Greatest Husband

Greatest Husband
Menepati Janji


__ADS_3

"Defan kenapa kemari?" tanya Shui menatap ke arah kakak iparnya. Benar-benar aneh menurutnya tidak biasanya Defan bersikap tidak sopan duduk di kursi miliknya.


"Aku ingin bicara denganmu. Ini mengenai Kara. Dia seharusnya sudah mati, kamu tau bukan?" tanyanya pada wanita di hadapannya.


Shui menatap ke arah lain sejenak, gerak-gerik yang dapat dibaca olehnya. Memang ada yang aneh dengan adiknya tersayang.


"Aku tidak akan membocorkannya. Tapi apa bisa kita bicara berdua. Kamu boleh menghubungi Kara. Katakan kita makan siang di kapal Ferry milik ayah (Farhan)." Ucap Defan tersenyum menyakinkan.


Shui menghela napas kasar pada akhirnya mengirim pesan pada Kara, dengan tanda centang dua berwarna putih pertanda pesan belum dibaca.


Setidaknya dirinya sudah mengirimkan pesan pada suaminya.


*


Apa sebenarnya yang diinginkan Defan?Entahlah, dua orang pengawal pribadi tetap mengikutinya. Hingga berakhir berhenti di pelabuhan.


Sedangkan Shui dan Defan kini berada di dalam kapal menikmati makan siang. Alasan utama Shui mengikutinya, agar dapat membuat penawaran dengan Defan untuk menyembunyikan identitas asli Kara.


Tapi apakah benar? Daging di hadapannya diiris. Hanya makan siang yang tenang pada awalnya. Hingga Shui memulai pembicaraan."Aku akan membelikan saham rumah sakit lain untukmu. Tapi bantu aku menjaga rahasia Kara."


"Sebelumnya aku peduli. Tapi sekarang siapa yang peduli. Selama Kara masih hidup jalan buntu akan selalu aku dapatkan. Dia akan tetap berasa di atasku. Karena itu lebih baik mati saja." Senyuman terlihat di wajahnya, mengelap bibirnya menggunakan napkin.


"Maksudnya?" tanya Shui tidak mengerti, memegangi kepalanya yang berdenyut. Apa ini karena pengaruh kehamilan?


"Sudah merasa pusing?" tanya Defan kembali makan dengan tenang.


Bug!


Wanita itu roboh menatap lantai dengan kaki meja makan yang terbuat dari kayu. Dirinya ingin meminta pertolongan tapi tidak bisa. Perlahan menutup matanya.


Mata Kara yang tengah menatap papan pengumuman di area kampus sekelebat berwarna ungu. Pemuda itu segera berlari cepat, diikuti oleh Welan yang masih ingin tahu tentang mahasiswa aneh yang baru dikenalnya.


Tidak dapat menggunakan sayapnya di siang hari seperti ini, hanya dapat meminjam mobil sang rektor yang baru tiba. Pedal gas mobil tersebut diinjaknya dalam-dalam. Benar-benar cemas saat ini, syarat pengulangan takdir semua sudah ada. Takdir yang kembali terulang."Shui!" gumamnya, menggenggam setir mobil erat. Menyalip satu persatu kendaraan.

__ADS_1


Sedangkan mobil Welan mengikutinya dari belakang. Tentunya dengan Foe yang entah bersembunyi dimana.


Hingga sekitar satu jam perjalanan mobil terparkir di area pelabuhan. Merasakan keberadaan istri dan putranya yang ada dalam bahaya. Pemuda yang melangkah cepat, menatap kedua pengawal istrinya telah roboh.


Kali ini tidak sungkan, naik langsung ke dalam kapal Ferry yang memang berada di dermaga. Beberapa orang menghadangnya. Hanya orang-orang sewaan yang bahkan tidak dilengkapi senjata.


Pemuda yang bergerak mengambil sebilah kayu kecil seukuran pedang. Memukul orang-orang yang menghalanginya, tepat di titik melumpuhkan.


Tidak mempedulikan apapun lagi. Napas istrinya semakin menghilang dapat dirasakan olehnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi, tidak boleh terulang kembali.


Dirinya memasuki area lambung kapal lebih dalam. Kepala salah seorang yang menghalanginya di benturkan. Menendang orang-orang sebisanya. Terlalu banyak, memang terlalu banyak. Bagaikan dirinya memang tidak diijinkan oleh takdir untuk menyelamatkan Shui.


Hingga pada area luas bagian lambung kapal Tubuh Shui ditatapnya tidak dapat bergerak sama sekali. Kesulitan bernapas, racun? Lebih tepatnya vecaron berdosis tinggi dapat melumpuhkan otot-ototnya, bahkan kesulitan untuk bernapas.


