Greatest Husband

Greatest Husband
Ambisi


__ADS_3

Dengan cepat Herlan berlari menelusuri lorong. Napasnya terengah-engah, namun tetap memaksakan diri untuk berlari mencari keberadaan Dahlan.


Satu persatu ruangan ditelusurinya hingga langkahnya terhenti menatap ke arah Dahlan yang tengah menghubungi seseorang di dalam pojok ruangan kecil tempat alat-alat pembersih diletakkan.


"A...aku akan membayarmu berapapun. Aku benar-benar tidak bersalah, tolong aku," ucapnya menghubungi seseorang.


Senyuman menyungging di bibir Herlan. Dirinya kini sudah menemukan pelakunya seseorang dengan alibi terlemah. Matanya menelisik, menatap ke arah Dahlan.


"Datang saja ke kantor pengacara milikku. Ceritakan semuanya agar lebih mudah menangani," ucap seseorang di seberang sana.


"Ba...baik," pemuda yang terlihat gemetar ketakutan. Bahkan kesulitan memegangi phonecellnya.


"Kamu yang membunuh?" tanya Herlan, bergerak dengan cepat mengunci pergerakan sang pemuda yang merupakan calon dokter tersebut.


"Bu...Bu...Bukan aku!" teriaknya meringis kesakitan.


"Ayo mengaku! Di samping ruangan tempatmu berada ada pelecehan sekaligus pembunuhan! Mana mungkin kamu tidak mendengar apapun!" bentak Herlan bagaikan mendahului penyidik.


"Dengar dulu penjelasanku! Tapi kamu berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun. Kecuali pengacaraku sudah menceritakan pada penyidik." Ucapnya menelan ludah.


Dirinya berhak diam atau berbohong, hingga kebenaran terungkap. Tidak didampingi pengacara membuat anak dari keluarga terpandang itu terpaksa memilih berbohong. Ketakutan akan segalanya, tidak ingin langsung diterapkan sebagai tersangka. Bagaimanapun dirinya calon dokter, sekaligus anak dari salah satu anggota dewan. Dirinya benar-benar tidak ingin merusak reputasinya.


*


Kantin kampus menjadi tempat mereka bicara saat ini. Pemuda pemerhati kesehatan yang meminum jus alpukat. Kulit wajahnya terlihat putih bersih, wajah tembem walaupun tubuhnya terbilang proporsional.

__ADS_1


"Kamu membunuh dan melecehkannya? Kenapa?" tanya Herlan menatap tajam.


Dahlan menggeleng."Aku tidak menceritakan semuanya pada pihak kepolisian. Sebenarnya malam itu sedatang dari perpustakaan, aku berada di ruang praktek kedokteran. Suara itu terdengar---" jelasnya menghentikan kata-katanya sejenak.


"Tetap saja! Alibimu yang paling---" Kata-kata Herlan disela.


"Aku benar-benar tidak melakukannya! Aku bahkan masih perjaka hingga sekarang. Hanya saja, suara itu membuatku---" Kalimat Dahlan kembar terhenti, pemuda itu kembali meminum jus alpukatnya, menghilangkan rasa gugupnya.


"Membuat apa?! Jadi kamu membunuhnya!" Herlan menggebrak meja, hingga perhatian beberapa orang yang berada di kantin kampus beralih pada mereka.


"Ssstt... jangan keras-keras!" pinta Dahlan dengan suara kecil.


"Kalau begitu jangan berbelit-belit! Aku janji jika alasanmu masuk akal, aku tidak akan menceritakan pada orang lain." Ucap Herlan.


"Begini malam itu saat aku membuka buku, serta mengambil gambar untuk skripsi. Ada suara jeritan wanita, awalnya aku cemas, sedikit ragu untuk memeriksa, takut jika itu hantu. Tapi setelah mendengar dengan seksama suaranya lumayan membuatku membuka celana panjang. Si wanita mengatakan ah...ah...ah...ugh... enak... terus... sedangkan si pria tidak mengatakan apapun, hanya lenguhan saja."


Mengapa tidak jujur saja menceritakan semuanya? Orang tuanya tengah berada di luar negeri, sedangkan dirinya harus menyewa pengacara. Benar-benar calon dokter yang teliti, begitu cemas DNA bekas sp*rmanya ditemukan di mob lantai yang digunakannya untuk membersihkan lantai ruangan praktek kedokteran.


