
Sang kaisar tersenyum, duduk berhadapan dengan Fu. Jika gadis bangsawan lain akan berinisiatif menuangkan minuman untuknya, tidak dengan gadis ini. Seorang dayang menuangkan minuman untuk mereka.
Gadis yang meminum dengan anggun, benar-benar menawan, pantas dikatakan sebagai gadis bangsawan tercantik. Tidak ada celah sama sekali, tapi wajah itu tidak tersenyum.
Masa kecil yang perlahan diingat oleh sang kaisar muda. Perdana menteri selalu membawa Fu kecil mengunjungi istana timur, tersenyum bersamanya, anak kecil yang tidak begitu tau tentang tata krama. Menarik tangannya yang beberapa tahun lebih tua untuk bermain. Saat yang menyenangkan, tapi segalanya berubah setelah Fu menghilang selama 2 tahun. Dirinya perlahan melupakan teman bermainnya, hanya fokus pada filsafat, tidak membantu perdana menteri yang mengerahkan pasukan pribadinya ke hutan berkabut.
Hingga malam itu pemuda dengan rambut panjang dan pakaian hitamnya itu datang, membawa tubuh Fu yang tertidur. Memintanya berjanji untuk menikahi Fu, menjadikannya sebagai putri mahkota, tanpa mengangkat satupun selir, sebagai syarat kembalinya Fu ke rumah perdana menteri. Dirinya yang masih anak-anak mengangguk menyetujui.
Sebuah janji yang dilupakannya setelah beberapa tahun. Walaupun dirinya ingat, tapi saat itu kondisi politik lebih menguntungkan jika menikah dengan putri jenderal. Seorang gadis bangsawan yang serba bisa, dipuji semua orang.
Apa yang terjadi dengan Fu saat itu? Dirinya tidak pernah bertemu atau berniat menemuinya lagi. Kabar yang berhembus juga membuatnya enggan, seorang anak yang direndahkan karena tidak memiliki kecerdasan, tidak memiliki etika, dikalahkan oleh anak selir yang juga menyandang status sebagai putri sah.
Tapi tidak kali ini, bunga peony putih yang telah mekar dengan indah. Gadis yang menggerakkan hati rakyat, mengatasi masalah yang bahkan tidak dapat dipecahkan para sarjana. Penampilan yang berbeda seiring usianya. Inilah permaisurinya, dirinya akan menepati janji kali ini. Melindungi Fu dari siluman yang ingin memakan jantung dan hatinya.
Gadis itu hanya meminum teh tanpa ekspresi. Terdiam dengan fikiran kosong, luka-luka di tubuhnya tidak terlihat sama sekali. Tertutup pakaian sutranya.
"Fu, sebentar lagi kamu akan memasuki istana. Apa yang kamu inginkan? Apa menginginkan hal khusus di kamarmu?" tanya sang kaisar tersenyum.
Fu sedikit melirik ke arah sang nenek yang mengawasinya. Dirinya tidak takut dengan pukulan tongkat, hanya saja setiap kata yang terlontar dari ibu dan neneknya benar-benar menyakitkan. Apa dirinya benar-benar bukan anak berbakti?
"Tidak ada," hanya itu jawaban dari Fu, mengalihkan pandangannya menatap ke arah langit biru yang terlihat dari gazebo. Lotus putih yang mengelilingi gazebo terlihat indah, tempat yang tenang, namun gudang jerami tempatnya dikurung terasa lebih nyaman.
Sang kaisar tersenyum, tertawa kecil."Apa ayahmu sudah mengatakannya? Setelah perang berlalu kamu akan menjadi permaisuri. Sebenarnya aku malu menyampaikannya secara langsung."
Menampik statusnya, menikah dengan kenalan memang terasa lebih nyaman. Tidak perlu menjaga ucapan dan etika.
__ADS_1
"Udara di tempat ini terasa nyaman," kata-kata dari Fu. Sejatinya bukan tempat ini. Dirinya sudah cukup lelah, matanya hanya menatap pada langit, jemarinya meraba cincin giok hitam pada jari telunjuknya.
Hidup di hutan berkabut penuh penyesalan? Apa itu yang diinginkannya? Sampai sekarang dirinya tidak mengetahui apa keluarganya mencintainya?
Bukan hanya kali ini, saat dimana Junichi meninggalkannya di rumah perdana menteri beberapa tahun lalu adalah saat terburuk dalam hidupnya. Dirinya masih mengingat saat itu, tidak ada pelayan yang menghormatinya. Cambukan dari nenek dan ibunya, karena tidak dapat menandingi kakak tirinya. Dirinya tidak tau apa-apa mencoba belajar hingga bergadang, tapi hasilnya tetap dipukuli karena hampir tertidur di pelajaran tata krama.
