Greatest Husband

Greatest Husband
Keabadian


__ADS_3

Benar-benar sudah terlanjur. Sang wanita yang kembali menyerangnya, menelan ludah berkali-kali. Cenayang muda yang tidak dapat dianggap remeh oleh Star kini. Jemari tangannya mengeluarkan cahaya, menyerang tangan Kara yang mencengkeram pergelangan tangan sang wanita.


Kara hanya terdiam tanpa ekspresi menatap sang siluman melompat mundur. Tangannya sudah terlepas, kemudian kedua ekor Star mulai kembali muncul.


Mata wanita itu menelisik mengamati pria di hadapannya sama sekali tidak mirip dengan Junichi. Namun, tetap saja menurut Herlan orang inilah yang mengalahkan para penjahat di villa walaupun dirinya tidak begitu yakin ini adalah Junichi.


Mengapa? Junichi tidak pernah tergoda dengan wanita, selain pada Fu. Perlahan Star mulai menyerang kembali, tidak ingin identitasnya terbongkar berharap dapat membunuh pemuda di hadapannya.


Kara mengenyitkan keningnya menatap wanita di hadapannya. Jemari tangannya mengepal. Mengapa setelah 500 tahun berhadapan dengan wanita ini lagi? Seekor rubah putih yang tinggal di hutan berkabut, berlindung meminta pertolongan dan tempat tinggal padanya.


"Aku akan membunuhmu! Agar tidak ada yang membocorkan identitasku!" itulah yang diucapkan sang wanita.


Kara hanya tersenyum tidak menjawab sama sekali, melangkah mundur hendak kembali masuk ke mobilnya. Dirinya lebih tertarik untuk kembali ke restoran, membanggakan yang mulia istri.


Namun wanita itu kembali menyerang, menghentikan Kara tangan Kara yang dicengkeramnya.


Brak!


Tubuh Star dibanting oleh Kara, kap depan mobil terlihat remuk."Uang ganti rugi!" Kara mengenyitkan keningnya, menadahkan tangannya


Seketika Star membulatkan matanya tidak mengerti dengan pemuda di hadapannya. Tubuhnya terasa sakit, namun tetap mencoba untuk bangkit.


"Apa kamu Junichi?" tanyanya dengan dengan terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, darah yang terlihat berwarna hijau pekat.


"Aku Junichi! Kenapa siluman sepertimu bisa sampai di sini?" tanyanya.


"Junichi!" teriak Star memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Kara hanya dapat menghela nafas kasar, bibirnya tersenyum simpul sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya tidak disangka dapat bertemu di negeri lain. walaupun Kara tidak mengharapkan pertemuan dengan wanita menyebalkan ini.


*


Tempat mereka bertemu dan berbicara saat ini ruangan VVIP restaurant. Duduk berdua di privat room, dengan Herlan menghidangkan makan malam untuk mereka. Suasana yang terlihat sangat hangat.


"Apa Kara berselingkuh?" batin Herlan tidak ingin majikannya bercerai dengan Shui Murren.


Sesama siluman, terlihat cantik dan sempurna, interaksi yang tidak biasa. Mungkin dalam pikiran Herlan wanita inilah yang dicintai oleh Junichi yang tengah ada dalam diri Kara.


Pria yang tidak ingin kehilangan sumber penghasilannya melangkah pergi. Komat-kamit menghina majikannya dengan suara kecil.


Brak!


Pintu ruangan ditutupnya dengan kencang. Dengan cepat meraih ponsel dari sakunya menghubungi Shui Murren untuk menghentikan kedekatan dua orang, tepatnya dua makhluk yang tidak memiliki interaksi biasa.


Jujur saja, walaupun telah memiliki kekasih, bagaikan terkena sihir. Herlan begitu mengagumi sosok Star, tentunya dirinya seorang calon suami yang buruk. Jika saja anak ibu kos mengetahui kekasihnya ingin berselingkuh, mungkin uang kos akan dinaikkan 4 kali lipat.


Saat itu hanya satu kata yang tersisa bagi Herlan."Mampus!"


Namun itu hanya angan, kenyataannya yang dicari oleh Star adalah Kara.


Setelah mengirimkan pesan pada Shui, Herlan kembali menguping pembicaraan mereka, walaupun tidak terdengar dengan jelas.


Suara apa yang ditunggunya? Mungkin suara ah... ah... ah... Kas orang kepedasan kala memakan makanan dengan banyak merica yang disajikannya. Atau mungkin suara ah yang lain mengingat dua sosok rupawan yang ada di sana.