Sedangkan Defan berada di sana mengacungkan senjata api padanya. Tidak peduli? Kara membawa Shui kedalam pangkuannya, memberikan energi kehidupan miliknya sendiri. Dapat memperpanjang usia, menjaga napas tetap ada walaupun hanya beberapa menit sebelum energi yang diberikannya kembali habis. Sesuatu yang sejatinya dapat mengancam nyawa Kara sendiri.


Dor!


Bukan Defan yang membuatnya cemas, tapi iblis yang ada dibelakangnya. Walaupun Defan sudah dikalahkannya. Sang iblis dapat menyebar membuat kekacauan, menyebabkan orang-orang keji bertambah banyak. Wujud yang sempurna bagaikan manusia berpakaian perang, itulah wujud iblis yang berada di belakang Defan.


Dor!


Defan mencoba menembaknya. Kara menghindar dengan cepat. Memegang pergelangan tangannya, memukul area tengkuknya hingga tidak sadarkan diri. Benar dugaan Kara, sang iblis tersenyum, mulai bergerak mengeluarkan pedangnya. Iblis yang memiliki wujud nyata, sangat jarang ada.


Mungkin 700 tahun lalu dirinya pernah menghadapi. Dirinya berhasil menang, dengan luka fatal di sekujur tubuhnya. Dan kali ini kemampuannya bahkan hanya setengah dari kemampuannya 700 tahun lalu.


Tang!


Kayu yang dibawanya terpotong dengan mudah. Tebasan dari sang iblis melukai bagian dadanya. Darah hijau menetes, bersamaan dengan berkumpulnya kunang-kunang kecil yang indah, dalam lambung kapal yang tidak begitu terang.


"Rantai!" Ucapnya kali ini menulis sesuatu dengan darahnya yang melayang dengan huruf kuno."Aku tidak akan membiarkanmu, seperti yang biksu bodoh itu ajarkan. Iblis setingkat mu tidak boleh lolos begitu saja."


"Agghhh! Kamu hanya siluman rendah! Aku perlu berganti puluhan tubuh untuk mendapatkan tubuh sempurna! Kamu fikir dapat melawanku!" teriaknya.

__ADS_1


Kara tersenyum."Aku tidak berniat mengalahkanmu. Mari kita mati bersama-sama."


"Apa maksudmu k*parat!" teriak sang iblis dengan sekujur tubuh dipenuhi rantai.


Tang!


Satu rantai terlepas. Kara memuntahkan darahnya."Tidak banyak waktu, kali ini aku akan melakukan hal yang 500 tahun lalu tidak sempat aku lakukan." Ucapnya berjalan mendekati Shui.


Terlalu lama untuk bertarung. Tubuh itu tidak bernapas lagi, tapi roh belum keluar. Menghidupkan orang mati? Dapat dilakukannya, hanya sesuatu yang sejatinya dilarang. Memberikan semua energi kehidupannya.


Tang!


"Agghhh!" suara sang iblis menggema. Hanya dua rantai tipis yang tersisa.


"Hiduplah dengan baik, Fu...ini adalah hutangku 500 tahun lalu." Ucapnya, meraih tubuh istrinya. Dirinya sudah menepati janji untuk menikah dan memberikan keturunannya.


Bibir itu dicium cukup lama olehnya."Energi kehidupan," lirihnya dengan setetes air mata mengalir, namun wajah itu tersenyum. Tubuhnya perlahan berubah menjadi kupu-kupu hitam.


"Kita akan mati bersama," Gumamnya sebelum tubuh itu menghilang sepenuhnya. Hanya seekor kupu-kupu hitam yang hinggap di tubuh Shui, membuat tubuh itu perlahan kembali bernapas.


Sang kupu-kupu yang kembali mengikuti kupu-kupu hitam lainnya terbang menyerang sang iblis. Kini kupu-kupu berubah menjadi pelindung mantra pengikat.


"Kita akan mati bersama-sama!" Suara Junichi terdengar. Namun wujudnya tidak terlihat.


Puluhan gagak menyerang iblis dengan tinggi tiga meter tersebut. Menyelimutinya...


"Agghhh!" ledakan yang tidak menyisakan apapun. Kecuali lambung kapal Ferry yang bocor.


"Jika bisa lupakan aku, karena aku tidak akan dapat hidup kembali..." Kata-kata lemah tanpa wujud, telah menghilang entah kemana. Menyerahkan nyawanya, membakar rohnya sendiri.


Kapal yang akan karam, namun Welan yang mengikuti Kara dapat menemukan Shui. Membawanya dibantu Foe pergi meninggalkan kapal Ferry yang pada akhirnya karam di pelabuhan.


Mungkin Kara akan dianggap mati bersama Defan dan orang-orangnya dalam kapal yang karam. Setidaknya Junichi melakukan hal yang ingin dilakukannya 500 tahun lalu, kala mengetahui kematian Fu. Membakar rohnya agar Fu dapat hidup kembali.

__ADS_1


__ADS_2