Greatest Husband

Greatest Husband
Salah


__ADS_3

Seorang dosen yang memiliki uang miliaran rupiah hanya untuk membeli lukisan? Pemuda itu sejatinya bukan berasal dari keluarga biasa. Ayahnya merupakan pemilik perusahaan ternama. Sedangkan pamannya memiliki bisnis di dunia hitam.


Dunia hitam dalam hal ini bukan mati lampu. Maksudnya memiliki berbagai bisnis gelap, seorang paman yang tidak memiliki anak, menginginkan Welan mewarisi usahanya.


Tapi tidak, pemuda itu lebih memilih hidup tenang menjadi seorang dosen. Karena itulah beberapa orang suruhan sang paman mengikutinya. Bertugas menjaga dan menghabisi orang-orang yang berkemungkinan mengancam nyawanya.


Termasuk malam ini, kala Foe melihat dari jauh Shui Murren menabrak majikannya. Kala itulah Shui Murren juga ikut dicurigai sebagai orang yang memang bermaksud membunuh Welan.


Tangan pemuda itu gemetaran, wajahnya pucat pasi tidak sedikitpun senyuman yang terlihat."Kalian membunuhnya? Kalian membunuh orang yang menabrakku?" tanyanya.


Foe mengangguk kemudian tersenyum."Dia memang pantas mati. Lihat! Berapa banyak luka gores di tubuhmu. Aku akan dihukum karena ini."


"A...aku menyukainya," Welan tertunduk air matanya mengalir. Entah kenapa ada perasaan aneh, bagaikan wanita yang baru ditemuinya adalah sesuatu yang ada di lukisan kuno yang dibelinya. Ada rasa sakit tersendiri yang menghujam terlalu dalam.


"Ka...kamu bilang apa? Kamu sembuh dari Objectophilla (kelainan jiwa, jatuh cinta pada benda mati)?" tanya Foe meyakinkan pendengarannya. Ini bagus, tuan muda yang dijaganya tidak terobsesi pada lukisan kuno lagi, artinya memiliki kemungkinan berkembang biak. Menghasilkan banyak keturunan nanti.


"Aku menyukainya! Aku menyukai wanita yang menabrak ku!" bentak Welan masih tertunduk. Sekelebat bayangan aneh terlintas, seorang wanita dengan pakaian kuno berwarna merah roboh, matanya terbuka, tubuhnya berlumuran darah segar. Rasa sakit yang aneh kembali menghujam dadanya.


Foe terlihat gelagapan, segera bangkit meraih earphonenya. Berjalan keluar dari ruangan. Dirinya dapat ditembak mati jika wanita si*lan itu mati. Mengingat setelah sekian banyak cara, tidak dapat menyembuhkan majikannya yang mencintai benda mati. Selalu mengikuti sebuah lukisan kuno ke setiap negara dimana pameran lukisan bersejarah itu diadakan. Dan kini? Saat mulai normal menyukai wanita dirinya malah membunuhnya.


Hanya satu kata yang tersisa."Mampus!"


Foe benar-benar bingung saat ini. Dirinya tidak tau harus apa lagi. Benar-benar dalam situasi hidup dan mati.


Hingga pada akhirnya mobilnya melaju ke pinggir jurang. Menjambak rambutnya kasar, menatap sebuah mobil yang teronggok tidak berbentuk. Menghela napas berkali-kali mencoba untuk tenang, menghubungi ambulance.


"Halo, ada kecelakaan mobil, lokasinya di tikungan dekat desa Gira," ucapannya, hanya dapat menunggu. Semoga solusi dari selera aneh Welan dapat selamat.


*


Shui mencoba mengobati luka suaminya. Tapi sama sekali tidak ada hasilnya. Darah hijau aneh itu tetap menetes, hingga pada akhirnya hanya di tutupi paksa.


"Aku memerlukan makanan." Hanya itu jawaban dari Kara.


"Tapi bagaimana?" tanya Shui lagi.


"Taruh perhiasanmu di atas meja ruang tamu. Jika ada yang mencurinya, bawa dia segera ke kamar ini." Pintanya bersungguh-sungguh.


Wanita itu menghela napas kasar, mengangguk pada akhirnya. Satu? Tidak, semua perhiasan diambilnya, diletakkan di atas meja ruang tamu sesuai perintah suaminya. Tugasnya? Hanya mengawasi dari atas, siapa yang akan mencuri perhiasan.

__ADS_1


Satu jam? Belum ada yang bergerak untuk meraih perhiasan-perhiasan bernilai tinggi, itu. Hingga sekitar dua setengah jam kemudian, seorang pelayan mengendap-endap melihat keadaan. Meraih salah satu cincin, meletakkan ke dalam sakunya sendiri.


Shui mengepalkan tangannya. Dirinya akan menumbalkan pelayannya? Ragu? Itulah yang saat ini ada di benaknya. Tapi Kara bilang, tidak memakan daging atau roh manusia. Jadi apa? Entahlah...


"Apa yang kamu lakukan!?" tanyanya dengan nada tinggi.


Pelayan wanita itu gelagapan, tertunduk."Sa... saya!"


