Greatest Husband

Greatest Husband
Pesan


__ADS_3

"Serang!" teriak sang perdana menteri, kini telah mengepung pasukan jenderal. Raja Yan telah terbunuh beberapa jam yang lalu. Kabut yang pekat kini perlahan mulai menipis entah karena apa.


Suara pedang, perisai dan tombak yang beradu terdengar.


Srash!


Darah terciprat, pada akhirnya mereka akan dapat melindungi perbatasan kerajaan, sekaligus melindungi penduduk. Ini sudah cukup untuknya, perdana menteri dengan mata yang kini tidak menginginkan kekuasaan lagi. Ketakutan akan peperangan.


Matanya menatap sang jendral yang dikepung para prajuritnya. Tiga anak panah tertancap di tubuhnya tapi masih dapat untuk bergerak.


"Kamu fikir putrimu tidak akan bernasib sama seperti putriku? Ketika ada selir lain yang lebih sempurna, putrimu hanya akan berakhir sebagai wanita murahan di hadapan kaisar." Senyuman terlihat dalam tawa jendral yang hampir mati kehabisan darah.


"Aku tidak sepertimu yang menginginkan kekuasaan lagi. Aku adalah orang yang tau diri," kata-kata yang tidak dimengerti sang jendral.


Perdana menteri menunggang kudanya hendak berbalik. Hingga suara jeritan terakhir dari jendral terdengar, mungkin prajuritnya sudah menikam tubuh sang jendral.


Kabut yang menipis kini menghilang sepenuhnya. Begitu juga kupu-kupu hitam yang menghilang bagaikan terbakar habis.


Sang perdana menteri tersenyum, mulai menunggangi kudanya hendak kembali. Tidak membawa apapun untuk putrinya, sang ayah yang tidak kembali bersama pasukannya. Tidak sabar lagi melihat wajah bahagia putrinya kala dirinya akan menuruti semua keinginannya.


*


Junichi menutup matanya, kemudian mulai terbuka kembali, terlihat bola mata yang normal. Dirinya yang menggagalkan pertapaannya sendiri pada hari ke 99, membuat luka di tubuhnya tidak dapat pulih. Tubuhnya benar-benar rapuh layaknya manusia.


Mengapa? Karena ini adalah pilihan Fu, dirinya akan melepaskan tanda yang ada di belakang leher kekasihnya.


Matanya masih mengetahui segalanya, tepat ketika pernikahan, dirinya akan melepaskan tanda yang dibuatnya. Mengapa? Junichi ingin menyaksikan kebahagiaan kekasihnya, melalui mata Fu yang masih terhubung dengannya.


*


Langit luas ditatapnya dari dalam tandu. Gadis rupawan dengan pandangan mata kosong, tanpa ekspresi sama sekali.


Apa yang dicarinya di dunia ini? Tidak ada, itulah jawabannya. Tempat untuknya bersembunyi telah menghilang, gadis yang melangkahkan kakinya turun dari tandu.


Pelataran istana yang luas, beberapa bendera terlihat disana. Para prajurit juga berjaga, matanya menelisik, menatap diantara para prajurit.

__ADS_1


Wanita yang benar-benar rupawan. Membuat semua orang yang melihat melirik ke arahnya.


"Sebelum hamba memasuki istana dan resmi menjadi seorang selir. Hamba ingin mempersembahkan sebuah tarian untuk menyenangkan hati yang Mulia," ucapnya, masih berlutut di bawah tangga.


Jemari tangannya mengepal, tidak ada lagi tempat untuknya bersembunyi. Tidak ada lagi kesederhanaan yang dirindukannya.


"Ibu, ayah, Junichi---" batinnya tidak ingin mati. Tapi juga tidak ingin menjalani hidup yang melelahkan ini. Tidak ada yang tulus mencintai sebagai tempatnya bersandar. Jika saja ibunya mencintainya, atau jika saja dirinya dapat mengikuti Junichi. Jika saja, yang tertinggal memang hanya kata, jika saja.


"Kamu pasti sangat senang akan menjadi selir kesayanganku bukan? Silahkan," perintah sang kaisar. Mungkin saja Jun yang membawa banyak bubuk mesiu, prajurit serta jerami sudah menyegel Junichi, hingga Fu tidak terpengaruh sihirnya lagi.


Fu mulai menari dengan kakinya yang lemah, setelah berlutut berjam-jam di altar leluhur setiap harinya. Sedikit pakaiannya tersingkap terdapat banyak bekas luka disana.


Musik tradisional dari beberapa musisi yang memang hadir untuk acara penyambutan sang selir. Bunga Peony yang indah bukan? Menunjukkan harum aromanya, betapa indah rupanya sebelum layu pada akhirnya.


Segala hal indah dalam hidupnya terbayang kini. Ibu yang mulai menata rambutnya setiap pagi, memujinya sebagai yang tercantik, sang ayah membawakan makanan untuknya sedatang dari negeri seberang. Bermain bersama Junichi di pinggir sungai. Suara seruling yang benar-benar indah, lembayung yang bagaikan mengikuti arah angin senada dengan gerakan bambu, tertiup angin dalam hutan berkabut.


"Makan yang banyak!"


"Biar aku yang mengajarimu!"


"Jika mereka tidak mencintaimu, ada aku yang peduli padamu. Milikilah kedudukan melebihi pria, maka kamu tidak harus merendahkan harga diri untuk menuangkan arak."


