Greatest Husband

Greatest Husband
Memanjakan


__ADS_3

Kara menghela nafas kasar berjalan mendekati istrinya mengamati Atmaja yang juga ada di sana.


Plak!


Satu pukulan mendarat di bahunya. Benar-benar mertua kurang ajar, yang menepuk bahu menantunya kencang bagaikan bertemu teman lama."Kamu baru sampai? Shui sudah lama menunggumu,"


"Iya tadi ada urusan di kampus." Ucap Kara.


"Kalau begitu Ayah pergi dulu." Atmaja berbalik berjalan meninggalkan mereka, pria paruh baya yang diam-diam tersenyum pergi meninggalkan putri dan menantunya.


"Kamu menungguku? Kamu terlihat semakin cantik saja. Seperti bunga peony di musim semi." Seperti biasa gagak yang cerewet menunjukkan rayuan tingkat tingginya.


Shui mengenyitkan keningnya, melirik ke arah suami tengilnya. Berusaha untuk tersenyum walaupun sejatinya benar-benar kesal olehnya. Mengapa kesal? Tentu saja karena belakangan ini banyak berita yang beredar tentang kedekatan Kara dengan Star, sang selebriti yang cukup terkenal.


"Shui!" Suara seseorang terdengar tepatnya pria yang memanggil wartawan saat acara pernikahan Kara dan Shui dialah Andrew saingan bisnis Shui Murren.


Seorang pria blasteran Indo-Jerman berdampingan dengan seorang wanita memakai gaun ketat namun tetap terlihat anggun. Sang pria gagah dan wanita menawan. Benar-benar pasangan panas yang serasi, saking panasnya mungkin mengalahkan balsem cap tangan tiga.


"Tidak disangka bisa melihatmu di acara ini. Kenapa membawa suamimu kemari? Dia tidak bisa menilai barang-barang seni, di sini bukan tempat untuk kaum wibu (pecinta animasi dan komik)," suara tawa Andrew terdengar.


Segala informasi tentang Kara diketahuinya. Suami dari rival bisnisnya. Kara yang asli memang cukup menyukai hal-hal yang berbau komik dan animasi. Lebih suka hidup santai bahkan tidak menyukai materi kuliahnya. Mungkin benar-benar sosok pria yang tidak berguna dalam anggapan Andrew.


"Aku sengaja membawa sekretarisku ke sini. Dia pintar di bidang penilaian barang-barang seni. Tentunya aku akan hanya membeli barang-barang berkualitas tinggi dan asli." Kalimat yang terdengar mengejek dari Andrew mengingat Shui Murren memang tidak pandai menilai barang-barang seni mau pun barang-barang peninggalan sejarah.


"Kara sudah jauh lebih pintar. Lagi pula kamu ingat kemarin aku baru saja merebut salah satu investormu?" Sindir Shui balik, penuh senyuman. Dirinya memang selalu unggul di bidang bisnis. Dalam radius jarak ratusan kilometer bau uang mungkin tercium oleh seorang Shui Murren. Benar-benar berbakat mengumpulkan uang.


Saling membenci, saling bertikai, saling menyindir itu sudah biasa untuk kedua orang ini. Dua orang yang terlahir dari kalangan atas Shui yang memang lebih unggul daripada Andrew. Dan Andrew yang tidak dapat menerima dikalahkan oleh seorang wanita.


"Kalian sudah beberapa bulan menikah. Tidak ada tanda-tanda kehamilan juga? Jangan-jangan suamimu tidak perkasa, lemah di ranjang. Atau karena lumpuh kamu juga tidak subur." Sindirnya mengingat istrinya yang tengah hamil walaupun Shui Murren menikah terlebih dahulu.


"Itu karena aku belum melakukannya. Aku masih mempertimbangkan perasaan istriku, jika aku melakukannya. Mungkin dia tidak akan bisa bangkit dari tempat tidur seharian," batin Kara masih setia tersenyum.


"Kalian baru melakukannya di kamar mandi. Cuci yang bersih bau cairan yang bercampur menyengat." Cibiran balik dari Kara mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya sendiri.


