Greatest Husband

Greatest Husband
Menyalahkan


__ADS_3

Terkadang keindahan tidak nampak seperti yang terlihat. Mungkin bagaikan hari ini, Defan berjalan menghela napas berkali-kali tidak habis pikir dengan adiknya yang berubah 180 derajat.


Membunuh Shui Murren? Itu juga akan dilakukannya, segera setelah menikah dengan Sonya Murren. Mungkin langkah untuk memasuki kediaman utama akan dipercepat olehnya. Pemuda yang akan menemui Sonya di tempat pemotretan.


Hingga perlahan langkahnya terhenti, mendengar pembicaraan Sonya yang tengah dirias.


"Iya Bu... Aku akan mengikuti saran ibu." Ucapnya pada Rita, ibu kandungnya, istri kedua yang telah diceraikan Atmaja Murren.


"Kara sekarang lebih sulit didekati, dia lebih cuek. Tentang Defan...aku sudah tidak begitu tertarik padanya. Dia baik, tampan, dan membosankan. Kami hanya bersenang-senang. Setelah ini aku tetap akan kembali pada Kara." Jelasnya pada sang ibu.


Defan mulai tersenyum, melangkah pergi menelusuri lorong. Wanita yang sama dengan wanita lainnya. Hanya dapat membuat emosi, mengela napas berkali-kali. Ingin melukai tubuh indah yang selalu ingin dijamah pria itu, wanita yang berani menganggap dirinya remeh.


*


Bug!


Pintu mobil taksi online yang dipesannya tertutup, tidak seperti biasanya dirinya akan menemui Devan di pinggir jalan. Alasan? Agar Kara tidak mencurigai pertemuan mereka. Kembali ke rencana semula, mengendalikan Kara agar Shui dan Kara tidak memiliki keturunan. Hingga dirinya menikah dengan Sonya nanti.


Setidaknya itulah rencana awal mereka, hingga Sonya memiliki pemikiran untuk berkhianat.


Beberapa menit menunggu, pada akhirnya mobil Defan tiba juga. Menjemput Sonya di pinggir jalan yang sepi.


"Sayang," Sonya bergelayut manja mengecup pipi Defan yang tengah mengemudi beberapa kali.


"Aku ingin..." gumam Defan tidak membalas sama sekali.


Hingga pada akhirnya mobil itu menepi di area dermaga. Matanya menelisik, mencari keberadaan CCTV. Sarung tangan karet digunakannya, tersenyum kala Sonya mengatakan akan pergi ke kamar mandi.


Semua sudah siap. Termasuk kunci sebuah speed boat. Apa tujuannya? Memberikan pelajaran pada wanita ini, tentang arti sebuah kesetiaan, hewan peliharaan pada majikannya.


"Katanya kita akan ke hotel." Wanita itu tertunduk sedikit terlihat kecewa.


"Naik saja," Ucap Devan tersenyum ramah.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya kapal speed boat yang disewanya melaju. Angin menerpa rambut mereka, apa yang ada di fikiran Sonya saat ini? Tentu saja iri pada kakaknya Shui Murren. Andai saja dirinya yang menjadi anak sah pasti tidak akan sesulit ini.


Namun, hal yang aneh. Kapal speed boat dihentikan oleh Defan.


"Kenapa berhenti?" tanya Sonya.


Pemuda itu hanya tersenyum."Aku terlihat baik dan ramah? Tidak seperti bad boy? Akan aku tunjukkan padamu apa itu bad boy."


Pemuda yang membawa pisau belati kecil, menatap ke arah Sonya."A...apa maksudmu? Kamu mendengar pembicaraanku? Aku hanya bergurau dengan ibuku."


"Apa peduliku?" ucapnya, menendang Sonya di bagian pinggul hingga tidak dapat bangkit.


"Sakit! Defan maaf, tolong aku---" pintanya.


Tapi sayangnya pemuda itu hanya tersenyum dingin, mencengkeram pipi Sonya."Aku memberimu dua pilihan, memotong tubuhmu sedikit demi sedikit atau aku suntikan racun?"


"Defan jangan, aku akan setia padamu. Memberikan semua uang yang---aaa!" Pekik Sonya, memegang pipinya yang tergores.


Teriakan demi teriakan terdengar sayatan demi sayatan. Tidak ada yang tersisa hanya wajah pemuda yang terdiam tanpa ekspresi. Pada akhirnya Sonya menyerah, meraih jarum suntik, menyuntikkan racun sosis tinggi pada tubuhnya.


