Greatest Husband

Greatest Husband
Dark


__ADS_3

Malam itu sang kaisar muda menyamar mengenakan pakaian bangsawan biasa. Berjalan ditemani beberapa pengawal yang juga menyamar. Tujuannya? Mengawasi opini rakyat, selain itu mendatangi rumah bordil dimana banyak bangsawan kelas atas menghabiskan waktu mereka.


Mencari informasi dari para wanita malam, apa yang akan dilakukan sang jendral. Atau bisa dikatakan ayah kandung permaisurinya, mertuanya sendiri. Kubu yang bertentangan dengannya. Belakangan jendral entah kenapa berada di pihak oposisi. Bagaikan tengah menyusun strategi untuk melakukan pemberontakan.


Banyak hal yang ada di fikiran Kaisar. Satu? Tidak, ada puluhan wanita rupawan di haremnya, menjadi selirnya. Tapi tidak pernah membuatnya bahagia, mereka hanya tersenyum, menggodanya demi memiliki kepentingan politik untuk keluarga mereka. Mungkin karena itu juga sang kaisar berhubungan dengan mereka, namun enggan menitipkan benihnya. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat dipercayai olehnya untuk menjadi ibu dari anaknya.


Bunga sakura putih berguguran, dirinya terdiam sesaat mengingatkannya tentang sosok siluman yang memiliki kemampuan tinggi, membuat seluruh dayang dan pengawal istana timur tertidur kala kedatangannya.


Janjinya 8 tahun lalu, pada sang siluman agar mengembalikan Fu ke rumah perdana menteri. Janji yang dilupakannya, karena wajah cantik putri dari sang jendral, dan Fu kecil yang terkenal tidak berguna saat itu.


Kini dirinya tersenyum, seharusnya menepati janjinya. Menjadikan Fu, satu-satunya wanita di istananya, memilihnya sebagai calon putri mahkota dahulu, bersabar hingga gadis kecil itu mencukupi usia untuk berbagi kamar dengannya, menjadikan permaisuri sesungguhnya. Satu-satunya wanita yang tidak menginginkan kekuasaan, namun cerdas dan mengendalikan hati rakyat.


Mungkin dulu dirinya tidak akan menyangka, putri perdana menteri, sahabat kecilnya akan berkembang menjadi seperti ini.


Namun, perlahan langkahnya terhenti. Seorang pemuda terlihat disana dalam keramaian orang-orang yang menyambut festival lampion. Pemuda yang membuat jemari tangannya gemetar sesaat, mundur ketakutan sekitar dua langkah. Pemuda yang tidak bertambah tua sama sekali, memakai pakaian hitam dengan rambut panjangnya, menggendong seorang anak berpakaian lusuh. Mata sang kaisar menelisik keberadaan Fu yang ada di samping sang pemuda, menggendong anak lainnya yang juga berpakaian lusuh.


Fu tersenyum membeli manisan, kemudian menyuapi Junichi. Pasangan kekasih yang berjalan menembus keramaian, menunju gerbang kota.


"Yang mulia, wanita itu nona Fu. Haruskah hamba membawanya dan menghukum pria yang bersamanya?" tanya sang pengawal.


"Tidak, kalian tidak dapat membunuhnya. Dia bukan manusia, hanya rupanya yang seperti manusia. Kalian akan mati jika berhadapan langsung dengannya," Jawaban dari sang kaisar.


Pria yang menahan rasa cemburu dan kesalnya. Dahulu mungkin tidak, usianya yang masih terlalu muda, tidak mengetahui apa itu cinta. Selain itu Junichi membawa Fu yang dulu berusia 7 tahun. Bagaikan ayah dengan anaknya. Namun kali ini setelah 8 tahun berlalu, Fu dan Junichi bagaikan sepasang kekasih. Seorang pemuda yang tidak bertambah tua sedikitpun, dengan seorang gadis yang tersenyum mengikutinya.


*

__ADS_1


Banyak hal dalam fikiran kaisar, terdiam dalam istananya. Apa karena ini Fu menolak untuk menuangkan arak padanya? Hanya karena seekor siluman? Terpengaruh sihir, itulah yang ada di benak sang kaisar saat ini. Mencari cara, melepaskan Fu dari jeratan mantra sang siluman.


"Yang mulia, permaisuri tiba," ucap seorang dayang dari luar sana.


"Berikan ijin padanya untuk masuk," perintah sang Kaisar.


Pintu dibukakan dua orang dayang yang tertunduk memberi hormat. Seorang wanita cantik terlihat, memakai pakaian yang benar-benar anggun. Hiasan rambut terbuat dari emas menghiasi rambut hitamnya. Pakaian berwarna merah, khas seorang ratu. Riasan wajah yang terkesan natural namun menawan.


"Yang mulia," sang permaisuri menunduk memberi hormat.


Kaisar mengenyitkan keningnya. Menghela napas berkali-kali. Berusaha untuk tersenyum."Ada apa lagi?" tanyanya.


