
"Lalu?" tanya Kara, mendengarkan semua informasi yang didapatkan pemuda di hadapannya.
Ada beberapa situs yang menawarkan jasa aborsi. Herlan menunjukkan phonecellnya terlihat fokus. Tidak mengerti dengan tujuan sebenarnya dari Kara. Namun, dirinya harus tetap menurutinya jika ingin mengumpulkan lebih banyak uang untuk modal menikahi anak ibu kost.
"Iya, aku sudah melakukan janji temu. Tapi tidak disini, dulu tempat ini juga pernah dijadikan tempat praktek. Walaupun, sebenarnya ini tempat praktek milik bidan yang ditangkap. Mereka berpindah-pindah untuk melakukan janji temu dengan penggunaan jasa aborsi. Ada beberapa orang perawat yang mengikuti keanggotaan, salah satunya anak dari bidan yang ditangkap kemarin. Mereka seperti membentuk organisasi, cukup rapi, dan hanya menerima kalangan atas. Begitu aku memasukkan nama istrimu, sebagai pengguna jasa aborsi. Langsung diterima." Ucap Herlan, menepuk pundak Kara.
Nama Shui Murren memang dapat dimanfaatkan dengan mudah. Hanya kalangan atas yang melakukan praktek aborsi yang dapat menggunakan jasa organisasi tersebut. Mengingat tarif yang tinggi dan mereka akan menolak jika identitas sang pemesanan tidak jelas atau dari kalangan bawah. Menghindari endusan petugas kepolisian.
Shui melepaskan bantalan di perutnya, menghela napas berkali-kali."Alasan apa yang kamu pakai? Tidak mungkin aku yang sudah menikah melakukan aborsi."
Herlan tersenyum, benar-benar pria dengan nyali tinggi, mencari mati."Alasan yang aku pakai, Shui adalah pacar gelapku. Dengan kata lain aku dan Shui berselingkuh di belakang Kara. Kemudian Shui hamil, jadi anak itu harus digugurkan agar keluarga Murren tidak malu. Dan Kara tidak mengetahui perselingkuhan kita,"
Seketika Kara membulatkan matanya. Herlan tersenyum tidak tahu malu. Dengan sengaja memprovokasi, agar Kara tidak menceraikan istrinya, seperti kata-kata makhluk itu sebelumnya.
"Shui berselingkuh? Bahkan hamil anakmu?" Kara tersenyum, tepatnya berpura-pura tersenyum. Benar-benar terlihat ganjil, aura yang tidak menyenangkan sama sekali.
"I...iya! Ini hanya pura-pura, hanya pura-pura. Ingat! Aku sudah punya pacar, omong-ngomong apa kamu cemburu?" tanya Herlan mengenyitkan keningnya. Mengira Kara akan mengelak.
"Aku cemburu, jika aku cemburu memangnya kenapa? Tidak boleh?" tanya Kara. Seketika Herlan tertawa, diikuti dengan tawa Shui.
"Dia berkata cemburu? Dia cemburu? Bahkan mengaku?" Ucap Herlan memegangi perutnya, terbahak-bahak.
"Dia memang begitu, pintar merayu dan berucap omong kosong." Shui menghela napas berkali-kali, menetralkan tawanya.
__ADS_1
Mungkin inilah saat yang paling menyebalkan bagi Kara. Tidak ada yang mempercayainya, bahkan istrinya sendiri, termasuk budaknya pun ikut tertawa. Apa yang lucu? Dirinya cemburu jika Fu bersama orang lain, apa itu lucu?
"Aku akan menghubungi beberapa pengawal. Berjaga-jaga untuk keamanan kita. Ingat! Hanya kali ini aku membantu kalian melakukan hal konyol. Tugas di kantorku menumpuk." Ucap Shui meraih phonecellnya.
"Sudah aku bilang, aku akan membantu pekerjaanmu nanti," Kara tersenyum, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, mengedipkan sebelah matanya. Mengikuti pose idola remaja di majalah. Tujuannya? Menggoda seorang wanita modern di hadapannya.
Shui mengenyitkan keningnya, menghubungi beberapa pengawalnya melalui pesan singkat."Kamu sedang apa? Apa kamu sariawan? Matamu sakit?" tanyanya pada Kara.
"Tidak, aku hanya berfikir. Betapa rumitnya, kehidupan saat ini," gumam Kara, tiba-tiba merasa wanita di hadapannya benar-bebar tidak mirip dengan Fu, wanita ini aneh, ajaib dan benar-benar menyebalkan.
Dua orang yang hanya saling salah paham. Tidak menggoda, mengatakan isi hatinya di waktu yang tepat. Hanya terdiam dalam prasangka dan tujuan mereka masing-masing.
