
Andrew menelan ludahnya."Kamu tahu dari mana?" tanyanya.
"Tentu saja aku belajar," gumam Kara penuh senyuman, berjalan mendekati kursi roda istrinya.
"Ayo kita pulang!" ucapnya pada Shui.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, pada suaminya. Kemudian mereka kembali memasuki mobil yang sudah terparkir di depan gedung.
Andrew tiba-tiba tertunduk diam kakinya lemas, menyandarkan tubuhnya pada dinding."Aku dikalahkan?" gumamnya.
"Mereka siapa?" tanya Frozt.
"Saingan bisnisku Shui Murren, wanita ular b*jingan dan suaminya Kara, benar-benar hama belalang pengganggu! Aku dikalahkan oleh si tengil yang bodoh! Aku kalah?" gumamnya ingin rasanya menangis.
Bukan masalah uang. Bahkan harga koleksi jam tangannya melebihi daripada harga guci. Namun, betapa malunya, benar-benar malu rasanya dikalahkan oleh seorang mahasiswa abadi.
Bagikan seorang profesor yang dikalahkan oleh siswa sekolah dasar.
"Dasar br*ngsek!" teriaknya membuat perhatian semua orang teralih padanya. Merasa dirinya benar-benar dipermalukan di depan Shui Murren.
Sebenarnya dari mana sebutan rival ini? Hanya rasa benci dan rasa persaingan terhadap seorang wanita. Karena tender proyek, perlahan menjadi obsesi untuk mengalahkannya. Namun lagi-lagi kali ini dirinya terpuruk, tahun-tahun sebelumnya dirinya selalu dapat mengalahkan bahkan mencibir Shui Murren dalam pelelangan. Setidaknya dalam bidang ini dirinya lebih unggul.
Tidak disangka akan dipermalukan oleh seorang Kara. Mungkin musuhnya bertambah satu orang lagi.
Mobil sport berwarna putih melaju menuju kediaman keluarga Murren. Tidak banyak pembicaraan di dalam mobil keduanya lebih memilih diam. Perlahan salah satu tangan Kara merayap memegang jemari tangan istrinya, sedangkan Shui menatap ke arah jendela benar-benar terasa memalukan, tapi menginginkannya.
Kara hanya tertawa kecil salah satu tangannya masih memegang setir mobil. Hingga sampai ke depan gerbang yang cukup besar, kedua pintu gerbang terbuka otomatis. Mungkin melalui CCTV penjaga gerbang telah melihat kedatangan majikannya.
Seperti biasa Kara membuka kursi roda mengangkat tubuh istrinya ke atas kursi. Kemudian mendorong masuk melalui pintu utama. Di sana sudah terdapat Sonya yang duduk di ruang tamu dengan teman-temannya, yang berasal dari kaum sosialita.
"Kara!" panggil Sonya mengedipkan sebelah matanya. Berusaha kembali menggoda suami kakaknya.
Kara tidak menanggapinya sama sekali. Masih mendorong kursi roda milik Shui. Namun, tidak dengan Shui."Hentikan kursinya!" perintahnya pada suaminya.
Kara menghentikan kursi rodanya. Kemudian menghela nafas berkali-kali, masa lalu apa yang sebenarnya dimiliki Kara dengan Sonya hingga Shui masih menganggapnya mencintai Sonya?
"Aku tidak ingin menerima keluhan! Jika sudah selesai berpesta, jangan lupa untuk memakai pakaian! kalian ingin menggoda suamiku?" tanya Shui menatap tajam, mengingat kebiasaan mereka yang setelah mabuk akan membuka pakaian.
"Siapa yang ingin menggoda pria seperti Kara. Kami hanya---" Kata-kata salah seorang teman Sonya terhenti.
"Kamu model M entertainment kan? Aku dapat mengakhiri kontrak mu dengan perusahaan. Aku memiliki 20% saham di sana. Ini hanya nasehat dariku. Adikku sayang juga tidak ingin membantahnya kan?! Kalian jika sudah meminum minuman keras, tidak akan ragu untuk membuka pakaian. Benarkan adikku?" Tanya Shui aura cemburu yang benar-benar menyengat. Mungkin dirinya takut hari ini suaminya akan pergi meninggalkan kamar tengah malam lagi.
Sudah terlalu sering Kara diam-diam menemui Herlan. Namun dalam anggapan Shui suaminya tengah menemui adiknya. Pasalnya mobil Kara masih di tempat parkir sama dengan mobil Sonya. Padahal aslinya sang suami selalu merobek piyamanya sendiri pada bagian punggung tentu saja pergi dengan cara yang ekstrim menuju rumah budaknya.
"Kakak apa karena kamu lumpuh, kamu menjadi posesif seperti ini?" tanya Sonya.