"Malam ini bulan purnama, tidakkah yang mulia ingin menghabiskan waktu dengan hamba? Hamba akan melayani yang mulia," ucap permaisurinya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya sang kaisar lagi, telah mengetahui maksud kedatangan permaisurinya. Namun, enggan menyetujuinya.


"Cukup!" itulah jawaban dari kaisar.


Pemuda yang benar-benar berusaha bersabar. Usianya baru menginjak 20 tahun. Harus memimpin di usia muda, baru mengetahui wajah sebenarnya dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan untuk memiliki seorang keturunan? Dirinya enggan.


"Keluar!" perintah sang permaisuri, bersamaan dengan dayang dan kasim yang undur diri. Sang permaisuri menunduk memberi hormat, tetap memaksakan dirinya mendekati kaisar, menuangkan arak pada cawan kecil.


"Saat perayaan festival perburuan. Kenapa kamu bersedia menuangkan arak untuk raja Yan (raja negeri lain, mengikuti festival perburuan. Atas dasar persahabatan dua negara)?" tanya sang Kaisar, tidak meraih cawan araknya.


"Hamba menghormatinya, yang meminta hamba untuk menuangkannya. Selain itu, ini juga baik bagi negara. Hamba hanya ingin---" Kata-kata sang permaisuri terhenti.

__ADS_1


Sang kaisar tertawa, menertawakan wanita di hadapannya."Apa kamu punya mulut? Apa tidak dapat menolaknya? Kamu mempunyai status yang tinggi. Sebuah kehormatan seorang permaisuri. Oh...aku lupa jendral memiliki hubungan dagang yang baik dengan raja Yan."


Sang permaisuri membulatkan matanya. Tangannya tiba-tiba gemetar. Apa mungkin kaisar mengetahui rencana pemberontakan ayahnya? Serta janji raja Yan untuk membawa dirinya ke negara seberang menjadikannya permaisuri. Sementara ayahnya, sang jendral menjadi kaisar negara ini.


Kaisar terdiam, mengapa dirinya mulai mencintai Fu yang bahkan enggan dekat dengannya. Karena seperti inilah wajah asli wanita yang ada di dekatnya. Terlihat cantik dan anggun, tapi tidak ada yang tulus mencintainya. Lebih tepatnya bersaing untuk kedudukan. Bahkan jika harus mengorbankan tubuhnya sekalipun.


"Begitu bernapsu tidur denganku? Seperti binatang di musim kawinnya. Aku tidak pernah mengingkari janji, apalagi ayahmu akan murka jika aku tidak bersedia menghabiskan malam denganmu. Buka pakaianmu! Maka aku akan melayanimu," Kata-kata dari sang kaisar, membenci wanita di hadapannya. Meminum beberapa teguk arak.


Harga diri yang terluka? Tapi itu tetap dilakukannya. Sang permaisuri membuka lembar demi lembar pakaiannya sendiri. Menampakan bentuk tubuhnya yang indah.


"Tuangkan minuman untukku," ucap sang kaisar. Juga dituruti oleh permaisurinya.


Lilin yang menerangi ruangan, padam. Kaisar memang menepati janjinya. Tapi untuk memberikan keturunan? Tidak akan dilakukannya. Wanita yang mengkhianatinya demi kepentingan politik, kini menjerit menikmati segalanya.


Setiap centimeter sentuhan di tubuhnya. Kala sepasang tubuh itu menyatu. Pengaruh alkohol? Setiap saat, itulah yang dilakukan kaisar kala harus menikmati malam dengan selir atau permaisurinya. Sungguh menjijikan baginya kala mengetahui para wanita ini menjajakan tubuhnya demi kepentingan politik. Memiliki istri dan selir? Tidak lebih dari wanita penghibur baginya.


Mengapa harus bersedia mengangkat mereka? Demi kepentingan politik. Para selirnya merupakan anak bangsawan dengan kedudukan yang tinggi, mengukuhkan kekuasaannya. Hidup yang harus dijalaninya dalam bimbang dan ketidak tegasan.


*


Malam semakin larut, sang kaisar membuka matanya, kembali mengenakan pakaiannya. Meninggalkan permaisurinya seorang diri, berdiri di luar kediamannya di temani beberapa Kasim dan dayang.


Sama seperti yang dilakukan sebelumnya. Bersedia berhubungan layaknya suami-istri. Tapi tidak pernah meninggalkan benihnya dalam rahim permaisuri maupun selirnya.


Siluman itu benar. Jika dirinya tegas saat itu, jika lebih memilih Fu daripada permaisurinya saat ini. Mungkin saja, segalanya tidak seperti ini. Tidak perlu mengangkat banyak selir untuk menstabilkan kedudukannya, ditengah rencana pemberontakan jendral.

__ADS_1


Dirinya dapat mengandalkan perdana menteri untuk mengendalikan kekuasaan. Hidup tenang bersama permaisuri yang membuatnya nyaman. Permaisuri yang memiliki harga diri untuk mencintai dengan tulus.


Hanya satu hal yang ada di fikirannya saat ini. Cara untuk menyingkirkan sang siluman, menginjak makhluk terkutuk yang menggoda manusia.


__ADS_2