Greatest Husband

Greatest Husband
Lukisan


__ADS_3

Dua orang anak yang diajari membaca olehnya. Tinggal di hutan berkabut, memetik dedaunan, akar, bunga, bahkan buah untuk bahan obat. Mulut yang benar-benar cerewet, kata-kata pedas semuanya terlontar dari mulut Junichi. Namun lebih dari itu, dirinya menjaga kedua orang anak dengan baik. Memberikan pakaian, serta makanan yang cukup.


Hingga senja mulai menyingsing. Junichi yang tengah membaca gulungan yang baru ditemukannya, menghentikan kegiatannya.


"Aku, akan keluar sebentar. Kalian boleh memilih bacaan sesuka hati kalian. Pelajari Astronomi, pengobatan dan sihir, karena kalian tidak memiliki bakat sebagai pedagang. Setidaknya dalam waktu dekat kalian akan mandiri untuk meninggalkan hutan berkabut. Kalian masih ingin tinggal dengan kakek kalian kan?" tanya Junichi.


Jun dan Guan mengangguk. Dua orang anak baik yang menjaga rumah, dengan stok buah-buahan yang berlimpah.


"Kak Junichi ingin menjemput kak Fu ya? Kenapa tidak menikahinya saja? Usia kak Fu, sebentar lagi sudah memasuki usia pernikahan." Ucap Jun tidak mengerti.


Junichi tersenyum."Kalian harus lebih banyak belajar. Jika kami menikah di usia Fu yang saat ini, akan beresiko baginya untuk melahirkan. Tubuh manusia begitu rapuh, bahkan dapat hancur hanya dengan batu krikil kecil." Gumam Junichi meraih sebuah batu kecil, kemudian melemparnya dengan dua jari. Batu kerikil menembus dinding kayu yang kokoh. Hingga pada akhirnya menancap di batang pohon besar.


Dua anak yang menelan ludahnya. Menatap ke arah Junichi yang tetap tersenyum.


Seperti hari-hari sebelumnya, Fu menjatuhkan dirinya dari tembok rumahnya yang tinggi. Tepat jatuh dalam dekapan sang pemuda. Wanita yang tiba-tiba mengedipkan matanya, menatap wajah rupawan kekasihnya.


Memajukan bibirnya ingin berciuman.


Bug!


Tubuh Fu dijatuhkan ke tanah. Junichi berjalan meninggalkannya.


"Dasar pelit! Sudah cerewet! Pelit! Aku benar-benar sudah tidak waras karena menyukaimu!" Komat-kamit mulut Fu mengomel, memegang pinggangnya yang benar-benar sakit.


"Tidak waras? Kamu memang sudah tidak waras, karena menyukai siluman." Junichi menahan tawanya. Berjalan di depan Fu yang mengikutinya.


*


Satu? Tidak, beberapa tangkai bunga terdapat disana. Satu persatu dirangkai perlahan oleh jemari tangan sang gadis.


"Kenapa tiba-tiba belajar merangkai bunga? Bukannya kamu mengatakan akan mencari cara mengatasi masalah wabah?" tanya Junichi, menghentikan gerakan kuasnya. Pemuda yang tengah mencatat semua hal yang diketahuinya. Berusaha menemukan hal baru dari penggabungan dua kemampuan berbeda.

__ADS_1


"Ada seorang permaisuri dari negara lain. Yang akan hadir di perayaan ulang tahun ayahku. Dia pandai merangkai bunga, aku hanya ingin membuat bahan pembicaraan dengannya. Agar terasa lebih nyaman," ucap Fu, masih konsentrasi.


Junichi berjalan mendekatinya, menarik kekasihnya untuk duduk di pangkuannya. Jemari tangan pemuda itu bergerak menuntun tangan Fu."Beri jarak dan atur ketinggian batang," ucapnya sang pemuda yang kini menyandarkan dagunya di bahu Fu.


Fu tersenyum, benar-benar terasa nyaman baginya. Mengikuti arahan Junichi, bunga Peony yang basah masih terletak di sana. Terangkai satu persatu.


Apa yang ada di fikiran Junichi? Mungkin itulah yang tidak dimengerti oleh Fu. Pemuda yang kembali meraih jemari tangannya, menggenggamnya erat.


"Fu, mau hidup denganku di tempat ini?" satu pernyataan dari Junichi.


Seorang gadis yang mengangguk. Tapi juga menatap sinis."Jika aku tua nanti, kamu akan mencari wanita yang lebih muda. Atau membawa sesama siluman kemudian mengusirku,"


Sang pemuda yang tersenyum kemudian menggeleng."Aku tidak melihat seseorang dengan napsu. Jika kamu menjadi nenek tua yang keriput, aku akan tetap berada di sampingmu. Lebih tepatnya, tetaplah ada disampingku. Jangan mati..."


"Tapi manusia akan tua dan mati." Fu mengenyitkan keningnya.