"Aku mencintaimu,"


Setiap detik hal yang menyenangkan dalam hidupnya terbayang. Termasuk pelukan ibunya sebelum dirinya memasuki tandu. Hidup ini indah bukan? Benar-benar indah, wajah yang tersenyum penuh syukur. Setidaknya dirinya pernah merasakan kebahagiaan. Lilin yang tertiup angin kecil membawa dalam kegelapan.


Srang!


Pedang diambilnya dari salah satu Kasim. Menarikan tarian pedang dalam gerakan yang lebih cepat. Namun, terlihat anggun, kini tidak ada yang tersisa. Kala melihat kepergian Junichi yang bahkan tidak berbalik sedikitpun padanya, bahkan dengan menjatuhkan harga dirinya serendah-rendahnya, kekasihnya tidak menyentuhnya, untuk mencari jalan pintas agar dapat bersama.


Semua lenyap begitu saja bagaikan debu. Semua rasa sakit di tubuhnya dirasakan olehnya kini. Apa salah satu tulang rusuknya retak? Entahlah, gadis yang tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya lagi.


Hingga pada gerakan terakhir, dirinya tersenyum di hadapan kaisar.


Cipratan darah terlihat, gadis itu menikam tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Aku mencintaimu...maaf," batinnya dalam tangisan terakhir.


Darah keluar dari mulutnya, tubuhnya roboh. Sakit? Tentu saja, menikmati saat ajal menjemputnya. Kala darah membasahi pakaian merah, mengalir, kontras dengan kulit putihnya. Dirinya tersenyum dalam tangisan, menyadari setitik cahaya lilin yang dimilikinya telah padam. Adakah kebahagiaan dalam hidupnya? Ada, dirinya pernah bahagia dan masih mengingat segalanya.


"Nona Fu!" teriak orang-orang dalam kepanikan. Darah mengotori cincin giok hitam pemberian kekasihnya.


"Sudah aku bilang sejak dulu manusia dan siluman tidak ditakdirkan bersama. Tapi pada akhirnya aku tetap hanya dapat mencintaimu," gumamnya tersenyum dengan air mata mengalir. Tidak ada kebahagiaan yang menunggunya setelah ini. Perebutan tahta untuk bersaing mendapatkan perhatian pria yang tidak dicintainya. Bukan itu masa depan yang diinginkannya.


*


Junichi berusaha bergerak, darah hijau mengucur semakin banyak dari tubuhnya."Jangan mati," pintanya. Pemuda yang ingin mengirim kupu-kupu hitam miliknya.


Ingin mengobati luka Fu dengan mengorbankan tubuhnya sendiri. Seekor kupu-kupu yang terbang namun tepat di mulut gua terbakar habis, oleh kertas mantra khusus yang dipasang oleh Jun.


Anak itu menitikkan air matanya tiada henti. Menggerakkan tangannya."Dia tidak akan dapat keluar, pasang bubuk mesiu dan jerami!" perintah darinya.


"Jun! Jun! Buka segelnya!" teriak Junichi dari dalam sana. Dirinya mulai tidak sadarkan diri, melemah karena banyaknya luka dalam yang dialaminya.


"Kak, maaf, aku menganggapmu seperti ayahku sendiri. Tapi ini demi adik dan kakekku," ucap Jun lirih, membakar satu kertas mantra lagi. Kemudian menerbangkan kertas mantra lain ke mulut gua.


Junichi yang ada jauh di dalam gua dapat mendengar segalanya."Buka beberapa detik saja. Tolong, aku ingin Fu hidup..." pintanya. Permintaan yang tidak diketahui oleh Jun.


"Ini adalah hari ke 99 pertapaannya. Tubuhnya lemah seperti manusia biasa. Nyalakan api," perintah Jun, bersamaan dengan prajurit yang menyalakan api.


Api mulai membakar gua."Kak, maaf, bencilah aku. Segel!" ucapnya.


Jaring rantai terbentuk di mulut gua, melilit kertas mantra yang mengapung menutup akses jalan. Penyegelan roh yang tidak mudah setelah tubuh dimusnahkan nantinnya.


"Fu..." gumam Junichi menyadari kekasihnya sudah tiada. Seorang pemuda dengan pakaian hitam dan rambut panjangnya. Tubuhnya mulai terbakar kobaran api.


"Jika dapat bertemu denganmu lagi. Aku akan egois, menjadi serakah memiliki segala hal untuk tetap denganmu. Ini salahku, seharusnya aku tinggal di hutan berkabut denganmu tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Maaf... maaf...ini salahku..."


Jiwa yang terikat, ditarik ke dalam neraka. Rantai yang akan menjeratnya, agar tidak dapat kembali ke dunia ini lagi. Sebuah jiwa yang penuh dengan dendam, dan rasa penyesalan.


*

__ADS_1


Bulu-bulu hitam berguguran terjatuh tertiup angin entah dari mana, sinar kebiruan terlihat menyelimuti, bulu-bulu hitam yang aneh.


Terjatuh perlahan di dekat tubuh mendingin seorang gadis, tepat pada hujan salju pertama yang turun. Mungkin hanya ingin melihat kekasihnya untuk yang terakhir kalinya, sebelum rohnya disegel. Atau mungkin hanya mengirimkan pesan rasa rindunya.


__ADS_2