
Shui mengenyitkan keningnya, menatap ke arah suaminya. Merasakan firasat yang aneh ada yang tidak beres. Wanita itu berjalan dengan cepat, mengganti pakaiannya sendiri kemudian membungkus diri menggunakan selimut.
Kara menghela napas, mulai berbaring."Shui kamu tidak mau?" tanyanya.
"Tidak mau apa?" tanya Shui sudah dapat menebak arah pembicaraan mereka.
"Punya anak," jawaban dari Kara berbaring di samping Shui menatap ke arah langit-langit ruangan.
Shui terdiam sesaat, dugaannya salah Kara tidak memintanya untuk berhubungan. Dirinya kini beralih menatap ke arah suaminya."Setelah satu atau dua tahun kita bercerai. Kamu dapat menikah dengan Sonya tanpa beban. Jika ada anak maka---"
"Anakku sudah ada di dalam sana, dari hari pertama kita melakukannya. Sekitar tiga minggu yang lalu, jantung kecilnya mungkin mulai tumbuh. Bau darahku ada disana, Apa kamu tidak akan mencintainya?" tanya Kara.
Mungkin Fu sudah jauh berubah, itulah yang ada dalam fikirannya. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Namun, putranya sudah tumbuh, bahkan Kara mengetahui gender anaknya.
Aroma yang berbeda, dirinya sensitif mencium aroma manusia. Darah, daging, semuanya memiliki rasa dan aroma yang berbeda. Mungkin karena hidupnya ratusan tahun silam, kala ibunya masih hidup. Membawa sisa bangkai manusia dari medan perang untuk dimakan oleh putranya.
Mengerikan bukan? Namun, itulah dirinya, kasta terendah. Hingga biku yang membuat kesalahan dengan membunuh ibunya, menjaganya, mengajarinya untuk mengendalikan nalurinya, tidak hanya itu diperlakukan bagaikan anak manusia. Diajari menulis dan berbagai ilmu pengetahuan.
Tapi manusia akan menua dan mati, begitu juga sang biksu. Dirinya yang mengubur sang biksu saat itu. Kemudian belajar lebih banyak lagi tentang sihir, sesekali memakan jantung iblis.
Tinggal seorang diri di tengah hutan kabut yang diciptakannya. Kasta yang terendah? Tapi tidak dengan kemampuan dan pengetahuannya saat itu.
Ini benar-benar aroma darahnya sendiri. Putranya kini berada dalam tubuh Shui, seorang anak yang akan memiliki wujud manusia, tapi bukan manusia seperti sang ayah. Apa Shui tidak menginginkannya? Satu lagi yang kini disadari Kara, tubuh ini sudah sepenuhnya menjadi miliknya.
Bahkan setiap aliran darah kini hanya ada darahnya, tidak ada darah Kara yang asli sedikitpun. Pertanda Kara yang asli tidak dapat kembali, mungkin sudah mendapatkan penghukuman dan menjalani reinkarnasi.
Sedangkan Shui tiba-tiba memeluknya dari samping."Aku menginginkanmu. Walaupun kamu berbohong mengenai ada anak dalam kandunganku. Jujur saja, aku takut kamu meninggalkanku."
"Aku tidak dapat berjanji, tapi aku ingin tetap disampingmu." Kata-kata dari Kara, mendekatkan bibir mereka. Perlahan kembali saling memangut, hingga mengecup beberapa kali.
"Ini menyenangkan, aku akan melakukan lebih," bisiknya di telinga Shui.
__ADS_1
Bibir itu kembali berpangutan. Benar-benar menyenangkan baginya. Membuka kancing kemeja istrinya, hingga teronggok di lantai. Begitu juga dengan pakaiannya sendiri.
"Sudah aku duga, ini akan diakhiri dengan perilaku mesumnya." Gerutu Shui dalam hati.
Dan benar saja, jantungnya berdegup cepat kala bibir pria itu berjalan di penjuru tubuhnya. Shui hanya dapat memegang sprei menggigit bibir menahan racauan yang hendak keluar dari bibirnya.
Mencengkeram rambut pendek suaminya."Kara..." lirihnya bagaikan kehilangan pijakan, kala berkali-kali suara decapan terdengar.
Mulut itu terus mempermainkan tubuhnya. Tidak dapat berbuat apapun, tubuh wanita itu bergetar hebat. Dapat dirasakannya, kulit tubuh yang bersentuhan sempurna.
"Kara! Agh!" gumamnya lagi dan lagi. Kala merasakan tubuhnya menyatu sempurna. Terasa terombang-ambing, tubuhnya bergetar tiada henti. Jantungnya berdegup cepat, sang pemuda yang memangut bibirnya.