__ADS_1
"Ini tidak ada hubungannya dengan kelumpuhanku! Tapi ini berhubungan dengan bagaimana kalian menjajakan tubuh kalian! Ingat semua uang dan fasilitasmu tergantung padaku bahkan uang bulanan yang kamu miliki saat ini adalah hasil dari kerja kerasku di perusahaan! Ingin aku cabut semua fasilitasmu?" tegas sang kakak.
"Cabut saja!"ucap Kara menimpali, tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Sedangkan, Shui menatap tajam pada suaminya. Benar-benar pria yang tidak tahu diri. Dirinya yang salah kali ini, tapi masih tetap saja mencibir orang lain.
"Ingat pakai pakaian kalian! Jangan mabuk sepenuhnya. Jika aku lihat satu saja di antara kalian yang membuka baju setelah meminum minuman keras. Maka aku tidak akan segan-segan memanggil tukang kebun dan security untuk sekalian menitipkan anak mereka di rahim kalian." Ancaman dari Shui pada 5 orang wanita yang menjadi sahabat Sonya.
Lima orang yang menelan ludahnya menatap Shui yang memasuki lift bersama dengan Kara.
*
Pintu kamar terbuka perlahan kembali tertutup. Shui pada akhirnya bangkit dari kursi rodanya. Wanita itu sudah dapat berjalan dengan lancar. Tapi karena hasutan dari Kara, dia menyembunyikan kesembuhannya.
Matanya menelisik menetap ke arah suaminya."Aku mau mandi jangan coba-coba berselingkuh atau mendekati mereka!"
"Aku tidak mungkin berselingkuh. Kamu adalah bunga tercantik, senyumanmu seperti pelangi, kulitmu putih seperti salju, ditambah bibirmu merah seperti ceri. Tidak ada yang menyaingi kecantikanmu. Apapun akan aku lakukan untukmu, lautan akan aku seberangi gunung pun akan aku daki." Rayuan yang lebih parah lagi keluar dari mulut sang gagak cerewet.
Apa yang dilakukan wanita itu? Mengalihkan pandangannya. Dirinya tahu rayuan itu palsu. Tapi tetap saja, rasanya berbunga-bunga dalam hatinya. Wanita yang melangkah dengan cepat mengambil jubah mandinya berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Kara mulai berbaring menatap ke arah langit-langit ruangan. Dirinya harus berhenti memakan jantung iblis. Tidak ingin menambah kemampuannya lagi, jika bertambah lagi dirinya benar-benar akan menelan tubuh Kara yang asli.
Matanya melirik ke arah cermin, kuku-kukunya menghitam wajah yang dirabanya sudah persis sama seperti wajah Junichi. Mungkin hanya kenyataan bahwa tubuh itu dapat terluka Itulah sisi manusia yang tersisa.
Matanya sedikit melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Keinginan Fu adalah memiliki keturunan dengannya.
Pemuda yang menyunggingkan senyumannya. Menghela nafas berkali-kali mengambil batu bersinar (handphone) miliknya.
Kara mulai menonton video dewasa menghela nafas berkali-kali. Dirinya bukannya tidak mengetahui tapi tidak mengerti, kepuasan apa yang didapatkan mereka saat melakukannya? Hingga sampai meracau seperti orang bodoh.
Tidak memiliki nafsu? Sejatinya Kara memilikinya. Tepatnya Junichi memilikinya, hanya saja dapat mengendalikannya. Tidak pernah mencoba untuk mendekati wanita atau berhubungan badan. Dengan Fu pun sama, dirinya menjaga batasan nafsunya hanya untuk berciuman dan memeluknya tidak lebih.
Tapi malam ini dirinya harus melakukan lebih. Pemuda yang kembali merebahkan dirinya di tempat tidur bingung harus bagaimana.
*
Beberapa puluh menit berlalu Shui keluar dari kamar mandi. Mengenakan jubah mandinya, sepasang tangan pemuda memeluknya dari belakang. Dengan dagu yang menyender pada pundaknya, aroma maskulin tercium. Deru napas yang terasa dingin, pemuda di belakangnya juga baru selesai membersihkan diri.
Menghembuskan nafas di belakang telinganya."Ayo kita memiliki anak," bisiknya.
*
Tidak menyadari hal yang terjadi di tempat lain. Seorang mahasiswi lainnya kini berada sendirian di kampus. Sesekali menatap ke arah handphone hingga seseorang yang dinantikannya tiba.
Hujan turun dengan deras. Kedua orang itu berteduh di tengah gedung.
__ADS_1
"Kamu sudah lama menungguku?" tanya sang pemuda.