"Kamu berselingkuh dengan sekretarismu? Benar-benar tidak terduga. Pejantan tangguh yang terlalu perkasa," Ucap Shui menipiskan bibir menahan tawanya.


"Ti...tidak siapa yang mengatakannya? Ini bisa aku tuntut sebagai pencemaran nama baik." Andrew gugup dirinya memang baru saja selesai melakukannya di kamar mandi, dengan sekretarisnya dari mana pemuda ini tahu?


"Kalau tidak ya tidak apa-apa. Kenapa jadi tegang begitu?" Shui tersenyum bersamaan dengan Kara yang mendorong kursi roda istrinya menuju ke dalam tempat pelelangan.


Sedangkan Andrew, ingin rasanya mengumpat berkata-kata kasar. Tapi juga tidak bisa, mengingat hal yang baru saja dilakukannya.

__ADS_1


*


Hingga langkah mereka terhenti, duduk berdampingan menonton acara lelang. Beberapa barang-barang bersejarah diperagakan di sana, mulai dari gulungan naskah kuno, guci maupun batu giok dan perhiasan.


Pembawa acara menjelaskan satu persatu dari barang-barang peninggalan zaman dulu bahkan terdapat barang-barang yang berasal dari negeri asing.


Sebuah guci indah berada di sana dengan nilai sejarah yang dikatakan tinggi berusia sekitar 600 tahun. Dibawa oleh seorang pedagang dengan kapal yang karam kemudian ditemukan dan dibersihkan. Menurut sejarahnya terdapat dalam beberapa gulungan guci tersebut digunakan sebagai hadiah bentuk cinta kasih dari seorang filsuf terkenal pada kekasihnya. Tulisan dengan huruf kuno terlihat di sana. dengan arti yang dibacakan oleh MC. Ditambah dengan ornamen batu giok di bagian dasarnya, dipercaya jika dapat memfermentasi arak dengan baik.


Harga dibuka, mulai 500 juta oleh sang pembawa acara lelang.


"500 juta," Shui mengangkat papanya.


Sementara Kara tersenyum tipis, mengenyitkan keningnya."Kamu ingin sampah itu?" tanyanya.


Wanita itu mengangguk."Jika dijual kembali akan menjadi lebih mahal. Aku hanya tinggal membawanya ke luar negeri, untuk di cek keasliannya, dan apa saja kisah dibaliknya."


"Terserah padamu, tapi aku sarankan jangan membelinya." Ucap Kara menahan tawanya.


Andrew, saingan bisnis Shui, tiba-tiba juga mengangkat papannya."700 juta!" tawarannya.


Shui mengenyitkan keningnya terlihat emosi, benar-benar kesal rasanya."750 juta!" ucapnya mengangkat papan.


"Satu miliar!" Andrew lebih berani lagi, tersenyum bagaikan mencibir.


"2 miliar!" Shui kembali mengangkat papannya. Sedangkan Kara memijit pelipisnya sendiri.


"3 miliar!" ucap Andrew melirik kearah Shui yang duduk di dekatnya.


"3 miliar 200 juta." Seorang penawar lainnya juga ikut mengangkat papan.


"3 setengah miliar!" Ada juga penawar lainnya lagi yang menaikkan tawarannya.


"5 miliar!" Shui kembali mengangkat papanya situasi yang benar-benar memanas.


Bagaimana harus mengatakan pada istrinya? Kara hanya terdiam sejenak, memijit pelipisnya sendiri tiada henti. Kemudian menghela nafas.


"7 miliar!" teriak Andrew tidak mau kalah.


Ketika hendak mengangkat papannya kembali, Kara menghalangi istrinya."Biarkan pria itu menang!" tintanya memegang pergelangan tangan Shui, entah kenapa membuat jantung wanita itu berdegup cepat. Menjatuhkan papan yang dipegangnya.


"Ke...kenapa kamu mau kita kalah lelang? Guci itu jika dijual di negara asalnya harganya dapat naik sekitar 5 kali lipat." Ucap Shui menahan rasa gugupnya.

__ADS_1


"Aku bilang jangan, kamu percaya ku? Jika kamu mencintaiku seharusnya percaya padaku," bisik Kara membuat tubuh Shui meremang, berusaha tetap tidak terpengaruh.