Isi pikiran buruknya membayangkan Star ditaklukan oleh Kara. Mereka melakukannya di kursi bahkan di meja mengingat dirinya yang biasa ada di samping Kara, kini tidak diizinkan masuk oleh majikannya.

__ADS_1


"Dasar siluman! Seenaknya saja berbuat mesum di dalam restoran, hanya akan membawa sial!" Komat-kamit mulut Herlan mengomel menunggu kedatangan shui Murren di depan ruangan VVIP yang kini ditempati Kara dan Star


*


Star tersenyum terlihat lega, menatap Kara saat ini, semuanya masih terbayang olehnya. Hari di mana tubuh Junichi hancur, jiwanya disegel. Kabut yang terbentuk dari sihir Junichi lenyap, hutan berkabut tanpa perlindungan sama sekali.


Para manusia mulai berani menjamah hutan berkabut. Sekedar untuk menebang kayu dan mencari ginseng. Kala itu semuanya baik-baik saja hingga beberapa siluman mulai haus akan darah manusia. Serta manusia juga merusak hutan berkabut, untuk membangun pemukiman. Mengingat betapa suburnya tempat tersebut, serta penjaga hutan berkabut yang telah tiada.


"Kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Kara mengingat jarak dari negara ini dengan tempat mereka berasal cukup jauh.


"Aku beradaptasi, hidup berpindah-pindah menjadi selebriti yang kaya, kemudian berpura-pura mati di usia 50 tahun. Menarik koper pergi ke Eropa untuk menyembunyikan diri. Mengganti identitas baru, setelah itu hidup selama 25 tahun di tempat yang baru. Kembali pura-pura mati, pergi ke Afrika dengan identitas baru hidup di sana selama 25 tahun. Aku selalu berganti identitas, berganti profesi itulah hidupku. Kamu kenapa dapat lepas dari segel?" tanyanya penasaran.


"Pemilik asli tubuh ini, sudah mati bunuh diri. Aku hanya menggantikannya hidup kembali, mewujudkan keinginannya. Selain itu---"Kata-kata Kara terhenti sang pemuda yang tertunduk, tersenyum simpul mengaduk-aduk makanannya.


"Kamu menemukan reinkarnasi pacarmu?" tanya Star antusias, mengetahui hubungan Fu dan Junichi.


"Mungkin aku menemukannya, tapi setiap pertemuan akan ada perpisahan. Saat tidak bertemu dengannya, aku begitu merindukannya rasanya lebih menyakitkan daripada terlilit tanaman berduri. Tapi, setelah bertemu dengannya, aku takut kehilangannya takut tidak dapat membahagiakannya. Kini aku berpikir, jika saja di kehidupan yang lalu, dia menjadi selir Kaisar mungkin Fu akan hidup dalam kebahagiaan." Jawabnya tertunduk


Star terdiam sesaat, menatap ke arah langit malam, wajahnya tersenyum tepatnya berpura-pura tersenyum. "Selama ratusan tahun, aku hidup dengan berpura-pura menjadi manusia, lebih tepatnya menjalani berbagai zaman sebagai makhluk kekal. Kamu tahu apa yang terburuk? Melihat orang yang kamu cintai mati. Dan aku sudah mengalaminya."


"Manusia membakar hutan berkabut, karena salah satu anak mereka dimangsa oleh ras siluman. Aku melarikan diri saat itu dengan wujud rubah putih kecil berekor dua. Para cenayang menggunakan kemampuan mereka menyegel kekuatan kami, saat gerhana matahari penuh. Banyak siluman tingkat rendah yang terbunuh. Tapi aku cukup beruntung, seorang anak laki-laki dari saudagar kaya menyelamatkanku membawaku pulang sebagai peliharaanya."


" Awalnya aku membenci manusia, sangat membenci mereka. Membuatmu pemimpin dari hutan berkabut, mati dan tersegel. Membunuh siluman siluman yang tidak semuanya berbuat buruk pada mereka. Tapi entah kenapa anak saudagar itu begitu menyayangiku." Srar tersenyum lirih entah apa yang terjadi, air matanya mulai mengalir.


Dadanya terasa sesak mengingat segalanya. Tahun-tahun yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


"Apa yang terjadi? Tanya Kara.

__ADS_1


"Saat usia pria itu mencapai 17 tahun. Aku memberanikan diri menunjukkan rupa asliku, bukan sebagai hewan peliharaannya. Tapi sebagai wanita yang jatuh cinta padanya, pada awalnya dia takut padaku. Namun perlahan kami mulai saling mencintai."


__ADS_2