Greatest Husband

Greatest Husband
Adik Ipar


__ADS_3

Suara tetesan air terdengar, dua orang yang berjalan menembus pemukiman padat penduduk. Mata Kara menelisik, hal yang aneh? Memang, segalanya terasa ganjil. Waktu kini menunjukkan pukul 3 pagi.


Hingga sebuah rumah bertingkat dua terlihat. Herlan menghela napas berkali-kali.


"Tempat orang jahat? Mungkin ini yang terdekat. Ini hanya gosip, tapi aku rasa ada benarnya juga. Banyak wanita hamil yang mendatangi praktek bidan ini. Tapi jarang ada suara tangisan bayi yang terdengar. Tempat aborsi, itu yang dikatakan orang-orang," ucap Herlan menghela napas kasar, mengantar Kara ke depan rumah tetangganya sendiri.


Kara terdiam, sifat alami yang mengetahui keberadaan bangkai."Ada banyak yang terkubur. Hubungi prajurit berpakaian abu-abu (polisi)," perintahnya mulai memasuki tempat praktek.


*


Hanya tempat praktek biasa. Seorang bidan yang mungkin berusia 40 tahunan ada di sana. Semuanya terlihat biasa-biasa saja, kala sang bidan melakukan pemeriksaan fisik padanya. Pemuda yang mengaku mengalami panas tinggi.


"Kamu tidak apa-apa, akan aku berikan beberapa vitamin saja," ucap sang bidan ramah. Tidak ada yang aneh, benar-benar tidak ada.


"Pacarku hamil di luar nikah. Keluarga kami tidak menyetujui, jadi apa kamu bisa membantuku?" tanya Kara.


Sang bidan tertunduk jemari tangannya gemetaran."Aku tidak bisa, maaf itu melanggar kode etik profesi,"


"Tidak bisa?" Kara mengenyitkan keningnya. Sang bidan mengangguk yakin.


Pemuda itu terdiam sesaat, tidak mungkin tidak. Ada puluhan janin yang terkubur di halaman rumah. Setidaknya hawa iblis yang menyengat benar-benar terasa, bagaikan bau makanan yang tercium menggoda.


Namun, bukan wanita di hadapannya, lalu siapa? Tidak, makanannya tidak ada disini. Lebih tepatnya belum ada disini, matanya terus menelisik menyusuri ruangan.


Pemuda yang tersenyum menghela napas kasar."Jangan menutupi dosa orang lain," hanya itulah nasehat dari Kara, meninggalkan dua lembar uang bergambar tokoh proklamator.


Pemuda yang berjalan meninggalkan rumah, rangkap tempat praktek tersebut. Tangan sang bidan gemetaran hingga saat ini. Air matanya mengalir, dirinya benar-benar ketakutan saat ini.


"Kenapa pergi begitu saja?" tanya Herlan berjalan mendekati Kara.


"Pelaku yang sebenarnya tidak ada disini. Tapi tempat ini tetap harus ditutup." Jawaban dari Kara, bersamaan dengan mobil kepolisian yang dihubungi Herlan berpapasan dengan mereka.


Hanya tiga puluh menit, mereka menyaksikan segalanya. Bidan itu tertunduk menerima hinaan dari warga. Entah kenapa mengakui dosa yang tidak dilakukannya. Petugas kepolisian menemukan banyak janin terkubur di halaman, bahkan dalam septitang.


Telur dilempar pada sang bidan, bahkan warga yang emosi menjambak rambutnya. Hanya tertunduk dan tidak melawan, menggantikan pelaku sebenarnya.

__ADS_1


Kara hanya terdiam sesaat, menyaksikan sang wanita yang masuk ke mobil kepolisian dengan tangan diborgol."Itu pilihannya, aku iba padanya. Tapi terkadang kasih sayang yang buta pada orang yang salah, merupakan kebodohan mutlak," gumamnya.


"Iba? Dia membunuh banyak janin yang seharusnya dapat lahir!" ucap Herlan tidak mengerti.


Kara menggeleng, berjalan meninggalkan tempat tersebut."Kesalahan terbesar adalah orang tua yang menginginkan kematian anaknya. Lagi pula, tabib (bidan) itu tidak membunuh satu janinpun. Beberapa hari ini awasi tempat ini. Jika ada orang yang mencurigakan katakan padaku. Aku membebaskanmu dari tugasmu di restauran."


"Apa akan tetap digaji?" tanya Herlan antusias.


"Digaji penuh," jawaban dari Kara.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, udara dingin terasa masih menusuk. Kara memasuki kamarnya melalui balkon, menatap Shui yang masih tertidur nyenyak, sama seperti saat ditinggalkannya.


Sang pemuda yang menghela napas kasar, mulai membangunkan Shui. Mereka harus pergi ke rumah keluarga Kara pagi ini.


"Shui, sayang! Bangun!" ucapnya.


Shui membuka matanya, mulai duduk. Tidak mengatakan apapun padanya, meraih gagang telepon, menghubungi pelayan pribadinya."Aku ingin mandi," ucapnya menutup panggilan.


"Tidak perlu, meskipun sudah menikah kita harus menjaga batasan. Terlalu memalukan, aku merasa tidak nyaman setiap kamu memandikan, atau mengantarku ke toilet." Jawaban dari Shui tetap tersenyum.