Wanita itu menggeleng tersipu bagaikan orang yang pertama kali jatuh cinta. Hingga pada akhirnya membiarkan dirinya dibimbing ke area kampus yang lebih dalam.
Ruangan olahraga tempat mereka berada saat ini. Banyak peralatan olahraga yang tersimpan di sana termasuk sebuah matras yang berdebu. Sang pemuda menurunkan matras, suara petir terdengar hujan semakin lebat saja.
Benar-benar seorang wanita yang terhanyut dengan perasaannya. Kala rasa dingin menyerang pemuda itu mengecup bibirnya, hanya kecupan singkat. Hingga pada akhirnya menahan tengkuknya menjadi ciuman yang dalam.
Jemari tangan yang tidak tinggal diam melepaskan satu persatu kancing kemeja sang wanita. Seakan dikuasai perasaan serakah."Kamu mau kan? Aku berjanji akan menikahimu,"
Wanita itu hanya terdiam membiarkan tubuhnya disentuh perlahan. Celana jeans yang dikenakannya teronggok, diikuti dengan pakaian atasannya yang basah. menonggakkan kepalanya, kala sekujur tubuhnya ditelusuri bibir sang pemuda.
Onggokan pakaian sang pemuda juga terlihat di lantai dekat matras.
Ini benar-benar hangat bagi sang wanita, mendekap tubuh pemuda itu masih menonggakkan kepalanya menikmati segalanya tiada henti. Degup jantungnya terasa cepat, seakan ada perasaan aneh yang menjalar apalagi kala menyadari sesuatu yang menyakiti dirinya.
Ini benar-benar menyakitkan, namun pemuda itu menenangkannya dengan sebuah ciuman. Tapi tetap saja, mengambil mahkotanya mengubah segalanya menjadi perasaan nikmat hanya perasaan yang sesaat membiarkan tubuhnya dimiliki dan bersatu.
Hingga sekitar 1 jam berlalu, sepasang muda-mudi itu telah memakai pakaiannya."Kamu benar-benar akan bertanggung jawab kan?" tanya sang wanita.
Pemuda itu mengangguk wajahnya tersenyum."Aku akan bertanggung jawab," ucapnya.
Tapi apa benar?
Wanita itu memeluk tubuh kekasihnya, seorang kekasih yang memainkan handphonenya tiada henti.
"Kamu sedang apa?" tanyanya pada kekasihnya.
"Mengingat detik-detik kebersamaan kita," Pemuda yang tiba-tiba tersenyum aneh."Kamu masih mengingatku?" tanya sang pemuda berwajah rupawan.
"Tentu saja, kita sudah menjalin hubungan selama sebulan. Tidak mungkin aku tidak mengenalmu," jawabnya tiba-tiba tergagap, menatap perubahan ekspresi wajah kekasihnya.
"Benar-benar tidak mengenalku?' tanyanya lagi penuh penekanan.
"Sayang kamu---" Kata-katanya terhenti pemuda itu mengeluarkan senjata api dengan peredam suara di bagian ujungnya.
"Kalian bertiga. Aku akan membunuh kalian."gumamnya tersenyum.
"Ka...kamu aku minta maaf. Aku tidak salah a...aku," wanita yang baru teringat dengan wajah seorang pria yang sebulan ini menjadi kekasihnya.
Dor!
Suara letupan senjata api terdengar samar, menembus dari kening hingga bagian belakang kepala sang wanita. Membuat mayat wanita itu teronggok di lantai. Pemuda yang tersenyum cerah, membersihkan semua bekas perbuatannya. Termasuk alat pengaman yang berisikan cairan bekasnya. Tidak meninggalkan satu jejak apapun.
Wanita yang sebelumnya dikabarkan bunuh diri itu juga perbuatannya. Membuat seolah-olah menjadi kasus bunuh diri karena kala itu meninggalkan cairannya di dalam tubuh sang wanita yang menjadi korban.
__ADS_1
Tinggal satu nyawa lagi yang harus melayang. Mengangkat tubuh sang wanita ala bridal style tepatnya, mayat wanita itu yang baru saja direnggut kesuciannya olehnya. Perlahan dimandikannya di dalam bilik kamar mandi wanita. Keadaan kampus yang telah tutup benar-benar sepi, mayat itu ditinggalkannya di dalam bilik toilet bibir sang mayat juga telah dibersihkan dari sisa-sisa air liurnya yang tertinggal di dalam sana.
Tanpa satu jejak pun, kuku-kukunya juga tidak luput dipotong. Benar-benar pintar dan rapi pemuda yang berjalan menelusuri lorong kampus yang gelap. CCTV sudah dirusaknya dari awal, wajahnya tersenyum. Tinggal satu orang lagi maka dendamnya sudah berakhir.