*
Proses aborsi yang lebih mudah, jika usia kandungan masih berada di trimester pertama. Hanya datang bertiga, Herlan, Shui dan sang supir yang menunggu di dalam mobil.
Villa telah dikepung oleh pengawal Shui yang bersembunyi. Ditambah mereka yang bersiaga akan memanggil petugas kepolisian, benar-benar rencana yang bagus.
Namun, sialnya rencana tinggal rencana. Shui menelan ludahnya sendiri. Berucap dengan suara kecil pada Herlan."Kamu bilang hanya tempat praktek aborsi. Kenapa ada banyak orang bersenjata?" tanyanya mulai cemas.
Herlan menelan ludahnya."Aku masih perjaka," gumamnya menatap beberapa orang yang berjaga bahkan menggunakan senjata laras panjang.
Benar-benar siluman sialan, bagaikan menginginkan menjadi pahlawan kesiangan. Hingga membuat dirinya masuk ke dalam sarang bajak laut. Otot-otot para penjaga benar-benar besar, ditambah dengan tubuh tegap.
__ADS_1
Seorang wanita keluar dari sebuah ruangan. Seorang selebriti ternama, wajahnya pucat pasi, mungkin baru selesai mengeluarkan janin dalam perutnya.
Shui menelan ludahnya sendiri. Bagaimana jika dirinya ketahuan tidak hamil? Bagaimana jika mereka ingin membunuhnya untuk tutup mulut. Tidak, tidak boleh dirinya memiliki uang tebusan yang cukup. Apa jutaan dolar cukup untuk menebus seorang Shui Murren?
Fikiran buruk, apa akan benar-benar terjadi? Seorang pria paruh baya keluar dari sebuah ruangan membuka maskernya, masih memakai pakaian dokter yang bagaikan baru selesai melakukan operasi.
"Shui Murren, tidak disangka aku akan menangani direktur utama Murren Group." Ucap sang pria, mulai duduk di ruang tamu villa, berhadapan dengan Shui dan Herlan.
"Aku kemari ingin menggugurkan janin dalam kandunganku," Shui memulai pembicaraan terlihat tenang, tidak tegang sama sekali. Sudah terbiasa dengan situasi saat ini, membohongi lawan bisnisnya, agar mendapatkan keuntungan lebih besar.
"Menggugurkan? Aku hanya mengetahui dari cerita sekilas dari pria ini melalui telepon. Kamu baru saja menikah, berselingkuh dengan pria ini? Bagaimana bisa?" tanya sang pria paruh baya. Matanya menelisik, mewaspadai ini hanya jebakan. Benar-benar pria yang teliti.
Jakun Herlan naik turun menelan ludahnya, keringat dingin membasahi pipinya. Bersiap menjadi sasaran temukan peluru. Dirinya mengira, ini akan selesai, mereka akan tertipu dengan mudah dan tertangkap. Kemudian dirinya mendapatkan uang tanda penghargaan sebagai warga negara teladan dari petugas kepolisian.
Tapi kini? Apa yang harus dijawabnya? Otaknya yang bisanya bergerak cepat bagaikan jaringan WiFi tarif tinggi, kini mendadak loading, tidak dapat digunakan, bagaikan handphone jadul yang ingin dibanting, karena loading yang terlalu lama.
"Suamiku berselingkuh dengan adikku. Mereka menjalin hubungan dari sebelum kami menikah. Dua kali di Royal hotel, tiga kali di villa pribadi milik Sonya, dan satu kali di dalam mobil. Jadi aku membalasnya berselingkuh dengan teman baik suamiku. Aku yakin kamu sudah menyelidiki betapa kacaunya rumah tanggaku." Ucap Shui tanpa ekspresi.
Herlan menelan ludahnya sendiri. Melirik ke arah Shui Murren, semuanya benar, tepat seperti yang dikatakan Shui. Kara yang asli pernah bercerita padanya dua kali di Royal Hotel, tiga kali di villa milik Sonya dan satu kali dalam mobil. Shui mengetahuinya? Apa dia mengirim orang untuk mengikuti Kara sebelum pernikahan?
Herlan diam-diam mengeluarkan phonecellnya. Melakukan panggilan tidak terjawab pada seorang pengawal yang berjaga di luar sana. Pertanda situasi tidak kondusif, dalam artian situasi yang tidak akan dapat ditangani oleh pengawal. Seperti isyarat, mereka harus menghubungi kepolisian.
Jumlah pengawal Shui saat ini 12 orang. Sedangkan orang-orang bersenjata yang berjaga di villa ini sekitar 23 orang.
__ADS_1
"Mampus!" satu kata yang ada di batin Herlan saat ini.