkin kepribadiannya mirip dengan Fu.


"Itu artinya Azra tidak akan diam saja? Membuat masalah yang lebih besar? Bagaimana ini? Cepat hubungi istrimu!" teriak Herlan panik. Pemilik restauran di seberang sana benar-benar bagikan Sengkuni baginya.


Kara tetap diam saja, segala tindakan bagaikan papan bidak catur. Istrinya benar-benar pintar, tidak akan ada langkah yang salah. Hingga suara teriakan terdengar di restauran milik Shui.


"Tolong! Ada orang keracunan! Tolong!"

__ADS_1


__ADS_2