"Bawa dia ke kamar suamiku!" perintah Shui pada dua orang security di belakangnya.


Kalimat dan kejadian yang benar-benar ambigu. Sang pelayan membulatkan matanya, pergi ke kamar suami majikannya? Otak yang berfikir otomatis, mungkin ini kejadian seperti rahimnya akan disewa agar dapat menghasilkan keturunan.


"Tidak nona!" teriaknya histeris ketakutan. Tapi hanya sejenak, mengingat wajah Kara yang rupawan.


"Rejeki nomplok!" batin sang pelayan wanita, tiba-tiba saja tidak melawan. Apa mungkin Kara akan meninggalkan Shui untuknya? Mungkin itulah yang ada di fikirannya saat ini.


Seperti instruksi Kara sebelumnya. Sang pelayan dimasukkan paksa ke dalam kamar. Kemudian kamar dikunci dari luar.


Brak!


Pelayan wanita yang didorong masuk, pelayan yang menatap ke arah Kara yang berada seorang diri di dalam kamar.


Dirinya dapat menebak apa yang terjadi, sudah pasti akan ditiduri untuk melahirkan anak. Setelah anak lahir dirinya akan diberikan sejumlah uang kemudian diusir.


Rasa takut menghujam dirinya, pemuda berambut hitam pendek, hanya memakai piyama berbentuk kimono.


Glek!


Dirinya menelan ludahnya sendiri, sang pemuda yang menatap tajam.


"Aku tidak rela, tapi ingin..." batinnya berfikiran yang tidak-tidak.


Hingga sang pemuda kini tepat berada di hadapannya. Tangan dengan kuku hitam itu meraba pipinya. Kemudian mencengkeramnya kuat."Kamu mencuri?" tanyanya.


Sang pelayan mengangguk, kembali menelan ludahnya sendiri."Tuan aku tidak mau di bawa ke kantor polisi! Ba... bagaimana jika aku tidur dengan anda sebagai gantinya?" pintanya tidak tahu malu.


Tentu sang pelayan mengetahui Kara juga berasal dari keluarga pengusaha. Bercerai dengan Shui Murren tidak akan membuatnya bangkrut.


"Pintar juga, tapi tidak. Omong-ngomong lumayan banyak juga ya," Kata-kata dari mulut Kara, memukul tengkuk sang pelayan hingga tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bagaimana bentuk iblis di belakangnya? Sudah cukup sempurna, pernah menggugurkan kandungannya sendiri. Mencuri uang dari keluarganya. Iblis yang hendak menyerang dengan hawa kebencian yang menyengat. Kala kuku-kukunya hampir mengenai wajah Kara. Saat itulah sang iblis tidak menyadari tangan pemuda itu merobek dadanya.


"Aku belajar bahasa asing belakangan ini. Go to hell,"


Kriak!


"Agghhh!" teriaknya, dengan tubuh menghilang bagaikan asap hitam. Menyisakan Kara yang menghancurkan jantung keunguan bagaikan kristal, hawa yang dihisapnya dari keping-keping yang melayang ke mulutnya.


Luka di sekujur tubuhnya perlahan memudar. Bahkan tidak menyisakan bekas sama sekali."Aku harus kuliah," gumamnya.


*


Shui mundar-mandir di depan pintu kamar. Yang ada dalam fikirannya saat ini, suaminya tengah meniduri sang pelayan. Kemudian menghisap sang pelayan hingga keriput. Ini seperti yang ada di film-film. Sudah pasti siluman akan berbuat demikian. Air matanya mengalir, terasa menyakitkan ketika membayangkan suaminya meniduri wanita lain.


Tok!


Tok!


Tok!


"Buka pintunya," Suara Kara terdengar dari dalam sana.


Shui dengan cepat menghapus air matanya sendiri. Membuka pintu yang terkunci. Wajah suaminya terlihat lebih segar, luka di sekujur tubuhnya menghilang. Memakai pakaiannya kasual dilengkapi blazer pria. Membawa kipas besar berwarna putih.


"Bawa wanita itu ke kantor polisi. Satu lagi, lain kali awasi keadaan rumah dengan baik." Perintahnya pada dua orang security sembari tertawa aneh.


Dengan cepat Shui masuk ke dalam, mendapati sang pelayan dalam keadaan tidak sadarkan diri."Syukurlah!" gumamnya melihat pakaian pelayan yang masih lengkap.


*


Pada akhirnya pasangan suami-istri itu, mengendarai mobil yang sama. Mata Shui sesekali melirik, bingung harus bagaimana.


"Mau melakukannya malam ini?" tanya Kara.


"Melakukan apa!?" bentak wanita itu mengalihkan pandangannya.


"Kamu selalu meminta dan memikirkannya kan? Dasar mesum," celoteh Kara, masih mengingat segalanya. Kala Fu yang masih remaja beberapa kali menggodanya untuk berhubungan badan. Hanya ingin dinikahi. Seorang remaja yang mencintainya hingga akhir.


"Aku akan mengabulkan apapun keinginanmu kali ini..." batinnya, dengan sedikit senyuman yang memudar. Rasa cemas, tidak ingin berpisah dengan wanita ini lagi.

__ADS_1


__ADS_2