Tugas Defan saat ini? Hanya duduk, menyaksikan wanita yang kesulitan untuk bernapas sekalipun. Tubuhnya kejang, hingga pada akhirnya tidak bergerak menjadi tubuh tanpa jiwa.


Hukum tabur tuai berlaku bukan? Sonya lah yang menyebabkan Kara yang asli memilih mengakhiri hidupnya. Mungkin suatu balasan yang setimpal.


Mata Sonya menatap ke arah Defan di detik-detik terakhir hidupnya. Mati karena orang yang pernah dicintainya? Itu sungguh konyol. Namun dirinya merasakannya saat ini.


Tubuh yang telah tidak bernyawa, diikat menggunakan beberapa bata yang dimasukkan ke dalam ransel. Ditenggelamkan di lautan yang tenang. Makan yang indah untuk seseorang yang telah mengkhianatinya.


Wajah tenang dengan banyak luka goresan di tubuhnya. Kakinya terikat oleh pemberat, tidak mengapung maupun tidak tenggelam.


*


Welan menghela napas berkali-kali, berjalan memasuki area kampus berharap wanita itu segera ditemukan oleh Foe. Beberapa luka masih ada di tubuhnya, setelah Shui menabrak dirinya.

__ADS_1


Hingga mobil sport berwarna putih terhenti, milik sang mahasiswa tengil. Matanya menelisik menatap Kara yang mencium seorang wanita yang ada dalam mobil. Sejenak kemudian membulatkan matanya, itulah orang yang menabraknya.


Kara yang menyadari sedang diperhatikan. Segera turun dari mobil. Bersamaan dengan Shui yang melambaikan tangan pada suaminya, kemudian segera pergi dari kampus.


Dengan cepat Welan melangkah menghampiri Kara."Tunggu!"


Pemuda itu terdengar menghela napas kasar."Apa?" tanyanya.


"Dia, orang yang mengantarmu siapa?" tanya Welan ragu.


"Aku selalu menganggap akulah penyebab semua kesialan. Hingga aku menjaga jarak tidak berani memilikinya." Kara tersenyum menatap ke arahnya."Tidak peduli apapun, dia Shui Murren, istriku..."


Pemuda yang melangkah pergi, mengepalkan tangannya. Sekelebat matanya merah, kemudian kembali terlihat normal. Mengapa? Setiap detik dalam bayangannya, mulai menyadari mungkin pertemuan Welan dengan Shui akan memiliki hasil akhir yang sama.


Tandu yang dinaiki Fu ketika kecil, dirampok. Namun terdapat salah satu atribut dari keluarga jenderal di tubuh perampok. Rencana pembunuhan karena niat awal perdana menteri untuk menjadikan Fu putri mahkota kelak. Mendekatkannya dengan putra mahkota yang tinggal di istana timur.


Hal yang sama juga terjadi, kala dirinya menyerahkan Fu pada putra mahkota. Tidak dicintai, bahkan dipermalukan oleh keluarganya, dianggap bodoh dan dicibir semua orang. Itulah yang ada di jalan yang ditapaki kekasihnya.


Dan terakhir pada akhir hidup Fu. Semua berasal dari satu orang kaisar. Atau dapat disebutkan dalam kehidupan ini Welan.


Menanyakan identitas Shui? Berarti Welan mengenalnya, hanya dengan mengenalnya Shui hampir mati. Kali ini tidak, Fu akan tetap bersama dengannya apapun yang terjadi.


500 tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah penantian.


*


Sementara di tempat lain. Defan tersenyum, duduk di kursi kebesaran milik Shui Murren. Apa yang akan dilakukannya? Entahlah, dirinya sudah muak dengan semua ini. Berpura-pura tersenyum di hadapan semua orang.


Kerrel? Adiknya kini tengah dialirkan ke rumah sakit akibat keracunan gas karbon dalam kondisi mabuk. Sedangkan Kara? Inilah detik-detik menjelang akhir hayatnya. Ambisi yang tercipta ingin melebihi bahkan menginjak kedua adiknya.


Aneh bukan? Bagaimana orang sepertinya dapat menjadi seorang dokter. Manipulatif, itulah jawabannya dirinya dapat mengendalikan arah fikiran seseorang hingga tidak ada yang menyangka dengan kelainan yang diidapnya.


Pintu ruangan terbuka, menampakan Shui Murren yang sudah dapat berjalan.

__ADS_1


__ADS_2