
Sebuah pohon yang rindang, dua orang duduk berdampingan di tempat tersebut. Tidak ada yang dibicarakan oleh Shui. Hanya terdiam menatap ke arah kunang-kunang yang ada disekitar mereka.
"Mereka sedang apa?" tanya Shui memulai pembicaraan, hal yang tidak wajar baginya menatap kunang-kunang dalam jumlah banyak berkumpul di dekat mereka.
"Menyerap energi kehidupan. Setiap aku akan terluka, mereka berkumpul mencium bau darahku. Mengambil sedikit energi." Jawaban dari Kara.
"Seharusnya kamu membunuh mereka! Jika energimu habis maka---" Kata-kata Fu terpotong.
"Hidup mereka hanya 2 sampai 3 minggu. Mungkin aku dapat menambah masa hidup mereka satu atau dua hari. Tapi setiap detik benar-benar penting, itulah kunang-kunang." Kata-kata dari Kara membuat Shui memeluknya.
"Maaf, kamu terluka karenaku. Bagaimana jika energimu habis? Apa kamu akan mati?" tanya Shui tiba-tiba menangis terisak.
Kara membalas pelukannya, mengusap pelan rambut Shui."Tidak tahu, terakhir kali aku disegel sebelum energiku habis sepenuhnya. Mungkin jika habis tidak akan ada yang tersisa, bahkan roh sekalipun. Kenapa? Kamu ingin membunuhku? Aku adalah siluman."
"A...aku ingin melindungimu," kalimat dari bibir Shui membuat Kara tertegun. Fu berinkarnasi menjadi sosok yang berbeda, bunga peony-nya yang jatuh ke dalam api neraka 500 tahun yang lalu. Terlahir kembali menjadi sosok yang lebih tegar.
"Tidak takut padaku?" tanya Kara.
Shui menggeleng."Aku tidak takut, aku adalah pemimpin Murren group jadi---" Kalimat Shui terhenti. Kara tiba-tiba melepaskan pelukannya, mengecup bibir istrinya.
"Usiaku sudah lebih dari 1000 tahun. Tapi masih saja tertarik pada cicit kecil sepertimu," gurauan sang leluhur, maaf salah sesepuh, salah lagi, kakek tua berjiwa muda, atau kita sebut saja siluman yang tidak pernah menua secara fisik, namun dewasa secara mental.
Malam semakin gelap, tidak ada yang mereka lakukan hanya berjalan bergandengan tangan. Mencari tumpangan pada kendaraan yang kebetulan lewat. Hingga pada akhirnya truk yang setengahnya dipenuhi muatan pasir memberi mereka tumpangan.
Mengapa tidak terbang kembali saja? Tidak boleh itu terlihat tidak keren. Maaf, salah yang benar akan terlihat aneh, mungkin akan dianggap sebagai penampakan malaikat atau burung spesies tertentu, mungkin juga akan dianggap sebagai alien katak yang ingin menguasai dunia.
Selain itu Kara mungkin juga lelah mengingat sekujur tubuhnya yang terluka, menggantikan luka yang seharusnya dialami Shui. pemuda yang berbaring di atas pasir, menjadikan paha istrinya sebagai tempatnya tidur.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, menatap ke arah wajah suaminya. Bengis? Kejam? Penuh tipu daya? Itulah penggambaran seekor siluman. Tapi entah kenapa Kara berbeda, dirinya merasa nyaman. Tidak sedikitpun terbersit untuk meninggalkannya.
Tentu saja dirinya takut. Tapi beberapa kali hanya pemuda menyebalkan inilah yang memberikan perhatian padanya.
Dirinya bersandar pada bagian bak truk yang melaju. Menatap ke belakang, entah kenapa beberapa ingatan seakan semakin jelas. Entah itu mimpi atau bukan, namun dirinya kini dapat mengingat wajah pemuda yang bertemu dengannya di tengah hutan, dalam sesuatu yang disebutnya sebagai mimpi.
Benar, pria dalam mimpinya adalah Kara, suami yang menemaninya, hanya pakaian dan model rambut mungkin perbedaannya.
Apa yang terjadi? Bibir pemuda itu diraba jemari tangannya. Tapi hal yang berbeda terbayang, kala seorang wanita cantik berciuman dengan sosok Kara yang berambut panjang. Wanita yang mungkin dipanggil sebagai Fu.