Ingin mati saja, ingin mati saja, itulah yang ada di fikiran anak polos berusia 7 tahun saat itu. Kembali menangis berlari ketengah hutan berkabut. Tapi Junichi tidak muncul lagi untuk menghiburnya, memberinya makan, membawanya ke pinggir sungai.
Setelah empat tahun putus asa, Junichi akhirnya muncul di hari pernikahan putra mahkota dengan putri perdana menteri. Memeluknya dengan sabar mengajarinya banyak hal. Hingga dirinya meninggalkan hatinya untuk sang pemuda.
Kini segalanya berbeda, keluarga yang mencintainya karena kecantikan dan kecerdasannya, menjunjung dirinya. Apa ibunya akan mencintainya jika dirinya bodoh? Dirinya ragu, namun suatu kepastian. Kala cinta itu disadari semua sudah terlambat. Akan ada saat dimana sang ibu membakar uang kertas, menyambut kematian putrinya. Kepergian putri yang dipukuli olehnya.
Tapi apa akan ada penyambutan? Mungkin tidak, anak selir tetap lebih baik. Ibunya sendiri menyesal sudah melahirkannya. Mungkin sang ibu juga akan dapat menarik nyawa putrinya agar terlepas dari tubuhnya. Nyawa yang diberikan oleh ibunya, itulah yang dihargai olehnya.
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya sang kaisar, menyadari perhatian Fu yang teralih.
"Junichi, dia sedang apa." Jawaban jujur dari Fu, membuat sang nenek membulatkan matanya, mengepalkan tangannya kesal.
"Fu! Dia itu siluman. Kamu hanya terpengaruh sihirnya! Dengar, kamu harus melawan. Aku akan mencari cenayang yang..." Kata-kata sang kaisar di sela.
"Pernah berfikir untuk memiliki tubuh seseorang tapi tidak memiliki hatinya? Yang mulia menginginkannya?" tanya Fu, tanpa ekspresi.
Sang kaisar tersenyum dengan bibir bergetar."Aku menginginkannya. Perasaan manusia dapat berubah seiring waktu. Noda akan terhapus jika terkena air terus menerus. Aku tidak bicara formal denganmu, karena kita sudah lama saling mengenal. Karena itu, aku yakin dapat memiliki keduanya."
Gadis itu terdiam, meraba bibir cawan tehnya. Hingga pandangan matanya beralih."Hamba akan menyetujui jika ini pilihan Yang Mulia. Sebagai bakti hamba pada keluarga."
__ADS_1
Sebuah jawaban yang ambigu, Fu tersenyum untuk pertama kalinya setelah menginjakkan kakinya di istana hari ini. Begitu juga dengan kaisar, permata yang akan dimiliki olehnya.
Tapi tidak ada yang tau tentang jalan fikiran manusia. Dirinya akan menjadi anak yang berbakti seperti keinginan ibu dan neneknya. Mengikuti keinginan mereka, juga mengikuti keinginan hatinya untuk terbebas.
Kala tandu terangkat menuju kediaman perdana menteri. Gadis itu terdiam, adakah neraka itu? Dirinya akan menyebrang ke neraka, untuk menjadi anak yang berbakti, sekaligus kekasih yang setia.
Tidak akan ada yang mengingatnya. Tidaklah mengapa, hidup hanya untuk menambah dosa. Menyakiti Junichi, menyakiti hati permaisuri dan puluhan selir kaisar, itulah yang terjadi jika dirinya tetap hidup.
Tidak memiliki pilihan sama sekali. Wajahnya tersenyum kali ini, kembali meraba cincin giok hitam pemberian kekasihnya.
Malam dilaluinya dengan hal yang serupa.
"Apa yang kamu katakan pada kaisar saat kalian bicara!? Cucu tidak tau diri, kutukan apa pada leluhurku hingga ada keturunan sepertimu! Panggil cenayang! Berani-beraninya dia berbicara tentang siluman k*parat itu di depan kaisar!" bentak sang nenek setelah turun dari tandu yang terpisah dengan cucunya.
Kata-kata yang didengar ibunya, istri perdana menteri. Kala Fu menuruni tandu, sang ibu sudah berdiri di hadapannya.
Plak!
Satu tamparan mengenai pipinya."Karenamu, kaisar mungkin akan menghukum seluruh keluarga dengan hukuman penggal! Hati-hati dengan mulutmu!" bentak sang ibu mendorong tubuh putrinya.
"Aku setuju untuk memasuki istana," kali ini Fu tidak menangis lagi, gadis itu tersenyum ceria pada ibunya. Senyuman merekah yang terlintas tulus.
"Kamu setuju?" tanya sang ibu menarik tangan putrinya untuk bangkit. Kemudian memeluknya erat.
"Terimakasih sudah memelukku," ucapan sang anak tersenyum tanpa membalas pelukan ibunya. Kapan terakhir kali dirinya merasakan kehangatan ini? Mungkin dimasa kecilnya, selebihnya hanya bentakan dan tamparan yang diingatnya.
__ADS_1