Jika jujur, tetap saja dirinya akan menjadi tersangka utama. Mungkin berbohong adalah jalan terbaik, hingga menemukan pengacara yang sesuai, baru menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Jadi kamu hanya tidak ingin menceritakan adegan bermain solo?" Tanya Herlan dijawab dengan anggukan oleh Dahlan.


Herlan memijit pelipisnya sendiri."Setelah kamu kembali dari mengambil alat pel apa yang terjadi?" tanyanya.


"Setelah itu aku membersihkan lantai. Merasa kesal pada diriku sendiri. Sekaligus penasaran siapa yang ada di ruangan sebelah. Suara itu masih terdengar lumayan lama. Aku sempat kembali ke perpustakaan, mengambil beberapa buku, sebagai tambahan materi skripsi."

__ADS_1


"Sekitar 45 menit aku berada di perpustakaan, kemudian kembali ke ruang praktek kedokteran. Saat itu ada ember dan mob lantai yang sebelumnya aku gunakan untuk membersihkan lantai di depan ruangan olahraga. Aku berfikir mungkin mahasiswa yang melakukan di ruangan sebelah juga ingin membersihkan sisa cairan mereka. Jadi aku acuh saja." Jelasnya terlihat tidak tenang menelan ludah beberapa kali.


"Kenapa tidak jujur saja pada penyidik. Jika kamu jujur mungkin---" Kata-kata Herlan disela.


"Jika aku jujur, mereka akan memeriksa mob lantai. Jika bekas sp*rmaku belum benar-benar bersih dari mob maka aku tetap akan menjadi tersangka utama. Darah yang ada di ruang olahraga juga dibersihkan menggunakan mob yang sama oleh pelaku. Satu kata untukku, mampus!" ucap Dahlan, merutuki nasibnya yang benar-benar sial.


Hanya dengan sebuah mob lantai maka dirinya akan resmi menjadi tersangka. Tidak ada tersangka lain selain dirinya walaupun tidak ada bukti nyata. Mungkin kasus kopi bersianida yang sempat viral masih terbayang di otaknya. Jessica menjadi tersangka, walaupun tidak ada bukti langsung yang begitu jelas.


Dirinya mungkin akan mengalami hal serupa, menelan ludahnya berkali-kali. Mengingat ibunya yang mengidap penyakit jantung, karier ayahnya yang seorang politikus, serta impiannya menjadi seorang dokter. Sudah pasti dirinya akan menjadi terkenal, diliput berbagai media massa sebagai pemerkosa sekaligus pembunuh.


"Kamu benar-benar tidak membunuhnya?" tanya Herlan tidak yakin.


"Benar! Apa kamu fikir aku sudah gila?! 23 tahun hidupku hanya dihabiskan untuk belajar, walaupun otakku pas-pasan! Lima tahun aku kuliah sambil mengurus usaha jam tangan bermerek milik ayahku, hanya untuk menjadi dokter! Semua hasil kerja kerasku aku sia-siakan untuk membunuh orang?! Hanya untuk melecehkan seorang wanita?! Jika aku mau, akan ada beberapa wanita malam berderet mengantri untuk tidur denganku. Tapi aku masih menjaga keperjakaanku hingga kini!" Bentak Dahlan, dengan kemarahan berapi-api.


"Tapi kamu bermain so...solo," ucap Herlan gugup.


"Memang kamu tidak pernah bermain solo?" tanya Dahlan.


"Pe... pernah. Sa... saat pacarku, anak ibu kost datang. Aku berciuman dengannya, kemudian agar tidak melakukannya, aku berlari ke kamar mandi..." Herlan tertunduk menghela napas berkali-kali. Dua orang yang menyandar pada kursi meja kantin. Merutuki status perjaka ting-ting mereka.


*


Siapa yang sejatinya ada bersama Kara saat ini? Sang security yang tersenyum padanya.


Pria yang paling tenang menjelaskan, tentang segalanya. Namanya Warto, pemuda berkulit putih dengan wajah rupawan, alis tebal terlihat tegas, bentuk tubuh proporsional. Usianya saat ini 31 tahun.

__ADS_1


"Kenapa tidak membatah?" tanya Kara.


"Aku hanya ingin membunuh satu orang lagi. Tidak ada lagi ambisi dalam hidupku." Jawaban darinya tersenyum.


__ADS_2