"A...aku tidak percaya. Kamu bahkan tidak pernah mendatangi pelelangan. Bagaimana kalau---" Kata-katanya terhenti mereka yang berada di pojok ruangan dengan penerangan yang cukup redup. Pemuda itu tiba-tiba mencium istrinya di tempat umum. Memang tidak satupun orang yang menyadarinya. Namun Shui cukup terkejut membulatkan matanya pada akhirnya tidak peduli lagi dengan pelelangan. Benar-benar masa bodoh, yang jelas dirinya benar-benar malu, sekaligus hati yang berbunga-bunga, bagaikan anak SMU yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Biar aku saja yang kali ini mengambil alih," bisiknya kembali di leher Shui wanita yang tertegun. Wajahnya memerah, benar-benar sudah jatuh cinta dengan suaminya. Terperangkap rayuannya, wanita yang hanya dapat menyembunyikan wajah malunya.


Tidak menyadari Kara lah yang memegang papan miliknya. Papan yang mengendalikan puluhan miliar uang yang disiapkannya untuk acara lelang.


"7 miliar pertama!"


"7 miliar kedua!"


"7 miliar ketiga!"


"Terjual!" teriak sang MC pertanda Andrew memenangkan lelang untuk guci tersebut. Mendapatkan tepukan tangan dari beberapa orang.


Kara hanya tersenyum menunggu barang-barang selanjutnya yang akan dilelang. Pemuda yang cukup jeli mengingat segalanya satu persatu, termasuk benda bersejarah.


Ada dua guci yang dibawa ke dalam kapal. Dibawa oleh pedagang yang melewati hutan berkabut, guci yang asli dikirimkan sang filsuf pada kekasihnya, berbentuk kecil entah berada dimana saat ini.


Sedangkan guci besar dengan tulisan dan batu giok yang dibeli Andrew hanya guci yang dibuat asal-asalan diproduksi dalam jumlah banyak pada masa itu.


Saking banyaknya sang pedagang bahkan menggunakan salah satunya untuk penampungan urine di dalam kapal ketika kapal dalam badai. Hanya menipiskan bibir itulah yang dilakukan Kara, mengingat kata-kata MC dan senyuman bangga dari Andrew.


Pada akhirnya harta yang asli terlihat. Hiasan rambut yang tidak begitu indah terbuat dari giok terukir bunga hydragea yang melekat di bagian ujungnya juga ditemukan di kapal yang sama.


Sang MC menjelaskan jika ini ditemukan di dalam kapal kemungkinan milik seorang budak. Yang mengikuti kapal pedagang hingga akhirnya kapal tersebut karam.


"Kami membuka harga mulai dari 10 juta rupiah!" ucap sang MC.


Namun tidak satu orang pun yang menawar mengingat itu hanyalah barang biasa.


Kara tersenyum, perhiasan yang dimiliki oleh seorang permaisuri terbuang 650 tahun lalu. Permaisuri yang diusir karena dituduh memiliki ilmu hitam. Hiasan rambut yang diberikan oleh putranya, mengantar kepergian ibu kandungnya. Seorang putra yang pada akhirnya menjadi kaisar. Memiliki banyak lukisan ibunya yang dibawa pedang pergi ke negeri asing dengan mengenakan hiasan rambut pemberian putranya.


Kara mengangkat papannya,"Aku membelinya!" ucapnya.


"Shui! Kamu lihat kan suamimu? Hanya membeli yang murah! Tidak mengetahui nilai seni dan sejarah suatu barang." Ucap Andrew tersenyum menyindir.


Shui mengenyitkan keningnya."Aku masih lumayan kaya. Untuk apa mencari uang dari pelelangan? Ini caraku memanjakan suamiku!"


Wanita yang tidak mau kalah, membela suaminya memberikan semangat. Istilah lainnya kalah juga tidak apa-apa.

__ADS_1


"Manjakan aku di tempat tidur," ucap Kara tanpa ekspresi. Tiba-tiba ketiga orang itu menoleh padanya.


__ADS_2