"Setiap kehidupan, aku akan mencari dan mendatangimu. Menemani setiap masa kehidupanmu. Hingga kamu menua dan mati, maka aku akan mencarimu lagi. Kembali menemanimu, hingga kamu kembali menjadi tua. Apa masih mau menyukai makhluk posesif sepertiku?" tanya Junichi.


Tidak menyadari Jun yang telah tertidur, terbangun sesaat. Menatap ke arah luar. Sang siluman rupawan yang memeluk kekasihnya. Dibawah sinar bulan, merangkai bunga Peony satu persatu.


Fu sedikit berbalik, memiringkan posisi duduknya. Menangkup wajah Junichi. Perlahan pasangan itu kembali tersenyum. Dengan bibir yang mendekat, memejamkan matanya. Tidak ingin kehilangan satu detik pun, seolah-olah akan ada hal yang memisahkan mereka.


*


Kembali ke masa ini. Mungkin ingatan itulah yang terekam, membuat Jun diliputi rasa bersalah dan membuat lukisan indah yang kini ditatap Shim. Satu-satunya keturunan Jun yang memilih mengikuti leluhurnya menjadi seorang cenayang.


Shim berjalan perlahan, meninggalkan ruangan. Mengambil tempat untuk menyirami bunga, bunga Peony yang benar-benar indah.


"Tuan, biar saya saja," ucap seorang pelayan.


"Tidak, hanya aku yang akan merawatnya." Jawaban dari Shim.

__ADS_1


Bunga Peony yang dirawat dengan baik. Tanaman yang dapat hidup selama 100 tahun. Perlambang cinta abadi? Tidak, bunga indah yang begitu rapuh dan dapat layu. Namun, tanamannya bertahan hidup selama 100 tahun.


Bagaikan sebuah hati yang mencintai dengan rasa putus asa. Berharap dengan hidupnya dapat bertemu lagi. Meskipun harus mati pada akhirnya.


*


"Sayang! Mau bola es manis?" tanya Kara, menyodorkan salah satu dari dua mangkuk banana split.


Shui mengenyitkan keningnya, sedikit mengendusnya. Apa suaminya memasukkan obat pencahar? Mungkin itulah yang ada di benaknya.


Perlahan wanita itu mulai memakan ice cream. Duduk di dalam kamar hotel.


"Aku mau menyembuhkan kakimu. Tapi kamu harus mau menjadi wanita hamil," ucap Kara, duduk bernegosiasi dengan istrinya.


Shui tersedak, terbatuk-batuk."Menjadi wanita hamil?" tanyanya membayangkan memiliki anak dari pemuda tengil ini. Apa Kara akan mengambil kesuciannya? Dirinya tidak dapat melawan, kakinya tidak dapat digerakkan. Menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan pun rasanya terlambat.


"A...aku belum siap menjadi seorang ibu. Lagipula keadaan finansialmu belum stabil. Dengan kakiku yang tidak bisa berjalan, aku tidak dapat memuaskanmu di ranjang." Ucap Shui gelagapan, bingung harus bagaimana. Tapi satu jalan lurus yang harus ditempuhnya. Tidak boleh jatuh cinta atau memiliki anak dari pemuda ini. Suaminya hanya mencintai Sonya itulah yang tertanam di otaknya.


Kara tersenyum tertawa kecil."Benar belum siap?" tanyanya. Mendekat mengecup bibir Shui, perlahan menjilatnya, bibir yang benar-benar indah.


"Bodoh!" batin Kara, perasaan yang dirindukan selama ini. Lidahnya menerobos masuk, bertemu dengan lidah gadis di hadapannya. Bergerak perlahan, tidak terburu-buru sama sekali.


"Kara! Aku..." Kata-kata Shui terhenti, Kara melanjutkan gerakan bibirnya. Dengan bodohnya wanita itu ikut memejamkan matanya. Seakan kehausan, menemukan pereda dahaganya.


"Apa Kara akan melakukannya?" pertanyaan yang tertahan oleh Shui.


*


Hingga pada akhirnya wanita itu mengerti yang dimaksud dengan Hamil. Sebuah kehamilan palsu, dengan bantalan aneh di perutnya.


Shui mengepalkan tangannya kesal. Pria yang benar-benar tengil, menyuruh istrinya berpura-pura hamil? Hanya untuk menangkap pelaku aborsi? Sedangkan pekerjaan Shui kini tengah menumpuk, menggunung di kantor.

__ADS_1


"Kamu bukan detektif Conan! Lebih baik urus restauranku agar tidak bangkrut!" teriak Shui benar-benar murka menatap senyuman tengil dari suaminya.


"Aku mencintaimu. Jangan teriak," ucap Kara menipiskan bibir menahan tawa. Sementara Herlan sudah tertawa berguling-guling di lantai, memegangi perutnya.


__ADS_2