Kara terdiam, entah kenapa jemari tangannya gemetar. Wajah dingin yang penuh dengan senyuman, itu ditatapnya.


Dua orang pelayan datang membantu Shui duduk di kursi roda. Mendorongnya menuju kamar mandi, hingga pintu kini tertutup.


Ada yang aneh dengan dirinya menatap sifat Shui yang berubah. Tetap diam, dan tersenyum, namun hanya senyuman yang terasa hambar.


*


Mobil mulai melaju meninggalkan kediaman keluarga Murren. Tidak satu patah katapun diucapkan Shui. Wanita yang sedari tadi memakai earphonenya, menghubungi seseorang menggunakan bahasa asing.


Berkali-kali Kara menghela napas kasar, tidak mendapatkan kesempatan bicara sedikit pun. Ada yang aneh ruangan kosong di dadanya, rasa yang benar-benar tidak nyaman.


"Sayang, nanti saat---" Kata-kata Kara kembali disela.

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan hadiah untuk keluargamu. Bonus ke rekeningmu karena berhasil menyaingi Diamond restauran juga sudah aku transfer. Kita menginap 3 hari 2 malam." Hanya itulah kata-kata dari Shui, sembari menyalakan laptopnya.


Selebihnya hanya bekerja. Menjaga jarak agar tidak terjerat. Pemuda ini hanya mencintai Sonya Murren, perasaan yang tidak mungkin berubah.


Kara menatap ke arahnya pandangannya tidak lepas dari Shui. Apa yang terjadi pada dirinya? Tidak boleh mencintai Shui, tapi perasaan ini benar-benar tidak nyaman.


Hingga sekitar 30 menit perjalanan gerbang besar rumah itu terlihat juga. Seorang security membukakan pintu.


Rumah yang cukup besar, walaupun tidak sebesar kediaman keluarga Murren. Farhan sudah berdiri tepat di pintu depan menyambut putra bungsu dan menantunya, ditemani Shim yang didampingi seorang perawat.


Memiliki tiga orang putra, namun hanya Kara yang sudah menikah. Sedangkan Defan dan Kerrel masih konsentrasi pada kariernya.


Bagaimana karakter tiga bersaudara itu terlihat dari luar? Defan, berprofesi sebagai seorang dokter, memiliki senyuman yang hangat, terlihat perasa dan sering takut membuat orang lain tersinggung. Kerrel, berprofesi sebagai direktur di perusahaan keluarga mereka, jarang terlihat tersenyum, bagaikan seorang pemimpin perusahaan yang keji, namun sifat dinginnya yang membuat wanita tergila-gila padanya.


Sedangkan si bungsu Kara, memiliki senyuman yang teduh, bersifat kekanak-kanakan. Namun berhati baik, tidak pernah iri atau memiliki ambisi.


Tiga bersaudara dengan sifat yang berbeda. Perlahan Kara turun dari mobil, sedangkan Shui dibantu turun oleh pelayan pribadinya. Bagaikan enggan meminta bantuan pada Kara.


Kursi roda yang didorong seorang pelayan wanita. Kara berdiri tepat di sampingnya.


Shim menunduk memberi hormat pada Kara. Bagaimanapun Junichi bagaikan seorang penolong di keluarganya dahulu. Semua tertulis dalam beberapa gulungan tua yang disimpan keluarganya. Bagaimana siluman itu mengajari sepasang kakak beradik tentang astrologi, dan sihir, membuat mereka menjadi cenayang yang dihormati. Sejarah kelam yang juga tertulis, bagaimana sang kakak menyegel Junichi, karena kaisar yang menahan adiknya.


"Shui kamu bertambah cantik saja, ayo masuk!" Farhan tersenyum menyambut menantunya.


Perlahan bagian dalam rumah dengan dekorasi minimalis itu terlihat. Seorang pemuda bangkit dari sana, membuka kacamata bacanya. Seorang pemuda yang tidak pernah dilihat Junichi yang kini berada di tubuh Kara sebelumnya.


Menebarkan aura mendominasi, mendekat ke arah mereka."Aku kalah!" gumam Kerrel tertawa, menatap ke arah Shui.


"Itu karena perencanaan kalian belum matang. Kirim proposal baru, maka akan aku pertimbangkan," jawaban dari Shui pada pemuda di hadapannya.


"Seperti biasa, kamu selalu dingin." Tanpa malu atau ragu Kerrel meraih pegangan kursi roda Shui. Mendorong adik iparnya menuju ruangan tengah.


Shim yang mengetahui segalanya, bahkan tentang Fu, kini berada di samping Kara.


"Mereka cocok bukan? Kerrel tidak pernah tersenyum pada wanita, dia selalu mengagumi Shui. Karena itu dia memilih tidak datang saat pernikahanmu dan Shui. Mungkin mereka yang bersama seperti ini akan mengingatkanmu dengan Fu. Aku berjanji reinkarnasi Fu akan segera aku temukan," Hanya itulah kata-kata dari Shim. Ingin menghapus rasa bersalah leluhur keluarganya ratusan tahun lalu. Mungkin hanya ini yang dapat dilakukannya.

__ADS_1


Kara tertawa kecil, sekelebat matanya memerah."Serasi?" gumamnya, bersamaan dengan beberapa pajangan gelas pecah tanpa ada yang menyentuh.


__ADS_2