Rasa itu tiba lebih dalam, mengalungkan tangannya pada leher Kara. Lidah yang masih bermain-main.
"Ugh..." dirinya tidak dapat mengatakan apapun. Wajah pemuda yang menguasai tubuhnya ditatapnya.
Bukan seperti wajah Kara yang menggebrak meja, menolak perjodohan dengannya. Wajah yang berbeda.
"Aku juga..." Hanya itulah ucapannya, mengecup kening istrinya. Melanjutkan segalanya.
Pakaian yang berceceran di lantai terlihat, sesekali wanita itu melirik ke arah cermin. Menatap tubuhnya yang dikuasai. Apa suaminya akan meninggalkannya? Hanya itulah yang ada di fikirannya saat ini.
*
Kala diri Shui benar-benar kelelahan, Kara mengakhirinya. Mengalirkan cairan tubuhnya mendekap tubuh itu erat. Kini hanya sehelai selimut putih tebal yang menutupi tubuh mereka.
"Aku mencintaimu, dulu dan sekarang," bisik Kara.
Wanita itu menatap wajahnya, namun telah kelelahan. Hingga hanya mengeratkan pelukannya pada suaminya. Matanya mulai terpejam tengelam dalam mimpinya sendiri.
Seorang pemuda berpakaian hitam terlihat disana. Menggunakan pakaian panjang, wajahnya menyerupai Kara. Terdiam menulis menggunakan kuas, sejenak kemudian kembali menggosok tinta. Membuat lebih banyak tulisan lagi.
__ADS_1
"Junichi" panggilannya refleks, dengan air mata mengalir. Ini mimpi yang aneh benar-bebar aneh.
"Hal yang harus kamu pelajari saat kepergianku." Ucap pemuda itu tersenyum, tapi sirat mata kesepian ada di sana.
Shui seolah tidak dapat mengendalikan dirinya, bagaikan ini hanya lintasan memori masa lalu. "Kamu tidak harus melakukan ini! Jangan pergi," pintanya.
Pemuda yang wajahnya menyerupai Kara saat ini mendekat. Mengacak-acak rambutnya."Aku pernah kehilangan orang tua. Kamu tidak boleh, karena itu tunggu aku, aku akan pulang," ucapnya menyematkan cincin giok berwarna hitam di jari telunjuk kekasihnya.
"Aku akan pulang," Air mata pemuda berwajah dingin itu mengalir, mencium bibir kekasihnya. Shui tidak mengerti, ada kesedihan disana. Dirinya benar-benar bagikan hanya menonton segalanya dalam tubuh sang gadis. Merasakan kepingan memori masa lalunya.
Sang pemuda melepaskan pangutan bibirnya."Jaga dirimu," kata-kata darinya hendak bangkit.
Sang wanita tidak membiarkannya, membuka seluruh pakaiannya. Memeluk pemuda yang hendak melangkah pergi dari belakang.
"Ji...jika kamu menyentuhku. Ji ...jika aku hamil, ayahku tidak akan mempunyai pilihan. Aku ingin bersama denganmu, a...aku ingin memiliki anak darimu..." pintanya mendekap tubuh kekasihnya dari belakang.
Menjadi lebih murahan, menjadi lebih murahan lagi untuk bersamanya."A...aku mohon. Junichi, jika aku berkata pada ayahku maka---"
"Usiamu saat ini 16 tahun, terlalu rapuh untuk melahirkan anak. Aku---" Kali ini kata-kata sang pemuda di sela.
"Semua putri bangsawan menikah di usia muda memiliki anak! Aku akan hidup! Hanya melahirkan! Aku---" Kalimat sang wanita terhenti, sang pemuda melepaskan pelukannya.
"Tidak semua dari mereka dapat hidup. Jika perdana menteri, memberikan restunya padamu. Kita akan menikah, saat usiamu sudah cukup, aku akan berbagi kamar denganmu. Membiarkanmu menjaga anak kita, tapi tidak sekarang." Ucap sang pemuda, meraih pakaian kekasihnya, memakaikannya.
Berbalik pergi melalui pintu depan.
Sang wanita duduk di lantai kayu yang dingin, menatap kepergian sang pemuda dengan air mata mengalir. Tubuhnya tidak tertutup pakaian sempurna, menunduk, dan menangis menatap kepergian sang pemuda di tengah kabut.
Shui tiba-tiba terbangun, terdiam sesaat, mimpi yang benar-benar aneh. Matanya sedikit melirik ke arah Kara yang masih tertidur.
"Karenamu aku bermimpi aneh!" ucapnya mulai bangkit membersihkan dirinya. Meninggalkan suaminya di tempat tidur. Sedangkan Kara tersenyum simpul, masih dengan mata terpejam.
__ADS_1