Mirip dengan gambar lukisan yang hendak dibelinya di pelelangan. Shui terdiam, mengecup pipi suaminya berkali-kali.
"Aku mencintaimu! Aku menjadi gila dan histeris karenamu." Godanya, namun suaminya masih tertidur.
*
Kasak kusuk menaiki lantai dua. Hingga pada akhirnya menutup pintu kala telah sampai di kamar mereka. Wanita itu mengambil kotak P3K hendak membersihkan luka Kara. Tapi pemuda itu menolak.
"Aku ingin makan, setelah aku makan maka aku akan sembuh dengan sendirinya." Jawaban dari Kara.
"Makanan?" Shui mengenyitkan keningnya."Aku akan meminta pelayan menyiapkan---"
"Aku makan itu agar terlihat wajar. Itu bukan makananku," Kara menghela napas kasar.
Shui dengan cepat meraih batu bersinar (handphone) mencari di google apa makanan dari siluman. Wanita yang membulatkan matanya. Haruskah dirinya membeli mayat untuk dikonsumsi suaminya? Atau haruskah dirinya merelakan roh pelayannya dimakan. Suami yang benar-benar menyudutkan hati nuraninya.
"Aku, kalau daging manusia, roh. Aku tidak bisa, itu melanggar---" Kata-kata Shui dipotong.
__ADS_1
"Saat aku kecil mungkin iya. Aku dan ibuku sering datang ke medan perang, mengais-ngais daging manusia yang mulai membusuk, terkadang ibuku bahkan menyisakan belatung untuk cemilanku." Ucap Kara tersenyum tanpa dosa, mengingat masa kecilnya yang hanya mengikuti sang ibu.
Mual? Itulah yang dirasakan Shui saat ini. Apa karena efek hamil? Entahlah, tapi membayangkan semangkuk belatung yang masih berlumuran darah.
"Kenapa? Jijik? Takut padaku? Tapi itulah aku siluman dengan kasta terendah. Bahkan tidak peduli dengan pakaian yang berlumuran darah." Pemuda itu masih tersenyum simpul, menatap apa yang akan dilakukan istrinya.
"A...aku pernah baca ada ulat pohon yang bisa dimakan mentah-mentah. A... akan aku pesankan, tapi jangan makan daging manusia." Shui terlihat panik, tangannya gemetar memegang phonecellnya.
Dengan cepat Kara merebut phonecell istrinya."Tidak perlu, itu masa kecilku sekitar 1000 tahun yang lalu. Hingga aku mengikuti seorang biksu, hawa jahat yang aku miliki mungkin sama dengan iblis hingga aku dapat mengkonsumsi jantung mereka. Cukup kumpulkan orang jahat, bawa mereka ke kamar ini."
"Orang jahat?" Shui mengenyitkan keningnya. Tidak mengerti dengan tingkah suaminya yang semakin aneh. Bahkan jika suaminya berkata dirinya alien mungkin itu lebih masuk akal.
Pemuda yang berbaring menatap ke arah langit-langit ruangan."Sayang, bagaimana jika tempat ini dipenuhi dengan ukiran naga saja. Aku ingin menjadi kaisar suatu hari nanti."
"Disini dipimpin oleh presiden! Itupun setiap 4 tahun diganti! Paling lama dua periode!" bentak Shui tiba-tiba memijit pelipisnya enggan menjelaskan lebih detail.
"Jadi tidak ada kaisar?" tanya Kara kecewa.
*
Matahari sudah mulai terbit, Welan membuka matanya. Kondisinya tidak terlalu parah, matanya menelisik menatap ke arah orang kepercayaan ayahnya.
"Foe, Jangan katakan pada ayahku ya?" pinta Welan dengan beberapa luka gores. Tidak ada yang dapat dikatakan terluka sejatinya. Hanya mungkin bagian lutut dan sikunya yang sedikit lecet.
Tapi fasilitas ruangan VVIP, bahkan ada infus, cukup berlebihan sebenarnya.
"Kamu hanya menyusahkan ku. Omong-ngomong wanita yang menabrakmu semalam sudah aku bereskan."
__ADS_1